
Setelah hatinya dirasa cukup tenang, Tian memutuskan untuk keluar toilet dan melangkah menuju ruangannya.
Namun, langkah kakinya seketika terhenti lantaran melihat Nissa sedang mengobrol dengan dua orang dari arah yang cukup jauh.
Tian menatapnya sebentar, dan sontak matanya membulat kala dua orang yang mengobrol dengan Nissa adalah Citra dan Steven. Tidak masalah kalau dia bertemu Citra, masih bisa diatasi dengan mengarang cerita dan gadis polos itu pasti akan percaya.
Akan tetapi, beda dengan Steven. Pria tampan itu seolah sudah tahu bagaimana busuknya Tian. Mungkin kalau pun dia jujur—akan tetap terlihat bohong di depannya.
Merasa panik, cepat-cepat Tian pun masuk ke dalam ruangannya. Mencari aman supaya dua orang itu tak melihat keberadaannya.
"Padahal lagi hamil, tapi kamu masih tetep kuliah. Kenapa nggak cuti dulu saja, Cit?" tanya Nissa.
"Hamil juga masih kecil, Mbak. Nggak masalah. Malah kalau di rumah mulu aku bosen nggak ada kegiatan," jawab Citra.
"Kan kalau malam kita berkegiatan, Cit," kata Steven.
"Ya itu 'kan beda, Om. Dan itu cuma malam. Siangnya aku nganggur."
"Kamu bisa main ke sini kalau bosan," usul Nissa.
"Kita juga bisa bercinta siang kok, nanti pas jam makan siang aku pulang untuk ngecas."
Citra menggeleng. "Nggak mau. Capek dong ngecas mulu."
"Capek enak, bikin nagih." Steven menarik turunkan alis matanya sambil tersenyum menggoda. "Buktinya tadi pagi kamu minta nambah."
"Ya itu 'kan gara-gara semalam cuma seronde. Bisanya 'kan Om mengajakku nggak sekali."
"Itu 'kan karena ngantuk, kalau nggak ngantuk aku juga kuat nambah kok."
"Ah kalian ini. Membahas ranjang di depan Mbak. Nggak ngertiin perasaan jomblo apa." Nissa merengut lalu memalingkan wajahnya.
"Nggak tahu, Om, nih!" Citra menyenggol lengan Steven. Perasaannya mendadak tak enak. "Maaf ya, Mbak. Kami nggak bermaksud membuat Mbak kesal."
"Nggak apa-apa. Mbak hanya bercanda. Oh ya, itu meja pesananmu."
Nissa menunjuk sebuah meja dan sofa yang berada di ruang kaca. Itu adalah meja khusus, pemesanan VVIP. Biasa digunakan para mahasiswa yang kerja kelompok dan pertemuan seorang pembisnis dengan rekannya.
Sebelum Citra bertemu Steven, dia sering mengunjungi restoran Nissa dan makan bersama Danu. Selain itu dengan temannya juga. Memesan meja seperti itu juga sering dia lakukan.
"Iya, Mbak. Terima kasih." Citra mengangguk seraya tersenyum. Dia pun lantas menatap ke arah Steven. "Om pulang saja, ya, atau kalau nggak tunggu di sini, teman-temanku sebentar lagi sampai soalnya." Tangan memegang ponsel, dan ada chat masuk dari David yang memberitahu kalau dia dan Sisil sudah berada di parkiran.
"Aku tungguin di sini deh, sambil duduk lihatin kamu." Steven segera duduk di kursi kosong, yang mengarah tepat di depan meja pesanan Citra. "Tapi jangan genit, ya, nanti aku samperin kamu kalau genit."
"Nggak bakal, Om." Citra tersenyum, lalu melangkah ke arah sana. Masuk ke dalam ruang kaca.
Tak lama kemudian, David dan Sisil datang. Namun mereka tak menyapa Steven sebab tak tahu keberadaan.
Pria tampan itu sejak tadi memperhatikan David, dan mulai mengingat-ngingat akan wajahnya. Benar atau tidaknya dia temannya Udin.
"Mbak tinggal dulu ya, Stev," ucap Nissa yang hendak pergi.
__ADS_1
"Mbak mau ke mana? Oh ya, di mana Arjuna? Aku mau main sama dia."
"Dia bukannya ada di rumah Papa, ya? Papa bilang mau jemput ngajak main."
"Masa? Tapi aku nggak lihat dia."
"Mungkin ke rumah Papanya pas kamu ke sini."
"Oh ya, Mbak, aku sekalian mau ngasih tahu. Waktu itu Mbak 'kan minta tolong mencarikan manager, kebetulan Kakaknya Dika mau. Dia lulusan S1 dan pernah kerja jadi manager juga," ujar Steven.
"Nggak usah, Stev. Mbak sudah mendapatkan manager baru. Malah hari ini sudah kerja dan diajari."
"Pecat saja, Mbak. Mending ganti sama Kakaknya si Dika."
"Masa dipecat, orang baru sehari kerja. Kasihan lah, Stev. Ya sudah, ya, Mbak tinggal."
Steven mengangguk. Setelah kepergian Nissa, dia pun memesan kopi.
Ceklek~
Nissa membuka pintu ruangan manager dan Tian yang hendak menatap laptop itu pun melirik kepadanya.
"Udah cuci mukanya, Ti?" tanya Nissa seraya menghampiri.
