
"Tapi 'kan di sini kamu yangβ"
"Udah, Nis, nggak apa-apa," sela Tian cepat. Tak enak rasanya jika sudah disindir begitu, tentu Tian juga punya malu. "Nanti Om yang bayarin, kamu tenang saja," ucap Tian lembut seraya mengelus rambut Juna. Bocah itu kini tersenyum dengan lebar, lalu menatap Nissa.
"Mami duduk saja menunggu sama Kevin dan Janet. Biar aku sama Om Tian yang ngantre," pinta Juna. Tangan kecilnya itu menunjuk ke arah kursi.
"Maaf merepotkan ya, Ti. Nanti besok uangnya aku ganti," ucap Nissa dengan wajah bersalah.
"Nggak usah," tolak Tian sambil tersenyum. "Benar kata Juna, cowok itu musti modal. Kan aku yang minta ikut, biar aku yang bayarin."
"Terima kasih kalau begitu, biar aku yang beli minumannya, ya!"
"Nggak usah, biar Juna yang beli minuman sama popcornnya," sahut Juna.
"Ah iya, biar aku sekalian habis dari sini langsung beli, Nis," ucap Tian yang langsung peka niat Juna.
"Nggak apa-apa, aku saja yang beli." Nissa langsung melangkah pergi. Dia merasa tidak enak kalau harus Tian lagi yang bayar. Namun, Juna dengan cepat menggoyangkan lengan Tian.
"Om sana kejar Mami. Aku nggak mau kalau Mami yang bayar, biar Om saja. Kan Om cowok!"
"Tapi kita 'kan lagi ngantre, Jun."
"Nggak apa-apa, masih lama ini. Aku bisa tunggu di sini. Sana cepat pergi!" titah Juna lagi. Tak ikhlas rasanya jika malam ini Nissa merogoh kocek, sedangkan Tian jelas minta ikut awalnya. Dan kebetulan, tempat makanan dan minuman itu tidak terlalu ngantre seperti pembelian tiket.
Pria itu menurut, dia mengangguk dan langsung berlari menghampiri Nissa. Juna melangkah maju saat di depan kosong, namun pandangan matanya itu tertuju kepada Nissa dan Tian.
'Sepertinya ... Om Tian bukan hanya teman SMA Mami, tapi dia suka sama Mami. Aku harus pastikan dulu, Om Tian itu orang baik dan kaya atau bukan. Jangan sampai Mami disakiti seperti apa yang Papi perbuat,' batinnya.
Juna tak tahu jelas alasan Nissa dan Papinya itu bercerai. Nissa sendiri hanya bercerita kalau mereka sudah tak cocok.
Namun, Juna seringkali melihat Nissa menangis di dalam kamar sambil menyebut-nyebut nama Papinya. Sudah sangat jelas, jika pria itu menyakitinya. Ditambah, Juna juga tahu kalau Papinya itu sudah menikah lagi. Saat sehari mereka resmi bercerai.
*
*
"Pak, aku mau booking satu film untuk sekeluarga, berapa harganya kira-kira?" tanya Tian pada penjaga tiket. Seorang pria.
Untungnya, uang di ATMnya masih ada meskipun sedikit. Dia jadi merasa aman.
"Filmnya apa, Pak?"
__ADS_1
Tian menatap Juna. Bocah itu lantas berkata, "Film horor terbaru, Om. Judulnya Kuntilanak Beranak Di Atas Pohon."
Tian terbelalak. Bisa-bisanya Juna yang berumur 6 tahun ingin menonton film horor. Dia setua itu saja tidak sanggup.
"Kenapa harus film horor, Jun? Memang kamu nggak takut?" tanya Tian tak percaya.
"Ngapain takut. Kan cuma film. Film itu bohongan."
"Iya sih." Tian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya film ini diperuntukkan 15 tahun ke atas, umur Adek sendiri berapa?" tanya penjaga itu.
"6 tahun."
"Berhubung nontonnya bareng keluarga, jadi tidak masalah. Kalau Adek merasa takut atau nggak sanggup ... Adek bisa minta sama Mama atau Papa untuk keluar, dan menghentikan filmnya, ya?" tutur pria itu memberitahu.
Juna mengangguk cepat.
Tian pun membayarnya dengan kartu ATMnya. Setelah selesai, mereka pun melangkah menghampiri Nissa yang tengah duduk sambil mengelus jambul Kevin dan Janet. Wajah wanita itu tampak senang sekali, sebab melihat anaknya begitu ceria sambil mengandeng tangan Tian.
Padahal, dia sempat berpikir kalau Juna tak menyukai Tian. Sebab setahu dia, Juna sering memberikan kritik pedas pada seseorang yang mau mendekatinya. Meski itu hanya sekedar teman.
"Sudah?" tanya Nissa.
