Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
140. Selamat malam istriku tercinta


__ADS_3

"Tapi kenapa kamu nggak izin dulu sama aku?" Steven menatap lekat wajah Citra yang basah karena semprotan kran shower. Gadis itu makin cantik dan seksi saja. Dia pun mendekat dan mengigit kecil dagu Citra. Merasa gemas.


"Mamanya yang maksa. Katanya nggak usah izin karena Om sedang tidur."


Steven mengerucutkan bibirnya. 'Mama menyebalkan, sama kayak Papa.'


"Ya sudah deh aku maafin kamu. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Kamu aku ajakin olahraga."


"Besok saja. Aku capek, Om." Citra menggeleng cepat.


"Olahraga enak. Di atas kasur."


"Memang bisa olahraga di kasur? Kurang luaslah, Om."


"Bisa dong. Kan aku yang ngajak."


Steven melepaskan seluruh pakaiannya. Tangannya menjulur mengambil spons dan menuangkan sabun cair. Setelah berbusa mereka pun mandi bersama. Namun sesekali dia memainkan milik Citra dan agar-agarnya. Sengaja, supaya memberikan sensasi dan membuat gadis itu terangs*ng.


"Aku curiga nih. Kayaknya Om akan mengajak aku bercinta bukan olahraga." Lengan Citra melingkar pada tengkuk Steven, sekarang tubuhnya tengah digendong. Kemudian direbahkan secara perlahan-lahan di atas kasur.


"Sama saja. Kan sama-sama berkeringat."


"Tapi caranya beda, Om."


"Tapi lebih enak, kan?" Steven membuka kedua paha istrinya dengan lebar, lalu dia pun berancang-ancang melakukan penyatuan.


"Ssshhh ... iya, sih. Lebih enak, tapi lebih capek." Citra mendesis kala merasakan milik Steven sudah tertanam sempurna di dalam sana.


"Nggak bakal capek. Aku yang akan mimpin. Kamu cukup mendessah saja." Steven meremmas dada Citra. Baru saja dia hendak menggoyangkan pinggulnya, tetapi terhenti lantaran terdengar bunyi bel.


"Siapa itu, Om?"


"Biarkan saja." Steven tak peduli. Dia pun lantas bergoyang ngebor mengikuti irama yang diciptakan sendiri.


Citra terus mendessah sambil meremmas bantal. Sesekali meremmas lengan, bahu atau rambut suaminya. Steven benar-benar membuatnya melayang ke udara. Nikmat! Begitu nikmat yang dia rasakan.


Bel di kamar itu terus berbunyi, tetapi Steven membiarkan saja sampai akhirnya orang diluar sana mungkin bosan dan lebih memilih meninggalkannya.

__ADS_1


Satu jam mereka bergulat di atas ranjang, ronde kedua sudah dimulai saat keduanya sama-sama mencapai puncak. Tetapi disaat Steven begitu gencar bergoyang—terdengar suara cacing di perut Citra. Seketika dia pun menjeda aktivitas panasnya itu. Mengulas keringat di wajahnya.


"Kamu laper, Cit? Belum makan siang?" tanya Steven. Meskipun menghentikan goyangan—tetapi dia tengah menyusu sekarang.


"Makan siang udah. Tapi laper aku, Om." Citra mendorong kepala suaminya. Supaya melepaskan bibir Steven. Geli sekali dia rasa, susah untuk berbicara. Napasnya terdengar tersendat-sendat. "Kita makan yuk, Om. Udahan bercintanya. Aku juga capek."


"Oke deh. Tapi nanti malam lanjut lagi, ya?" Steven menarik tubuhnya yang sejak tadi menindih Citra. Lalu membersihkan sisa pelepasan mereka dengan tissue yang dia ambil di atas nakas.


"Besok lagi saja deh."


"Kok begitu?"


"Lemes aku, Om. Kata Dokter aku juga nggak boleh kecapean."


"Kamu ke Dokter kapan?" Steven beranjak dari tempat tidur, lalu mengambil pakaian untuknya dan untuk Citra di dalam lemari.


"Tadi, sebelum pulang. Oh ya, Om. Aku mau bicara sesuatu. Tapi Om jangan marah, ya?" Citra menarik tubuhnya untuk duduk, lalu melihat Steven yang tengah memakai pakaian. Dia memakai setelan kaos yang sama seperti tadi pagi. Bedanya celananya panjang dan bajunya pendek.


"Bicara apa?" Mata Steven langsung mendelik. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang kala menatap wajah Citra yang begitu serius memandanginya. "Jangan bilang kamu mau kita bercerai? Aku nggak mau!" Steven menggeleng cepat.


"Nggak. Bukan itu." Citra menggeleng samar.


"Lalu apa?" Steven duduk di atas kasur di samping Citra. Lalu membantunya memakai pakaian dalam dan luar. Celana pendek berwarna hitam dan tangtop berwarna putih.


