
"Ya dia hanya akan menjadi benalu di hidup Mbak. Selain kere ... dia juga tukang bohong. Dia juga haus akan harta. Aku nggak mau, kalau nantinya harta Mbak habis dikuras sama dia," jelas Steven.
Sebagai adik yang baik, tentu Steven akan mengambil tindakan. Jangan sampai orang-orang yang dia sayangi dimanfaatkan oleh Tian. Steven cukup kenal, bagaimana licik dan jahatnya pria itu.
"Tapi dia dan Mbak hanya berteman, Stev. Dan selama dia kerja ... semua keuntungan penjualan aman." Hampir setiap hari, Nissa mengecek data penjualan. Selain itu, memang datanya ikut masuk ke email pribadinya. Jadi, kalau ada yang keselip, sepuluh seribu pun bisa ketahuan.
"Memangnya Om Tian kerja di sini?" tanya Steven.
Nissa mengangguk. "Iya, dia jadi manager baru Mbak."
Mata Steven sontak terbelalak, tangannya menepuk jidat. "Astaghfirullah, Mbak, kok bisa-bisanya Mbak nerima dia? Ini bahaya!"
"Kan kamu tahu, Mbak lagi butuh manager. Dan kebetulan dia melamar, jadi nggak ada salahnya Mbak terima. Tapi Mbak juga masih melihat cara kerjanya."
"Aku saranin mending Mbak pecat saja dia langsung, sebelum semuanya terlambat."
"Memangnya kamu tahu dari mana dia akan menguras harta Mbak? Dan memangnya kamu dekat banget sama dia selama ini?" tanya Nissa penasaran.
"Aku nggak dekat." Steven menggeleng. "Tapi aku memang tahu dia dari almarhum Ayah mertuaku. Itu juga alasan kenapa aku menikah dengan Citra secara mendadak. Yakni karena untuk menyelamatkan harta warisan milik Citra. Dua Omnya yang salah satu itu adalah Om Tian ... mereka ingin mengambil semua hak milik Citra," jelas Steven. "Kalau Mbak nggak percaya, aku bisa kasih bukti. Selain aku, Gugun dan Pengacara Harun adalah saksi, bagaimana jahatnya Om Tian."
"Nggak perlu, Stev. Mbak percaya padamu." Nissa menolak saat Steven memberikan ponselnya, yang tertera nama Pengacara Harun di sana. Dia tidak kenal dengan pengacara itu atau pun Gugun. Namun—semua ucapan Steven dapat dia percaya.
Selama ini, Steven tak pernah berbohong padanya. Itu sudah menguatkannya untuk bisa percaya pada adiknya.
"Tapi, kenapa Tian ingin mengambil harta almarhum Ayahnya Citra, Stev? Padahal, dia 'kan kaya?" tanya Nissa. Dia masih tak habis pikir, bisa-bisanya Tian begitu jahat.
"Ya itu karena pada dasarnya dia serakah. Nggak mau bersyukur. Mangkanya sekarang ... kantor Om Tian bangkrut. Itu mungkin teguran dari Allah karena semua hal yang dia perbuat."
Sudah hampir semua keburukan Tian Steven bongkar, namun tampak Nissa masih merasa tak habis pikir. Sedari dulu sampai sekarang, dia mengenal Tian adalah pria yang cukup baik. Tidak pernah neko-neko.
"Tapi dia bilang sama Mbak, kalau perusahaannya masih aman, Stev. Dia bekerja jadi manager karena ingin mencari pengalaman." Nissa menatap wajah Steven dengan serius. Masih penasaran dan ingin tahu siapa Tian lebih dalam.
"Itu dia bohong. Aku juga tadi 'kan sudah bilang dia memang tukang bohong. Dan perlu Mbak tahu, sebelum dia melamar kerja di sini ... dia juga sudah melamar menjadi sekertarisku. Dan alasannya juga sama, karena ingin mencari pengalaman." Steven terkekeh lalu geleng-geleng kepala.
"Terus, kamu terima?"
"Nggaklah. Aku tahu, dia pasti ada maunya."
__ADS_1
"Jadi, menurutmu, Mbak harus pecat dia, Stev? Lalu, nantinya siapa yang menjadi manager Mbak di sini? Mbak sangat membutuhkannya."
"Kan aku sudah pernah bilang, kalau Kakaknya Dika mau kerja di sini. Apa Mbak lupa?"
"Oke. Nanti Mbak akan pecat dia." Nissa mengangguk, menerima saran Steven. 'Tapi, aku harus tahu dulu, kenapa Tian sampai berbohong sama aku dan apa niatnya bekerja sebagai manager? Apa benar, yang dikatakan Steven ... dia ingin menguras hartaku?'
Memang Nissa percaya, namun dia masih penasaran dan ingin mengetahuinya langsung dari mulut Tian.
"Ya sudah, Mbak. Aku ke taman dulu, kasihan Juna dan Papa nungguin." Steven mengangkat bokongnya sembari membenarkan kemeja. "Kalau Mbak butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku. Dan aku harap ... Mbak jangan pernah percaya pada setiap apa pun yang dia ucapkan. Lagian, dia juga sudah punya istri. Aku nggak mau nantinya Mbak dikira pelakor."
