Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
56. Menantu idaman


__ADS_3

'Ah benar, ternyata yang mengirim bolu adalah Fira,' batin Steven saat setelah membaca kartu ucapan itu. Lantas dia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu merogoh ponsel pada kantong celana untuk menghubungi Fira.


"Halo."


"Halo, Pak. Bagaimana bolu kiriman dari saya? Apa rasanya enak?" tanya Fira dengan suara ceria. Tampaknya dia seperti senang mendapat panggilan dari Steven.


"Fir, mulai sekarang jangan pernah kirim apa pun ke apartemenku, ya?"


"Dih, kenapa, Pak? Rasanya nggak enak, ya?" Sekarang suaranya terdengar sendu.


"Bukan nggak enak, bolu darimu enak kok. Tapi aku nggak suka kamu mengirim apa pun ke sini. Besok-besok jangan, ya?" pinta Steven.


"Begitu ya, Pak. Padahal saya senang membuat dan mengirim makanan untuk Bapak. Tapi kalau Bapak merasa keberatan ... saya nggak masalah kok. Maafkan saya, kalau itu membuat Bapak nggak nyaman."


"Harusnya aku yang minta maaf. Dan aku harap ... kamu jangan terlalu berharap padaku." Steven baru saja hendak memutuskan panggilan telepon itu, tetapi Fira kembali berucap.


"Tunggu sebentar, Pak. Eeemm ... saya ingin jujur sama Bapak."


"Jujur apa?"


"Saya memang dijodohkan oleh Mama saya dan Tante Sindi untuk menjadi istri Bapak. Tapi ... saya juga benar-benar suka sama Bapak."


"Kenapa suka padaku?" Steven mendudukkan bokongnya di atas kasur.


"Sebelum saya bekerja jadi sekertaris Bapak ... saya sudah ketemu Bapak untuk pertama kali dan saat itu pas ada acara lomba memasak. Kira-kira sekitar dua tahun yang lalu. Saya jadi salah satu peserta di sana dan saat itu pasangan lomba Bapak seorang ibu hamil. Siapa namanya itu, Nella, ya?"


Steven terdiam beberapa saat. Mengingat-ngingat apa yang gadis itu katakan. Apakah benar atau tidak, sebab dia sering mengikuti ajang lomba seperti itu dulu.


Tetapi, rasa-rasanya dia pernah sekali ikut lomba dengan Nella, keponakannya. Mungkin memang apa yang dikatakan Fira benar adanya.


"Itu memperingati louncing restoran yang baru buka. Kalau nggak salah lagi pemilik restorannya bernama Bima Pradipta dan Bapak jadi pemenang lomba itu," tambah Fira lagi.


"Ah, iya iya. Aku ingat. Jadi kamu ikut juga? Sama siapa?"


"Sama Mama saya."


"Terus, masa hanya karena kita sama-sama ikut lomba memasak kamu jadi suka padaku? Apa bisa semudah itu?" Entah mengapa Steven jadi penasaran.


"Saya juga nggak tahu. Mungkin bisa dibilang cinta pada pandangan pertama, Pak."


'Cinta pada pandangan pertama? Memang ada ya yang seperti itu?' Sampai sekarang Steven tak percaya dengan istilah itu. Karena baginya, rasa cinta itu tumbuh karena kenyamanan dan seringnya kita berinteraksi.


"Saya akan tunggu Bapak sampai siap, sampai siap menikahi saya," tambah Fira lagi.


'Siap menikahinya?' Steven terdiam. Tiba-tiba dia langsung mengingat surat kontrak pernikahannya. 'Apa setelah aku melepaskan Citra, aku bisa menikahi Fira? Tapi ... bagaimana nasib Citra nanti? Apa dia akan baik-baik saja setelah berpisah denganku?'


Steven mematikan sambungan telepon itu dan tak lama buliran bening mengalir pada sudut matanya, cepat-cepat dia pun langsung menyekanya dan mengusap kasar wajahnya.


'Aku ingin mempunyai istri yang seperti apa yang aku idam-idamkan. Dan sepertinya semua itu ada didiri Fira. Dia cantik, pintar, dewasa dan pandai memasak. Sedangkan Citra ....' Steven mengingat wajah polos gadis itu yang bahkan hampir setiap hari ada di dalam otaknya. 'Hanya cantik saja yang dia punya, selebihnya tidak ada. Bahkan berbicara saja dia tidak pernah nyambung.'


Steven langsung mengambil ponselnya lagi, kemudian menghubungi pengacara Harun.


"Harun, besok kita harus bertemu. Ada yang mau aku bicarakan," ucapnya pada sambungan telepon yang sudah diangkat oleh seberang sana.

__ADS_1


"Baik, Pak."


Setelah memutuskan panggilan telepon itu, Steven berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar lalu menuju kamar Citra. Dia pun mengetuk pintu tersebut.


Tok ... Tok ... Tok.


"Cit, buka pintunya! Aku akan menjelaskan semuanya!" pekik Steven dan tak lama pintu itu dibuka.


Ceklek~


Dilihat Citra sudah berganti pakaian, dia memakai baju tidur labasan panjang selutut. Rambutnya tampak basah seperti baru mandi tadi.


"Ayok katakan, tapi jujur," ucapnya dengan menundukkan kepala.


Stevan berjalan menuju Sofa, kemudian duduk di sana. Citra pun mengikutinya, duduk di sebelah Steven.


Perlahan Steven membuang napasnya kasar, lalu berkata, "Safira itu sekertarisku."


