Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
179. Makin Cantik + (Giveaway)


__ADS_3

Sindi membulatkan matanya dengan lebar. Tentu dia tahu Janet, namun aneh saja mengapa burung itu bisa ada di rumahnya.


"Kamu ke sini sama siapa? Ahmad?" tanya Sindi menatap Janet.


"Mana Kevin?" Bukannya menjawab pertanyaan, burung itu malah menanyakan Kevin.


"Kevin pergi sama Papa," jawab Sindi.


"Kayaknya dia ke sini sendirian, Ma, soalnya dari jendela datangnya," ucap Citra.


"Iya, iya. Sebentar ... Mama telepon Papa dulu." Sindi mengambil ponselnya di dalam kantong celana, kemudian mencoba menghubungi Angga.


***


Sementara itu, Angga dan Kevin pergi ke penangkaran burung yang berada di kota Serang.


Kata Ahmad, di sana juga ada penangkaran burung Kakatua betina dan jantan. Hasil pengiriman dari pulau Maluku.


Mereka menunggangi mobil dengan Nissa yang mengemudi. Sengaja dia meminta antar kepada anak perempuannya sebab ada yang ingin ditanyakan.


"Sudah punya pacar belum kamu, Nis?" tanya Angga seraya menoleh.


Anak perempuannya itu resmi menjadi janda sekitar tiga bulan yang lalu. Pernikahannya kandas lantaran suaminya berselingkuh.


Umur Nissa dan Steven hanya terpaut beberapa bulan. Sebab saat Nissa berusia dua bulan—Sindi langsung hamil Steven. Mungkin saat setelah masa nifasnya selesai lalu berhubungan badan.


Sebenarnya, Sindi dan Angga sendiri hanya menginginkan 2 anak. Lantaran k*ndom yang Angga gunakan saat itu bocor, akhirnya jadilah Steven.


Namun, setelah Steven lahir tentu mereka juga menyayangi, bahkan sangat. Sebab pria itu menjadi anak bungsu.


"Belum, Pa. Aku juga masih mau sendiri dulu. Nyembuhin luka," jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Papa punya kenalan seorang dokter, tampan dan sepertinya baik. Kamu mau nggak Papa kenalin sama dia? Ya temenan aja dulu," saran Angga.


"Nggak deh, Pa, makasih." Nissa menggeleng.


"Kenapa nggak? Temenan saja dulu."


"Nanti saja, Pa."


"Jangan lama-lama. Dan sebaiknya kamu juga cepat move on sama pria br*ngsek itu. Kamu harus bahagia!" seru Angga. Rasanya geram kala mengingat penghianatan yang pernah dilakukan oleh menantunya. Tentu dia juga ikut sakit hati.


"Tentu saja, Pa. Ngapain juga aku masih memikirkan Mas Andi." Nissa tersenyum miring. "Dia nggak penting."


"Oh ya, kata Sofyan ... banyak pria yang godain kamu di restoran, ya? Siapa saja mereka?"


"Papa ini bicara apa?" Wajah Nissa langsung merona. "Nggak ada yang godain aku. Emang aku ABG?"


"Ya kamu 'kan cantik, masih kelihatan ABG juga sih." Angga terkekeh.


"Yang ABG itu Citra deh kayaknya, bukan aku."


"Sama saja, kamu juga masih ABG menurut Papa." Angga mengusap rambut kepala Nissa, lalu tersenyum hangat.


Tak berselang lama mereka pun sampai, Angga segera turun bersama Kevin.


"Kamu mau ikut?" tanya Angga.


"Papa duluan saja, aku mau angkat telepon."


Angga mengangguk, dia pun lantas melangkah masuk ke dalam gerbang yang baru saja dibuka oleh satpam.


*

__ADS_1


Saat masuk ke dalam dan mendengar suara beberapa burung yang berkicau, Kevin langsung masuk ke dalam kaos Angga. Entah kenapa dengan burung itu, namun yang jelas—Kevin sejujurnya tak mau dijodohkan.


"Lho, kamu kenapa, Vin? Kok masuk ke dalam?" Angga merogoh kaosnya, mencoba meraih Kevin. Namun burung itu malah memutar ke punggung. Bersembunyi di belakang sana.


"Saya tidak mau kawin! Saya mau pulang, Pa!" Sebenarnya bisa saja Kevin terbang pergi, namun tidak dia lakukan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang pria yang memakai belangkon hitam. Usianya sama seperti Angga.


"Ini, aku punya burung Kakatua jantan dan aku mau dia mencari jodoh supaya bisa beranak," jawab Angga seraya meraih punggungnya. Mencoba mengambil Kevin. Namun burung itu sibuk menghindar. "Cepat keluar dari kaos Papa! Kalau nggak Papa akan usir kamu dari rumah!" tekan Angga mengancam.


Kevin langsung menjatuhkan tubuhnya dan berdiri di tanah. Ancaman itu cukup menakutkan baginya.


Pria yang memakai belangkon hitam itu langsung membungkuk dan meraih tubuh Kevin, menaruhnya untuk berdiri di lengan dan memperhatikannya.


"Usianya sudah cukup tua, semoga saja dia masih bisa beranak," katanya, lalu melangkah melewati beberapa kandang.


Angga mengekorinya sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah kandang besar yang berisi Kakatua betina. Semuanya berjumlah 20 ekor dan memang siap untuk dikawinkan. Usianya rata-rata 2—5 tahun.


