
"Nona sudah kembali?" tanya Gugun yang baru saja menghampiri Citra hingga membuatnya terhenyak. Gadis itu menoleh dan langsung mengusap air mata di pipi. "Nona nangis? kenapa lagi?"
"Nggak kenapa-kenapa." Citra menggeleng cepat. "Eeemm ... Om, mereka itu siapa?" Meskipun Citra sudah yakin jika mereka adalah Sindi dan Safira, tetapi tak ada salahnya untuk kembali bertanya. Ingin memastikan benar atau tidaknya.
Lantas, Citra pun menarik turunkan dagunya ke arah dua perempuan di depannya itu dan Gugun langsung melihat kepada mereka.
"Mereka Bu Sindi dan Nona Fira, atau Safira, Nona."
"Ternyata benar dugaanku. Mereka Mama Sindi dan Safira," gumam Citra pelan tetapi mampu didengar oleh Gugun.
"Apa Nona ingin ke sana dan berkenalan dengan mereka?" tawar Gugun.
"Nggak Om." Citra menggeleng cepat.
"Kenapa?"
"Om Ganteng melarangku untuk bertemu Mamanya, karena dia belum siap mengenalkanku padanya. Jadi lebih baik aku nggak usah berkenalan. Nanti Om Ganteng marah." Citra menggelengkan kepala.
"Apa Pak Steven memberitahu alasannya?"
"Kata Om Ganteng aku bukan menantu idaman Mamanya, Om. Dan saat ini aku sudah tahu kalau Safira lah menantu idaman Mamanya. Aku tadi juga mendengar sendiri kalau Mamanya mau Om Ganteng dan dia menikah lalu punya anak dengan Safira," jelas Citra sembari menyentuh dadanya yang terasa sesak. "Yang aku mau ... Om Ganteng sendiri yang mengajakku. Mengenalkanku pada orang tuanya. Tapi ini ...." Kembali air mata Citra mengalir, tetapi dengan cepat dia pun menyekanya. "Ah ya sudahlah. Harusnya aku sadar diri, kalau aku memang nggak pantas bersamanya."
'Jadi ... sampai sekarang Pak Steven belum menceritakan tentang kontrak pernikahannya pada Nona Citra? Tapi bagus deh,' batin Gugun.
Gugun merangkul bahu Citra lalu membawanya berjalan menjauh dari sana. Kemudian mencari tempat duduk.
"Nona sekarang maunya bagaimana? Apa yang Nona mau tentang hubungan kalian? Saya akan membantu." Gugun memberikan sebotol teh dingin pada Citra yang sejak tadi dia bawa dan masih bersegel. "Minum dulu, biar enakan."
Citra mengusap air matanya yang lagi-lagi lolos, kemudian mengambil botol di tangan Gugun. Setelah itu dia membuka tutup dan meneguknya hingga sisa setengah.
"Kalau nanti Om Ganteng sudah sadar ... aku ingin dia menentukan pilihan, Om," ujar Citra lirih.
"Menentukan pilihan maksudnya memilih Nona atau Nona Fira gitu?" tebak Gugun yang seolah mengerti maksud Citra.
__ADS_1
"Iya." Citra mengangguk.
"Kalau misalkan Pak Steven memilih Nona Fira bagaimana? Nona siap kalau Nona dan Pak Steven benar-benar pisah?"
"Sebenarnya aku ragu. Tapi seperti apa yang pernah aku katakan ... aku akan mencoba merelakannya, Om. Karena aku mau Om Ganteng bahagia."
"Ya sudah. Berhubung ini sudah malam ... Nona mau pulang apa bagaimana? Nggak mungkin juga Nona tidur di sini."
"Aku mau pulang. Tapi nanti Om balik lagi ke sini, ya? Aku mau Om mengawasi Om Ganteng. Aku sebenarnya takut kalau terjadi sesuatu padanya."
"Pak Steven akan baik-baik saja, Nona. Nona tenang saja." Gugun mengangguk, lalu mengajak Citra untuk pergi dari rumah sakit.
***
Keesokan harinya.
Sekitar jam tujuh pagi, Tian memarkirkan mobilnya pada parkiran di halaman rumah sakit. Dia datang tidak sendiri, melainkan bersama Tegar.
"Kak, kita mau ngapain sih sebenarnya ke rumah sakit? Kakak sakit?" tanya Tian seraya mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah samping. Tepat di mana Tegar berada. Dia memang tak tahu alasan Kakaknya itu mengajaknya ke rumah sakit. Sebab dilihat, Tegar tampak segar bugar.
"Steven dibegal? Wah ... alhamdulilah banget dong." Manik mata Tian terlihat berbinar, dia sungguh senang mendapatkan berita buruk tentang Steven. Karena baginya, Steven adalah seorang musuh. "Terus hubungannya kita ke sini apa, Kak?"
