
"Mana undangan Anda, Nona?" tanya salah satu penjaga yang tiba-tiba menghalangi Fira. Wanita itu langsung menghentikan langkahnya.
"Undangan apa?"
"Undangan pernikahan. Kalau bukan tamu undangan, Nona dilarang masuk!"
"Tapi yang menikah itu suamiku, Pak. Aku harus menemuinya." Fira melangkah maju. Tetapi tetap, penjaga itu menghalanginya.
"Suami?" Kening pria itu mengerenyit. "Nona jangan berbohong, nggak mungkin Pak Tian menikahi Bu Nissa tapi sudah punya istri."
"Dia justru meninggalkanku karena Mbak Nissa, Pak. Jadi tolong izinkan aku masuk, aku akan menggagalkan pernikahan mereka!"
"Sebentar, saya akan tanya lebih dulu pada pihak yang bersangkutan, sebelum Anda ...." Ucapannya menggantung kala Fira sudah berlari menerobos masuk ke dalam sana. Segera, dia pun mengejarnya.
Wanita itu menuju kursi pelaminan, tetapi hanya ada mempelai perempuan saja. Nissa duduk bersama Nella, tengah berbincang.
Nissa tampak begitu cantik dengan gaun putih panjangnya, ada mahkota di atas rambut kepalanya yang digelung.
Suasananya sudah cukup ramai, para tamu undangan juga banyak yang berdatangan untuk mengisi kursi kosong.
Di seberang kursi pelaminan ada kursi pelaminan lagi. Tetapi yang ada di sana adalah Citra, Steven, Sindi dan seorang ustadz.
Juga dengan pemilik dan mengurus panti asuhan, berserta anak-anaknya. Mereka duduk di kursi yang memang sudah di sediakan oleh Sindi.
Selain pesta pernikahan Nissa dan Tian, pesta itu juga diadakan untuk syukuran atas kelahiran si kembar.
Keinginan Citra yang meminta untuk mengundang anak panti, supaya bisa ikut mendo'akan kedua anaknya. Mengingat, jika dirinya juga tak punya orang tua.
"Kenapa Mbak tega padaku?!" teriak Fira dengan memasang wajah sedih menatap Nissa. Dilihat wanita itu tampak mengerutkan kening. Wajar saja, sebab dia memang tak mengerti dengan apa yang dimaksud Fira.
"Tega apanya? Kamu siapa?" tanya Nissa.
Fira melangkah naik ke tangga pelaminan. Nissa dan Nella pun langsung berdiri. "Aku istrinya Mas Tian, kenapa Mbak tega merebutnya?"
__ADS_1
"Merebut? Aku nggak merebutnya. Dan Tian itu duda."
"Dia menjadi duda karena Mbak, karena dia menceraikan aku dan memilih untuk bersama Mbak!" tunjuk Fira ke arah wajah Nissa sambil melotot. "Kita ini sama-sama wanita, harusnya Mbak mempunyai harga diri dan nggak sepantasnya Mbak merebut suami orang!"
"Bicara yang sopan!" teriak Nella marah. Dia pun mendorong kasar tubuh Fira hingga wanita itu tersungkur. "Nggak usah mengada-ngada kau, ya! Pakai bilang Tanteku merebut suamimu. Kau sendiri yang nggak tahu diri! Kau dan Om Tian itu sudah bercerai!" tegasnya.
Tak lama, dua orang penjaga menghampiri mereka. Berikut dengan Tian yang berlari sambil mengendong Juna. Pria itu dan Juna habis dari dari toilet, Juna mengajaknya kencing bersama.
"Mas tega banget sama aku, katanya mencintaiku, tapi kenapa menikah dengan perempuan lain!" teriak Fira sambil meringis kesakitan. Dia menyentuh bokongnya yang terasa ngilu akibat terbentur lantai tadi.
Dua orang pria berseragam hitam itu membantunya untuk berdiri, lalu mencekal kedua pergelangan tangannya.
"Aku sudah nggak mencintaimu. Hubungan kita sudah selesai dan kita nggak ada urusan lagi, Fir!" tegas Tian. Lalu mengerakkan kepalanya ke arah penjaga, seolah memberikan sebuah isyarat untuk membawa wanita itu pergi.
"Nggak! Aku nggak mau, Mas!" pekik Fira sambil menggeleng cepat. Dia menahan kakinya ketika tubuhnya hendak diseret. "Aku nggak terima kamu menikah dengan Mbak Nissa! Sedangkan aku sendirian. Kamu nggak boleh bahagia di atas penderitaanku!"
Tangan dan kakinya mulai memberontak kala tubuhnya ditarik paksa oleh dua penjaga itu. Menyeretnya untuk pergi dari sana.