"Apa Om suka padanya?"


"Nggak."


Citra menoleh, mata mereka pun bertemu dan dia tampak serius menatap Steven.


"Apa Om jujur?" tanyanya yang belum percaya.


"Aku jujur."


"Terus yang namanya Tante Sindi itu siapa?"


"Kok Safira kenal sama Mama Om?"


"Dia anak teman Mamaku."


"Maksud dia kirim bolu itu apa? Dan kenapa Mama Om memberitahunya Om suka bolu pandan padanya? Dan kenapa juga Om belum pernah mengenalkan aku sama Mama Om atau keluarga Om?" Rentetan pertanyaan itu seketika membuat kepala Steven pusing. Pria itu pun langsung menyandarkan punggungnya dan memijat pelipis matanya.


"Aku belum siap." Steven memilih menjawab pertanyaan yang terakhir, sebab menurutnya itu pertanyaan yang sangat aman untuk dijawab.


"Belum siap? Apanya yang belum siap?"


"Belum siap mengenalkanmu pada Mamaku."


"Alasannya?"


'Apa aku harus bilang kalau kita menikah hanya sebentar? Tapi Citra 'kan nggak boleh tahu tentang itu. Terus ... bagaimana sekarang?' batin Steven. Lalu memikirkan sebuah ide untuk beralasan.


"Om ... kok Om diem?" tanya Citra seraya menyentuh punggung tangan Steven hingga membuat pria tampan itu terhenyak.


"Ah itu. Alasannya ... Eemm ... karena takut Mamaku nggak setuju."


"Nggak setujunya kenapa? Kan kita sudah menikah? Memangnya pas Om mau menikahiku Om nggak cerita?"


Steven menggeleng. "Nggak, soalnya itu dadakan."

__ADS_1


"Ya sudah sekarang coba kenalkan aku sama Mama Om atau keluarga Om. Mungkin dia suka padaku," rengek Citra seraya bergelayut manja pada lengan Steven.


"Kayaknya nggak deh." Steven menggeleng cepat. "Mamaku nggak akan suka padamu."


"Lho kenapa? Kan bertemu saja belum. Masa sudah nggak suka?"


"Karena kamu bukan menantu idamannya."


"Memangnya memantu idaman Mama Sindi seperti apa?"


"Cantik, putih, pintar dandan, pintar memasak, rajin ibadah, dewasa dan yang pastinya nggak oon."


"Kalau itu aku juga bisa," jawab Citra dengan penuh percaya diri.


"Apanya yang bisa?" Sebelah sudut bibir Steven terangkat, lalu menatap remeh Citra. "Memang kamu pikir itu mudah? Kamu bahkan nggak punya semua itu."


"Cantik sama putih aku sudah punya, rajin ibadah juga aku sedang belajar. Dandan juga bisa belajar."


"Kalau masak bagaimana? Aku nggak yakin kamu bisa masak."


"Aku bisa masak, Om."


"Masak apa?"


Citra langsung terdiam, lalu mengingat-ingat kapan terakhir kali dia pergi ke dapur. Dan rasa-rasanya seumur hidup dia belum pernah masak, bahkan masak air pun tidak pernah.


"Nggak bisa 'kan mangkanya diem?" tebak Steven. "Kamu itu bisanya cuma nangis doang, Cit," cibir Steven yang mana membuat Citra menatapnya dengan kesal.


"Enak saja nangis doang, aku bisa kok masak!" tegas Citra marah.


"Kalau bisa masak coba buktikan sekarang!" tantang Steven sambil bersedekap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sebelumnya Author mau minta maaf banget, kalau cerita yang aku buat ini bukan sesuai keinginan kalian 🙏....


...Banyak juga di antara kalian yang mengeluh kenapa sih Citra tuh oon banget? Kapan dia dewasanya? Kok anak orang kaya bisa oon begitu? Apa Citra punya kelainan sampai bisa seoon itu?...


...Gimana ya jelasinnya 🤔...


...Dari awal bab sudah diceritakan gimana sifat Citra, kalau dia emang bisa dibilang OON. Kalau dia nggak oon, Pak Danu nggak bakal nikahin dia sama Om Steven. Karena dia tahu bagaimana anaknya, takut jika nanti Citra salah melangkah dan tugas Steven adalah memberitahu mana yang benar dan nggak. Itu juga emang tugas suami....


...Terus, kapan si Citra dewasanya? Apa Oon terus sampai tamat?...


...Ya nggaklah, pasti ada waktunya. Seseorang bisa dewasa bukan karena dilihat dari umurnya aja, tapi bisa karena keadaan....


...Semuanya butuh proses, Gays. Dan untuk merubah karakter seseorang itu nggak mudah....


...Terima kasih juga yang udah komen tentang apa yang ada dalam pikiran kalian mengenai cerita ini, aku sangat menghargai itu dan aku juga seneng baca komen kalian☺️🙏 tapi maaf kalau misalkan aku nggak bisa balas satu persatu 🥺🙏...


...Aku berharap kalian masih tetap setia baca novel ini sampai tamat, karena nanti akan ada beberapa konflik🤧....


...Tapi kalau memang sudah merasa bosan, aku juga nggak maksa ☺️. Kalian bisa cari novel lain yang sesuai selera kalian. Sekali lagi terima kasih, tanpa kalian semua aku nggak akan bisa semangat untuk menulis 🥰...

__ADS_1


...Sarangheo ❤️...


__ADS_2