Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
284. Papi Baru Vs Mantan Papi


__ADS_3

"Masa sampai dipukul segala, nggak mungkin ah." Juna menggeleng tak percaya.


"Namanya orang sakit hati 'kan nggak tahu, Jun. Memang kamu mau, Papi barumu kenapa-kenapa?"


"Nggak." Juna menggeleng cepat. "Tapi Papi baruku pasti ngelawan lah kalau dipukul. Masa diam saja, Papiku 'kan jagoan!"


"Waktu itu bukannya Papimu ketusuk, ya, pas nyelametin kamu yang mau diculik?" tanya Atta. Dia tahu tentang itu karena Juna pernah cerita. "Berarti itu tandanya dia nggak jagoan dong."


"Namanya pisau ya tajam, Ta, kalau ditusuk. Kecuali Papiku punya ilmu kebal, baru nggak ketusuk. Kamu ini ada-ada saja!" Juna mendengkus kesal. Dia tampak tak terima jika Tian yang menurutnya papi sempurna di hidupnya itu diremehkan. "Ayok kita keluar sekarang, kita buktikan siapa yang akan kalah, kalian berdua dukung siapa? Papi baruku atau mantan Papiku?" Menatap kedua temannya bergantian.


"Aku dukung Papi barumu," kata Atta menyahut lebih dulu.


"Aku juga, Jun," lanjut Baim.


"Masa kalian dukung Papi baruku semua? Nggak seru dong namanya."


"Mantan Papimu 'kan nggak ramah orangnya, Jun. Aku kasih bintang satu," ujar Atta menatap Baim. "Iya kan, Im?"


"Iya." Baim mengangguk cepat. "Aku sama Atta pernah ketemu dia di minimarket. Terus duit kita kurang pas beli kinderjoy, kita mau ngutang sama dia tapi mantan Papimu malah nggak nanggepin kita, Jun."


Baim berbicara sesuai fakta. Belum lama ini mereka bertemu dengan Abi. Dan mereka masing-masing menginginkan uang 2 ribu untuk tambahan. Tetapi pria itu mengabaikannya. Padahal Abi juga tentu mengenal mereka yang begitu dekat dengan Juna sebelum ketiganya sekolah bersama.


"Mangkanya dia sudah aku pecat, memang pilihanku nggak salah, kan?"


"Iya." Atta dan Baim mengangguk cepat. "Ya sudah ayok, kita lihat mereka duel. Nanti aku videokan," kata Baim. Ketiga pun lantas melangkah.


Tian mengerutkan keningnya, dia merasa bingung sendiri sebab hampir seluruh anak-anak itu sudah keluar kelas. Suasananya juga mulai sepi tapi Juna tak kunjung keluar.


'Mana si Juna, kok belum keluar juga dia? Apa berak dulu di toilet kali,' batin Tian. Kemudian menoleh ke arah Abi yang tengah bersedekap. Pria itu memakai kacamata hitam.


"Bapak nungguin anak Bapak juga?" tanya Tian dengan ramah seraya melangkah mendekat.


Abi menoleh, kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan memperhatikan Tian dari ujung kaki hingga kepala.


"Bapak Tian Siregar, kan?" tebak Abi dengan tatapan sinis.


"Iya." Tian mengangguk lalu menatap Abi dengan seksama. Rasanya wajah itu tampak familiar. Dia terdiam sebentar untuk mengingat.


"Bapak masih jadi karyawan biasa di kantornya Pak Tegar, ya?" tebak Abi.


Pertanyaan dari pria itu lantas membuat Tian mengingat jika Abi ini dulunya adalah rekan bisnisnya. Tetapi saat perusahaan Tian tergoncang, Abi langsung memutuskan kontrak kerjasamanya secara sepihak. Padahal saat itu, perusahaan Tian begitu sangat membutuhkan bantuan.

__ADS_1


Abi tak mau ambil resiko, jika nantinya perusahaan dia rugi. Jadi semuanya langsung dia batalkan.


"Oh, maafkan aku, Pak. Ternyata Bapak adalah Pak Abimana, ya? Aku lupa. Tapi aku sudah nggak kerja lagi di sana," jawab Tian sambil tersenyum.


"Berarti sekarang pengangguran, ya?" tebak Abi sambil tersenyum miring. "Aku sempat dengar dari karyawanku Bapak juga banyak hutangnya. Apa Bapak nggak malu, dikejar-kejar hutang?"


"Aku sudah ...." Ucapan Tian terhenti kala melihat Juna dan teman-teman mendekat. Bocah itu langsung memeluk tubuhnya.


"Papi!" seru Juna dengan riang gembira. Baim sudah bersiap merekam video, ponselnya berada dalam genggaman.


"Hei! Apa-apaan kamu, Jun! Kamu salah orang! Papi di sini!" Abi tampak bingung sekaligus kesal, saat melihat anaknya memeluk pria lain. Segera, dia pun menarik lengan kecil Juna dan membawanya untuk mendekat ke arahnya.


"Tapi Juna itu anakku, Pak," kata Tian dengan tangan yang meraih sebelah lengan Juna. Tubuh bocah itu tertahan ditengah-tengah di antara mereka.