"Hallo!"


"Hai."


"Hallo tampan!"


"Kamu siapa?"


Burung-burung itu menyapa, namun entah kenapa siapa. Mungkin Kevin. Dilihat burung itu memalingkan wajahnya.


"Namanya siapa, Pak?" tanya pria yang memakai belangkon seraya melirik ke arah Kevin.


"Kevin," jawab Angga.


"Apa dia sudah pernah kawin sebelumnya? Sudah punya pasangan?"


"Kamu sebelumnya sudah kawin belum, Vin?" Angga bertanya pada Kevin. Burung itu menggeleng. Jelas sekali sebab dia masih perjaka.


Pria itu membuka kandang, lalu melemparkan Kevin ke dalam sana dan segera menutup pintu kandang itu.


"Ayok kenalan sama Kevin. Dia sangat tampan," kata pria itu.


Beberapa betina yang melihat Kevin langsung bergerombol mengerubungi. Mereka tampaknya terpesona kepada burung itu.


Namun, bukannya senang, Kevin justru seperti ketakutan. Segera dia pun terbang, lalu menyangkut ke atas kandang dan kepalanya menyembul keluar menatap Angga.


"Papa! Saya tidak mau kawin!" seru Kevin sambil menggeleng.


Salah satu burung betina langsung menghampiri, lalu mengigit kaki dan menariknya hingga Kevin terbawa.


Dia membawanya ke sebuah kandang kecil yang di dalamnya berisi banyak sekali makanan. Buah dan sayur.


"Ayok kawin denganku!" ajaknya seraya mendekat lalu mengelus kepalanya ke dada Kevin. Burung jantan itu langsung menggeleng cepat dan mundur beberapa langkah.


"Tidak mau!" tolaknya.


"Sebaiknya kita tinggalkan Kevin, Pak. Biarkan dia mencari jodoh," ajak pria yang memakai belangkon sembari menatap Angga.


Pria tua itu tampak antusias sekali melihat burung-burung betina itu yang tengah menyuapi Kevin dengan menggunakan paruh. Sepertinya kalau manusia, Kevin sama tampannya seperti Steven. Itulah yang terlintas dalam benak Angga.


"Papa jangan pergi!" teriak Kevin saat melihat Angga melangkah bersama pria yang memakai belangkon. "Saya tidak mau kawin!"


"Papa! Tante Sindi! Nona Cantik! Kakak Steven! tolong saya!" pekik Kevin saat merasakan sesak di dadanya, akibat terhimpit beberapa burung yang seolah ingin mencari perhatian darinya.


*

__ADS_1


*


"Halo, Ma," ucap Nissa saat mengangkat sambungan telepon yang ternyata dari Sindi.


"Nis, kamu dan Papa sudah sampai belum?"


"Sudah, kenapa memangnya?"


"Beritahu Papa kalau Janet ada di rumah, dia minta kawin sama Kevin."


"Janet itu siapa?" Kening Nissa mengerenyit.


"Janet itu burung Kakatua betina."


"Oh, oke deh, nanti aku bilang sama Papa." Nissa mematikan sambungan telepon, kemudian turun dari mobilnya.


Langkah kakinya yang menuju gerbang tiba-tiba terhenti lantaran melihat seorang pria turun dari mobil sambil marah-marah. Mobil itu berhenti di tengah jalan.


Nissa terdiam dan menatap pria itu dengan seksama. Bahkan dari bawah sampai atas. Dia memakai setelan jas, hanya saja terlihat begitu berantakan. Juga dengan rambutnya.


Namun wajahnya tampak tak asing di mata, dan segera Nissa melangkah menghampiri.


"Maaf, mobil Bapak kenapa?" tanyanya dengan lembut.


Pria itu menoleh, matanya seketika membulat kala pandangan mereka bertemu.


"Nissa, kamu Nissa, kan?" tanya pria itu yang mendadak menjadi gugup. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin.


Pasalnya Nissa ini adalah teman SMAnya. Wanita itu dulu sangat populer di sekolah karena pintar dan yang paling cantik. Sejujurnya dia sendiri menyukainya, hanya saja tak ada keberanian untuk berterus-terang pada saat itu. Nyalinya terlalu ciut untuk mengungkapkan rasa, sebab takut ditolak.


'Makin cantik si Nissa, nggak beda sama pas SMA,' batinnya.


"Tian. Kamu Tian Siregar yang banyak kutunya itu, kan?" tebak Nissa seraya menatap pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Teruntuk pembaca setia novel...


..."Menjerat Hati Perjaka Tua"...


...Author mau mengadakan giveaway pulsa nih buat 5 orang....


...Caranya gampang banget, yaitu mengirimkan hadiah berupa vote, bunga, kopi atau nonton iklan sebanyak-banyaknya....


...Contohnya seperti ini Guys 👇...



...Peringkat 1. 30k...


...Peringkat 2. 20k...


...Peringkat 3. 15k...


...Dan juga 2 orang lagi yang beruntung adalah dipilih dari komentar....


...Silahkan kalian komentar sebagus dan selucu mungkin, nanti 2 orang yang beruntung akan mendapatkan masing-masing 10k pulsa....


...Periodenya dimulai dari tanggal 10 sampai 16....


...Semoga kalian ikut berpartisipasi dan dukung terus novel ini. Tapi yang sudah bosan tentu boleh pergi, karena Author nggak maksa....


...Terima kasih ❤️😘...

__ADS_1


__ADS_2