Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
241. Boleh minta tolong nggak?


__ADS_3

Tibanya di rumah sakit, Juna langsung dibawa oleh Angga menuju ruang IGD. Kemudian membaringkannya di atas tempat pemeriksaan.


"Dok, selamatkan cucuku! Dia kejang-kejang dan sempat muntah tadi!" seru Angga berbicara pada seorang dokter berkacamata mata yang tengah memakai masker. Kemudahan menghampirinya.


"Bapak silahkan keluar, saya akan periksa cucu Bapak." Tangan Dokter itu mengarah ke pintu. Angga mengangguk, lalu keluar dan duduk bersama Nissa. Wanita itu baru saya selesai mendaftarkan Juna di Rumah Sakit Harapan.


"Pa, aku takut Juna kenapa-kenapa," ujar Nissa dengan perasaan yang berkecamuk. Sedih, gelisah dan takut menjadi satu. Tubuhnya pun terasa lemas sekali.


"Dia akan baik-baik saja, kamu tenang, Sayang." Angga merangkul bahu Nissa lalu mengusap-usapnya. Mencoba menenangkan.


"Tadinya bagaimana sih, Pa. Kenapa Juna bisa kejang-kejang? Selama ini Juna 'kan belum pernah kejang-kejang."


"Papa juga awalnya nggak tahu. Tapi pas Papa ...." Angga mulai menceritakannya kembali, saat dimana dia selesai buang air besar lalu melihat Juna berbaring di lantai.


***


Sementara itu, Rama sama paniknya. Meskipun dia ditinggal oleh Angga dan Nissa, dia berniat untuk menyusulnya.


Kini mobil merahnya pun melintasi jalan raya. Mengemudi dengan kecepatan full menuju rumah sakit.


Namun, saat dalam perjalanan. Dia melihat ada 3 orang gadis yang tengah berseteru di sisi jalan. Salah satu gadis itu dijambak oleh temannya, kemudian didorong hingga jatuh di aspal oleh temannya yang lain.


Entah ada masalah apa di antara ke tiganya itu, tetapi Rama tidak bisa diam begitu saja. Sebab dua orang gadis itu secara tidak langsung melakukan penganiayayaan.


"Kalian ini apa-apaan?!" teriak Rama marah saat turun dari mobil. Rupanya, tiga gadis itu adalah Sisil, Rosa dan Lusi. Dan yang dianiaya adalah Sisil.


Sisil yang tersungkur dengan kedua lutut tergores itu segera Rama tolong. Dia membantunya untuk berdiri dengan tangan yang merangkul bahu.


Namun entah mengapa, tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdebar kencang saat mencium aroma minyak wangi gadis itu yang berbau bunga violet.


"Om ini siapa? Nggak usah ikut campur, ya!" teriak Lusi.


"Ini tindakan yang nggak patut aku diamkan. Dan kalian ini sepertinya ...." Rama memperhatikan jas merah yang tiga gadis itu kenakan. Warnanya serupa dan ada nama almamater kampus. "Kalian masih kuliah, tapi kelakuan kalian tidak mencerminkan perempuan berpendidikan!"


"Dia yang nggak berpendidikan. Dia yang telah merebut pacarku!" geram Lusi seraya menunjuk wajah Sisil. Wajahnya tampak merah dan kedua tangannya mengepal.


"Aku nggak merebutnya! Kak Arya memang pacarku!" bantah Sisil.

__ADS_1


Rama mengajaknya masuk ke dalam mobil, kemudian pergi meninggalkan Lusi dan Rosa yang tampak belum puas menyiksa gadis itu.


"Terima kasih udah membantuku ya, Om," ucap Sisil seraya tersenyum dan menatap wajah Rama sebentar.


"Sama-sama." Rama menatap wajah Sisil sebentar, lalu kembali fokus ke depan sambil mengemudi. "Kamu perlu lapor polisi nggak? Aku akan mengantarmu."


"Antarkan aku pulang ke apartemen saja, Om. Aku ingin menemui Kakakku. Biar nanti aku ditemani Kakakku saja."


"Itu lututmu berdarah. Kita ke rumah sakit saja bagaimana? Kebetulan aku juga mau pergi ke rumah sakit."


"Nggak usah Om. Ini cuma lecet sedikit." Sisil menarik selembar tissue, lalu menempelkan kepada lututnya sambil meringis. "Dikasih obat merah juga sembuh."


"Aku juga punya obat merah." Rama menghentikan mobilnya di sisi jalan, kemudian mengambil kotak obat di dalam dasbor. Dia pun membuka, dan meneteskan alkohol pada kapas.


Namun, baru saja tubuhnya mendekat supaya bisa menempelkan kapas itu ke salah satu lutut Sisil, Rama merasakan debaran di jantungnya makin keras. Seperti ingin lompat rasanya. Sontak dia pun langsung membeku.


