Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
166. Kamu bau ketek!


__ADS_3

Setelah mendapatkan uang, mereka pun berlalu pergi. Namun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Steven.


"Habis ini aku nggak mau lagi ada orang yang datang ke kantorku dengan membawa-bawa nama Bejo." Steven berujar pada kedua satpam kantornya sambil berkacak pinggang. "Kalau bukan urusan pekerjaan, kalian usir. Kalau kalian nggak bisa ngusir ... kalianlah yang akan aku usir dari kantor ini!" ancamnya marah. Matanya terlihat melolot tajam.


Mungkin hanya dua orang satpam, yang bisa Steven jadikan tumbal kemarahannya. Jika emosinya dipendam dan tidak keluar, itu sangat menyesakkan dada.


"Baik, Pak!" jawab tegas mereka berdua. Lalu menundukkan wajah. Steven langsung berlalu pergi, kembali ke ruangannya.


Tepat di pintu ruangan, Arif berdiri sambil memegang nampang yang di atasnya ada secangkir teh.


"Ada apa?" tanya Steven ketus, lalu menurunkan handle pintu.


"Saya buatkan Bapak teh peppermint. Saya lihat Bapak seperti stres banyak masalah. Mungkin dengan meminumnya ... Bapak menjadi jauh lebih baik," ucap Arif penuh perhatian. Dia tersenyum menatap Steven.


"Aku nggak suka teh." Steven mengibaskan tangannya, kemudian masuk ke dalam ruangan. Namun Arif justru ikut masuk.


"Ngapain lagi? Kan aku sudah bilang nggak suka teh, bawa pergi atau buatmu saja." Steven sudah duduk di kursi kerja dan matanya menatap aneh Arif.


"Kalau Bapak nggak mau teh, terus Bapak mau apa? Sebagai sekertaris yang baik ... saya juga harus bisa membantu masalah Bapak, kan?"


"Urus saja pekerjaanmu," cetus Steven dengan tatapan sengit. Jika sedang marah dan emosi, semuanya pasti akan kena. "Bukannya si Dika sedang mengajarimu, ya?"


Arif mengangguk cepat. "Iya, saya sedang belajar. Tapi semuanya sudah saya catat, Pak."


"Ya sudah sana pergi, pekerjaanmu masih banyak. Banyak berkas dan data yang musti kamu pelajari." Steven menatap kembali laptopnya dan kembali bekerja.


"Tapi Bapak nggak haus memangnya? Oh kopi saja kalau begitu ya, Pak. Biar nggak ngantuk." Arif berbicara sendiri, sebab Steven mengabaikannya. "Sebentar ... saya akan kembali dengan membawa segelas kopi," imbuhnya lalu melangkah keluar dari ruangan Steven.


'Aku harus mengambil hatinya, dia terlalu ganteng jika diabaikan,' batin Arif.


***


Semenjak Sisil pindah di kampus itu dan duduk di dekat Citra, semua yang Citra lakukan pasti bersama Sisil. Entah pergi ke toilet bersama, mengobrol dan jajan.


Namun, hal tersebut membuat rasa cemburu tumbuh pada kedua temannya. Yakni Lusi dan Rosa. Karena dengan kedekatan Citra dan Sisil, mereka menjadi tak punya akses untuk main bersama Citra.


Bukan Citra yang tidak mengajak mereka, hanya saja merekanya yang tidak mau. Gabung dengan Sisil mereka anggap tak level, sebab gadis itu bukan kalangan anak orang kaya.


"Aku benci sama Sisil, Lus. Semenjak Citra kuliah lagi ... dia malah dekat sama Sisil daripada sama kita." Rosa merengut kesal, kedua tangannya mengepal melihat Citra dan Sisil baru saja keluar kelas sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


"Iya, aku juga sebel." Lusi menyahut dengan wajah masam. "Citra juga sekarang susah dimintain duit. Banyak alasan, nggak kayak dulu."


"Iya, berubah dia, ya, gara-gara Sisil."


*


Citra dan Sisil duduk di kursi kantin, kemudian mereka pun melihat buku menu.


Dari kejauhan, Jarwo berdiri sambil memperhatikan Citra. Memang dia ditugaskan untuk mengawasi, tetapi dengan jarak jauh, sebab takutnya Citra merasa risih.


"Aku mau mie ayam, Cit. Sama es jeruk. Kamu mau apa?" tanya Sisil seraya mengelus punggung tangan Citra.


"Aku mau soto ayam, minumnya es teh manis."


Pelayan yang berdiri di dekat mereka pun langsung mencatat. Kemudian berlalu pergi untuk membuatkan pesanan.


