Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
393. Ada benarnya juga


__ADS_3

"Tapi aku sudah menikah dan punya anak, Mel," jawab Steven.


"Menikah dan punya anak?" Imel membulatkan matanya lantaran terkejut, perlahan dia juga melepaskan pelukan. "Serius, Kak? Sejak kapan Kakak menikah?"


"Mungkin ada satu tahunan, atau lebih. Entahlah ... aku pun nggak ingat." Steven menggelengkan kepalanya.


"Kalau nggak ingat ... terus kenapa Kakak tau kalau Kakak sudah menikah dan punya anak? Aneh sekali."


"Semua keluargaku mengatakan begitu. Dan aku juga sempat melihat foto pernikahanku dulu."


"Terus Kakak percaya?"


"Sebetulnya nggak sepenuhnya, cuma si Kembar begitu mirip sekali denganku. Dan itulah yang membuatku bimbang."


"Si Kembar itu anak Kakak?"


"Kata semua keluargaku iya." Steven mengangguk. "Mereka kembar laki-laki."


"Kalau istri Kakak sendiri, apakah Kakak mengingatnya?"


"Enggak." Steven menggeleng. "Dia terlihat asing."

__ADS_1


"Bagaimana dengan wajahnya? Apakah dia cantik? Jika dibanding denganku, lebih cantik siapa?" Imel langsung menyugar rambutnya ke belakang, lalu tersenyum manis menatap mantan pacarnya.


Steven memerhatikan wajah Imel dengan seksama. "Kalau boleh jujur sih, menurutku lebih cantikan dia. Dia juga terlihat lebih muda dan manis, jangan lupakan dengan dadanya juga yang begitu mon ...." Hampir saja Steven keceplosan mengatakan dada Citra montok, tapi buru-buru dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan.


"Masa, sih, lebih cantikan dia?" Imel tampak kesal mendengarnya. Tapi memang kebanyakan perempuan seperti itu, jika dibilang ada orang lain yang lebih cantik daripada dirinya sendiri—pasti dia tersinggung. "Jadi maksudnya, aku nggak cantik lagi, Kak? Dan memangnya dadaku kurang montok?" Imel langsung menyentuh dadanya sendiri dengan sedikit remassan lembut.


Steven yang melihatnya langsung menepis tangan Imel, demi menghentikan apa yang dia lakukan. "Nggak perlu begitu juga kali, Mel! Nanti yang ada kamu mengundang syahwat laki-laki! Dan bukannya aku sudah sering mengatakan padamu, ya, untuk jangan memakai pakaian seksi?? Aku nggak suka! Apalagi jika banyak pasang mata pria yang memandangimu!" tegas Steven yang tampak marah.


Imel langsung tersenyum, dan didetik selanjutnya dia pun terkekeh. "Ternyata, meskipun kita sudah lama nggak bertemu ... kakak masih sama seperti dulu, ya?"


"Sama bagaimana maksudmu?" Steven mengerutkan keningnya.


"Ya itulah kamu, Mel. Dari dulu memang susah diatur. Padahal... apa yang aku lakukan adalah untuk kebaikanmu. Lagian memangnya kamu nggak risih, ya... ketika melihat ada pria yang matanya jelalatan? Apa kamu sendiri nyaman?"


"Tergantung situasi dan kondisi sih, Kak. Tapi kalau Kakak ingin kita balikkan ... aku bersedia kok buat berpakaian rapih, dan membuang semua baju seksiku."


"Kan kamu udah dengar tadi, kalau aku itu sudah menikah dan punya anak, Mel."


"Itu memang benar." Imel menganggukkan kepalanya. "Tapi ... tolong Kakak jujur. Apakah Kakak mencintai istri Kakak?"


"Mencintai?"

__ADS_1


Steven mengulang kata itu dan seketika membuatnya termangu. Entahlah, dia sendiri tidak tahu dan mungkin bisa dikatakan tidak cinta. Namun jujur saja, setiap kali kulitnya bersentuhan dengan Citra, pasti selalu saja ada debaran jantung yang menggema di dalam dada.


"Aku yakin, pasti nggak, kan? Orang kata Kakak dia juga asing?"


"Terus, kalau memang aku nggak mencintai istriku ... kamu mau apa, Mel?" tanya Steven yang terdengar menantang.


"Kok aku?" Imel menunjuk wajahnya sendiri dengan raut bingung. "Harusnya Kakak dong, harusnya Kakak tinggalin dia. Buat apa Kakak hidup dengan perempuan yang nggak Kakak cintai, benar 'kan? Aku siap kok, jadi istri Kakak dan menjadi Ibu sambung si Kembar."


*


*


*


Kalimat Imel dipertemuan tadi pagi benar-benar membuat Steven tak dapat berpikir jernih. Sampai-sampai dia pun hilang fokus saat bekerja, apalagi ditambah banyak sekali pekerjaan yang dia sendiri lupa.


Steven sendiri tak merespon apa-apa, karena jujur saja—dia merasa sangat bingung. Bahkan kehidupannya yang sekarang benar-benar membingungkan, lantaran banyak hal yang tidak tahu dan masuk pada akal sehatnya.


"Apa yang dikatakan Imel ada benarnya juga, buat apa aku hidup dengan perempuan yang nggak aku cintai. Jadi ini berarti aku harus menceraikan Citra, begitu?"


...Ceraikan Om, kalau berani 🙈...

__ADS_1


__ADS_2