"Kenapa Om?" tanya Sisil heran. Dia menatap wajah Rama yang berkeringat. Sampai bercucuran. Pandangan matanya pun langsung terjatuh pada kapas di tangannya. "Oh, sini biar aku saja. Aku bisa sendiri kok." Segera mengambil kapas di tangan Rama, lalu pelan-pelan dia menempelkannya sendiri ke lutut sambil meringis ngilu menahan perih.


"Maaf, ya, aku takut dikira nggak sopan nantinya." Rama memberikan kapas yang sudah ditetesi obat merah ke tangan Sisil. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, lalu mengambilnya.


'Kok jantungku tiba-tiba berdebar? Kenapa, ya? Apa aku ada penyakit jantung? Ah tapi masa, sih?' batin Rama.


"Terima kasih, ya, Om."


"Sama-sama."


Setelah selesai, Rama kembali melajukan mobilnya. Mengantar Sisil pulang yang searah dengan rumah sakit.


*


*


"Sudah, Om. Sampai sini," pinta Sisil saat melihat gedung apartemen yang sudah dekat. Rama segera mengerem mobilnya.


"Ini apartemenmu?" Rama menatap gedung bertingkat itu.


"Iya. Ya sudah, terima kasih sekali lagi ya, Om." Sisil membuka pintu, lalu turun.

__ADS_1


"Tunggu dul ...." Ucapan Rama mengantung kala Sisil sudah berlalu pergi masuk ke dalam gerbang. Padahal niatnya tadi memanggil hanya sekedar ingin tahu namanya. 'Imut dan juga manis,' batinnya.


***


Di rumah sakit.


Juna mengerjapkan matanya secara perlahan kala merasakan perutnya dingin akibat sentuhan stetoskop. Manik matanya pun bergerak-gerak menatap dokter pria berkacamata di depannya.


"Om Dokter, Juna sakit apa?" tanya Juna pelan sembari menyentuh perutnya yang terasa sakit. Cacingnya pun ikut berbunyi. Mendemo minta makan.


"Adek ada demam." Dokter itu menyentuh dahi Juna yang terasa panas. Dia juga sudah sempat mengecek suhu tubuh bocah itu. "Gejala magh juga gara-gara telat makan. Habis ini makan terus minum obat, ya? Biar cepat sembuh."


Juna mengangguk lemah. "Iya. Tapi, Om. Juna boleh minta tolong nggak?"


"Tolong apa?"


"Di luar pasti ada Mami dan Opa Juna yang sedang menunggu. Juna mau Om Dokter bilang Juna sakit karena kangen sama Om Tian. Terus Om Dokter juga harus ngomong sama Opa Juna, yang bernama Angga ... suruh dia pertemukan Juna dengan Om Tian," pinta Juna dengan wajah memohon.


"Lho, kamu meminta Om Dokter untuk berbohong? Kamu tahu nggak bohong itu dosa?"


"Tahu. Tapi kata gurunya Juna ... bohong demi kebaikan apalagi demi membantu orang yang kesusahan itu nggak dosa, Om. Malah dapat pahala," jelas Juna merayu.


"Memang kamu lagi kesusahan?"


"Iya. Juna sedih, soalnya Opa meminta Juna untuk menjauhi Om Tian. Sedangkan Juna nggak mau, Om Dokter. Juna malah maunya Om Tian jadi Papi baru Juna. Tapi Opa malah jahat, dia malah ingin Mami menikah dengan Om Rama yang burungnya nggak bisa berdiri," keluh Juna dengan sendu. Bola matanya tampak berkaca-kaca.


Dokter itu membulatkan matanya saat mendengar kata 'burung'


"Mamimu sendiri, suka sama Om Tian nggak? Apa Mamimu justru sukanya sama Om Rama?"


"Mami sukanya sama Om Tian. Cuma dia masih gengsi, nggak mau jujur. Tapi Juna yakin ... kalau Juna meminta Mami untuk menikah dengan Om Tian, pasti Mami mau. Juna juga mau merasakan kasih sayang dari seorang Papi dan kasih sayang itu ada di diri Om Tian, Om Dokter. Tapi Opa nggak memahami perasaan Juna. Juna merasa Opa nggak sayang sama Juna." Juna menatap lekat manik mata dokter, mengiba.


"Memang Papimu ke mana? Meninggal?" Dokter itu mengelus pipi mulus Juna dengan tersenyum sendu. Mendengar penjelasan dari bocah itu membuat hatinya tersentuh. Dia merasa kasihan.


"Ada, belum meninggal. Cuma dia nggak sayang sama Juna dan Mami. Dia juga sudah menikah dan punya istri baru. Jadi, apa salah, kalau Juna juga mau Mami punya suami baru, dan Juna punya Papi baru, Om?" tanyanya. "Juna juga mau punya keluarga lengkap. Juna mau itu, Om Dokter." Juna mengangkat kedua tangannya, seolah minta dipeluk. Dokter itu segera membungkuk untuk memeluk tubuhnya. 'Semoga Om Dokter mau membantu. Juna udah nggak sabar pengen ketemu Om Tian. Pengen disuapi dan main kelereng.'


...Semoga ya, Jun 🤧...

__ADS_1


__ADS_2