
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mobil Gugun terparkir disebuah universitas ternama di kota itu. Kemudian, mereka pun sama-sama turun dan menuju ruang dekan.
"Kalau begitu saya permisi, ya, Nona. Semoga Nona betah kuliah di sini dan lebih semangat dalam belajar," ujar Gugun saat dia, Citra dan Pak Dekan berada di depan kelas jurusan bisnis.
"Iya, Om. Amin." Citra mengangguk cepat. Gugun tersenyum lalu melangkah pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah itu dekan mengajak Citra masuk ke dalam dan menemui dosen. Kemudian, gadis itu langsung mengenalkan diri kepada beberapa murid pada kelas itu yang berjumlah 24 orang. 20 orang mahasiswa dan 4 orang mahasiswi, mungkin sekarang jadi 5 jika ditambah dirinya.
"Salam kenal semuanya, namaku Citra Putri Siregar, umur 19 tahun. Mahasiswi pindahan dari Jakarta dan asal dari Jakarta," kata Citra mengenalkan diri.
Mereka semua di dalam sana langsung menyambut salam dan yang paling keras adalah suara mahasiswa.
"Salam kenal Citra cantik!" sorak mereka kompak.
"Kamu duduk di belakangnya Sisil, Cit," kata Pak Dosen seraya menunjuk dengan tangannya ke arah gadis cantik berambut pendek. Citra mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan melangkah dan duduk di sana.
Setelah Dekan keluar, kelas itu pun dimulai.
"Citra," panggil seorang laki-laki yang berada di kursi sebelah kiri. Lantas Citra pun menoleh ke arahnya. "Nanti istirahat makan bersamaku, ya?" pintanya sambil tersenyum.
"Sama aku saja, Cit!" kata laki-laki lain yang duduk di depan laki-laki yang memanggilnya tadi.
"Sama aku saja, kebetulan Omku punya restoran, lho," sahut laki-laki yang lainnya lagi. Dia duduk di belakang kursi Citra.
Semua mahasiswa di dalam kelas itu terlihat tampan dan putih-putih, tidak ada yang seperti Udin. Semuanya nyaris sempurna. Akan tetapi, entah mengapa Citra justru malah jadi merindukan teman-temannya.
Bukan hanya Udin, tapi Lusi, Rosa, David dan juga Arya.
Mereka memang terlihat ramah, tapi asing bagi Citra.
"Kamu suka—“
"Hei, kalian ini ngapain godain Citra mulu?!" sergah Pak Dosen berteriak hingga menyela ucapan salah satu mahasiswa itu. Mereka semua pun langsung diam dan melipat bibir masing-masing.
*
*
__ADS_1
Selang beberapa jam, materi kelas itu pun berakhir, lalu Dosen berlalu pergi.
Citra membereskan buku dan alat tulisnya, masukkan ke dalam tas ransel. Lalu perlahan dia pun berdiri.
Kakinya baru selangkah ingin pergi, tetapi tiba-tiba saja semua mahasiswa itu berkemurun ke arahnya.
"Kalian mau apa?" tanya Citra dengan mata yang membelalak. Dia tampak terkejut dan bingung dengan alasan para mahasiswa itu mendekatinya. Kakinya mundur beberapa langkah supaya tak terlalu dekat. Mereka langsung semua berdiri di depan Citra.
"Aku mau mengajakmu makan siang. Aku traktir, Cit. Eh kenalan dulu. Namaku, Mike," kata salah satu dari mereka seraya mengulurkan tangannya.
Citra perlahan mengulur tangannya, ingin menyambut jabatan itu, namun justru beberapa mahasiswa itu langsung berebutan ingin salaman dengannya.
Citra makin bingung dan lagi-lagi terkejut elihat betapa antusiasnya mereka semua ingin berkenalan.
Aneh memang, padahal dulu, saat awal dia masuk kuliah di kampus favoritnya, dia tak mendapatkan sambutan seperti itu. Bahkan berkenalan pun tidak dengan semua mahasiswa.
"Kamu cantik banget," kata salah satu dari mereka.
"Rambutmu juga wangi dan panjang. Kamu sering ke salon, ya?" tanya yang lainnya satu lalu perlahan mengelus rambut Citra sebentar. Gadis itu pun langsung menggerakkan kepalanya dan beringsut mundur. Dia tampak risih.
