
Mereka berempat masuk ke dalam kamar bernuansa pink dan biru, ada lima ranjang bayi berukuran besar di sana. Tetapi hanya ada satu bayi perempuan di salah satu ranjang bayi itu.
"Wah, cantik banget bayinya, Bu. Apa saya boleh menggendongnya?" tanya Della sembari menatap bayi mungil di depannya. Yang pertama melihat dia dan Dono, sedangkan Juna tidak sebab terhalang oleh tubuh Wiwik.
"Juna mau lihat dong Tante! Dedek bayinya!" seru Juna penasaran. Dia sampai loncat-loncat.
"Gendong saja nggak apa-apa, Bu," ujar Wiwik.
Della menoleh ke arah suaminya dengan senyuman manis, kemudian perlahan meraih tubuh kecil bayi yang berbungkus kain bedong berwarna pink. Bayi mungil itu tengah tertidur pulas dan begitu wangi, pasti dia sudah mandi.
"Apa sudah dikasih nama, Bu?" tanya Della. Dia hendak mencium kening sang bayi, tetapi lengannya ditahan oleh Juna.
"Tante Della! Juna mau lihat wajah Dedek bayi!" pintanya setengah merengek. Alhasil Della tak jadi mencium. Dia justru membungkukkan badannya supaya Juna dapat melihat wajah sang bayi.
Bocah yang sebentar lagi ulang tahun itu langsung tersenyum melihat wajah cantik itu. Namun, wajahnya entah mengapa begitu mirip dengan Tian. Apalagi hidung mancungnya.
'Kok wajahnya mirip Papi Tian, sih? Apa hanya perasaan Juna saja, ya?' batin Juna. Dia mengelus kedua pipi gembul itu, kemudian langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan.
Cup!
Wangi dan enak sekali. Kemudian beralih mengecup pipi kiri dan kening.
Cup! Cup!
Setelah itu barulah Juna menjulurkan lidahnya ke arah pipi kanan. Untuk menjilat dan merasakan rasanya.
'Eemmm ... enak!' serunya dalam hati.
Sebetulnya tak ada rasa apa-apa. Akan tetapi yang Juna rasakan justru manis, bahkan menyerupai manisnya buah apel merah. Buah kesukaannya.
Saat mencicipi dia, Juna juga membandingkan lebih manisan siapa, antara pipi bayi itu dan pipi si kembar.
'Sama-sama manis sebenarnya. Tapi Dedek bayi ini sangat cantik dan mirip Papi. Eh, tapi Papi 'kan cowok. Masa cantik?' batin Juna.
"Namanya Silviana, Bu," jawab Wiwik.
"Masih kecil sekali dia, ya, berapa Minggu kira-kira?" tanya Della.
"Mungkin sekitar dua atau tiga Mingguan. Saya lupa, tapi ada kok di aktanya," jawab Wiwik.
__ADS_1
"Oe! Oe!"
Terdengar suara isakan tangis Silvi bertepatan sekali dengan Juna yang tengah menjilat hidungnya. Juna yang merasa panik cepat-cepat mengusap air liurnya yang hampir membasahi wajah Silvi. Takut jika dimarahi Wiwik atau Della.
"Lho, Jun, kamu apain dia?" tanya Della yang tak tahu apa-apa. Dono sebenarnya tahu, tetapi untuk melarang Juna rasanya tak berani. Takut jika bocah itu marah.
"Nggak kok!" sahut Juna sambil menggelengkan kepalanya. "Mungkin Dedek bayinya haus kali, Tan."
Della langsung menimang-nimangnya, dan perlahan mencium kening. Tetapi dia justru mengendus aroma air liur. "Lho, kok bau iler Dedek bayinya. Padahal kelihatan sudah mandi."
"Masa sih, Bu?" tanya Wiwik tak percaya. Cepat-cepat dia mengambil tissue basah bayi. Lalu menyeka seluruh wajahnya. "Kayaknya sih sebelum anak-anak panti berangkat sekolah, mereka sempat menciumi si Silvi. Maaf ya, Bu. Namanya anak bayi sendirian, jadi banyak yang gemes sama dia. Apalagi Silvi cantik dan manis."
"Iya, Dedek Silvi manis kayak buah apel, Tan." Juna menyahut. Kepalanya itu langsung Dono usap.
"Nggak apa-apa kok, Bu," jawab Della. "Tapi sebaiknya jangan terlalu dicium banyak orang. Namanya kulit bayi 'kan sensitif dan rentan terkena virus. Kita juga nggak tahu yang menciumnya sehat atau nggak."
"Juna sehat kok Tante!" balas Juna yang merasa tersinggung. "Juna juga gosok gigi setiap hari. Pagi dan malam sebelum tidur."
"Saya tahu tentang itu, Bu. Saya juga sering menegur anak-anak. Tapi kadang namanya juga bocah, mereka sering lupa atau ngeyel," jelas Wiwik. "Tapi InsyaAllah Silvi ini pasti sehat, anak-anak panti di sini juga sehat. Karena memang hampir sebulan sekali kami mengecek kesehatan."
