Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
77. Citra menolongku?


__ADS_3

maaf baru up, lolosnya lama banget dari pagi 🤧


...****************...


"Kamu tersendak, Jo? Minumlah," titah Angga.


"Nggak, Pak." Bejo menggeleng. "Ini kita mau ke mana?"


"Pakai nanya, antar Dedek Gemes pulanglah." Angga menoleh pada Citra. "Kamu tinggal di mana, Sayang? Biar Opa antar kamu pulang. Eh, apa kamu mau jalan-jalan dulu sama Opa?"


Citra langsung terdiam. Setelah semua keputusannya diambil, pastinya dia tak akan tinggal bersama Steven lagi. Toh, selama menikah dia juga cuma sekali saja tidur bersama saat melakukan malam pertama. Setelah itu mereka tidur masing-masing.


"Aku mau ke kantor Ayahku dulu, Opa. Aku ada perlu sama asistennya Ayah."


"Oh, oke deh." Angga mengangguk, kemudian dia pun menyebutkan alamat yang Citra sebutkan. "Oh ya, kamu baik-baik saja, kan? Opa lihat mata cantikmu sembab, Sayang. Apa kamu sedang sedih? Sedang putus cinta?" tanyanya lembut sembari menatap dalam wajah Citra.


"Nggak kok, aku baik-baik saja." Citra menggeleng. Rasanya dia tak mau membahas masalah itu lagi, sebab nantinya dia kembali menangis. Matanya sudah terasa perih dari pagi karena terus menerus menangis.


"Syukur deh kalau baik-baik saja. Eh, berhenti sebentar, Jo!" Angga berteriak saat mobilnya melaju di depan mini market dan segera Bejo menghentikan mobilnya.


"Tapi belum sampai, kenapa berhenti, Pak?"


"Aku mau mengajak Dedek Gemes beli es krim dulu." Angga membuka mobilnya, lalu menarik tangan Citra dengan lembut. Mengajaknya turun dari mobil.


Tadi gadis itu memang tak bilang kalau dirinya sedang bersedih, tetapi dari raut wajahnya yang begitu sendu itu—Angga yakin jika Citra menyimpan banyak kesedihan di dalam dadanya. Hanya saja mungkin Citra tak ingin cerita—pikirnya.


"Kok beli es krim, Opa? Aku nggak kepengen." Citra menggelengkan kepalanya.


"Kata google, es krim membuat suasana hati kita menjadi sedikit lebih baik, Sayang. Opa pernah baca. Ayok makan es krim bareng Opa." Angga menarik lagi tangan Citra, mengajaknya masuk ke dalam sana.


Meskipun memang sikap Angga terkesan berlebihan, tetapi Citra sangat nyaman berada di dekatnya. Tutur kata pria itu juga sangat lemah lembut dan membuat hati Citra terasa hangat.


***

__ADS_1


Keesokan harinya.


Steven membuka matanya secara perlahan, lalu menoleh ke arah kiri. Di sebelah sana ada seorang suster yang tengah memeriksa tekanan darahnya.


"Maaf, selamat pagi, Pak. Saya diminta Dokter untuk mengecek tensi darah Bapak," kata Suster dengan lembut.


"Iya, Sus. Nggak apa-apa." Steven mengangguk kecil lalu menatap sekeliling kamar itu, tampak sepi sekali tak ada siapa-siapa. "Semua orang ke mana ya, Sus?"


"Mereka ada diluar, Pak." Suster itu tersenyum. "Oh ya, maaf saya ingin bertanya karena penasaran saja. Nona yang mendonorkan darah pas Bapak dioperasi itu ke mana, ya? Kok dari awal Bapak dipindahkan ke sini saya nggak pernah melihatnya?"


"Nona yang mendonorkan darah?" Steven langsung menoleh lagi kepada Suster. Keningnya mengerenyit. "Nona siapa, Sus?"


"Ada, Nona muda. Imut wajahnya. Dia datang bersama seorang laki-laki yang berkumis tipis."


