
"Ini, rujak cingurnya dimakan dulu." Angga memberikan plastik putih kepada Steven. Sejak tadi siang, sampai sekarang. Rujak itu sama sekali belum Steven makan. Bahkan masih terbungkus rapih.
Angga sudah menawarinya berulang kali tetapi Steven menolaknya.
"Aku nggak mau." Steven menggeleng. Menolak untuk kesekian kalinya.
"Dari siang kamu katanya kepengen."
"Memang iya, tapi aku maunya Papa yang belikan. Bukan Bejo." Steven mendengkus kesal.
"Bejo belinya dari uang Papa, Stev."
"Tetap saja nggak mau. Aku maunya Papa yang belikan. Sudah ah, aku mau ke kamar pengantin. Lagian aku juga sudah nggak kepengen." Steven melangkah pergi meninggalkan Angga. Akan tetapi langkah kakinya yang hendak masuk ke dalam lift terhenti lantaran lengannya ditahan oleh seseorang. Lantas dia pun menoleh, ternyata yang menahannya adalah Sofyan—Kakaknya.
"Mau ke mana kamu, Stev?" tanya pria berusia 46 tahun itu.
"Mau ke kamar, Kak. Kakak belum pulang?"
"Kakak menginap di hotel. Tapi nanti ke kamarnya nunggu bubar. Eh ini, Kakak punya sesuatu untukmu." Sofyan merogoh jas putihnya, lalu memberikan plastik putih kepada adiknya.
"Apa ini?" Steven langsung membuka plastik itu dan seketika keningnya mengerenyit. Di dalam sana ada sebotol obat dan alat pencukur elektrik. "Obat apa ini, Kak? Aku nggak sakit. Dan kenapa Kakak memberikanku alat pencukur jenggot? Aku punya banyak dan sekarang daguku masih mulus."
Hampir setiap hari Steven mencukur kumis dan jenggotnya sebelum mandi. Alat pencukur yang dia punya selalu ada di dalam kamar mandinya.
"Ini obat kuat. Siapa tahu kamu membutuhkannya." Sofyan menyentuh botol obat yang saat ini berada dalam genggaman Steven. "Dan ini bukan alat pencukur jenggot, tapi bulu."
"Bulu apa?"
"Ya bulu apa saja. Ketiak bisa, burung bisa."
"Dih, ngapain aku mencukur bulu ketiak dan burung?" Alis mata Steven bertaut. Heran dengan alasan mengapa Kakaknya itu memberikan barang seperti itu. Sebab Sofyan sendiri tak pernah memberikan sesuatu kepadanya setelah mereka sama-sama memegang perusahaan.
"Kok ngapain? Ya biar bersihlah, Stev. Kan enak dipandang nanti saat kamu bugil. Nanti kalau lebat ... bisa-bisa istrimu menjerit bagaimana? Gagal dong jebol gawangnya."
"Ngapain dia jerit? Malah cowok tuh harus berbulu, Kak. Biar kelihatan macho. Biarkan saja kita nggak berbulu diluar. Tapi didalam harus."
"Ya terserah sih itu, mah. Kakak hanya kasih saran. Soalnya Kakak juga pakai."
__ADS_1
"Dih, jadi burung Kakak tanpa bulu? Apa nggak kedinginan dia?" Steven bergidik seraya menatap celana Sofyan yang terlihat mengembung.
"Ya nggaklah, mana ada dia dingin. Kecuali nggak pakai celana tuh baru."
*
Sementara itu di dalam kamar hotel.
Sejak Citra terbangun dari pingsan, dia langsung heran saat sudah berada di dalam kamar tengah berbaring. Juga dengan gaun pengantin yang sudah berganti dengan sebuah dress mini berwarna pink. Lengan pendek.
Di sampingnya ada Sindi yang tengah mengompres dahinya. Dan saat sudah terbangun mertuanya itu segera menyuapinya makan juga memintanya untuk meminum obat.
Hingga sampai malam, Citra tak diperbolehkan untuk bangun dari kasur. Padahal dia sendiri sudah merasa lebih baik.
Dan saat dirinya bertanya mengapa dia pingsan, Sindi tak menjawabnya. Dia hanya mengatakan kalau biar nanti tanyakan saja kepada Steven.
"Kamu mau buah, Cit?" tawar Sindi seraya mengambil beberapa buah di atas piring, lalu meletakkan di atas paha. Ada jeruk, pisang, apel, anggur dan pir.
