
"Apa maksudmu?" Kening Steven mengerenyit. "Aku nggak pernah kredit barang apa pun. Apalagi panci dan daster!" bantah Steven.
"Saya nggak tahu, Pak. Tapi mereka mencari Bapak."
"Usir saja! Nggak ada urusan!"
"Saya sudah mengusirnya tadi. Tapi mereka tetap kekeh, Pak."
Steven mematikan sambungan telepon. Malas menanggapi. Lagian, apa yang satpam itu katakan rasanya tak masuk akal. Selama hidupnya, Steven tak pernah kredit barang apa pun.
Jangankan yang murah, yang mahal pun juga tidak pernah. Dia selalu membeli cash.
Steven juga yakin, jika Citra tak mungkin kredit. Apa lagi panci dan daster. Itu benar-benar kaum emak-emak sekali.
Ting~
Terdengar bunyi notifikasi chat masuk. Nomor baru. Steven langsung membacanya.
[Maaf menganggu waktu bekerja Mas. Aku Yuna, istri mudanya Ayank Bejo. Aku hanya ingin meminta tolong ... supaya Mas mau bayarkan kredit panci dan dasterku. Dua orang tukang kredit akan datang ke kantor, Mas.]
Mata Steven sontak melolot membaca ini chat itu. Begitu gampang sekali wanita itu memintanya untuk membayar, seenak jidat menurutnya.
"CK!" Steven berdecak kesal. "Apa-apaan dia. Enak banget minta aku bayarin kredit, memangnya dia pikir siapa? Istriku? Keluargaku?"
"Lagian, tahu dari mana coba alamat kantorku? Kok bisa tukang kredit itu ke sini? Emang dia pikir aku mesin ATMnya apa?" geram Steven. Dia marah-marah dengan ponselnya sendiri.
Dika dan Arif masih berdiri di sana dan melihat Steven mengoceh, akan tetapi sejak tadi calon sekertaris barunya itu senyum-senyum sendiri memperhatikan Steven.
'Ganteng banget, ya, bos baruku,' batin Arif.
"Bapak, maaf. Jadi bagaimana?" tanya Dika pelan.
"Kan aku sudah bilang, usir tukang kredit itu! Aku nggak mau membayarnya!" tekan Steven tanpa menoleh.
Dika mengerenyit heran. Bingung dengan apa yang dikatakan Steven. Seperti tidak nyambung. "Kredit apa, Pak? Saya bertanya masalah Arif. Dia diterima atau nggak?"
"Oh. Eemm ... kalau dia dari Kak Sofyan, aku terima saja. Sekarang kamu tunjukkan dimana ruangannya," ujar Steven. Dia tak mungkin menolak, sebab dia tahu kualitas kerja Sofyan. Tak mungkin juga Kakaknya itu memberikan seorang karyawan yang kerja asal. "Terus kamu bimbing dia selama seminggu untuk jadi sekertaris yang profesional," imbuhnya.
Dika mengangguk cepat. "Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi." Dika membungkuk sopan, begitu pun dengan Arif. Lantas keduanya pun melangkah keluar dari ruangan Steven.
Dika membuka pintu ruangan yang berada tepat di samping. Tertera nama 'Ruangan Sekertaris' Di depan pintu.
Mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ini ruanganmu, Rif," ucap Dika.
"Iya." Arif mengangguk, kemudian duduk di kursi putar. Dika membuka beberapa proposal di atas meja, kemudian menjelaskan.
Dia juga menjelaskan bagaimana jadwal Steven, dari pagi sampai sampai dan kegiatan yang lain. Arif segera mencatatnya di buku dan mengingat-ingat.
"Oh ya, Dik. Kamu kerja sama Pak Steven sudah berapa lama?" tanya Arif penasaran.
"Setelah aku lulus kuliah. Mungkin 4 atau 5 tahun."
"Apa Pak Steven sudah menikah, Dik?"
"Sudah. Belum lama dia menikah dengan pacarnya."
"Oh. Terus sudah punya anak?"
"Belum, kan baru nikah kemarin. Masa sudah langsung bunting." Dika terkekeh. Kemudian mereka pun melanjutkan kegiatannya.
Kembali lagi ke ruangan Steven.
Pria tampan itu sedang sibuk menatap layar laptop, melihat beberapa gambar pembangunan yang tengah dia jalankan. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Steven berdecak kesal. Sejujurnya, dia paling tidak suka sekali diganggu jika sedang bekerja. Sebab menurutnya, itu akan membuat pekerjaannya lama selesai.
Tok ... Tok ... Tok.
Pintu itu kembali diketuk.
"Masuk!" pekik Steven.
Ceklek~
Pintu itu dibuka dan dilebarkan. Seorang pria berseragam masuk ke dalam.
"Pak Steven, tolong maafkan saya. Ada beberapa orang yang mencari Bapak," ucapnya dengan takut. Kepalanya tertunduk.
Steven meliriknya sekilas. Pria di depannya itu satpam kantor dan orang yang tadi meneleponnya.
"Kan aku bilang suruh usir! Kenapa kamu masih memintaku untuk menemuinya?" geram Steven.
