Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
58. Enak


__ADS_3

Steven mundur beberapa langkah, lalu melihat Citra yang tengah menuangkan mangkuk telur di atas wajan.


"Jangan semua kamu tuangkan," tegur Steven.


"Iya, Om." Citra mengangguk, dia pun lantas mengambil suntil kayu dan mencoba membalik telur yang sudah terlihat matang itu.


Namun, gerakan tangan Citra begitu kaku dan telur itu tampak susah dibalik hingga wajannya bergoyang-goyang. Steven yang melihatnya ikut gemas, takut juga jika nanti wajan itu terjatuh dan bisa menimpa kaki atau anggota tubuh Citra yang lain.


Cepat-cepat Steven kembali berdiri di belakang Citra, lalu memegang salah satu gagang wajan anti panas itu dan tangan kanannya menyentuh tangan Citra yang memegang suntil kayu. Perlahan dia pun membantu untuk membaliknya.


"Kalau masak tuh jangan kaku gitu deh, Cit. Kaya kanebo kering tahu, nggak," gerutu Steven.


"Namanya pertama kali, Om."


"Ah ngeles saja kamu, banyak kok orang yang pertama kali masak tapi langsung bisa," kata Steven kesal, tetapi tak ada tanggapan dari Citra. Gadis itu diam saja sebab takut nantinya akan salah bicara.


Pada akhirnya Steven berdiri di belakang Citra dan ikut membantunya hingga sesi masak itu berakhir, tetapi sesekali dia mencuri-curi kesempatan untuk dapat menciumi rambut Citra tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Aku mau nanti di tuangkan kecap di atasnya, tapi jangan banyak-banyak," kata Steven sambil menatap telur dadar di atas piring itu, lalu menghirup aroma wangi dan seketika membuat perutnya berbunyi karena lapar.


"Iya." Citra mengangguk, lalu mencari-cari kecap.


"Sajikan di meja makan, jangan lupa nasi sama air minumnya."


"Air minumnya dingin?" tanya Citra.


"Iya, tapi sebelum itu kamu bereskan dulu dapurnya. Aku nggak suka sama hal-hal yang berantakan." Mata Steven menatap perkakasnya yang berantakan.


"Iya." Citra mengangguk patuh, dia pun langsung berjongkok lalu mengambil beberapa barang-barang itu dan menaruhnya ke tempat semula. Juga dengan beberapa barang yang ada di atas meja dapur.


Steven mendudukkan bokongnya pada kursi tempat meja makan, lalu tak lama terdengar bunyi notifikasi chat masuk dan ternyata itu dari Fira. Gadis itu mengirimkan sebuah foto yang dimana dia tengah berfoto dengan papa dan mamanya Steven.


Seketika pria tampan itu mengulas senyum. Dadanya terasa hangat melihat foto tersebut, apa lagi dengan senyuman kedua orang tuanya yang tampak begitu manis dan nyaman dekat dengan gadis itu.


'Ternyata selain dekat sama Mama ... Fira juga dekat sama Papa. Bagus deh kalau kayak gitu.'


"Ayok makan, Om," kata Citra dan seketika membuat Steven kaget. Dia pun langsung membalik layar ponsel itu di atas meja, lalu menatap masakan Citra yang tersaji rapih di atas meja.


"Nasi kamu juga yang masak ini?" tanya Steven seraya menyentong nasi ke atas piringnya. Lalu meremat beberapa butir untuk mengecek matang atau tidaknya.

__ADS_1


"Iya, Om. Tapi aku belum cicipi itu matang atau nggak. Pas masak tombolnya udah bunyi sih tadi." Citra menarik kursi lalu duduk di depan Steven.


"Sepertinya sih matang."


Citra mengambil nasi untuk dirinya sendiri, lalu menaruh telur dadar kecap di atasnya. Dia juga memberikan 3 potong telur dadar di atas piring Steven tepat di atas nasinya.


"Om yakin mau habiskan semua telurnya? Nggak mau ajak Om Ajis makan di sini?" tanya Citra dengan wajah tak yakin. Sebab telur di atas piring itu terlihat banyak.


"Sudah sih, kenapa ngomongin Ajis mulu, aku bisa kok ngabisinnya." Steven mendengkus kesal, lalu memotong telur itu dengan sendok sembari memperhatikan bumbu di atasnya. Cabe dan bawang itu dipotong terlihat besar-besar dan potongannya pun tidak rapih. "Irisan bawang sama cabenya jelek banget, Cit. Ini kalau dijual pasti nggak laku."


