
Keesokan harinya.
Steven perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya kala terdengar suara isakan tangis yang mengusik tidurnya. Setelah matanya terbuka sempurna dan nyawanya sudah terkumpul, barulah dia pun menoleh ke samping tepat asal suara itu.
Ternyata Citralah yang menangis, gadis itu meringkuk dengan posisi membelakanginya.
Steven mengucek kedua matanya. Seperti ada yang aneh dan yang membuat dia bingung adalah gadis itu tanpa sehelai benang. Hanya tertutup selimut.
"Citra, kenapa kamu nang ...." Ucapan Steven menggantung kala selimut yang menutupi tubuhnya itu tersingkap akibat tarikan tangan Citra. Seketika dia pun terbelalak saat melihat tubuhnya sama polosnya seperti Citra.
Steven terdiam beberapa detik seraya menyentuh kepalanya lalu mengingat-ingat kejadian apa yang telah terjadi semalam. Dan tak lama lintasan momen itu tergambar jelas di otaknya hingga mulutnya refleks menganga. 'Astaga! Apa semalam aku sudah menyentuh Citra?'
Padahal Steven tak mabuk sama sekali. Dan memang seumur hidupnya dia belum pernah minum alkohol. Tetapi anehnya semalam dia seperti lupa daratan hingga kekhilafan itu terjadi.
Steven langsung berlari menuju kamar mandi begitu saja, tanpa peduli asetnya bergelantungan manja.
Menutup pintu dengan rapat lalu menyalakan shower sembari menempelkan punggungnya pada tembok. Napasnya terdengar naik turun, jantungnya berdebar kencang.
"Ayah ... maafkan aku, semalam aku sungguh khilaf. Bisa-bisanya aku sampai menyentuh Citra?" Steven menjambak rambutnya dengan penuh penyesalan. Rasanya dia takut, takut jika Danu marah atas apa yang sudah sudah terjadi. "Semalam Citra duluan yang menggodaku, Ayah. Dan ... milikku nggak kuat banget."
Tangan Steven perlahan turun pada inti tubuhnya, lalu menggenggamnya dan merasakan ketegangannya.
"Aku hampir gila semalam karena terus menahannya. Tolong maafkan aku. Ayah jangan marah padaku, marah saja pada Citra. Karena dia biang keladinya."
***
Ceklek~
Setelah beberapa menit akhirnya Steven keluar dari kamar mandi, dia juga sudah memakai setelan lengan panjang berbahan kaos.
Kakinya perlahan menghampiri Citra yang masih meringkuk di atas kasur, bahkan masih menangis. Dia pun duduk di sebelahnya lalu menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dan perlahan mengusap air matanya.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Steven lembut.
"Dih, Om ini pura-pura lupa apa gimana? Semalam Om itu kesurupan dan memperkosaku," jawabnya Citra yang kembali menangis.
Steven mengerutkan keningnya, heran dengan apa yang istrinya itu katakan. "Memperkosa apanya? Semalam aku nggak memperkosamu."
"Apanya yang nggak? Jelas Om memperkosaku. Milikku sampai berdarah dan rasanya sakit."
Citra menyingkap selimut lalu pelan-pelan melebarkan kedua pahanya untuk memperlihatkan miliknya pada Steven.
Niat Citra ingin pria itu melihat sendiri akan ulahnya sebab sekarang miliknya terasa perih. Akan tetapi Steven justru membulatkan matanya sembari menelan saliva kala inti tubuh yang berwarna pink itu tampak merekah dan amat menggoda. Cepat-cepat dia pun menutupinya kembali dengan selimut, takut jika kembali khilaf.
__ADS_1
"Maafkan aku, Cit. Tapi semalam itu aku nggak memperkosamu. Kan kita sudah menikah."
"Terus apa kalau bukan memperkosa? Menjahatiku?" tebaknya.
Steven menggeleng cepat. "Bukan, gara-gara kamu terus menggodaku, aku jadi khilaf. Semalam itu adalah malam pertama kita."
Sontak—Citra membulatkan matanya dengan lebar, mulutnya langsung menganga karena sangking terkejutnya. "Ja ... jadi, se—semalam kita bercinta?" ujarnya terbata.
Steven mengangguk kecil.
Citra langsung menarik tubuh perlahan hingga duduk, dia pun segera memeluk tubuh Steven dan menciumi dadanya yang beraroma maskulin itu.
'Mimpi apa aku semalam sampai aku bisa bercinta dengan Om Ganteng? Berarti ini tandanya Om Ganteng sudah mencintaiku, kan? Aku berhasil membuatnya cemburu dan jatuh cinta padaku?'
Jantung Citra berdebar kencang, hatinya terasa hangat dan seperti ditumbuhi beberapa bunga yang amat banyak. Sungguh dia bahagia sekali, baginya keinginannya itu sudah terwujud.
