
"Kenapa si Kevin dikawinin?" tanya Sindi. Dia pun berjongkok lalu membuka pintu sangkar burung berwarna putih itu. Kemudian memperhatikan burung tersebut.
Setelah dilihat lebih dekat, ternyata warna bulunya jauh lebih putih daripada Kevin. Begitu pun dengan warna jambulnya, kuning terang. Cantik sekali.
"Ya biar si Kevin ada pendamping. Teruskan biar beranak juga, Ma," jawab Angga. Sindi mengangguk-angguk.
"Apa dia bisa bicara?" tanya Sindi kepada Ahmad.
"Bisa, Bu." Ahmad mengangguk. "Tapi jarang ngomong dia. Dia pendiam dan pemalu emang burungnya."
"Saya tidak suka padanya, Tante!" seru Kevin dengan lantang sambil menatap sinis Janet.
"Sombong sekali!" balas Janet yang tiba-tiba bicara. Suaranya terdengar begitu merdu.
"Tuh, bicara dia," kata Ahmad.
Angga yang mendengar serta melihatnya itu langsung berbinar, dia mengulum senyum.
"Ma, boleh, ya, Papa beli dia buat Kevin," pinta Angga seraya menunjuk Janet yang tengah memalingkan wajahnya. Dia tampak kesal mendengar apa yang Kevin ucapkan.
"Tapi Kevinnya bilang nggak suka, Pa. Kan Papa dengar sendiri." Terserah saja sih menurut Sindi, hanya saja kalau Kevinnya tidak suka untuk apa. Yang ada nanti mereka tidak akan bisa kawin dan mempunyai keturunan.
"Mereka belum saling mengenal, mangkanya Kevin bilang seperti itu. Tapi kalau sudah berada di satu kandang pasti sama-sama suka," ujarnya yakin.
"Masa, sih? Apa nggak berantem mereka nanti?" tanya Sindi ragu. Dia sendiri tak mengerti bagaimana interaksi burung, apalagi kalau saling tidak suka.
"Ya dicoba dulu, Ma."
"Tapi takutnya betinanya mati, Pa."
"Masa mati, nggaklah." Angga menggeleng yakin.
"Begini saja, Pak," ujar Ahmad. Dia juga tak mau ambil resiko jika Janet mati. Ya meskipun sudah dijual, rasanya sedih kalau tahu dia tiada. "Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ... coba Bapak ajak Kevin ke penangkaran burung Kakatua, biar Kevin milih sendiri siapa jodohnya."
"Memangnya bisa kalau kayak gitu?" Kening Angga mengerenyit.
"Bisa, ya tergantung Kevinnya juga sih, mau kawin atau nggaknya. Tapi nanti banyak betina kok disana, jadi banyak pilihan."
"Tapi aku senengnya Kevin sama Janet, kayaknya mereka cocok."
__ADS_1
Ahmad menggaruk kepalanya. Bingung. Di sisi lain dia memang ingin menjual Janet karena butuh uang, namun di sisi lain juga takut tidak cocok yang berakibat Janet mati.
"Dicoba dulu saja, Pak. Nanti kalau Kevin belum mendapatkan jodoh ... besok Bapak bisa ke rumah saya dan membeli Janet," saran Ahmad seraya mengambil ponselnya di dalam kantong celana. "Boleh saya minta nomor Bapak?"
"Boleh." Angga mengangguk. Dia menyetujui pendapat dari pria berambut kribo itu, sepertinya dia jauh berpengalaman tentang burung dibanding dirinya yang awam. "Ngomong-ngomong penangkaran burung lokasinya di mana? Aku nggak tahu."
"Nanti saya beritahu. Ya sudah, saya pulang dulu kalau begitu."
"Iya." Angga mengangguk. Lalu menatap Ali dan menggerakkan kepalanya, seolah memberikan isyarat untuk mengantarkan Ahmad pulang.
Ali mengangguk paham. Segera dia dan Aldi masuk ke dalam mobil. Dilihat wajah Janet tampak sedih menatap Kevin yang kini tengah memalingkan wajahnya, bola mata burung betina itu tampak berkaca-kaca.
"Ah kamu, Vin. Dikasih betina nggak mau. Kawin itu enak tahu," omel Angga.
"Saya tidak mau, Pa! Janet jelek!" Kevin menggelengkan kepala.
"Dia cantik lho, matamu saja yang belekan. Jadi nggak bisa bedain mana yang cantik dan mana yang jelek."
"Yang cantik hanya dia!" seru Kevin sambil mengepakkan sayapnya, lalu terbang menghampiri seseorang yang baru saja turun dari mobil. Dia adalah Citra. "Saya kangen Nona Cantik! Kawin yuk!"
