Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
112. Akan memuaskanmu


__ADS_3

...Rate 21+...


...Area dewasa, yang nggak suka dan belum cukup umur silahkan diskip! 🙏...


"Nggak ada belah duren segala! Ini hukuman untuk Papa karena sudah ganjen peluk-peluk perempuan lain!" tegas Sindi lalu menarik selimut sampai di atas dada.


"Dih kok begitu sih, Ma? Mama jahat sama Papa." Angga naik ke atas kasur, dia pun berbaring di samping istrinya seraya memeluk. "Ayok dong bercinta, Papa mau Mama goyang."


"Bodo amat! Mama mau tidur, ngantuk!" Sindi menepis tangan Angga, lalu perlahan memejamkan mata. Suaminya itu langsung mengerucutkan bibirnya dan perlahan menatap langit-langit kamar.


'Enak Steven dong, dia sedang belah duren, sedangkan aku durennya lagi ngambek,' batin Angga sedih.


*


*


Sementara itu, di kamar Steven.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Steven membawa Citra ke dalam kamar mandi.


Perlahan dia pun menurunkan tubuhnya di dalam bathtub dan melepaskan ciuman mereka.


"Om, kita mau ngapain ada di kamar mandi?" tanya Citra bingung. Dia pun membelalakkan matanya saat suaminya itu tengah melepaskan pakaian.


"Mau mandi. Kita mandi dulu sebelum bercinta, biar seger." Steven mengisi air hangat di dalam bathtub dan menuangkan sabun cair. Lalu dia pun perlahan mencoba melucuti pakaian Citra.


"Dih, aku nggak mau bercinta, Om." Citra menggeleng cepat. Dia menahan tangan Steven yang hendak membuka kaos. Sedangkan jasnya sudah berhasil Steven lepaskan.


"Kenapa? Kan aku sudah membuktikan cintaku padamu. Masa nggak mau? Rasanya enak lho, Cit. Bikin merem melek."

__ADS_1


"Tapi Om belum bertemu Safira dan mengatakan kalau Om mencintaiku. Aku juga nggak mau Om dan dia dekat."


Entah, sampai sekarang bayangan Steven yang tengah dicium oleh Fira masih bergelayut di dalam otaknya. Apa lagi Citra juga pernah melihat bekas lipstik di kemeja Steven pada area dada.


"Masalah itu gampang. Besok aku akan temui dia dan mengatakan segalanya." Steven langsung mengangkat tubuh Citra, lalu dia pun masuk dan duduk ke dalam bathtub seraya mendudukan Citra di atas pangkuan.


Niat Steven awalnya ingin Citra bugil juga sama seperti dirinya, baru lah setelah itu mereka mandi sama-sama.


Namun, akibat Citra yang masih seakan menolak, alhasil gadis itu berendam dengan masih berpakaian lengkap dan sekarang semuanya telah basah.


"Tapi Om nggak cinta sama Safira, kan? Aku nggak mau kalau ... Eeemmm!" Ucapan Citra terhenti lantaran Steven dengan cepat meraup bibirnya, telapak tangan Steven menekan tengkuknya.


"Nggak ada perempuan lain yang aku cintai selain dirimu, Cit," kata Steven setelah ciuman itu terlepas. Napasnya terasa memburu dan menerpa wajah Citra, bola mata Steven tampak berkaca-kaca. "Aku mohon jangan menolakku. Aku ingin bercinta denganmu, Cit. Aku nggak kuat menahannya," pinta Steven dengan memelas, perlahan dia pun mengusap pipi Citra yang bersemu merah. Terdengar bunyi detak jantung Steven yang berpacu dengan cepat.


"Om berdebar?"


Steven mengangguk cepat. "Iya. Berdebar karena aku mencintaimu. Mau, ya, Cit? Bercinta denganku. Aku juga kangen agar-agarmu, aku mau nyusu." Kedua tangan Steven menyusup ke dalam kaos Citra, lalu meraba bukit kembar dan kebetulan sekali branya sudah terlepas. Mungkin tadi, Citra lupa memasangnya lagi, saat Steven membukanya. "Katanya aku bayimu dan kamu mau susui aku sampai aku gede. Aku mau dong," pinta Steven dengan suara manja, bibirnya mengerucut.