"Laki-laki berkumis tipis?"


"Kalau nggak salah laki-lakinya bernama Gugun deh."


Mata Steven terbelalak. 'Citra?! Ya ... pasti itu Citra. Tapi kenapa dia mendonorkan darahnya untukku? Dan apa memang golongan darahnya sama denganku?'


Suster itu mengangguk. "Iya, persediaan di rumah sakit lagi kosong. Tapi awalnya laki-laki yang berkumis tipis itu melarang Nona, Pak. Tapi Nonanya maksa mau nolongin Bapak."


'Citra menolongku?' Seketika terasa begitu hangat di dalam hati. Otaknya langsung berputar dan mengingat wajah Citra. Baik Gugun atau pun Citra, mereka sejak kemarin tak ada kabar. Dan sampai sekarang, kegelisahan itu masih menyelimuti diri Steven.


"Kondisi Bapak sudah baik. Bapak bisa pulang sampai kantong infusannya habis ya, Pak." Suster mengatur selang infusan itu, lalu tersenyum dan melangkah pergi.


Tak berselang lama Suster itu keluar, pintu itu dibuka oleh seseorang dan ternyata adalah Gugun. Entah mengapa mata Steven langsung berbinar kala menatap pria itu, dia senang dengan kedatangannya.


Pria berkumis tipis itu datang tidak sendiri, melainkan bersama pengacara Harun. Agak membingungkan juga sebenarnya, kenapa pria berkacamata itu datang? Ada keperluan apa?


Di belakang mereka, ada Jarwo dan temannya. Mereka juga ikut masuk.


"Selamat pagi Pak Steven," sapa Harun sambil tersenyum. "Bagaimana keadaan Bapak?"

__ADS_1


Sikap Harun seperti biasa, tetapi berbeda dengan Gugun. Wajah pria itu tampak begitu masam dan tatapan matanya begitu sengit pada Steven.


"Pagi juga, aku baik-baik saja." Steven perlahan menarik tubuhnya sembari menyentuh dada. Melihatnya tampak kesusahan, Harun dan dua bodyguard itu segera membantunya. "Aku bisa sendiri, kok." Sekarang Steven sudah duduk dengan punggung yang bersandar di ranjang.


"Saya ingin—“


"Sebentar!" Steven cepat-cepat menyela ucapan Harun. Kemudian dia menatap ke arah Jarwo. "Bapak dan teman Bapak bisa keluar nggak? Ada yang mau saya bicarakan dengan dua orang ini," kata Steven.


"Silahkan bicara, Pak. Tapi saya awasi Bapak. Takutnya Bapak kenapa-kenapa."


'Lebay sekali, memangnya kalian pikir kita datang mau menjahati Pak Steven apa?' Gugun menggerutu di dalam hati. Dia masih ingat kejadian tiga hari yang lalu, saat dimana dia diusir.


"Mereka orang baik, Pak. Saya mengenalnya. Kalian keluar saja." Steven yakin, jika pembahasan mereka berdua pasti mengenai Citra. Dan Steven tak ingin mereka tahu.


"Oke baiklah." Jarwo mengangguk. "Saya akan lihat Bapak dari luar pintu. Tapi tenang saja ... pembicaraan Bapak nggak akan kami dengar karena kamar ini kedap suara," jelasnya.


"Iya."


Kedua pria berbadan besar itu langsung berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu. Tetapi mereka langsung berdiri di depan sambil bersedekap. Memperhatikan ketiga pria yang ada di dalam.


"Gun, kok dari kemarin teleponku nggak kamu angkat-angkat, kenapa?" tanya Steven.


"Kapan Bapak meneleponku?"


"Kemarin, tapi pakai nomor baru."


"Oh, saya sibuk," jawabnya dengan ketus. Pria itu pun merogoh saku dalam jasnya, lalu berjalan mendekati Steven dan memberikan sebuah amplop putih.


...Apa ada yang bisa nebak amplop putih itu isinya apa? 🤔...


like


komen

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan 🙏


__ADS_2