"Jangan bilang kamu sudah nggak cinta lagi sama aku. Kalau benar ... kamu jahat namanya. Padahal aku cinta banget sama kamu, Cit," tambah Steven yang mendadak berwajah sendu.


"Dih bukan, Om. Tapi ...." Citra menelan ludahnya dengan kasar. Lalu mengelus dadanya yang berdebar kencang. Entah mengapa dia tiba-tiba menjadi gugup sekarang.


"Tapi apa?" tanya Steven yang sudah sangat penasaran. Matanya terbuka lebar dan wajahnya seketika menegang.


"Aku hamil, Om."


Steven mengerutkan keningnya. Urat kencang di wajahnya langsung kendor. Dan dia pun menghela napasnya dengan lega. "Aku sudah tahu, Cit, kamu hamil. Kamu nggak perlu tegang gitu." Steven terkekeh dan mencubit hidung mancung istrinya. Dia begitu gemas melihat ekspresi wajah Citra yang sangat serius itu.


"Tapi bagaimana dengan kuliahku, Om? Dan ... bukannya Om nggak mau aku hamil, ya?"


"Nggak perlu memikirkan kuliah. Itu gampang. Kamu tetap bisa kuliah kok. Tenang saja."


"Om yakin? Aku akan dikeluarkan nggak nantinya?"


"Nggaklah. Nanti semua itu aku yang urus."

__ADS_1


"Tapi Om pasti kesel aku hamil, kan?"


"Ngapain kesel. Aku justru senang. Ada Steven junior di sini." Steven mengelus perut rata Citra, lalu menciuminya.


"Eeemm ... tapi, Om. Boleh nggak aku kuliah lagi di Tangerang?"


"Ngapain kuliah di Tangerang? Kamu akan pindah lagi ke kampus yang dulu."


"Tapi kayaknya aku lebih seneng kuliah di sana deh, Om. Aku juga kangen sama Sisil."


"Kamu mulai sekarang jangan temenan sama dia. Dan kuliah di mana saja itu sama, Cit!" tegas Steven. Mengingat nama Sisil, dia jadi ingat nama Gugun.


"Kenapa? Sisil itu baik, Om. Malah sangat baik. Aku senang temenan sama dia."


"Karena dia adiknya Gugun. Aku benci padanya." Steven merengut, lalu menarik tubuh Citra dan membawanya ke dalam dekapan.


"Tapi Sisil nggak salah apa-apa, Om. Ngapain membencinya. Dan Om sama Om Gugun bukannya sudah baikan, ya?"


"Kata siapa baikan? Aku nggak mau baikan sama dia." Steven menggeleng cepat, lalu menciumi puncak rambut Citra. "Aku juga yakin ... kalau niat Gugun mendekatkanmu dengan Sisil adalah untuk mengambil hatimu, Cit."


"Mengambil hatiku apa maksudnya? Aku bahkan baru tahu kemarin pas di penjara kalau Sisil itu adiknya Om Gugun."


"Pokoknya aku bilang jangan ya, jangan! Jangan berarti nggak boleh dan nggak boleh berarti dilarang!" tegas Steven tak mau tahu.


Citra hanya mengerucutkan bibirnya. Mencoba mengakhiri percakapan mereka.


***


Malam hari.


Steven baru saja selesai minum obat vitamin yang Angga kirimkan, lalu naik ke atas kasur menghampiri Citra. Dilihat istrinya itu sudah tertidur pulas sejak setengah jam yang lalu.


Sepertinya dia memang lelah, sampai memilih tidur duluan dan tak mau diajak bercinta lagi.


Steven menarik laci nakas yang berada di samping tempat tidur, kemudian mengambil plastik hitam. Dia pun ngambil isi di dalamnya yang ternyata adalah sebuah borgol.


Rupanya Steven benar-benar serius membeli benda itu. Dia memesan saat setelah makan siang dan sampai sebelum mereka makan malam.


Steven membuka benda yang berada di dalam box-nya, kemudian menautkan salah satu lubang pada pergelangan tangan kanannya. Dan sebelahnya lagi ditautkan pada pergelangan tangan kiri Citra. Keduanya sudah saling terhubung dan borgol itu benar-benar mirip seperti borgol polisi. Kokoh dan kuat berbahan besi stainless.


Entah hal gila apa yang Steven lakukan, tetapi dengan begini dia bisa tenang tanpa takut esok pagi Citra tiba-tiba hilang.

__ADS_1


"Selamat malam istriku tercinta," ucap Steven seraya mengecup bibir Citra sekilas. Dia pun membuang plastik bekas borgol tersebut ke sembarang arah, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di samping Citra seraya memeluk dan memejamkan mata.


...Aneh-aneh aja Om Steven 🙈...


__ADS_2