
"Mama sekarang ikut aku dan Nissa ke rumah dukun beranak itu," pinta Tian. Perlahan dia menenggak air minum yang baru saja Nissa berikan. "Mama pasti tahu, kan, dukun beranaknya Fira?"
"Iya." Nurul mengangguk. "Sebentar ... Mama izin dulu sama Bu Wiwik." Berdiri, kemudian berjalan cepat ke ruang sebelah.
Mungkin hanya dalam waktu 15 menit Tian dan Nissa menunggu, akhirnya Nurul datang lagi dengan membawa tas selempang di bahu kanannya.
"Ayok," ajak Nurul.
Tian dan Nissa mengangguk, mereka berdiri dan melangkah keluar dari rumah panti itu. Ketiganya menaiki sebuah taksi berwarna biru telor asin.
Nurul duduk di depan, di samping sopir, sedangkan Nissa dan Tian di belakang.
"Kenapa kamu nggak bawa mobil, Ti? Apa dijual?" tanya Nurul seraya memutar kepalanya ke belakang untuk menatap mantan menantunya.
"Mobilku dipakai sopir untuk menjemput anakku, Ma," jawab Tian.
"Anakmu?" Kening Nurul mengernyit. "Kamu nikah bukannya belum lama, ya, masa sudah punya anak?"
"Si Juna, Mama bukannya sudah tahu dia, kan?"
"Oh. Tapi 'kan itu bukan anakmu. Tapi anak dari istrimu." Nurul melirik sebentar ke arah Nissa dengan sinis.
"Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Juna dan Tina itu sama, sama-sama anakku." Tian mengelus pipi kanan Nissa yang tampak merona. Wanita itu langsung tersenyum manis.
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah melupakan Fira ya, Ti? Apa kamu sama sekali nggak memikirkannya sedikit pun?" Mimik wajah Nurul tampak sendu. Dia merasa sedih dan iri melihat sikap Tian yang begitu hangat kepada Nissa. Rasanya yang dia inginkan Fira lah yang ada di samping Tian.
Kalau bisa, Nurul mau memutar waktu. "Dia lagi apa kira-kira? Mama sendiri khawatir dengan kondisi Fira, nggak tahu dia sekarang ada di mana," imbuhnya terenyuh.
"Hubungan Fira dan aku sudah berakhir, Ma. Begitu pun dengan rasa cintaku kepadanya. Semua ini 'kan kesalahan Fira, coba dia nggak kabur dari kejaran polisi ... pasti Mama nggak akan khawatir seperti ini," jelas Tian. Apa yang pria itu katakan adalah sebuah kejujuran. Dan sejujurnya, dengan menyebut nama Fira saja dia sudah merasa enek, karena apa yang telah dilakukannya benar-benar menguji emosi Tian.
Krukuk-krukuk.
Tiba-tiba, terdengar suara cacing di perut Nissa. Tian langsung menatap ke arahnya dan menyentuh perut sang istri.
"Ya ampun, gara-gara aku terus memikirkan jasad Tina aku sampai melupakan jam makan siangmu. Maafkan aku, Yang, kamu pasti lapar, ya?" tebaknya dengan wajah bersalah. Tian sendiri tak merasa lapar, sebab tertutup rasa khawatir dan penasarannya.
"Nggak kok, Yang, biasa saja," jawab Nissa berbohong. Sebenarnya sejak sampai di rumah panti dia sudah merasa lapar, hanya saja ditahan.
"Baik, Pak." Sopir itu mengangguk dan saat melihat sebuah restoran di dekat jalan, kendaraan roda empatnya langsung dia hentikan.
"Kita makan dulu, aku nggak mau kamu sakit, Yang," ajak Tian. Dia turun lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya.
"Terima kasih, Yang." Nissa pelan-pelan turun.
"Ayok Mama turun juga, kita makan bareng. Pasti Mama belum makan juga," ajak Tian. Sekarang pintu yang tepat Nurul duduki dia buka.
Malas sekali Nurul makan bareng dengan mereka, pastinya dia nanti akan melihat kemesraan di antara keduanya.
__ADS_1
Namun, perutnya tidak bisa dibohongi. Dia juga sama laparnya dan tak mau sakit. Sekarang Nurul hanya hidup sendiri, kalau sakit, lantas siapa yang akan merawatnya?
***
Satu jamman perjalanan yang mereka tempuh, 30 menitnya untuk makan siang. Hingga akhirnya mobil taksi itu berhenti di sebuah gang. Karena sempit, mobilnya jadi tidak bisa masuk.
"Sampai sini saja ya, Pak," ucap sang sopir taksi.
"Iya. Jadi berapa, Pak?" tanya Tian yang mengambil dompet di dalam kantong celana.
"300 ribu."
Setelah menyerahkan uang, ketiganya pun turun sama-sama dari taksi itu. Nurul jalan lebih dulu di depan, sebab dia yang tahu rumahnya. Sedangkan Tian di belakang sambil merangkul bahu istrinya.
"Jauh nggak, Ma?" tanya Tian sambil mengelus keringat yang bercucuran pada dahinya. Cuaca begitu panas sekali hari ini, padahal waktu sudah menjelang sore.
"Itu rumahnya, Ti." Nurul menunjuk sebuah rumah di depannya dan langsung menghentikan langkah. Sebuah rumah sederhana berwarna biru tua, ada pagar besinya berwarna putih dan terbuka lebar.
Namun, banyak sekali beberapa warga di sana. Kebanyakan dari mereka memakai pakaian putih. Dan yang membuat Tian terkejut, di arah seberang rumahnya—sudah ada keranda jenazah.
'Jangan bilang dukun beranaknya meninggal,' batin Tian dengan tubuh yang bergetar.
...Berpikirlah yang positif, Om ðŸ˜...
__ADS_1