"Apa-apaan kau!" teriak Steven yang juga turun dari mobil. Dia langsung berlari memutar menghampiri Citra, ingin mencekik Kevin. Namun burung itu langsung terbang tinggi, menghindarinya.
"Jangan galak-galak Kakak Steven! Kita 'kan saudara!" kata Kevin seraya tertawa.
"Lho, kamu kenapa, Cit? Kok cemberut?" tanya Sindi saat menantunya itu mencium punggung tangannya. Wajah Citra terlihat merengut, memang sejak di kantor sambil menunggu Steven selesai kerja dia masih marah.
Marahnya bukan lantaran lama menunggu, akan tetapi karena Steven dan Gugun berantem. Yang Citra inginkan mereka berdua kembali akur seperti dulu, sebab bagi Citra—Gugun sudah dia anggap sebagai Omnya sendiri. Dia juga menyayanginya.
"Nggak kenapa-kenapa kok, Ma." Citra tersenyum, lalu beralih mencium punggung tangan Angga. "Aku langsung ke kamar dulu, Ma, Pa, mau mandi," katanya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
"Tunggu dulu!" tekan Angga pada Steven. Pria itu hendak berlari mengejar Citra dan ingin minta maaf. Sudah minta maaf sebenarnya saat di kantor, hanya saja gadis itu mengabaikannya. "Kamu berantem sama Dedek Gemes? Bukannya Papa sudah memperingatkanmu supaya jangan menyakitinya?!" berangnya sambil melotot.
Steven menggeleng cepat. "Nggak kok, si Citra marah karena minta cium nggak dikasih," jawab Steven asal.
"Jangan bercanda kamu, mana mungkin Citra minta cium nggak dikasih?" Angga tak percaya. Jelas sekali kalau anaknya yang mesum di sini. "Jujur sama Papa!"
"Wajahmu kok lebam, Stev? Kamu berantem sampai pukul-pukulan? Apa Citra yang melakukannya?" tanya Sindi.
"Mana mungkin, Ma!" tegas Angga tak terima. "Citra itu manis dan lemah lembut, mana mungkin mukul Steven. Itu pasti Steven habis berantem sama orang," tebaknya yang memang benar.
__ADS_1
"Iya, aku habis berantem sama Gugun dan Citra marah," kata Steven memberitahu. Bibirnya mengerucut.
"Kenapa kalian berantem? Bukannya kamu dan Gugun sudah nggak ada masalah lagi?" tanya Angga.
"Gugun genit, masa aku lihat dia nyamperin Citra di cafe. Pakai pegang-pegang tangan segala. Apa nggak panas telorku, Pa?!"
"Apa hubungannya dengan telor? Dada kali yang panas, karena cemburu."
"Aku nggak cemburuan orangnya. Aku hanya kesal kalau Citra dekat sama laki-laki lain. Mau siapa pun itu!"
"Tapi jangan terlalu lah, nanti tertekan si Citranya. Kamu bisa ditinggalin beneran sama dia lho."
"Nggak bakal, dia 'kan tergila-gila sama aku." Steven berlari masuk ke dalam rumah.
*
*
Tok ... Tok ... Tok.
Steven mengetuk pintu kamar mandi lalu memutar handle pintu. Berupaya masuk ke dalam hanya saja dikunci dari dalam.
"Cit! Buka pintunya dong! Aku juga mau mandi!" teriak Steven.
Citra tak menjawab, hanya terdengar suara gemericik air yang keluar shower di dalam sana. Telinga kiri Steven menempel pada pintu, lantas dia pun menelan salivanya dengan kelat.
Otak kotornya langsung bekerja, membayangkan Citra mandi. Lekukan tubuh putih nan mulus itu makin menggoda karena cipratan air shower.
Sungguh menggiurkan sekali dan membuat birahi Steven memuncak. Si Elang langsung tegak berdiri di dalam celana.
"Citra! Buka pintunya! Aku mau mandi bareng!" teriak Steven kencang sembari menggedor pintu.
Tak ada sahutan, Steven pun berdecak kesal dan memutar ide. Tentu supaya istrinya tidak marah lagi.
Perlahan dia pun melepaskan seluruh pakaiannya, menjatuhkannya ke lantai hingga tubuhnya polos sempurna.
Setelah itu dia pun naik ke atas kasur, lalu terlentang dengan kaki menghadap ke arah pintu kamar mandi.
Otomatis kalau Citra keluar dari kamar mandi, dia bisa langsung melihat Steven telanjang bulat.
__ADS_1
"Kalau sudah telanjang begini pasti dia kepengen, kan? Ah iya, pasti itu. Citra langsung naik ke atas dan goyang," kata Steven sambil berkhayal.
...Mang iya? 😆 kalau tambah ngambek gimana, Om 🤣...