
Akhirnya Abi mengalah. Itu dikarenakan dia takut kepada Steven dan Sofyan. Belum lama dia masuk ke rumah sakit, masa iya harus masuk lagi?
Perlahan Abi menyentuh punggung tangan Tian saat pria itu mendarat ke punggung tangan Nissa. Pelan-pelan mereka berempat memotong tumpeng dan beberapa anak-anak langsung bertepuk tangan.
"Ta, kok rambut Om Tian sama Tante Nissa basah? Perasaan tadi pagi kering deh," ucap Baim berbisik ke telinga Atta. Bukannya fokus pada acara pemotongan tumpeng, dia justru gagal fokus pada rambut orang tua Juna.
"Kayaknya mereka habis mandi tadi," jawab Atta. Hanya menebak.
"Kok bisa mandi? Bukannya tadi mereka kelihatan sudah mandi, ya?"
"Nggak tahu. Memang kalau orang dewasa seperti itu, Im. Mandi sehari kadang 3 sampai 4 kali. Papaku kalau lagi libur kerja juga mandi mulu sama Mamaku. Bahkan sampai 5 kali."
"Kok aneh, ya? Apa mungkin keringat orang dewasa itu cepat bau?"
"Kayaknya. Kan orang dewasa sering bau ketek, mangkanya pakai deodoran."
Setelah itu potongan puncak tumpen ditaruh di atas piring. Nissa yang memegangnya, dia juga memberikan sendok untuk Juna.
"Suapan pertama buat siapa nih, Jun?" tanya Nella.
"Buat Mami dong, tentunya," jawab Juna lalu menyuapi Nissa.
"Terima kasih, Sayang. Semoga panjang umur, sehat, pintar dan tetap rendah hati," ucap Nissa sambil mengecup kening anaknya.
"Amin, Mami." Juna mencium pipi kiri Nissa.
"Suapan keduanya untuk siapa?"
"Untuk ...." Juna menyendok nasi kuning itu, lalu menoleh ke arah Tian dan Abi. Kedua pria itu sama-sama tersenyum manis. "Papi Tian."
Tian langsung berjongkok untuk menerima suapan dari anak sambungnya.
"Kok buat Papi Tian, sih?!" geram Abi dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
Tahun lalu, dialah yang mendapatkan suapan kedua. Tetapi sekarang semuanya telah berubah. Sakit sekali hatinya, melihat Tian yang sudah menggantikan posisinya saat ini.
"Terima kasih anak kesayangan Papi," ucap Tian yang baru saja mendapatkan suapan, dia mengunyahnya lalu mencium rambut Juna. "Setelah kamu dewasa, semoga kamu jadi laki-laki yang sukses dan bertanggung jawab. Jangan lupa juga untuk menjadi kebanggaan orang tua dan keluargamu."
"Amin, Papi Sayang." Juna mencium punggung tangan Tian.
__ADS_1
"Selanjutnya terserah kamu, suapi orang-orang yang mau kamu sayang setelah Mami dan Papimu," titah Nella.
Dia mengambil piring di tangan Nissa lalu memberikan kepada Juna. Bocah itu langsung mendekat ke arah Angga, lalu menyuapinya. Kemudian beralih kepada Sindi, Steven, Citra, Sofyan, Maya, Nella, Rizky, Jihan, Johan, Jordan, bahkan sampai Kevin dan Janet. Ingin menyuapi Luna dan Luki tapi mereka tidak mau.
"Oh iya. Dedek Silvi sama Dedek Upin Ipin belum dikasih." Juna menaruh piring itu. Lalu menggantinya dengan yang baru kemudian mengambil nasi tumpeng. Setelah itu dia mendekat ke arah Citra.
"Tante, ini buat Dedek Ipin. Eh, maksudnya Dedek Vano," ucap Juna yang sudah memegang sendok dan mengarahkan ke bibir bayi laki-laki itu.
"Vano masih kecil, Jun." Citra menahan tangan Juna. "Belum boleh makan nasi."
"Lho kenapa? Dedek Silvi saja mau Juna ajakin makan lele."
"Ngarang kamu, Jun," ucap Angga sambil terkekeh. Dia melangkah mendekati sang cucu. "Mana boleh. Bayi itu baru boleh minum susu saja."
"Kok gitu, Opa? Kenapa memangnya?" tanya Juna bingung. "Nasi 'kan enak dan bikin kenyang. Susu mana bikin kenyang?"
