
"Papa nggak apa-apa kok." Angga tersenyum, lalu mengusap bahu Sofyan.
"Masa sih nggak apa-apa? Apa Papa lagi berantem sama Mama, ya?" tebak Sofyan.
"Nggak kok." Angga menggeleng.
"Oh iya. Steven sempat cerita ... kalau dia sudah selesai puasa, mau mengajak Citra jalan-jalan ke Bali. Mau bulan madu katanya. Nanti rencananya aku mau menginap sama Maya dan Jordan ke rumah Papa, boleh, kan?" tanya Sofyan.
"Bolehlah, ngapain pakai izin segala," balas Angga. Dia juga tentu ingat, sebab Steven pernah bercerita dan menitipkan si kembar kalau keduanya bisa bercinta lagi.
***
Ceklek~
__ADS_1
Steven dan Citra tiba di apartemennya, seusai kondangan. Keduanya pun lantas masuk ke dalam sana lalu menutup pintunya kembali.
"Eh, Pak Steven dan Nona Citra sudah pulang?" ujar Suster Dira yang baru saja keluar dari kamarnya. Tangannya memegang dot bayi yang kosong.
"Si kembar sudah tidur belum, Sus?" tanya Citra.
"Sudah, masuk saja Nona." Suster Dira melebarkan pintu kamar, kemudian Citra melangkah masuk ke dalam sana.
"Si Kevin sama Janet ke mana, Sus?" Steven mendudukkan bokongnya di sofa, sambil membuka jas putihnya.
Mata Steven sontak terbelalak. "Masa? Terus Suster suruh masuk?! Harusnya jangan!"
"Itu juga nggak kok." Suster Dira menggeleng cepat. "Saya malah nggak buka pintunya sama sekali, karena kata Kevin ... Bapak yang melarang."
__ADS_1
"Memang iya. Pokoknya Papa dan Mama jangan dibolehkan ke sini, apalagi menemui si kembar!" tegas Steven.
"Aa jangan begitu, dosa namanya!" tegur Citra yang baru saja keluar dari kamar sembari mendorong keranjang bayi. Dia tadi tak sengaja mendengar ucapan Steven dan tampak tak terima dengan pernyataannya. "Aa boleh marah, tapi jangan membatasi Opa dan Oma yang mau ketemu cucunya."
"Biarkan saja ah! Suruh siapa mereka punya anak lagi. Padahal 'kan harusnya ngurus cucu saja. Kasihan si kembar ... mereka pasti akan kehilangan kasih sayang Oma dan Opanya." Steven mendengkus kesal. Dia lantas bangun dan meraih ranjang si kembar, kemudian mendorongnya untuk masuk ke dalam kamar bersama dengannya.
Steven ingat, pas Sofyan dan Nissa mempunyai anak yang masih bayi—Angga dan Sindi selalu mencurahkan kasih sayangnya lewat apa pun. Entah dengan cara ikut mengurus atau memberikan hal apa pun.
Jadi dia berpikir, pasti si kembar tidak akan mendapatkan semua itu. Karena mereka pasti akan berfokus kepada anak yang belum lahir itu.
"Tapi anak itu 'kan dari Allah, A. Aa nggak perlu menyalahkan mereka, pasti kalau disuruh milih mah mereka juga udah nggak mau punya anak lagi, karena sudah tua." Citra ikut masuk, kemudian duduk di atas kasur.
Dilihat suaminya itu tengah berganti pakaian. Memakai kolor pendek berwarna hitam dan kaos biru.
__ADS_1
"Udah ah nggak usah bahas Papa dan Mama lagi. Kesel aku." Steven membuang napasnya dengan kasar. Perlahan dia pun duduk di samping Citra dan memeluk tubuhnya. "Niatku membawamu dan si kembar ke sini supaya aku nggak terus menerus kesal, Cit. Sekarang kamu lebih baik ganti baju, aku mau bobok ne*nen. Sudah lama 'kan kita bisa tidur bareng lagi. Dan kapan sih kamu selesai nifasnya? Elangku sudah berkarat nih." Steven menyingkap dress yang Citra kenakan, lalu memasukkan tangannya ke dalam celana dallam. Ingin memastikan sendiri apakah masih ada darah yang keluar atau tidak.
^^^Bersambung.....^^^