Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
283. Akan ada duel!


__ADS_3

"Bagaimana? Pink nggak warnanya?" tanya Mami pada kedua anak buahnya yang baru saja keluar dari kamar tamu. Mami sekarang berada diluar, tengah berdiri.


Sebelumnya, Fira menentukan untuk tidur di kamar itu malam ini. Dan tadi dia sempat meminta jus mangga pada Mami.


Saat itu pula, Mami memberikan jus yang sudah dicampur oleh obat tidur supaya nantinya kedua anak buahnya bisa memeriksa bagian dalam Fira dengan leluasa.


Mami memang wanita tulen, tetapi dia tak pernah menyukai milik wanita lain walau hanya melihatnya saja. Sebab khawatir kalau bau.


"Pink, Mi. Mulus dan sangat glowing," jawab salah satu dari mereka. "Tapi sayang."


"Sayang kenapa?" tanya Mami.


"Ada darahnya. Dia juga memakai pembalut."


"Oh, mungkin lagi datang bulan. Nggak masalah, yang penting pink. Sudah sana kalian keluar."


Kedua pria itu mengangguk, kemudian melangkah menuruni anak tangga.


"Barang bagus sayangnya kita nggak bisa icip ya, Bro," kata pria itu seraya berbisik kepada temannya.


"Mana boleh sama Mami. Aneh-aneh saja kau!" omelnya.


"Tapi tadi aku sempat ingin coba memasukkan burungku, lho. Sayangnya dia berdarah, geli aku."


"Sudahlah, berhenti memikirkan masalah itu." Temannya itu tak memerdulikan. Dia menggeleng pelan.


***


Di rumah Tian.


Pria itu duduk bersama istrinya di sofa, kepala belakangnya tengah dikompres dengan handuk yang sudah dibasahi air dingin. Keduanya sudah mandi dan berpakaian rapih.


"Kepalamu sakit nggak, Yang? Mau aku antar ke Dokter nggak?" tanya Nissa dengan penuh perhatian. Dilihat kepala belakang pria itu sudah benjol dan berwarna merah.


"Nggak usah ke Dokter. Aku mau minum obat sakit kepala saja, soalnya pusing kepalaku, Yang."


"Ya sudah, aku belikan obatnya, ya." Nissa berdiri.


"Nggak usah beli obat, Yang. Tolong ambilkan kotak obat saja di lemari bajuku. Aku sering menyimpan obat soalnya."


"Oke, tunggu sebentar. Mau aku antar pindah apa gimana? Biar kamu berbaring dulu?" tawar Nissa.


Pecahan kayu ranjang kasur itu sudah dikeluarkan tadi, kini hanya tersisa kasurnya saja di sana. Sudah lama sekali memang ranjang itu dia punya, mungkin bertepatan dengan pertama kali dia membeli rumahnya. Hampir mau 10 tahun.


"Nggak, Yang. Takutnya aku ketiduran. Soalnya habis minum obat aku mau jemput Juna. Ini udah jam 10 lebih." Tian menatap arlojinya yang menunjukkan pukul 10.10.

__ADS_1


"Nggak usah jemput Juna. Biar sopirku saja."


"Biar aku saja. Aku sudah janji sama Juna, nggak enak aku, Yang."


"Ya sudah, nanti bareng sama sopirku saja. Biar kamu nggak capek nyetir karena lagi sakit kepala."


"Iya." Tian mengangguk. Kemudian tersenyum sembari menatap istrinya yang berlalu keluar kamar.


*


*


Seusai mengambil kotak obat di lemari kamar utama. Nissa pun turun dari lantai bawah untuk menghampiri seorang wanita berdaster yang tengah mengelap meja. Dia adalah pembantu baru di rumah Tian, baru kemarin dia dipekerjakan.


Selain untuk mengurus rumah, dia juga yang akan memberi makan ikan lelenya.


Meskipun Tian sudah kerja di kantor, tetapi usaha lelenya tidak akan dia putus di tengah jalan. Selagi ada hasil dan lelenya mampu tumbuh besar dan juga sehat, Tian akan terus menernaknya.


"Bi, apa Bibi menyimpan beras kencur?" tanya Nissa.


Wanita berdaster itu langsung berdiri dan menatap Nissa dengan tubuh yang agak membungkuk.


"Nggak, Bu." Menggeleng. "Memangnya Ibu perlu buat apa? Nanti saya belikan," kata Bibi pembantu.


"Tolong belikan ya, Bi. Tian kepala benjol soalnya." Nissa mengambil uang pada kantong celananya, kemudian memberikan selembar uang seratus ribuan kepada wanita itu.


"Oh ya sudah. Cepat ya, Bi."


Bibi mengangguk cepat. Kemudian melangkah pergi dari rumah itu.