"Buat porsi bayi itu kenyang, karena lambungnya juga masih kecil." Angga mengelus puncak rambut Juna. "Mending kamu suapi mantan Papimu tuh, kasihan dia mau nangis kayaknya. Gara-gara nggak dikasih nasi tumpeng." Angga melirikkan matanya ke arah Abi yang berwajah merah padam.
Bukan ingin menangis, sih. Lebih tepatnya ingin murka. Bahkan kalau tidak takut kena hajar Sofyan dan Steven, Abi sudah menghancurkan pesta itu karena merasa jengkel sebab tak dihargai.
"Pa! Nggak ada mantan Papi di dunia ini," tegur Citra.
Juna melangkah cepat menghampiri Abi, kemudian memberikan suapan kepadanya dan pria itu langsung berjongkok.
"Terima kasih Sayang," ucap Abi sambil memeluk tubuh Juna sebentar. Lalu menciumi seluruh wajahnya. Kening, kedua pipi dan dagu.
"Buat Mami mana, Jun?" tanya Aulia. Berharap dia juga mendapatkannya.
"Nggak sudi amat," sungut Juna. Dia memutar bola matanya dengan malas kemudian mendekati Nissa dan Tian lagi.
Selanjutnya adalah pemotongan kue yang akan dibagikan secara merata untuk teman-teman Juna.
'Aku harus secepatnya mengambil hak asuh Juna dari Nissa. Nggak ikhlas banget aku menerima perlakuan seperti ini.' Abi memperhatikan Juna, Tian dan Nissa. Kedua tangannya tampak mengepal kuat. Entah mengapa, dia jadi sangat membenci Tian.
"Kita pulang saja yuk, Mas," pinta Aulia sambil menarik lengan sang suami. Wajahnya tampak merengut. Dia kesal dengan penolakan Juna tadi. "Nggak betah aku, kita kayak nggak dihargai di sini."
"Iya. Ayok kita pulang," sahut Abi kemudian melangkahkan kakinya berlalu dari sana. Mereka langsung menaiki sebuah mobil yang sudah ada sopir di dalamnya.
*
__ADS_1
*
Tepat jam 3 sore.
Setelah pesta itu usai dan beberapa tamu undangan pulang, sekarang adalah sesi di mana Tian dan Juna akan menjadi manusia silver.
Tian menyewa seorang jasa pelukis body painting. Dia dan beberapa asistennya lah yang sudah menyulap Tian dan Juna dalam waktu satu jam menjadi manusia silver yang sesungguhnya. Proses pengecattan itu cukup lama sebab keduanya memakai kostum Superman.
"Ini sih namanya Superman berkulit silver, Jun. Bukan manusia silver," ucap Atta sambil terkekeh. Dia dan Baim memutuskan tidak pulang karena ingin melihat Juna dan Tian ngamen di lampu merah. Tentunya mereka ingin ikut menemani.
"Iya, bener lho," tambah Baim yang ikut terkekeh juga.
"Biarin. Kan Superman juga manusia," jawab Juna.
"Biar nanti Jarwo sopir Papa ikut menemani kamu, Ti," ucap Angga yang duduk di sofa di samping Nissa.
"Kamu mau ikut juga, Yang?" tanya Tian menatap istrinya.
"Mami nggak perlu diajak, Pi," sahut Juna. "Kan Juna ingin menghabiskan momen kita berdua. Om Jarwo juga nggak usah ikut."
"Itu teman-temanmu ikut, masa Mami nggak diajak," ujar Tian.
"Kamu sama Baim jangan ikut." Juna menatap kedua temannya bergantian. Wajah kedua bocah itu langsung sendu. "Aku ingin menghabiskan waktuku berdua sama Papi."
"Aku nanti jadi kameramen saja, Jun," ucap Baim lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana. "Kamera hapeku 'kan bagus, dan momenmu harus diabadikan biar ada kenangan. Nanti aku videokan."
"Iya juga, ya?" Juna mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu boleh ikut."
"Aku ikut juga dong, Jun," pinta Atta merengek. "Nanti aku jadi asisten kalian saja."
"Asisten apaan? Orang aku dan Papi mau ngamen."
"Ngamen 'kan capek, mengeluarkan tenaga. Nanti aku yang pijitin kaki kalian," rayu Atta. Dilihat Juna terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu.
"Bagus juga. Oke deh, kamu juga boleh ikut," sahut Juna.
"Hore!!" Atta dan Baim bersorak sambil lompat-lompat. Mereka tampak senang sekali bisa ikut.
...Lebay kalian bocil 🤣...
__ADS_1