"Namanya baru pertama kali buat, Om. Ya maklumi aja."


"Kamu kasih garam sama merica nggak ini?" Sendok yang berisi telur itu sudah berada di dekat bibirnya, tetapi dia ragu untuk melahapnya langsung.


"Iya, Om." Citra mengangguk.


"Memangnya kamu bisa bedain mana garam dan merica? Nanti kamu taburinnya gula lagi," kata Steven yang tak percaya.


"Cobain dulu aja, aku pas naruh ke dalam telur dicicipi dulu sedikit Om."


Steven membuka mulutnya, lalu melahap potongan telur itu. Dan seketika matanya berbinar. Satu kata dalam hatinya yaitu 'ENAK'


"Bagaimana rasanya, Om?" tanya Citra seraya mengunyah makanannya, matanya juga ikut berbinar karena takjub sebab asanya enak. Dia tak menyangka—kalau dirinya bisa memasak telur dadar enak untuk pertama kalinya. "Wah, enak banget. Rasanya kaya telur di restoran."


Citra yang merasa bangga itu langsung mengambil ponselnya pada saku baju, lalu mengabadikan sepiring besar telur dadar itu. Tak lupa berfoto juga dengan Steven sambil mengangkat tangannya yang berbentuk huruf V di dekat pipi. Dilihat ekspresi suaminya itu tampak heran, dia juga bahkan tak menatap kamera.


"Ngapain pakai difoto segala?" tanya Steven.


"Ya buat kenang-kenangan, ini pertama kali aku masak dan rasanya enak."


"Lebay kamu, Cit."


"Biarin aja." Mereka pun meneruskan makannya hingga selesai. Terlihat jelas Steven makan dengan begitu lahap dan sepiring besar telur dadar itu benar-benar dia habiskan masuk ke dalam perut.


Citra segera berdiri, lalu membereskan piring kotor itu. Menumpuknya supaya gampang dibawa.


"Sekalian dicuci, jangan bilang kamu juga nggak bisa nyuci piring."


"Bisa, Om. Nyuci piring mah gampang." Citra tersenyum manis, dia pun berjalan menuju dapur. Wajahnya tampak ceria sekali, dia merasa senang bisa memasak untuk Steven.

__ADS_1


*


*


"Om ... apa ini artinya aku bisa bertemu Mama Sindi besok?" tanya Citra pada Steven yang tengah duduk di sofa sambil nonton televisi, dia sudah tak sabar ingin bertemu mamanya Steven.


"Belum," jawab Steven tanpa menoleh dan fokus nonton acara bola.


"Kan aku sudah masak tadi, masa belum?"


"Memang kamu lupa apa yang aku katakan tadi?" Steven menoleh pada Citra sebentar.


"Tentang apa?"


"Menjadi menantu idaman Mamaku, kan masih banyak hal yang kamu belum bisa. Dan kamu juga baru bisa goreng telur. Pintar memasak itu berarti bisa masak apa saja, Cit."


"Nanti aku ikut kursus memasak deh, Om."


"Kamu 'kan kuliah, nanti menganggu waktu belajar."


"Cari yang sore aja."


"Ya sudah, nanti kalau mau aku yang akan carikan. Oh ya, kamu sudah hafal bacaan salat belum?"


"Udah, memang kenapa? Mau dites sekarang?"


"Besok saja, sekalian salat subuh. Besok kamu bangun sekitar jam 4. Pokoknya pas aku mengetuk pintu kamarmu kamu sudah bangun. Tapi nanti kita salatnya di kamarku saja."


Citra mengangguk semangat. "Oke deh, sekarang aku mau ke kamar dulu ya, Om. Selamat malam."


"Kamu mau tidur? Masih juga sore." Steven menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Dia juga merasa masih ingin mengobrol dengan Citra.


"Aku mau nonton drakor dulu, Om, sebelum tidur. Ada drakor yang baru rilis. Pemainnya ganteng banget, sayang kalau kelewat."


"Sama aku lebih ganteng siapa?" tanya Steven penasaran.


...Dih, apaan, sih. 🙈...


Like, komen serta hadiah jangan lupa berikan untuk dukungan, ya! 🙃 yang mau aja, ini ga maksa kok✌️

__ADS_1


Author lagi ikut crazy up soalnya, biar lebih semangat up sehari 3 bab aja. Selamat malam semuanya~ 😘 semoga mimpi indah ☺️


__ADS_2