"Kamu sekarang mandi gih, aku laper mau sarapan." Steven melepaskan pelukan itu, lalu membereskan rambut Citra yang terlihat berantakan.
"Tapi aku buat jalannya sakit, Om." Citra menyentuh miliknya sambil meringis.
Tanpa menjawab, Steven segera menggendongnya, lalu membawanya ke kamar Citra. Gadis itu sontak terkejut mendapatkan perlakuan yang terkesan lembut dan perhatian itu. Sungguh, Citra makin meleleh dibuatnya.
"Mau sarapan apa, Cit?" tanya Steven setelah menurunkan gadis itu di dalam kamar mandi. Tubuh polosnya masih tertutup selimut yang memang sengaja Steven bawa.
"Bubur saja, ya?"
"Oke." Citra mengangguk. Melihat Steven hendak berjalan keluar, Citra segera menarik lengannya dan berjinjit. Lalu dengan cepat dia pun mencium bibir Steven. Steven tampak terkejut sesaat, lantas cepat-cepat mendorong tubuh Citra supaya menjauh.
"Kenapa, Om?" tanya Citra dengan kening yang mengerenyit. Memang Steven sering menjauh dan menghindar kala dia melakukan hal-hal semacam itu, akan tetapi sekarang berbeda rasanya. Sebab baginya Steven sudah cinta, lantas mengapa menolak?
"Om nggak seneng aku cium? Kan semalam kita ciuman terus."
"Bibirmu bau iler," jawab Steven sambil menunjuk pipi kedua pipi Citra. Ada Iler di sana, sudah kering dan tampak berkerak.
"Iler ini 'kan kombinasi dari Iler Om juga." Citra menyentuh kedua pipinya yang tiba-tiba saja merona.
"Enak saja, itu ilermu sendiri." Steven langsung berlalu pergi keluar dari kamar mandi.
*
*
"Minum obat ini, Cit."
__ADS_1
Di meja makan seusai sarapan, Steven memberikan selembar strip obat pada Citra. Juga dengan sebuah salep kecil yang berbentuk pasta gigi.
"Dan ini salep, nanti olesi pada milikmu yang lecet," tambah Steven.
"Ini obat untuk apa, Om?" Citra mengambil obat itu, lalu membacanya. "Pil KB? Kok aku minum pil KB. Kenapa?" tanyanya sembari menatap Steven dengan bingung. Entah mengapa, raut wajah pria tampan itu tampak suram, saat sarapan Citra juga memperhatikan Steven seperti banyak melamun. "Apa Om ada masalah?"
Steven menggeleng cepat, lalu tersenyum tipis. "Nggak ada, kamu minum pil itu supaya nggak hamil. Kan masih kuliah."
"Kok hamil? Memang kenapa aku bisa hamil?"
"Kan semalam kita bercinta, kamu ini nggak usah aneh-aneh deh. Masa begitu saja nggak tahu." Steven mengendus kesal.
"Memangnya orang bercinta bisa hamil? Kata Om Gugun yang bisa hamil itu berhubungan badan."
"Ya itu saja Citra!" pekik Steven lantang sambil mengebrak meja. Emosinya tiba-tiba saja naik.
"Maaf, Om. Aku memang nggak tahu."
Steven menuangkan air pada gelas bersih, lalu menyodorkan ke arah Citra. "Sudah minum obatnya, kalau nggak diminum aku cekokin."
"Iya, iya." Citra langsung membuka sebutir obat itu, lalu meminumnya dengan air.
'Semoga dengan begini Citra nggak hamil gara-gara semalam,' batin Steven.
"Minum setiap hari dijam yang sama. Jangan sampai telat," tegur Steven.
"Memang nggak overdosis minum obat setiap hari?"
Steven berdecak lalu membuang napasnya kasar. "Overdosis itu kalau kamu minum semua obat itu. Kalau satu biji sehari mah ya nggak."
Ting~
Terdengar suara notifikasi chat masuk pada ponsel Steven. Setelah dibaca, ternyata isi pesannya adalah dari Ajis. Penjaga apartemennya itu mengatakan kalau ada dua gadis teman Citra yang mencari Citra diluar.
"Diluar ada temanmu, Cit. Sana temui," kata Steven.
"Siapa?"
"Mungkin Lusi sama Rosa."
"Oh, oke deh." Citra mengangguk. Dia pun perlahan berdiri, lalu berjalan tertatih-tatih menuju pintu utama. Steven memperhatikan cara gadis itu berjalan yang agak ngangkang. Juga raut wajahnya yang mengerut seperti menahan sakit.
Entah dapat dorongan dari mana, Steven tiba-tiba langsung berlari menghampirinya. Lalu mengendong Citra.
__ADS_1
...Widih, abis dapet jatah mah kek lembut dan perhatian kali Om Ganteng 😚 Apa bener udah cinta, Om?...