Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
147. Cari janda


__ADS_3

"Iya, mangkanya aku nggak mau kalah saing, Dok. Aku juga mau punya istri dua. Tapi sayangnya Sindi pasti nggak mengizinkan. Kemarin saja cemburu sama Citra, dia bilang burungku mau disate. Kan sadis." Angga meringis sambil menyentuh burungnya dibalik celana.


Dokter Ikbal terkekeh. "Sadis banget, kalau begitu jangan, Pak."


"Dokter sendiri kenapa jomblo? Umur Dokter berapa? Kayaknya seumuran sama Steven, ya?"


"Bulan depan saya 34, Pak."


"Beda satu satu tahun berarti sama Steven. Dokter cepat menikah. Nanti dikatain perjaka tua, lho. Kayak Steven dulu."


Dokter Ikbal tersenyum. "Nanti saya menikah kalau sudah waktunya, saya masih cari yang cocok, Pak."


"Seperti apa tipe cewek Dokter? Apa artis-artis Korea? India? Atau model-model yang mempunyai body seperti gitar Spanyol?" tanya Angga yang mendadak kepo.


"Ah ha ha ha." Bukannya menjawab, Dokter Ikbal justru tertawa.


"Kalau Dokter mau, aku bisa kenalkan Dokter pada Nissa, anakku. Kebetulan dia janda belum lama. Eh, tapi umurnya nggak jauh beda sama Steven. Dokter pasti nggak akan mau, ya?"


"Kita lupakan dulu kejombloan saya, Pak. Sekarang coba lanjutkan cerita Bapak yang tadi."


"Yang mana?" Kening Angga mengerenyit. obrolannya sudah melebar kemana-mana. Dan itu membuat penyakit pikunnya kambuh.


"Yang katanya Bapak cerita sama Pak Bejo tentang ingin mempunyai dua istri, itu terusannya apa lagi?"


Angga terdiam beberapa saat dan mengingat-ngingat. Namun tetap dia tak ingat apa-apa. "Aku lupa, Dok. Ah tapi itu nggak penting juga, sih."


"Kira-kira akan menganggu pikiran Bapak atau nggak?"


"Nggak sih." Angga menggeleng. "Eemm ... sekarang kita bahas lagi saja tentang Steven. Jadi intinya Steven nggak gila dan nggak ada yang perlu saya cemaskan, Dok?"


"Nggak ada, Pak. Semua aman." Dokter itu tersenyum.


"Obatnya bagaimana? Steven waktu itu mengkonsumsi obat. Apa masih tetap diminum?"


"Nggak perlu."


"Tapi kalau misalkan dia melakukan hal konyol seperti yang aku sebutkan itu bagaimana?"


"Cukup ditegur saja, Pak. Tapi secara baik-baik, ya."


"Oke deh. Ya sudah kalau begitu." Angga berdiri lalu membenarkan jasnya yang terlipat. "Terima kasih atas konsultasi, Dok."

__ADS_1


"Sama-sama, Pak. Semoga Bapak dan keluarga selalu sehat dan bahagia." Dokter Ikbal tersenyum.


"Amin, Dok." Angga melangkah keluar dari ruangan Dokter. Dokter Ikbal juga ikut mengantarnya.


"Papa lama banget, sih? Jadi Papa yang gila, nih, sebenarnya?" tuduh Steven dengan wajah masam. Dia menatap Angga dengan sengit. Jenuh sekali rasanya. Sesi konselingnya dibanding sesi konseling Angga, jauh lebih lama Angga.


Steven ingin cepat pulang, ingin bertemu Citra.


"Enak saja. Papa mah nggak mungkin gila, justru kamu yang gila. Tergila-gila sama Dedek Gemes."


Wajah Steven langsung merona. Padahal niat Angga bukan mau menggodanya. Hanya asal bicara saja. Namun justru terlihat sekali kalau pria tampan itu salah tingkah dan mesem-mesem.


"Ya sudah ayok. Aku mau pulang dan ketemu Citra. Dia bilang kangen sama aku." Steven lebih dulu pergi, kemudian disusul oleh Jarwo dan Bejo. Angga juga mengekorinya.


*


Mereka pun kini menaiki mobil dan tak lama kemudian perut Angga berbunyi. Seketika dia pun teringat akan nasi Padang.


"Oh ya, di mana nasi Padangku, Jo?" tanya Angga pada Bejo yang tengah duduk di kursi depan. Di samping Jarwo yang mengemudi.


"Dimakan Pak Steven, Pak."


"Akunya laper. Lagian, beli nasi Padang kok cuma buat bertiga? Kenapa aku nggak dibelikan juga?"


"Kan kamu lagi di dalam sama Dokter." Angga menatap lurus ke depan. "Wo, nanti berhenti ditukang nasi Padang."


"Baik, Pak," jawab Jarwo.


"Nggak usah mampirlah, lama. Nanti keburu Magrib sampai rumah, Pa," protes Steven yang tak sabaran.


"Kalau Magrib memang kenapa? Kita bisa berhenti dulu sholat di masjid."