"Hobbymu apa, Cit?"
"Bagi nomor hape dong!"
"Temen-temen, jangan begitu dong! Kasihan Citra!" seru seorang gadis seraya berdiri di samping Citra, lalu mengenggam tangannya. "Citra mau makan denganku. Kalian juga nggak boleh genit, nanti dia risih dan nggak betah kuliah di sini," tegurnya dengan tegas, kemudian menarik lengan Citra dan membawanya keluar dari sana.
"Terima kasih, ya, kamu sudah membantuku," ujar Citra seraya menyeka keringat di dahinya. Dia sempat merasa panas dan engap tadi.
"Sama-sama, Cit," jawab gadis itu. "Memang mereka tuh suka begitu kalau ada murid baru, tapi kamu tenang saja ... mereka semua baik-baik kok," imbuhnya sambil tersenyum manis.
Gadis itu mengajak Citra ke sebuah kantin dan jajan bareng di sana. Setelah memesan beberapa menu, akhirnya semuanya tersaji di atas mejanya.
"Namamu Sisil?" tebak Citra seraya menusukkan pipet pada kemasan capcin di tangannya.
"Iya." Gadis itu tersenyum dan mengangguk kecil. "Kamu mau nggak kita temenan mulai sekarang?"
Citra mengangguk cepat. "Mau, mau banget."
__ADS_1
***
"Nona, kita ke mini market sebentar, ya, saya mau beli minuman, haus," pinta Gugun yang tengah menyetir sembari menoleh ke arah Citra.
"Iya, Om." Citra mengangguk.
Mobil itu pun berhenti di depan mini market. Setelah mematikan mesin mobil, Gugun pun turun.
"Nona mau titip apa?"
"Mau susu kotak sama keripik kentang."
"Rasa?"
"Apa saja."
"Oke. Tunggu sebentar." Gugun tersenyum, dia mengelus puncak rambut Citra sebentar kemudian berlalu masuk ke dalam sana.
"Kok tiba-tiba aku kangen Opa Ganteng, ya? Sedang apa dia dan bagaimana kabarnya?" gumam Citra. Dia pun mengambil ponselnya di dalam tas, lalu mencari-cari sebuah kertas yakni nomor Angga. Baru saja dia hendak mengetik nomornya, tetapi tiba-tiba terdengar suara bariton seseorang dari jauh.
Citra memutar kepala ke belakang. Matanya seketika membulat kala dia melihat Steven berada di pinggir jalan bersama mobilnya. Pria itu tengah marah-marah pada seorang sopir taksi yang berada di sana juga.
Entah apa kesalahan pria yang memakai kemeja telor asin itu, tetapi tampak jelas dari mata yang melolot juga dengan rahang yang mengeras—Steven begitu marah dan emosi padanya.
Jantung Citra seketika berdebar, tetapi hatinya terasa sakit. Jujur dia senang bertemu Steven, tetapi entah mengapa air matanya justru lolos membasahi pipi.
Melihat Steven marah-marah, membuatnya teringat saat di mana dia lah yang dimarahi. Rasanya begitu teriris.
"Maafin aku, ya, Om." Citra cepat-cepat menyeka air mata di pipi.
Pandangan mata Citra yang semula ke arah wajah tampan kini beralih pada dada Steven. Dia hanya teringat kalau Steven ditusuk di daerah dada. Tetapi, dia justru merasa terkejut saat melihat kemeja putih yang Steven kenakan itu tercetak rona lipstik berwarna merah terang.
Seketika hatinya tertusuk dan lagi-lagi Citra tak kuasa untuk menahan tangis.
"Pasti itu bekas lipstiknya Safira. Dan pastinya kalian habis berpelukan. Aku juga yakin kalau Om sangat menyukai momen bersama Safira. Benar kata Om Gugun ... Om Ganteng memang serakah. Ada bagusnya aku pergi dan nggak bersama Om lagi."
Citra cepat-cepat menyeka air mata di pipinya, lalu segera membenarkan posisi duduk kala melihat Gugun masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
...Maaf baru up guys 🙏 Dari pagi males banget buat ngetik 🥲 nanti malam aku up lagi. Tungguin, ya! 😁...