"Bagus deh kalau begitu." Della tersenyum, kemudian menoleh ke arah Dono. "Bagaimana menurut Papa? Silvi cocok nggak?"
"Mamanya suka nggak sama Silvi? Kalau suka Papa sih oke."
"Pasti pantes dong, Bu." Wiwik ikut menimpali. "Mau Ibu dan Bapak orang kaya atau bukan, asalkan kalian mampu dan mau membahagiakan serta menyayangi Silvi sepenuh hati ... kalian pasti pantes. Silvi mendapatkan orang tua angkat saja dia pasti senang sekali. Karena pas Bu Andin menemukannya ... dia tergelatak di dekat pagar panti, kehujanan dan kedinginan."
"Bu Andin itu siapa?" tanya Dono.
"Pemilik panti asuhan di sini. Nanti kalau Bapak dan Ibu setuju Silvi menjadi anak angkat ... kita tunggu Bu Andin datang dulu, ya? Karena kalau ada yang mau mengadopsi harus ada tanda tangan langsung darinya."
"Orangnya memang tinggal di mana? Ibu langsung hubungi saja biar datang," usul Dono.
"Saya akan meneleponnya sekarang. Tapi Ibu dan Bapak sudah membawa persyaratannya, kan?"
"Sudah kok," jawab Della.
"Ya sudah, ayok kita ke ruang tamu lagi. Si Silvi diajak saja, nggak apa-apa," ajak Wiwik.
Della dan Dono mengangguk, kemudian melangkah keluar dari kamar itu. Juna langsung berlari lebih dulu, kemudian menghampiri Angga.
__ADS_1
"Opa! Juna mau menikah sama Dedek Silvi!" serunya sembari memeluk tubuh Angga.
"Menikah?" Kening Angga tampak mengerenyit. Bingung dengan apa yang tiba-tiba bocah itu katakan. Dia pun menatap Dono dan Della yang datang, kemudian duduk di sofa kosong.
"Iya, Juna mau menikah sama Dedek Silvi, dia cantik dan mirip Papi Tian, Opa!" pintanya. Juna langsung mendekat ke arah Della, kemudian naik ke atas pangkuan Dono supaya dia dapat melihat lebih dekat Silvi yang Della gendong.
"Kamu ini ngomong apa sih, nggak usah aneh-aneh deh!" jawab Angga lalu memperhatikan wajah Silvi. Nurul juga melakukan hal yang sama. "Eh, iya juga, ya, kok mirip Tian."
'Apa cuma perasaanku saja, tapi kok bisa dia mirip Tian?' batin Nurul. Dia dan Angga juga mengakui, jika bayi mungil itu mirip Tian.
"Opa setuju 'kan kalau Juna menikah sama Dedek Silvi? Nggak apa-apa, kan?" tanya Juna seraya mengelus pipi kanan Silvi.
"Kamu ini bicara apa sih, Jun?" Angga terkekeh. "Kamu masih kecil, mana boleh menikah."
"Kata Opa Juna udah gede. Kan Juna sebentar lagi mau punya Adek. Jadi nggak apa-apa dong, kalau Juna punya istri juga."
"Nggak boleh, kamu masih TK," larang Angga.
"Sebentar lagi Juna masuk SD, Opa."
"Tapi orang yang mau menikah itu harus sudah lulus kuliah, sudah bekerja dan baligh. Kamu 'kan masih lama itu prosesnya. Nggak usah ngaco deh, Jun." Angga geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan keinginan aneh bocah itu.
"Tante Citra saja belum lulus kuliah, belum kerja, tapi kok dia boleh menikah?"
"Dia 'kan cewek, Jun. Beda. Kan yang harus menafkahi itu cowok, bukan cewek."
"Nafkahi itu apa?"
"Cari duit."
"Tapi Juna 'kan punya tabungan, Opa. Opa bisa cek saja berapa uang yang Juna punya."
"Tapi 'kan itu bukan murni uangmu. Itu uang dari Mamimu, Jun. Nggak bolehlah. Harusnya uang hasilmu sendiri."
"Ya sudah deh, nanti pulang dari sini Juna mau jualan biar dapat uang terus nikahin Dedek Silvi."
"Jualan apa?"
"Pecel lele. Lele Papi Tian 'kan banyak, nanti Juna bantu jualin, biar dia dapat untung dan ngasih Juna upah. Nanti uang upahnya buat nafkahi Dedek Silvi, Opa."
__ADS_1
Angga berdecak kesal. "Kamu bukannya tadi pas mau ke panti katanya mau mengadopsi bayi, ya? Kok sekarang mau nikahin bayi, sih?"
...Mangkanya Opa, jangan ajak Juna, udah tahu dia rese anaknya 🤣🤣 pusing" dah tuh, si bocil minta kawin 🤭...