"Lebih enak di rumah. Aku juga mau mengajak Citra sholat berjamaah lagi."


"Masih ada waktu isya, subuh dan banyak lagi. Nggak perlu protes!"


***


"Bagaimana, Cit? Apa kamu kenyang? Apa cucu Oma juga kenyang?" tanya Sindi seraya mengelus perut Citra. Gadis itu juga tengah mengelusnya, merasa begah karena kekenyangan.


Mereka berdua baru saja sampai ke rumah habis dari restoran. Citra hampir mencicipi semua menu terpopuler dan terlaris di sana. Dari mulai yang berat, hingga ringan. Yang manis dan asin.

__ADS_1


"Iya, kenyang banget, Ma." Citra mengangguk cepat.


"Apa yang kamu suka dari beberapa menu yang kamu cicipi tadi?"


"Apa, ya?" Citra terdiam sejenak, mengingat-ingat cita rasa di lidahnya. "Rendangnya sama pancake strawberrynya. Ah sama cumi asem manis, ayam lada hitam, banyak, Ma, kayaknya. Nggak bisa milih."


"Berarti sangking enaknya, ya?" Sindi membuka pintu kamar Citra. Keduanya pun langsung masuk ke dalam. "Itu semua resep dari Mama lho, Nissa yang minta diajari dulu saat buka resto."


"Mama hebat banget berarti, ya. Aku bangga." Citra bertepuk tangan dan menatap kagum Sindi. Tak menyangka juga, ternyata dia dikelilingi orang-orang yang sempurna sekarang. Selain Steven menurutnya.


"Tapi maaf ya, Ma. Aku hanya baru bisa masak telor dadar. Itu pun kata Om Ganteng potongan bumbunya gede-gede," keluh Citra dengan wajah sendu. "Aku pernah sih ikut kursus, tapi cuma sebentar. Ah tapi nanti mulai besok aku akan mulai kursus lagi deh. Pokoknya sampai bisa, biar bisa masak kayak Mama, Om Ganteng dan Mbak Nissa. Eh, Papa juga."


"Papa terkecuali. Dia itu cuma bisa makan, bukan masak." Sindi duduk di sebelah Citra yang baru saja duduk di sofa. Kemudian mengecup puncak rambutnya.


Mendadak, jantung Citra berdegup kencang. Sepertinya ini pertama kali Sindi menciumnya. Walau hanya dari rambut—akan tetapi Citra senang bukan kepalang. Kedua pipinya itu langsung merah merona.


"Kamu nggak perlu ikut kursus, nanti biar Mama yang ajari. Kita masak bareng-bareng sampai kamu bisa," tambah Sindi. Tak lama kemudian terdengar suara adzan Maghrib berkumandang.


"Ah, kebetulan. Pas banget. Kita sholat bareng-bareng, yuk! Mama juga punya mukenah dan sajadah baru untukmu, Cit."


Citra mengangguk dengan girang. "Ayuk, Ma. Aku juga kepengen ngerasain sholat bareng Mama. Tapi sholatnya di mana? Di sini atau di kamar Mama?"


"Di sini saja. Sebentar ... Mama ambil perlengkapannya. Kamu ambil air wudhu saja dulu." Sindi berdiri kemudian melangkah menuju pintu. Citra menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


***


Malam hari sekitar jam 9. Steven dan Angga baru tiba di rumah. Wajah keduanya tampak lesu sekali, apalagi Steven. Dia malah sangat muram seperti tak bergairah.


"Kalian kok lama banget? Sampai malam baru pulang?" tanya Sindi yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Pertanyaannya sukses membuat langkah kedua pria itu terhenti.


"Ini semua gara-gara Papa!" protes Steven marah seraya menoleh kepada Angga dengan sengit.


"Kok jadi Papa? Kan kamu tahu, ada kecelakaan tadi. Ditambah macet."


Benar, tadi ada kecelakaan lalu lintas di saat macet-macetnya. Mobil Jarwo begitu terhimpit. Tidak bisa maju dan mundur.


Tadi Steven sempat ingin turun dan pulang duluan mencari ojek. Akan tetapi dilarang Angga. Dia mau, berangkat dan pergi mereka harus bersama. Tidak boleh meninggalkan. Itu namanya tidak setia kawan.


"Ya sudah, yang penting kalian baik-baik saja. Tapi sebenarnya kalian itu ke mana, sih? Jangan bilang cari janda?!" tuduh Sindi dengan mata memicing. Menatap curiga kedua pria di depannya. Dia sendiri tak tahu menahu alasan Angga pergi dengan Steven, dia hanya bilang ada urusan. Jadi wajar juga kalau Sindi asal bicara seperti itu. "Jangan genit kamu ya, Stev! Istri sedang hamil muda kamu malah cari janda! Mama potong si Elang baru tahu rasa kamu! Nggak bisa bercinta lagi sambil melihat bintang!" berangnya sambil melolot.


...Masih inget aja, Ma, sama permintaan anaknya dulu 😆...

__ADS_1


__ADS_2