
"Ta-tapi bu-bukan susu yang it ...." Ucapan Steven mendadak terhenti, ketika Citra menarik kepalanya. Dan sekarang, dia dapat merasakan kekenyalan dari dua benda yang bergelantung dengan manja itu. 'Gila ... montok banget dan lembut banget sih ini,' batin Steven yang tak terasa seluruh tubuhnya itu menjadi gemetaran. Dan kepalanya pun mendadak seperti berputar-putar.
"Kenapa diam, A? Ayok cepat hisap ... mumpung nggak ada di kembar," tawar Citra sembari mengusap-usap wajah sang suami yang tenggelam di dalam belahan dada.
Namun, bukannya cepat menghisap—mendadak tubuh pria itu justru menjadi lemah sampai-sampai terjatuh sendiri di sofa.
"Ya Allah ... Aa kenapa?" Citra sontak terbelalak, saat melihat kedua lubang hidung suaminya itu mengeluarkan darah mirip seperti orang yang mimisan. Segera, dia pun menepuk-nepuk kedua pipinya, guna membangunkan. Tidak lupa mengusap darah pada hidungnya juga dengan menggunakan tissue. "Aa bangun, A! Hidung Aa kenapa berdarah?" tanyanya yang terlihat panik.
Tubuh Steven sudah diguncang sedikit hebat, tapi nyatanya pria itu masih diam diposisinya. Hanya saja darah pada hidungnya itu masih terus mengalir.
"Ya Allah ... kenapa dengan Aa? Ada apa dengannya?" Citra bergegas turun dari tubuh Steven. Kemudian membuka lemari untuk mengambil baju labasan selutut, supaya memudahkannya keluar kamar. Tidak mungkin juga dia keluar dalam keadaan memakai baju seksi seperti itu.
Setelahnya, lantas dia keluar dari kamar dan berlari menuju kamar Angga untuk meminta tolong.
"Papa! Mama! Tolong Aa!" pekiknya dengan lantang dan ketukan pintu. "Papa! Mama!" pekiknya sekali lagi.
__ADS_1
Tak lama, pintu itu pun dibuka. Dan keluarlah Sindi sambil mengucek kedua matanya.
"Kenapa, Cit?" tanyanya sambil menutup bibirnya yang baru saja menganga karena menguap.
"Aa pingsan dan mimisan, Ma! Ayok cepat bantu dia!" pinta Citra dengan cemas.
"Apa?! Pingsan dan mimisan?!" Sindi membulatkan matanya dengan lebar. Dia merasa panik langsung berlari masuk ke dalam kamar Steven, untuk memeriksa kondisinya secara langsung.
*
*
"Awalnya gimana, Cit? Kok bisa Steven pingsan sampai mimisan?" tanya Sindi penasaran. Dia dan menantunya itu berdiri di depan pintu kamar Steven, menunggu dokter di dalam yang sedang memeriksakan.
"Aku juga bingung, Ma, kenapa Aa bisa pingsan. Padahal awalnya aku hanya menawarinya susu, katanya dia pengen nyusu."
__ADS_1
"Pingsannya pas dia minum susu? Susu apa?" Sindi berpikir, susu yang Citra maksud adalah segelas susu. Bukan susu gantung.
"Belum sempat dia menyesap susuku, Ma, tapi Aa udah pingsan duluan dan mimisan."
"Lho, apa kamu bilang tadi?" Sindi terlihat syok, mendengar susu yang Citra maksud. "Jadi, susu yang dia pengen itu susumu, Cit?"
"Dia nggak bilang pengen, Ma." Citra menggelengkan kepalanya. "Awalnya aku yang menawari diri, karena sengaja supaya bisa menggoda Aa. Kukira ... Aa langsung tergoda, karena mengingat dia memang suka sekali sama yang namanya nyusu. Tapi nggak taunya, tiba-tiba dia pingsan tanpa sebab."
"Oh ... kamu yang sabar, ya, Cit." Tangan Sindi terulur ke arah bahu Citra, kemudian mengelusnya dengan lembut. "Mungkin bisa jadi, itu Steven mulai inget sedikit demi sedikit tentang kamu. Itulah alasannya dia ...." Ucapan Sindi seketika terhenti, kala mendengar suara pintu kamar Steven yang dibuka oleh seseorang.
Dua perempuan berbeda generasi itu lantas menoleh, dan ternyata yang keluar adalah Dokter yang selesai memeriksa.
"Bagaimana keadaan Aa, Dok? Dan apa penyebabnya dia sampai pingsan dan mimisan?" tanya Citra cepat dengan raut khawatir.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1