"Udah. Maaf ya, Nis, aku buat kamu ilfil tadi," ucap Tian dengan perasaan tidak enak.
"Nggak apa-apa, ayok kita lanjutkan. Tapi kamu nggak boleh ngiler lagi, ya?" Nissa berdiri di samping Tian.
*
*
"Tian, kamu sudah boleh pulang," ucap Nissa seraya menghampiri Tian yang tengah berdiri sembari menatap para pelanggan. Pria itu pun langsung menoleh, dan menatap arlojinya yang menunjukkan pukul 5 sore.
"Besok aku masuk jam berapa, Nis? Dan apa ada liburnya?"
"Besok 'kan Minggu, jadi jam 7 sampai 6 malam. Kalau hari biasa jam 8 sampai 5 sore. Liburnya di hari Jum'at," jelas Nissa.
"Oh begitu. Eemm ... kamu sendiri mau pulang apa nggak?"
Nissa mengangguk. "Iya, aku juga mau pulang."
"Bareng saja, aku antar."
"Aku dijemput sopir, Ti."
"Oh begitu. Ya sudah deh, kamu hati-hati di jalan, ya?"
"Kamu juga." Nissa tersenyum, keduanya pun lantas melangkah bersama keluar dari pintu kaca restoran. Tian terdiam sejenak saat melihat Nissa masuk ke dalam mobil yang dibukakan pintu oleh seorang pria yang mungkin dia adalah sopirnya.
Ada rasa kecewa dalam hati, sebab tak bisa mengantarkannya pulang. Padahal, Tian masih ingin mengobrol dengannya.
__ADS_1
'Besok saja deh kalau begitu,' batin Tian.
***
Sampainya di rumah, sang istri tercinta langsung menyambutnya dengan penuh sukacita.
Dia mengandeng lengan Tian, lalu mengajaknya duduk di ruang keluarga.
"Mas mau minum apa? Teh, susu, kopi apa jus?" tanya Fira sambil tersenyum dan mengelus lembut pipi kiri Tian.
"Memangnya semua ada?" tanya Tian bingung. Kemarin sore mereka memang habis belanja bulanan. Namun yang pokok saja yang dibeli, teh dan jus mereka tidak membelinya.
"Ada, aku tadi habis belanja bulanan, Mas."
"Bukannya kemarin sudah? Kok belanja lagi?"
"Kemarin 'kan nggak beli jus, jadi aku belanja lagi."
"Oh." Tian mengangguk, lalu pandangannya teralihkan pada jam tangan mewah yang dikenakan oleh Fira. Warnanya putih dan tampak mengilap. "Itu jammu baru, pasti baru beli tadi, ya?" tebaknya.
"Iya. Tapi ini kredit kok. Jadi bayarnya bisa nyicil."
"Aduh, Fir. Kenapa pakai kredit segala?" Tian menyentuh dahinya yang mendadak terasa pening di dalam sana. "Kan kamu tahu hutangku banyak, kenapa pakai acara ditambah. Pusing tahu, Fir."
"Ini murah kok, cuma 10 juta, Mas. Sebentar ... aku buatkan Mas kopi saja. Mas pasti mau ngopi." Fira berlalu pergi meninggalkan Tian, menuju dapur.
"10 juta dia bilang murah? Disituasi krisis begini? Apa nggak geser otak si Fira?" Tian mengacak rambutnya. Pusing, kesal dan emosi menyeruak menjadi satu. Namun lagi-lagi Tian tak bisa apa-apa.
Tak lama, Fira datang dengan membawa secangkir kopi. Kemudian meletakkannya di atas meja. Suaminya itu tengah membuka jas dan dasinya, lalu menaruhnya ke penyangga sofa.
"Bagaimana acara PDKTnya, apa sukses, Mas?" tanya Fira penasaran. Dia duduk di samping Tian sambil memijat bahunya dengan lembut.
Tian bingung untuk menjawab. Sepertinya, apa yang dilakukannya tadi pagi hanya melamar kerja, bukan sebuah PDKT. Sikap Nissa pun cenderung biasa saja, dan malah Tianlah yang terpesona padanya.
"Kok diem, sih, Mas? Mas malu, ya, ngomong sama aku?" tebak Fira. "Jujur saja, nggak usah malu-malu, apa lagi ngerasa nggak enak. Aku justru seneng kalau Mas berhasil mendapatkan hati Mbak Nissa."
"Aku sebenarnya tadi sudah jadi manager di restorannya Nissa, Fir," ujar Tian memberitahu.
Mata Fira sontak berbinar. "Seriusan, Mas? Kok bisa, sih?"
"Kebetulan dia lagi butuh manager, dan sekalian saja aku mengajukan diri. Ternyata diterima." Tian tersenyum sambil membayangkan wajah cantik Nissa yang berada di dekatnya.
"Itu bagus, Mas. Terus, Mas sudah ambil uangnya?"
"Uang apa?"
"Kan bekerja jadi manager juga sekalian mengatur keuangan. Memang Mas nggak ambil uangnya? Pasti sehari saja pendapatannya sudah puluhan juta."
"Maksudmu aku harus korupsi? Nyelipin uang di restoran?" Tian menoleh, keningnya mengerenyit.
"Ya iyalah," geram Fira. "Kalau nggak korupsi, terus apa tujuan Mas deketin Mbak Nissa? Kan mau menguras hartanya!"
__ADS_1
...Wah, lupa kayaknya suamimu, Fir 🤣...