"Oh ya, Sil. Aku mau nanya dong, kok kamu pas aku nikah nggak datang? Padahal aku nungguin kamu lho." Sejak kemarin, pertanyaan itu belum berhasil Citra tanyakan. Mungkin sekarang waktunya.


"Memang kapan kamu nikah? Aku nggak tahu." Sisil menggelengkan kepalanya.


"Mungkin seminggu yang lalu, atau lebih. Tapi Mama mertuaku kirim undangan, buat kamu dan Om Gugun."


"Bohong ya, kamu?" Citra memicingkan matanya, menatap Sisil tak percaya.


"Sumpah. Ngapain aku berbohong." Wajah Sisil tampak serius. Sepertinya dia jujur. "Maaf deh kalau aku nggak datang, tapi memang aku nggak tahu, Cit. Kalau tahu aku pasti datang." Sisil tersenyum dengan perasaan tak enak.


"Tapi yang terpenting, semoga pernikahanmu sakinah mawadah warahmah, ya, Cit," imbuhnya.


"Amin." Citra mengusap wajahnya sambil tersenyum.


"Seperti apa suamimu? Pasti ganteng dan baikkan?"


"Pastinya. Kamu mau lihat? Tapi jangan suka, ya?"


"Nggak bakal, kan punya kamu." Sisil menoel hidung Citra dengan gemas.


Citra membuka tas ranselnya yang dia taruh di atas meja. Tangannya merogoh, masuk ke dalam sana ingin mengambil ponsel. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan duduk tanpa permisi.


Citra langsung mengendus aroma tidak sedap yang mengguar, segera dia pun mengangkat wajah. Di depannya ada Udin. Laki-laki itu nyengir. Menampilkan gigi berkawat berliannya yang banyak sekali joging yang menempel.

__ADS_1


"Citra, kenapa kamu sombong banget sama aku sekarang?" tanya Udin. Dia merasa, sejak kemarin gadis itu selalu menghindar.


"Kamu belum mandi, ya? Kok bau banget!" Citra langsung menutup hidung. Aroma terapi itu sungguh menyesakkan dada dan membuatnya mual.


Tapi aneh, biasanya hidungnya tak pernah berfungsi jika mencium aroma-aroma tidak sedap. Sekarang justru bisa, bahkan sangat sensitif.


"Enak saja aku bau, aku wangi, Cit!" bantah Udin seraya menempelkan kedua lengannya ke arah hidung. Jadilah tangannya terangkat dan itu makin memperparah aromanya. Makin menyengat.


Sisil juga menutup hidung dan bukan cuma mereka saja, tetapi mahasiswa dan mahasiswi yang lain. Yang sedang makan. Mereka sampai menghentikan makan siangnya.


"Kamu pergi dari sini, Din! Aku mual! Kamu bau ketek!" usir Citra marah.


Namun, dialah yang justru pergi lebih dulu sebab merasa tak tahan. Berlari menuju toilet kantin. Perutnya bergejolak dan ingin muntah. Sisil pun ikut berlari mengejar Citra.


"Apa yang kau lakukan? Dasar bau!" teriak Jarwo marah. Dia berjalan cepat menghampiri Udin lalu menarik kerah belakang baju Udin hingga membuat tubuh lelaki itu berdiri. Jarwo memakai masker, berjaga-jaga supaya tak mencium aroma ketek.


"Enak saja Om mengatakan aku bau! Aku wangi! Aku tadi pagi mandi!" elak Udin tak terima.


"Jelas kau bau!" tukas Jarwo sambil melolot. "Aku peringatkan padamu, ya, jangan pernah ganggu Nona Citra lagi!" tegasnya.


"Aku nggak ganggu Citra. Kami itu berteman. Sebagai teman memang salah, ya, kalau aku menyapa?" Udin menatap kesal Jarwo, juga menepis tangannya.


"Salah!"


"Kenapa salah? Apa salahku?"


"Salahmu karena kau bau! Pergi dari sini terus mandi dan pakai deodoran!" berang Jarwo mengusir.


"Pak! Boleh aku minta tolong?" tanya Sisil yang baru saja kembali dengan tergesa-gesa. Seluruh wajahnya berkeringat dan napasnya terdengar naik turun.


"Ada apa?" tanya Jarwo seraya menoleh.


"Tolong bawa Citra ke rumah sakit. Dia pingsan di toilet habis muntah-muntah, Pak."


Jarwo terbelalak. Segera dia pun berlari dan mencari toilet. Sisil mengambil tasnya dan tas Citra di atas meja, kemudian mengejar Jarwo.


'Citra pingsan? Kok bisa?' batin Udin.


...Udin, hati-hati ... kamu dalam bahaya 🤣...

__ADS_1


__ADS_2