"Dia dibawa ke rumah sakit ini, kita cek kondisinya."
"Dih, Kak. Sebentar!" Tian mencekal tangan Tegar saat pria itu hendak membuka pintu mobil. "Ngapain kita jengkuk di Perjaka Tua itu? Nggak penting tahu nggak, buang-buang waktu."
"Dih, siapa yang mau menjengkuk? Kita akan melakukan sebuah rencana!" Tegar mendengkus kesal lalu menepis kasar tangan adiknya. Setelah itu dia pun turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Tian ikut membuntut di belakang.
Langkah keduanya terhenti di depan resepsionis. Mereka pun tersenyum manis menatap kedua penjaga resepsionis yang tampak begitu cantik, dua orang wanita berambut pendek.
"Selamat pagi Bapak-bapak, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang mempunyai tahi lalat di bawah dagu. Dan tiba-tiba Tian mengulurkan tangannya, seperti ingin mengajaknya berkenalan.
"Namaku Tian, boleh nggak aku minta nomormu?"
__ADS_1
"Tian! Apa yang kamu katakan?!" Tegar menepuk kasar lengan adiknya seraya melolot. Memang Tian adalah pria mata keranjang, tidak bisa melihat perempuan bening sedikit. Tetapi untuk saat ini, rasanya momennya tidak tepat untuk merayu perempuan. Perlahan Tegar pun mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Tian seraya berkata, "Aku sudah bilang kalau kita akan melakukan sebuah rencana! Diam atau aku potong burungmu!" ancam Tegar.
Tian langsung mendelik, susah payah dia pun menelan ludahnya dengan kasar. Refleks kedua tangannya menyentuh miliknya yang tiba-tiba berkedut di dalam celana.
"Maaf Nona, jangan dengarkan apa yang adikku katakan. Dia agak gila," ujar Tegar sambil mengulum senyum menatap wanita di depannya.
"Nggak apa-apa, Pak." Wanita itu mengangguk sopan.
"Aku ingin bertanya tentang kondisi pasien yang bernama Steven Prasetyo dan ada di ruangan mana dia?" tanya Tegar penasaran.
"Sebelumnya saya mohon maaf. Boleh Bapak berikan kartu identitas dan ada hubungan apa di antara Bapak dan Pak Steven?"
"Duh, memang harus sekomplit itu? Kebetulan aku nggak bawa KTP," jawab Tegar beralasan.
"Iya, semua orang yang mau menjengkuk Pak Steven harus memberikan kartu identitas dan hubungannya. Itu atas permintaan Pak Gugun."
'Gugun?' batin Tegar lalu berdecih. 'Apa-apaan dia? Berlebihan sekali! Dia 'kan asistennya Kak Danu. Bukan asisten si Perjaka Tua itu.'
"Eemm ... ya sudah deh. Besok saja aku datang lagi sambil membawa KTP. Aku permisi dulu mau numpang ke toilet."
"Silahkan, Pak." Wanita itu tersenyum dan mengangguk sedikit.
Tegar langsung menarik tangan adiknya, lalu membawanya berjalan mencari-cari toilet. Setelah ketemu mereka pun masuk sama-sama.
"Kakak kalau mau kencing, kencing saja dulu. Masa aku musti lihatim burung Kakak?" kata Tian seraya memalingkan wajahnya.
"Siapa yang mau kencing? Ini hanya alasan saja." Tegar merogoh saku dalam jasnya, kemudian mengambil plastik putih dan memberikan pada Tian. Adiknya itu langsung membukanya dan ternyata isinya ada sebuah suntikan dan botol kaca kecil berisi air bening. Tian sendiri tahu obat apa itu.
"Kakak mau nyuntik mati Steven?" tebak Tian yang mana dianggukan oleh Tegar. "Untuk apa, Kak?"
"Kok untuk apa? Ya biar dia mati. Kamu jangan oon kayak Citra deh, Tian!" Tegar mengeram kesal.
"Iya, aku tahu menyuntik mati bisa membuat orang mati. Tapi aku bingung kenapa Kakak mau Steven mati? Bukannya rencana kita mau menjebaknya supaya Citra sakit hati terus minta cerai, ya?" Tian masih ingat saat kemarin mereka membahas rencana jahat. Dan jelas saja sekarang dia tak paham maksud kakaknya.
__ADS_1
"Memang iya, itu rencana awal kita. Tapi aku nggak tahu kalau Steven akan dibegal dan masuk rumah sakit. Tapi setelah aku pikir-pikir ... lebih baik kita manfaatkan ketidak berdayaan Steven sekarang. Menyuntiknya mati sampai dia benar-benar mati dan yang jelas ... Citra setelah itu akan menjadi janda!"
...Kalau do'ain rencana mereka berdua berhasil dosa nggak, ya? 🤔...