"Aku nggak kepengen, Ma." Citra menggeleng cepat. "Perutku masih kenyang sama bubur dan susu yang Mama berikan tadi."
"Tapi kamu harus makan buah, biar sehat. Ini, anggur saja." Sindi menyodorkan satu biji anggur merah ke bibir menantunya. Citra yang merasa tak enak langsung membuka mulut dan mengunyahnya pelan-pelan.
"Berbaring saja. Nggak apa-apa, kamu nggak merepotkan Mama kok." Sindi tersenyum lalu mengelus perut rata Citra. Dia benar-benar merasa bahagia saat mendengar Citra tengah mengandung. Semuanya terasa cepat, tetapi itu justru jauh lebih baik.
"Perutku ada apa? Kok Mama dari tadi ngelus-ngelus mulu?" Citra ikut menyentuh perutnya.
"Nggak apa-apa." Sindi menyodorkan sebiji anggur lagi ke mulut Citra.
"Kalau Mama ada di sini, terus pestanya bagaimana? Dan aku juga minta maaf, kalau gara-gara aku pingsan ... itu membuat pestanya kacau," ujar Citra tak enak hati.
"Pestanya berlanjut sampai pagi. Ada banyak orang kok disana. Kamu nggak perlu memikirkan masalah itu, yang penting istirahat saja." Sindi tersenyum hangat menatap Citra.
"Oh ya, Ma. Ngomong-ngomong ... di mana Kevin?" Mata Citra berkeliling menatap sekitar kamar itu. Dia baru ingat, kalau saat pingsan ada Kevin di sampingnya.
"Sama Papa. Eh, kata Mama 'kan kamu berbaring saja, Cit." Sindi mencegah menantunya yang lagi-lagi hendak bangkit.
"Aku mau pipis, Ma. Kebelet."
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Ayok Mama bantu." Sindi merangkul punggung Citra saat dia hendak bangkit, lantas setelah Citra menjatuhkan kedua kakinya ke lantai—Sindi merangkul bahunya, lalu berjalan pelan-pelan mengimbanginya hingga ke kamar mandi.
'Kok Mama perhatian banget sama aku, ya? Ah, tapi Mama Sindi 'kan memang baik. Aku juga seneng banget diperlakukan seperti ini,' batin Citra.
"Ayok buka celananya," titah Sindi saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.
"Mama tunggu diluar saja. Aku malu kalau pipis dilihatin."
"Mama akan berbalik badan." Sindi membalikkan tubuhnya ke tembok. "Sekarang kamu pipis saja, Mama nggak akan lihat."
"Eeemm, ya sudah deh."
Baru saja Citra hendak menurunkan celanna dalamnya, namun tba-tiba terdengar suara bel dari luar kamar. Dia pun menaikkan lagi celana segitiganya saat melihat Sindi menoleh kepadanya.
"Mama mau cek siapa yang memencet beli dulu, ya? Kamu pipis saja. Kalau sudah selesai nanti panggil Mama, ya?"
"Iya." Citra mengangguk cepat.
Gegas Sindi keluar dari kamar mandi dan menutup pintu. Kemudian, dia pun melangkah menuju pintu kamar lalu membukanya.
"Di mana Citra, Ma?" tanya Steven yang berdiri di depan pintu. Dialah orang yang memencet bel.
"Lagi pipis di kamar mandi."
"Kamar mandinya licin nggak itu? Kalau Citra terpeleset bagaimana, Ma?" Steven buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi. Sindi ikut menyusulnya.
Segera, pria tampan itu memutar handle pintu kamar mandi. Tetapi ternyata terkunci dari dalam.
"Citra! Sedang apa kamu?" tanya Steven sembari berteriak. Tangannya yang sudah mengepal mengetuk pintu.
"Lagi pipis, Om," jawab Citra pelan.
"Sudah selesai belum? Buka pintunya! Aku juga mau pipis. Ayok pipis bareng!" Steven memutar-mutar handle pintu kamar mandi itu dengan tergesa-gesa. Dia tampak tak sabar ingin cepat bertemu istrinya. Burung Elangnya pun ikut-ikutan berkedut di dalam celana.
"Sebentar, Om."
"Eemm ... Mama sekarang boleh balik lagi ke pesta. Biar aku yang menjaga Citra," ucap Steven seraya menatap Sindi yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
...Sungguh teganya, dua kali Om mengusir Mama Sindi 🙈...