"Baru tangan yang nyubit, belum mulut. Tapi nanti rasanya nggak akan sakit. Tapi enak." Steven terkekeh, cepat-cepat dia pun menarik kaos putih Citra juga dengan kacamata kainnya.


Kini, terpampang dengan jelas dua agar-agar di hadapannya. Menantang dan begitu montok.


Steven menelan ludahnya dengan kasar, matanya menatap takjub dan kedua tangannya perlahan meremmasnya dengan gerakan memutar.


"Ini sangat indah, Cit. Aku begitu menyukainya. Aku mau dijepit di antara keduanya," kata Steven sembari memilin kedua puncak. Dia berusaha memancing gairah Citra, supaya ikut terhanyut dan menginginkannya.


"Aahh ... Om, ini ...." Citra mengigit bibir bawahnya. Tak dipungkiri, hanya baru sentuhan tangan saja tubuhnya sudah meremang.


"Enak, kan?" goda Steven sambil tersenyum manis. Lantas meremmasnya agak kuat begitu pun dengan cubitan kecil pada puncaknya. Gadis itu langsung merintih sambil memejamkan mata. Kedua tangannya refleks meremmas pinggang Steven. "Bagaimana rasanya sekarang?"

__ADS_1


"Ini ... oh!" Mata Citra terbuka secara paksa kala salah satu dadanya telah berhasil dilahap Steven. Pria tampan itu menghisapnya bagai bayi yang tengah kehausan. Dan tangan yang satunya masih sibuk memilin.


"Ini enak, sangat enak." Steven melepaskan sebentar, lalu melahapnya lagi dan sekarang jauh lebih ganas. Bahkan sampai mengigitnya.


"Aahh ... Om, jangan digigit!" Citra meremmas kuat rambut kepala Steven, sensasi itu memang terasa sakit. Tetapi ada enaknya.


Steven tersenyum penuh dengan kebahagiaan, rindu sekali rasanya mendengar suara desahhan yang keluar dibibir manis Citra. Dan sekarang, dia ingin gadis itu mendessah bersamanya.


'Aku akan membuatmu mendessah sampai pagi, Cit. Aku akan memuaskanmu,' batin Steven. Mulutnya masih sibuk mengulum, tetapi kedua tangannya sudah merambat ke arah celana jeans yang Citra kenakan. Perlahan dia pun mulai membuka kancing dan resletingnya.


Steven pun beralih melahap dada yang satunya, takut jika salah satunya sirik kalau tidak dia hisap.


Setelah berhasil membuka kancing dan resleting, perlahan tangan Steven masuk ke dalam celana jeans dan celana segitiga, merogohnya hingga bertemu pada rawa indah. Pelan-pelan Steven mulai membelai dan memainkannya.


"Om ... katanya kita mau mandi? Kok begini, sih?" protes Citra. Semakin lama, apa yang Steven lakukan membuatnya terangs*ng. Tubuhnya sejak tadi tak bisa diam, bokongnya terus bergerak-gerak.


"Oh iya, aku lupa, Cit." Steven melepaskan semua aktivitasnya, lalu mengangkat tubuhnya seraya menggendong Citra. Dia membawanya menuju shower untuk membilas tubuh keduanya supaya busa sabunnya hilang.


"Mandinya ganti di sini?" tanya Citra. Suaminya itu kini tengah berjongkok untuk melepaskan celana jeans dan segitiganya, lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Kita udahan mandinya, ini cuma bilas saja kok." Steven meraih bokong Citra, kemudian mengendongnya dan membawanya menuju kamar.


"Cepet banget. Kita tadi hanya berendam doang, Om."


"Iya, buat ngilangin keringat bau asem saja. Nanti kita mandi lagi setelah membuat keringat baru."


Pelan-pelan Steven membaringkan tubuh polos Citra di atas kasur, lalu dia naik ke atas tubuhnya dengan kedua lutut yang menopang. Perlahan Steven mulai mengecupi seluruh wajah Citra.


Dari kening, kedua pipi, hidung, dagu hingga menautkan bibirnya.

__ADS_1


Cup~


...Kasihan deh, digantung lagi 😅✌️...


__ADS_2