
"Br*ngsek! Beraninya kau membalasku, Gun!" teriak Steven dengan emosi yang memuncak. Kedua tangannya langsung menyerang leher Gugun, lalu dia pun mulai mencekiknya.
Gugun seolah tak mau kalah, dia juga melakukan hal yang sama.
Kedua polisi itu tampak terkejut, cepat-cepat mereka pun memisahkan keduanya. Tetapi dengan bantuan rekannya yang lain, sebab tenaga keduanya sama-sama kuat.
"Kenapa kalian menghentikanku? Aku akan membuat si Kumis Lele itu mati!" teriak Steven marah. Dia begitu tak terima karena dua polisi itu menghentikan aksinya. Steven dipaksa duduk di kursi dan salah satu tangannya diborgol dengan mengait pada lengan kursi.
Sengaja pihak polisi melakukan hal tersebut, sebab mereka tak mau Steven dan Gugun saling adu tonjok lagi.
Bukan hanya Steven saja yang mendapatkan perlakuan seperti itu, Gugun juga sama. Mereka sama-sama duduk tetapi agak menjauh dengan salah satu tangan yang diborgol.
"Bapak yang pantas mati! Bukan aku!" balas Gugun marah.
"Kalian diam dulu, jangan berantem! Saya akan meluruskan semuanya!" tegas Polisi Hartono. Dia polisi yang sempat Steven kurung ke dalam sel, tetapi sudah keluar bersama rekannya sebab mereka mempunyai kunci serep.
Steven membuang napasnya dengan kasar, lalu memalingkan wajahnya supaya tak saling memandangi Gugun. Sangat geram dan muak sekali rasanya, melihat wajah pria itu.
"Jadi, Pak Gugun kemarin malam melaporkan kasus penculikan seorang gadis yang bernama Citra, Pak. Dan kebetulan ... saya punya teman dari Kapolsek Tangerang, lalu beliau memberitahu," jelas Polisi Hartono sembari menatap Steven. "Sesuai dengan keinginan Bapak ... kalau Pak Gugun datang untuk melaporkan penculikan, dia akan kami tahan. Dan sejak semalam dia sudah kami tahan."
Benar, semenjak Gugun melaporkan kasus penculikan Citra, pihak polisi Tangerang langsung memberitahu dan membawa Gugun ke sana.
Namun, anehnya disini mengapa Gugun bisa menebak kalau Citra diculik? Hal itu yang saat ini terlintas dalam benak Steven.
"Terus?" tanya Steven.
"Saya mendapatkan informasi dari Nona Sisil kalau dia sempat melihat Nona Citra dibekap oleh dua pria berbadan besar. Dan setelah kita telusuri ... ternyata mereka orangnya." Polisi Hartono itu menggerakkan kepalanya ke arah dua pria yang baru saja datang. Mereka adalah Ali dan Aldi.
Gugun dan Steven melihat ke arah mereka, lalu kedua pria itu menghampiri Steven.
"Pak Steven, saya mau bertanya tentang uangββ
"Saya juga tahu kalau mereka adalah orang suruhan Pak Steven," ujar Polisi Hartono. Dia menyela ucapan Ali.
"Tapi Bapak tahu 'kan kalau kita kerjasama?" tanya Steven. Polisi itu mengangguk cepat. "Terus masalahnya apa?"
__ADS_1
"Masalahnya di sini kedua anak buah Bapak salah culik, dia malah menculik istri Bapak yang bernama Nona Citra," jelas Polisi Hartono. "Tapi itu malah lebih bagus, karena dengan begitu Bapak dan Nona Citra sudah bertemu, kan?"
Steven mengangguk cepat.
"Tapi masalahnya, Pak Gugun mengelak kalau dia menculik Nona Citra, Pak. Jadi dia nggak bisa kami jebloskan ke penjara," tambah Polisi Hartono.
Steven memang ada niat menjebloskan Gugun ke penjara saat dia sudah bertemu Citra. Hal yang dia lakukan semata-mata karena tak terima, Gugun juga terlalu ikut campur masalah rumah tangganya. Itu pemikiran Steven.
"Jelas dia mengelak, namanya maling nggak akan ada yang ngaku!" protes Steven sembari menatap sengit ke arah Gugun.
"Bukan begitu, Pak. Ini semua karena kami juga punya bukti kalau Pak Gugun memang tidak ada niat untuk menculik Nona Citra. Beliau hanya membantu Nona Citra yang memang mempunyai niat untuk pergi meninggalkan Anda."