"Apa Stev?!" Nissa membulatkan matanya, kaget dengan kalimat terakhir Steven. Pria yang kini melangkah hendak menurunkan handle pintu itu lantas menoleh. "Jadi sebenarnya, Tian punya istri? Tapi dia bilang, dia itu duda."
"Nah itu, kalau memang tukang bohong ya semuanya pasti bohong, Mbak." Steven melangkah keluar, dan Nissa pun ikut keluar. Hendak mencari Tian.
"Nis, di mana managermu?" tanya Angga yang baru saja menghampiri, saat setelah Steven keluar dari pintu kaca restoran.
"Papa kok nyari dia? Mau apa?" Nissa menatap sekeliling restorannya, tidak terlihat batang hidungnya Tian dimana-mana. Padahal, jam sudah hampir siang.
"Papa ingin mengobrol saja. Sekalian kenalan."
"Memang Papa nggak kenal dia?"
"Tapi Steven kenal dia. Bahkan Kevin juga, dia itu Omnya Citra, Pa."
"Omnya Citra? Memang Citra punya Om?" Kening Angga mengerenyit.
"Punya, kata Steven. Sebentar ya, Pa, aku mau telepon dia dulu." Nissa mengambil ponselnya di dalam kantong jas, lalu menghubungi Tian.
***
Sementara itu di tempat berbeda, Tian tengah duduk sambil minum susu bersama Thomi pada sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Pria itu tidak bisa mengemudi lantaran sakit perut dan terus muntah-muntah. Jadi untuk sementara, dia beristirahat sebentar di warung yang berada tepat di depan jalan. Sembari minum obat dan makan roti serta susu untuk mengganjal perutnya yang kosong.
Kedatangan Thomi karena awalnya pria itu yang menghubungi. Dia sejak tadi menunggu Tian namun nyatanya pria itu justru belum sampai juga.
Jadi, Thomi yang tak mau pertemuannya sia-sia akhirnya mengalah. Dia yang menghampiri dimana letak keberadaan Tian, supaya dia dan pria itu bisa mengobrol.
__ADS_1
Dan saat Tian ingin memberitahu Nissa, akan telat datang—ponselnya malah mati lantaran kehabisan baterai.
Bisa saja, dia berangkat naik taksi ke restoran. Namun, uang di dompetnya tak cukup. Hanya ada 10 ribu yang tersisa dan sekarang sudah habis karena membeli di warung.
"Kalau kolam untuk lele sih, kayaknya nggak musti bikin deh. Pakai kolam renang bisa nggak?" tanya Tian membahas obrolan mereka sejak tadi. Mereka berdua duduk di bale.
"Bisa, tapi memangnya kamu nggak sayang? Kolam renang buat kolam lele?" tanya Thomi.
"Sayang sebenarnya, tapi daripada nggak dipakai. Lagian, supaya lebih hemat juga, kan?"
Thomi mengangguk. "Iya, sih, terus maunya pas aku kirim berapa boks bibit lele? Satu, dua atau tiga?"
"Bibitnya bisa dari kamu? Kamu jualan?"
"Iya, kebetulan aku juga ternak. Kamu bisa beli dari aku bibitnya."
"Oh, bagus kalau begitu. Untuk pemula, kamu saraninnya berapa? Memang, satu boksnya isi berapa?"
"Tergantung ukurannya. Tapi menurutku, satu saja dulu. Takutnya gagal, biar kamu nggak rugi banyak nantinya."
"Oke deh." Tian mengangguk-ngangguk.
Tak lama, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka sembari memberikan ponsel milik Tian. Tadi, pria itu sempat menumpang untuk mengisi daya baterai.
"Pak, ini ada yang telepon," ucap wanita itu sembari menyerahkan. Tertera nama 'Nissa Cantik' pada layar pipih itu. Segera, Tian usap ke atas dan menempelkannya ke pipi kanan.
"Halo, Nis," ucapnya dengan lembut.
"Kamu ada di mana?" tanya Nissa. Suaranya terdengar begitu ketus, aneh sekali Tian rasanya.
"Maafin aku, Nis, aku datang ke restoran telat hari ini. Tapi ini aku sudah—"
"Jelaskan nanti saja," potong Nissa cepat. Tidak biasanya, Nissa bersikap seperti itu. "Kalau sudah sampai, kamu langsung ke ruanganku, ya?" pintanya.
Baru saja Tian hendak menjawab, mulutnya sudah menganga. Namun panggilan itu sudah diputuskan begitu saja. Perlahan dia pun menghela napas.
"Thom, kita ketemu lagi nanti sore di rumahku setelah aku pulang kerja. Sekalian nanti kamu kirim bibit lelenya, ya? Aku sekarang harus berangkat ke restoran. Nissa cantik sudah menunggu." Tian menatap ke arah temannya dengan wajah yang bersemu merah.
__ADS_1
...Kasihan nasibmu Om 🤧, udah jadi duda, sebentar lagi keknya jadi pengangguran 🥲...
...duda kere siapa yang mau, Om 🥺...