"Kita nonton film apa, Jun?" tanya Kevin yang tampak antusias. Dia terbang bersama Janet mengikuti langkah mereka bertiga. Mencari gedung yang sudah mereka pesan.
"Kuntilanak Beranak Di Atas Pohon," jawab Juna.
"Film apa itu?" Kevin tampak bingung dan tak mengerti.
"Kenapa kamu malah milih nonton film horor? Kevin sama Janet mana ngerti, Jun? Harusnya film kartun atau binatang saja." Nissa geleng-geleng kepala. Merasa aneh dengan pilihan anaknya itu.
"Mereka pasti ngerti, nanti Juna yang kasih tahu, Mi."
Nissa tersenyum sambil membuang napasnya pasrah.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam sana, lalu duduk di kursi depan. Urutannya adalah Janet, Kevin, Juna, Nissa dan Tian.
Dua burung itu duduk dalam satu kursi. Dan tak lama kemudian film itu pun diputar.
"Si Kevin punya penyakit jantung nggak, Ti, kira-kira? Nanti dia kena serangan jantung lagi gara-gara kaget," tanya Nissa seraya menoleh ke arah Tian. Wajah pria itu terlihat berkeringat dan duduk dengan gelisah.
__ADS_1
Baru mendengar suara pada tayangan awal saja jantung Tian sudah berdebar, apalagi kalau setannya sudah muncul? Mungkin sudah kalap.
"Setahuku sih, nggak, Nis." Tian menatap Nissa sambil tersenyum paksa.
"Bagus deh kalau begitu. Semoga kamu menikmati filmnya juga, ya?"
"Iya." Tian mengangguk cepat.
Nissa menatap lurus dan mulai menonton dengan serius. Juna juga menonton, namun sibuk mengoceh untuk menjelaskan supaya Janet dan Kevin mengerti jalan ceritanya. Burung Kakatua jantan itu juga banyak bertanya.
Berbeda dengan mereka yang terlihat menikmati, Tian justru memejamkan mata. Namun tubuhnya sesekali berlonjak akibat kaget mendengar suara jeritan dan cekikikan dari film tersebut.
"Kamu takut, Ti?" tanya Nissa seraya menepuk lengan Tian. Dan pria itu pun langsung terperanjat.
"Aaakkh!" teriaknya dengan keterkejutan seraya menatap wajah Nissa. Dadanya terlihat naik turun, mengatur napas.
"Kamu takut sama film horor?" tanya Nissa. Tian segera membenarkan posisi duduknya untuk tegap. Sebab tadi sempat merosot.
"Nggak." Tian menggeleng sambil mengusap kasar wajahnya.
"Tapi kenapa merem nontonnya?"
"Aku ngantuk." Tian berpura-pura menguap, dan salah satu tangannya menutup mulut. "Kadang kalau nonton aku memang suka begitu, Nis. Bawaannya ngantuk. Beda kalau melihatmu, bawaannya berbunga mulu," ucapnya yang terdengar gombal.
Bukannya bersemu, Nissa justru terkekeh. Dia juga tampak tak merespon apa-apa.
"Aku titip anak-anak sebentar, ya, aku mau ke toilet."
"Aku antar, Nis." Tian segera berdiri bersamaan dengan Nissa. Lalu mengenggam tangannya.
"Nggak usah. Aku tahu kok tempatnya." Nissa menunjuk ke arah ruangan yang berada di pojok, lalu menepis tangan Tian dan melangkahkan kaki ke arah sana.
Tian menatap tubuh Nissa dari belakang sambil menelan saliva. Wajahnya seketika bersemu merah. 'Kapan kira-kira aku bisa menembaknya? Tapi, apakah Nissa akan menerimaku?' batinnya.
"Om suka, ya, sama Mami?" tebak Juna dan sontak membuat Tian terkejut. Suaranya itu cukup keras dan mengagetkan. Sejak tadi Juna memperhatikan Tian, setelah mendengar Maminya pamit ke toilet.
Tian segera menoleh padanya, dan tersenyum manis. "Kelihatan banget, ya, kalau Om suka sama Mamimu?"
"Iya." Juna mengangguk. "Tapi Om punya apa sampai berani suka sama Mami?"
"Punya apa?" Kening Tian mengerenyit. "Maksudnya bagaimana?"
__ADS_1
"Ya harta Om sebanyak apa, dan rasa suka Om sebanyak apa. Kalau masih dikit ... jangan berani-berani mendekati Mami, apalagi mempermainkan hatinya. Kalau itu sampai terjadi ... Om akan berhadapan denganku!" ancam bocah laki-laki itu sambil menepuk dadanya. Seketika, Tian pun menelan salivanya dengan susah payah. Keringatnya di dahi mengalir dengan sendirinya.
...Masih ingin berjuang apa mundur nih, Om? π€£ anak laki-lakinya badas noh, belum lagi Om sama Opanya π...