Kedua tangan Steven mengepal kuat. Dia betul-betul tak terima dengan apa yang Polisi itu katakan.
"Kurang ajar sekali! Jadi Bapak lebih memihak kepada Gugun ketimbang kepadaku?" Sebelah alis mata Steven terangkat, rahangnya tampak mengeras. "Tapi Citra masih berstatus istriku! Seseorang yang berani membawa pergi atau membantu seorang istri yang pergi dari suaminya itu sebuah tindakan kejahatan! Dia bisa dimasukkan ke dalam penjara, Pak!" berang Steven dengan dada yang naik turun.
"Sekarang Bapak coba hubungi Nona Citra, minta dia untuk datang. Saya ingin mendengar langsung apa yang dia katakan."
Steven menggeleng cepat. "Nggak! Aku nggak mau!"
Tidak! Citra tidak boleh bertemu Gugun. Steven tidak ikhlas rasanya.
"Bilang saja kalau Bapak itu takut!" seru Gugun. Dia langsung tersenyum menyeringai saat Steven menoleh ke arahnya.
"Takut? Apa yang musti aku takutkan?"
"Takut karena memang apa yang saya katakan benar adanya. Dan saya yakin ... Nona Citra pasti sedang tertekan sekarang. Jadi ... kembalikan Nona Citra pada saya, Pak!" pekik Gugun.
"Nggak usah lancang kau ya, Gun!" sentak Steven marah. "Citra sama sekali nggak tertekan bersamaku dan perlu kau ingat juga kalau dia itu milikku! Kau nggak ada hak untuk memintanya!"
"Hubungan kalian sudah berakhir! Dan saya nggak akan membiarkan Nona Citra hidup lagi bersama Bapak! Bapak pria yang nggak punya hati!"
"Kau juga nggak punya hati, Gun!" sergah Steven. "Kita sama-sama pria tapi kau justru ikut campur dengan rumah tanggaku!"
"Saya berhak ikut campur karena Bapak telah menyakiti Nona Citra!"
__ADS_1
"Aku sudah meminta maaf dan memperbaiki hubunganku dengannya. Dia juga sudah mau kembali lagi denganku!"
"Saya nggak percaya!"
"Kau harus percaya!"
"Nggak!"
"Percaya!"
"Nggak!"
Berdengung! Celotehan mereka benar-benar membuat telinga siapa saja berdengung di sana. Mungkin terkecuali ya mereka berdua.
Beberapa polisi itu hanya membuang napasnya dengan kasar. Perdebatan mereka seolah tak ada titik temu.
Ali dan Aldi memilih keluar dari ruangan itu. Selain datang karena diminta pihak polisi, mereka juga ingin mempertanyakan perihal uang bayaran yang tak semestinya mereka dapatkan.
"Lebih baik telepon Ibunya Pak Steven, minta dia untuk bilang kepada Nona Citra supaya datang," saran Pak Polisi yang berbisik kepada Polisi Hartono.
Menurutnya, kehadiran Citra sekarang dibutuhkan. Mungkin dengan adanya gadis itu, kedua pria gila di depan mereka akan terdiam dan saling berpikir.
Polisi Hartono mengangguk cepat. Segera dia pun berlalu pergi dari sana untuk menghubungi Sindi. Kebetulan, tadi saat berkunjung dia sekalian meminta nomor.
*
*
Sejam setelah menghubungi Sindi, tak lama gadis itu datang. Masuk ke dalam ruang keluhan.
Kedua pria yang sejak tadi masih mengoceh hingga bibirnya berbusa itu langsung terdiam dalam sekejap, kala mendengar suara Citra yang merdu di telinga.
"Om Ganteng, Om Gugun. Kok kalian diborgol?" tanya Citra seraya menatap keduanya. Dua pria matang itu langsung menoleh ke arahnya dengan mata yang berbinar, juga saling mengulum senyum.
"Kenapa kamu ke sini, Cit? Siapa yang menyuruhmu?" tanya Steven dengan kening yang mengerenyit.
__ADS_1
"Nona Citra, saya dari semalam mencari Nona. Ayok kita sekarang pulang dan bereskan semuanya!" seru Gugun.
...Dahlah, puyeng. Bingung Citra mau jawab ucapan siapa dulu. π...