'Nggak! Aku nggak boleh diam saja seperti ini. Aku harus menghancurkan pesta mereka. Supaya mereka malu,' batin Fira. Matanya mengelilingi isi gedung hotel itu. Dan pandangannya jatuh ke arah kue bolu bertingkat berukuran besar yang berada di dekat pelaminan.
Segera, dia pun menghentakkan ujung sepatu high heelsnya ke arah sepatu kedua penjaga itu. Keduanya refleks melepaskan lengan Fira sebab jempol kakinya terasa sakit.
"Aaww!"
Disaat itu pula, Fira berlari menuju kue. Lalu mendorongnya tepat di depan pengantin. Untungnya, Tian langsung menarik Nissa. Kalau tidak, mungkin dia tertimpa.
Tak hanya itu, Fira langsung berlari menuju salah satu meja prasmanan. Lantas mendorong beberapa tempat yang berisi menu makanan hingga berguling jatuh. Berserakan dan mengotori lantai. Padahal di sana, ada tamu yang hendak mengambil makanan.
Angga yang melihat aksi gila itu langsung berlari menghampiri, berikut dengan Jarwo dan Bejo. Sebelum wanita itu benar-benar menghancurkan semuanya.
"Kurang ajar sekali kamu, Fir!" teriak Angga murka. Jarwo dan Bejo langsung mencekal pergelangan tangan wanita itu. "Berani-beraninya kamu membuat ulah di pesta anakku. Seret dia sekarang juga, Wo!" perintahnya pada Jarwo.
Jarwo dan Bejo mengangguk, lantas menarik paksa Fira. Tetapi sebelum itu, dua penjaga itu melepaskan sepatu yang dikenakan Fira. Untuk mengantisipasi akan apa yang dilakukan wanita itu lagi.
__ADS_1
"Ini nggak adil buatku, Om! Harusnya Mbak Nissa jangan menikah dengan Mas Tian! Harusnya Pak Steven jangan menikah dengan Citra!" teriak Fira emosi. Jarwo dan Bejo membawanya menuju mobil Angga. "Harusnya aku yang menjadi anggota keluarga Om, bukan Mas Tian atau Citra!"
"Masukkan dia ke dalam dan kalian juga masuk!" perintah Angga sambil menunjuk mobil. Kedua anak buahnya itu mengangguk, lalu masuk ke dalam sana. "Kamu ikut masuk juga, terus nyetirin mobil," titahnya menatap salah satu penjaga berseragam hitam. Yang berdiri di sampingnya.
"Baik, Pak." Pria itu mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil Angga. Angga juga ikut masuk dan duduk di kursi depan, di sampingnya.
Mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan hotel.
"Om mau bawa aku ke mana?" tanya Fira marah.
Angga diam saja. Tetapi kedua tangannya mengepal kuat. Rahangnya tampak mengeras. Tampak jelas, jika dia benar-benar emosi.
*
*
Di dalam perjalanan itu, Fira terus bertanya, tetapi Angga sama sekali tak menjawab hingga berselang 30 menit, mobilnya berhenti di depan teras rumah Nurul.
Angga turun dari mobilnya seorang diri, lalu menghampiri Nurul yang kebetulan ada diluar rumah, tengah menjemur pakaian.
"Eh, Pak Angga. Selamat pagi, Pak," sapanya sambil tersenyum. Nurul membungkuk sedikit.
"Sindi pernah bilang padaku, kalau kamu pernah meminjam uang padanya dengan jaminan sertifikat rumah ini. Benar atau nggak?" tanya Angga. Wajahnya tampak dingin dan masam.
Sekitar 4 bulan yang lalu, Nurul memang sempat meminjam uang pada Sindi senilai 20 juta. Itu semua bukan untuk kebutuhannya, tetapi atas permintaan Fira yang menginginkan membeli perhiasan.
Awalnya Nurul menolak, tetapi Fira selalu mengancam jika dia tidak mau meminjam uang kepada Sindi—dia ingin mengugurkan kandungan.
Sebagai orang tua yang sayang kepada anak, lama-lama Nurul luluh. Tetapi karena merasa tak enak, jadi Nurul memberikannya jaminan sertifikat. Supaya Sindi mau membantunya.
"Benar, Pak." Nurul mengangguk cepat. "Tapi saya belum ada uang untuk membayarnya."
"Sekarang aku minta, kamu bereskan semua barang-barangmu dan Fira. Lalu kalian angkat kaki dari rumah ini!" tegas Angga.
__ADS_1
Nurul sontak terbelalak, dia terkejut mendengar apa yang Angga katakan. "Bapak mengusir saya dan Fira?"
...Kita beri ucapan selamat dulu buat Nyonya Fira, Guys 🤣 otewe jadi gembel 👏🥳...