***


Jam kelas TK B itu berakhir. Semua murid taman kanak-kanak memasukkan alat tulisnya ke dalam tas, bersiap akan keluar kelas.


"Jun, jadi 'kan aku dan Atta main ke rumah Papi barumu?" tanya Baim.


Saat jam istirahat, mereka bertiga sempat berbincang. Kemudian Baim mengusulkan untuk main ke rumah Tian karena penasaran dengan kolam ikan lelenya. Dan Atta juga ingin ikut.


"Tapi aku belum izin sama Papi, gimana dong?" tanya Juna bingung. Dia lantas memakai tas ranselnya di punggung.


"Sekarang saja izinnya. Katanya Papimu jemput," saran Atta.


"Kamu cek dulu sana. Papiku sudah jemput atau belum. Aku takutnya mantan Papiku yang jemput."


"Pas istirahat bukannya dia sudah pulang, ya? Kan aku yang mengeceknya."

__ADS_1


Sebelum Juna keluar pada jam istirahat, dia memang sempat meminta tolong kepada Atta untuk keluar lebih dulu. Demi memastikan, jika Abi sudah benar-benar pulang.


Juna merasa takut, jika nantinya Abi akan memaksanya untuk mengajak pergi jalan-jalan.


Setahu Juna, sifat pria itu memanglah keras kepala. Kalau sedang diam dia begitu cuek dan tak peduli. Tetapi jika sedang marah, perkataannya cenderung kasar. Bukan hanya pada penyampaiannya, namun nada suaranya juga.


"Ya sudah deh, asal nanti aku boleh bawa pulang satu ikan lele Papimu, ya, Jun?" pinta Atta.


"Mau buat apa? Digoreng?"


"Mau dirawat," jawabnya.


"Boleh, tapi nanti kamu bayar, jangan minta. Kasihan Papiku dong, nanti rugi dia."


"Kan cuma satu. Masa kamu pelit sih sama aku?" tanya Atta dengan bibir yang mengerucut.


"Masalahnya itu punya Papi, Ta. Bukan punyaku. Kalau punyaku sih bisa aku pikir-pikir dulu, kalau punya dia aku nggak berhak."


"Ya sudah. Nanti aku tanya langsung saja ke Papi barumu. Sebentar ... aku keluar dulu."


Juna mengangguk lalu menatap Atta yang berlalu keluar dari kelas. Dia duduk bersama Baim yang ikut menunggu.


Atta yang tengah berlari itu langsung terhenti di halaman sekolah, sebab melihat mobil hitam Tian terparkir di sana. Tak lama pria itu keluar dan tersenyum dengan lambaian tangan.


Atta membalas senyuman itu. Kakinya mulai melangkah mendekat, tetapi seketika terhenti lantaran ada sebuah mobil merah berhenti di samping mobil Tian. Dan tak lama pemiliknya pun keluar dan kagetnya dia adalah Abi.


'Waduh, gawat ini. Papi baru sama mantan Papi sama-sama jemput Juna. Pasti mereka berantem. Tapi yang menang kira-kira siapa, ya?' Atta menatap ke kanan dan kiri. Memperhatikan kedua pria dewasa itu sebentar. Kemudian dia lantas berlari pergi saat Tian hendak menghampirinya.


Atta menuju kelas, menemui Juna yang masih menunggu.


"Bagaimana? Aman?" tanya Juna.


"Gawat ini, Jun! Bisa-bisa akan ada duel!" seru Atta dengan deru napas yang tersengal-sengal. Larinya tadi terlalu cepat hingga dia merasa capek sendiri.


"Duel apa?" tanya Juna bingung. Baim juga sama. Mereka di kelas itu hanya tinggal bertiga saja.


"Mantan Papi sama Papi barumu sama-sama ada diluar. Udah gitu mobil mereka bersebelahan. Pasti kamu bingung buat pilih siapa."


"Ngapain bingung. Aku pasti pilih Papi baruku," ucap Juna dengan enteng seraya melangkah. Tetapi seketika tubuhnya ditahan oleh Atta.


"Jangan gegabah, Jun! Bisa-bisa mereka nanti duel. Kamu ngerti maksudku, kan?"


"Berantem?"


Atta mengangguk cepat. "Iya. Mereka pasti masing-masing sama-sama ingin menjemputmu. Tapi kalau salah satu yang pilih, itu berbahaya. Yang satunya bisa marah. Kasihan Papi barumu nantinya. Bisa-bisa kena pukul mantan Papimu, Jun!" tegasnya memberitahu.

__ADS_1


...Biarin aja mereka berantem, Ta. kan seru 🤣 gimana sih ini bocah🤭...


...hari senin nih, yuk waktunya ngasih Vote, Kopi sama bunganya. Kalau nggak ada dukungan aku nggak semangat 😔 pengen update lancar 'kan kalian?...


__ADS_2