"Bakal seru nih!" gumam Atta sambil menautkan kepalan tangannya. Menurutnya, ini awal mereka yang akan berduel.


"Papi, kenalkan ini mantan Papinya Juna, namanya Papi Abi," kata Juna seraya menatap Tian kemudian beralih ke arah Abi. "Papi, kenalkan ini Papi Tian, Papi barunya Juna."


"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Abi dengan dagu yang terangkat. Rahang di wajahnya tampak mengeras. "Papi ini Papi kandungmu, bukan mantan Papimu!" serunya marah sambil menyentuh dada.


"Sama saja, intinya sudah mantan."


"Bapak harus izin dulu kepadaku dan Nissa, jangan asal bawa Juna begini," tegur Tian dengan nada suara yang masih lembut.


"Izin?" Mata Abu tampak merah, sorotannya pun begitu tajam pada Tian. "Juna ini anakku, ngapain juga aku izin padamu yang bukan siapa-siapanya! Minggir!" Mendorong dada Tian, tetapi pria itu tak melepaskan tangan Juna.


"Kan tadi Bapak sudah dengar dari Juna, kalau aku ini Papi barunya. Bapak juga ada angin apa, kok tiba-tiba datang ingin mengajak Juna pergi? Selama ini ke mana saja? Sampai lupa sama anak sendiri."


"Siapa yang lupa? Aku ini orang sibuk, bukan sepertimu yang pengangguran! Lagian, kamu nggak ada hak untuk melarangku!" tegas Abi. Kembali dia menarik lengan Juna untuk masuk ke dalam mobil. Tetapi baik Juna atau pun Tian, mereka masing-masing tidak ingin dipisahkan. Tangannya saling menggenggam. "Lepaskan tangan anakku! Minggir bodoh!" geramnya sambil mendorong dada Tian. Kali ini lebih kencang hingga membuat tubuh pria itu terjatuh.


Bruk!!


Setelah bocah itu masuk ke dalam mobil pada kursi depan, Abi berlari memutar ke arah kursi kemudi. Tetapi saat dirinya hendak membuka pintu, pergelangan tangannya dicekal oleh Tian.


"Jangan bawa Juna pergi! Aku nggak mengizinkannya!" tegas Tian.


Kedua tangan Abi mengepal kuat, merasa kesal sebab pria itu sejak tadi menghalanginya. Dan tanpa banyak berpikir, dia lantas menonjok pipi kiri Tian.


Bugh!


"Rasakan!" teriaknya murka.

__ADS_1


Tian membulatkan matanya. Dadanya langsung bergemuruh dengan emosi yang memuncak.


Sejak tadi dia mengontrol diri untuk tidak marah, apalagi sampai main tangan. Selain karena Abi adalah Papi kandungnya Juna, dia juga tidak melupakan kalau pria itu dulu rekan bisnisnya.


Namun rasanya tidak adil, jika hanya pria itu saja yang memukul.


Bugh!


Sebuah bogem mentah kini dilayangkan juga oleh Tian ke pipi kiri Abi. Dan sontak membuat pria itu makin murka.


"Kurang ajar sekali kau!" pekiknya lalu menonjok perut Tian.


Bugh!


Tubuh pria itu sempat mundur beberapa langkah, tetapi dia pun membalas untuk menonjok perut Abi.


Bugh!


"Bapak juga kurang ajar! Enak saja bawa Juna tanpa meminta izin! Dia sudah menjadi anakku!" pekik Tian seraya menonjok perut Abi lagi.


Bugh!


"Eeuughh! Kau nggak pantas menjadi Papinya! Kau pria kere!" berangnya yang kembali menonjok Tian di bagian wajah.


Bugh!


Aksi tonjok menonjok itu berakhir ke tanah, keduanya gulang-guling dengan saling ingin menindih satu sama lain. Atta dan Baim malah saling bertepuk tangan dan menyeru nama Tian. Mereka seakan menyukai pertarungan kedua gelar papi yang memperebutkan temannya.


"Ayok pukul Papi Tian! Cepat pukul!" seru Atta dengan penuh semangat.


Bukan hanya itu, mereka juga sampai melompat-lompat karena sangking senangnya. Sedangkan Juna, dia sejak tadi diam membisu duduk di kursi, dalam hati ingin membantu Tian, tetapi disisi lain dia sangat ingin melihat segimana kekuatan Tian yang mampu mengalahkan Abi.


"Bikin mantan Papi babak belur, Pi!" tambah Baim.


Mendengar itu, Abi merasakan panas di dadanya. Meskipun tidak ada yang menyerukan namanya, dia sama sekali tak mau dikalahkan oleh Tian.


Segera dia pun meraih leher Tian seraya mencekiknya dengan kedua tangan. Walau kini Tian berada di atas tubuhnya, tetapi Abi berusaha untuk menaklukkannya.


Tian membulatkan matanya kala merasakan cengkraman tangan pria itu. Dia pun langsung membalasnya juga, mencekik leher Abi hingga kedua wajah mereka sama-sama memerah dan saling menahan sesak di dada.


...walah, bener kan seru 🤣 nanti kalau yang satu mati, yang satunya ikut mati. Mamimu bisa jadi janda lagi lho, Jun 😂...

__ADS_1


__ADS_2