
"Ah maafkan aku, Bu. Aku terlalu senang ketemu dengan Silvi," ucap Tian dengan canggung. Dia mengusap tengkuknya yang terasa berkeringat.
"Bapak ke sini mau apa? Juna nggak ada di sini." Della mundur beberapa langkah menuju pintu rumahnya. Dia merasa risih akan kehadiran pria itu dan perasaannya mendadak tidak enak.
"Aku mau minta izin sama Ibu, mau bawa Silvi ke rumah sakit," pinta Tian.
"Ngapain ke rumah sakit? Silvi sehat walafiat kok." Della meraih selimut Silvi yang berada di atas bangku plastik, lalu menyelimuti tubuh mungilnya.
Dan sejak tadi, Tian memerhatikan perut Silvi yang ada tanda lahir hitam di sana. Dia jadi makin yakin, jika bayi perempuan itu adalah anaknya.
Namun, untuk memastikan dan mengambil Silvi, langkah yang pertama adalah melakukan tes DNA. Sebab dengan begitu, semua orang akan percaya padanya dan Tian yakin—nanti pasti akan ada jalan untuk dirinya bisa membawa Silvi untuk tinggal bersama.
"Kita bisa mengobrol dulu, Bu? Biar Ibu mengerti. Soalnya, banyak yang ingin aku ceritakan sama Ibu," ucap Tian.
"Ngobrol apa? Bicara saja sekarang."
__ADS_1
Tian perlahan membuang napasnya terlebih dahulu sebelum bercerita. "Aku dulu punya anak, namanya Tina dengan mantan istriku yang bernama Fira. Awalnya, dia mengatakan jika Tina itu sudah meninggal dunia. Tapi ternyata ... setelah aku memindahkan makamnya, justru makam itu adalah makam kosong, Bu," jelas Tian memberitahu.
"Terus, hubungannya dengan Silvi apa? Kenapa pakai acara ingin membawanya ke rumah sakit segala?" tanya Della yang tampak bingung, dengan arah pembicaraan yang Tian bahas.
"Kata dukun beranak yang membantu Fira melahirkan ... ternyata Tina nggak meninggal, dia masih hidup. Hanya saja Fira membawanya entah ke mana. Mantan istriku ternyata selama ini menipuku, Bu. Dan baru sekarang ... aku bisa melihat wajah anakku lewat foto." Tian merogoh kantong celananya, lalu mengambil sebuah ponsel. Dia membuka galeri kemudian memperlihatkan foto Tina ke arah Della. Wajah wanita itu seketika menegang, kala bayi yang ada dalam gendongannya itu begitu mirip dengan foto itu.
'Kenapa foto itu mirip dengan Silvi anakku?!' batin Della dalam hati. Dia pun menatap lekat wajah anaknya, lalu mencium keningnya dengan lembut. Silvi sudah mulai tertidur sebab Della sejak tadi menimang-nimangnya.
"Karena foto ini mirip Silvi apalagi Silvi memiliki tanda lahir seperti yang dimiliki Tina ... jadi aku ingin melakukan tes DNA untuk memastikan dan membuat semua orang percaya, kalau Tina adalah Silvi, anakku, Bu," jelas Tian.
"Iya, Bu. Aku ingin mengambil Silvi dan merawatnya untuk tinggal bersamaku," sahut Tian dengan anggukan kepala.
"Nggak!" Della menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bapak nggak boleh tes DNA dengan Silvi dan Silvi itu bukan anak Bapak! Dia anakku! Anakku dan Mas Dono!" tegasnya.
"Tapi, Bu ...." Ucapan Tian terhenti sebab tiba-tiba saja dia melihat Della berlari masuk ke dalam rumah. "Bu! Buka pintunya, Bu!" teriaknya mengetuk-ngetuk pintu.
__ADS_1
Bukan hanya tertutup saja, tapi pintu itu juga sudah Della kunci. Bahkan seluruh jendela pada sudut ruangan rumahnya. Khawatir kalau sampai Tian nekat masuk lewat sana.
Della masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Perlahan dia duduk di atas kasur lalu cepat-cepat merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Dia mencoba menghubungi Dono, suaminya.
"Pa, Pak Tian ingin mengambil Silvi dari kita. Mama nggak mau, Pa, Mama sayang sama dia, Silvi itu sudah menjadi anak Mama," ucap Della saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana. Suaranya terdengar bergetar begitu pun dengan tubuhnya. Air matanya mengalir dengan rasa cemas yang melanda. Sungguh, dia tak bisa membayangkan jika Silvi akan pergi darinya. Sakit sekali rasanya.
"Pak Tian?! Kenapa Pak Tian ingin mengambil Silvi, Ma?" tanya Dono. Suaranya terdengar cemas. Mungkin dia merasa khawatir karena mendengar suara tangisan Della.
"Dia bilang ... Silvi adalah Tina anaknya. Pasti dia berbohong 'kan, Pa? Papa tolong pulang dan usir Pak Tian di rumah kita, Mama nggak mau kalau sampai dia mengambil Silvi," pinta Della. Jantungnya sekarang ikut berdebar kencang.
"Iya, Papa akan pulang sekarang. Mama masuk dan kunci pintu saja kalau takut," saran Dono.
"Iya." Della mengangguk cepat. Setelah memutuskan panggilan, perlahan dia membaringkan tubuh Silvi di atas kasur, lalu dia juga ikut berbaring sambil memeluk tubuhnya. Pandangan matanya pun tampak kosong dan sorotan matanya ke arah langit-langit kamar. 'Ya Allah, kali ini saja ... tolong jangan pisahkan aku dengan anak angkatku. Aku sangat menyayanginya layaknya anak sendiri. Aku nggak rela jika dia kembali pergi dariku,' batinnya dengan pilu. Berkali-kali Della mengecupi kening Silvi, dilihat bayi mungil itu begitu lelap dalam pelukannya. Padahal dia belum mandi dan berkeringat habis berjemur.
...Kasihan Tante Della, tapi gimana 🤧 Om Tian juga kasihan 🤧...
__ADS_1