"Sudah saya usir, tapi mereka malah ngamuk, Pak. Dan yang parahnya ... ada dua orang lagi yang mencari Bapak."
Steven langsung menatapnya. "Siapa?"
__ADS_1
"Mereka adalah dept collektor dari pihak bank. Katanya Bapak yang akan membayarkan hutang Pak Bejo Santoso yang sudah jatuh tempo."
Mata Steven sontak terbelalak. Dia terkejut. Sudah tadi tukang kredit dia abaikan, tetapi sekarang justru ada lagi yang menagih hutang.
"Tukang kredit juga masih ada diluar, Pak. Saya harap Bapak keluar dulu dan bertemu mereka."
Steven berdecak kesal. Dia pun langsung berdiri dan mengancingi jasnya. Menyambar ponsel di atas meja lalu melangkah cepat keluar dari ruangan. Satpam itu mengekori Steven.
'Kenapa si Bejo banyak sekali hutang? Dasar merepotkan! Kenapa juga sih harus dia yang keracunan?! Harusnya 'kan Kevin!' gerutu Steven dalam hati.
Diluar, tepatnya di halaman kantor. Ada empat orang tengah berdiri. Dua orang pria memakai jaket kulit hitam yang bertuliskan nama 'dept collektor' dan dua orang lagi Ibu-ibu. Usia keduanya sama seperti Sindi.
Mereka adalah tukang kredit. Dan keduanya memakai tas selempang depan. Tangannya masing-masing memegang buku hutang dan pulpen.
"Selamat siang, apa Bapak yang bernama Steven Prasetyo?" tanya seorang pria yang memakai jaket kulit hitam. Menatap Steven yang bersedekap.
"Ya. Kalian siapa?" tanya Steven berpura-pura, sembari menatap mereka di depannya.
"Saya dept collektor dari pihak bank. Ingin menagih hutang Pak Bejo Santoso. Tadi saya dan teman saya sempat datang ke rumah sakit ... ternyata beliau tak sadarkan diri karena keracunan. Dan istrinya mengatakan kalau Bapak yang akan bertanggung jawab," jelas pria itu. Tangannya menjulur memberikan selembar kertas kepada Steven. Itu adalah bukti hutang Bejo pada pihak bank, beserta rinciannya.
Steven mengertakkan gigi. Emosi sekali rasanya melihat nominal 10 juta diujung kertas itu. Baru tadi pagi duit 10 juta melayang, sekarang melayang lagi.
Sungguh sial sekali Steven hari ini. Mungkin bukan hari ini saja, besok-besok juga. Selama Bejo masih berada di rumah sakit.
"Aku bayar." Steven malas berdebat dan dia mengingat ucapan Angga yang mengatakan harus bertanggung jawab. Daripada dia masuk penjara dan disapih, mungkin lebih baik hartanya saja yang menjadi korban. Segera Steven mengetik layar ponselnya, kemudian mengirimkan uang tersebut pada nomor rekening yang tertera di sana. "Nih, sudah, ya!" Layar ponsel itu Steven arahkan kepada dua pria di depan. Memperlihatkan bukti pembayaran.
"Terima kasih, kalau begitu kami permisi. Selamat siang." Pria itu mengerakkan kepala, kemudian melangkah pergi menuju parkiran. Temannya langsung berlari mengejar.
"Bapak lama sekali nggak keluar-keluar. Kami sampai berkarat nungguin," oceh wanita paruh baya yang memakai daster, menatap kesal Steven. Dia tukang kredit daster.
"Iya, mau lari dari tanggung jawab, ya?" sahut yang satunya. Dia memakai topi, tukang kredit panci.
"Aku orang sibuk! Berhenti mengoceh dan katakan berapa yang harus aku bayar!" berang Steven dengan wajah masam.
"Mbak Yuna punya hutang daster 10 setel. 1 daster harganya 500 ribu. Jadi totalnya 5 juta," jelas tukang kredit daster, seraya memberikan buku catatan hutangnya ke arah Steven.
"Mbak Yuna bukan mengambil panci saja, tapi peralatan dapur yang lain. Ini, Bapak bisa lihat sendiri." Tukang kredit panci memberikan buku catatannya. Dan sontak—mata Steven terbelalak, bola matanya terlihat seperti mau keluar karena sangking kagetnya. Sebab nominalnya jauh lebih besar dari yang lain. Yakni 20 juta.
Dadanya langsung terasa panas, emosinya menggebu. Ingin teriak dan memaki. Tapi bingung pada siapa. Akhirnya yang bisa Steven lakukan adalah mengelus dada. Kemudian, dengan berat hati dia pun mengirimkan uang yang mereka minta.
'Tadi pagi 10 juta, tadi 10 juta lagi. Terus sekarang 5 juta dan 20 juta?! 45 juta duitku melayang, rugi besar! Belum lagi biaya rumah sakit nanti. Papa pasti meminta aku yang bayar. Dan apakah akan ada orang yang menagih hutang lagi nanti? Ah ... padahal aku sedang nabung buat pensiun, mimpi apa aku semalam? Kenapa sial banget!' batin Steven dongkol.
...Mimpi berak di kloset kayaknya Om 🤣...
__ADS_1