Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
206. Islam KTP


__ADS_3

"Permisi, Pak, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Tian pada seorang pria paruh baya berjenggot putih yang hendak masuk ke dalam Masjid. Dia memakai Koko putih, sarung hitam dan peci hitam. Sajadah menempel di bahu kiri.


Pria itu pun menoleh ke arah Tian. "Boleh, tanya apa, Pak?"


"Apa aku boleh ikut sholat berjamaah di Masjid ini?" Tian menatap sekeliling. Ada cukup banyak orang yang berbondong-bondong masuk ke dalam sana ingin melaksanakan sholat berjamaah.


"Tentu boleh, siapa pun boleh ikut asalkan Islam. Bapak sendiri Islam, kan?"


Tian mengangguk cepat. "Iya, aku Islam. Tapi sayangnya hanya KTP."


"Nggak masalah, ayok masuk." Pria itu merangkul bahu Tian mengajaknya masuk ke dalam. Tian cepat-cepat membuka sepatunya dan mereka pun masuk sama-sama.


"Aku juga sebenarnya nggak bisa bacaan sholatnya, Pak. Bagaimana nanti? Apa sholatku akan diterima?"


"Kalau soal itu kita serahkan saja kepada Allah, yang terpenting niat. Ayok ... saya ajak Bapak untuk mengambil air wudhu." Pria itu melangkah, mengajak Tian pada tempat untuk mengambil air wudhu.


Dia bukan hanya mengajarkan gerakannya, tapi juga do'a-do'a. Terasa sulit awalnya, namun terus Tian ulang-ulang hingga bisa membaca niat wudhu dan selesai wudhu.


Setelah selesai, mereka pun menuju barisan saf sholat. Ada 20 orang terhitung dengan mereka. Dan Tian ada diurutan saf belakang.


"Bapak saya ajarkan bacaan niat dulu saja, nanti ikuti saja gerakan-gerakan imam. Nanti kalau sholatnya sudah selesai ... baru kita belajar keseluruhannya," jelas pria itu.


Kalau diajarkan seluruh gerakan dan bacaannya untuk sekarang tidak bisa, sebab waktunya mepet dan kebetulan pria itu adalah imam di masjid itu.


Tian hanya menuruti apa yang diucapkan. Soal diterima atau tidaknya urusan belakangan, yang terpenting dia sudah ada niat.


Selain itu, Tian juga ingin berdoa kepada sang pencipta. Memohon ampun atas semua dosa yang dia perbuat.


'Ya Allah ... tolong maafkan aku, maafkan semua dosa yang telah aku perbuat,' ucap Tian dalam hati. Kedua telapak tangannya terangkat, dia duduk bersila menghadap kiblat. Do'a itu dia panjatkan seusai sholat.


'Aku tahu ... semua yang aku lakukan adalah perbuatan dosa dan keji. Tapi sekarang ... aku ingin bertobat.'


'Tolong bantu aku ya, Allah. Bantu aku untuk bisa melewati segalanya.' Bola mata Tian berkaca-kaca dan perlahan air matanya jatuh membasahi pipi.


'Aku juga ingin meminta padamu supaya memberikan tempat yang paling indah untuk Kak Danu. Maafkan semua dosa yang dia punya selama di dunia. Dia adalah Kakakku yang paling hebat, baik dan penyayang. Dan aku menyayanginya, ya Allah.'


'Tolong jaga Fira dan kandungannya. Walau bagaimanapun, bayi yang ada di dalam kandungannya adalah anakku, ya Allah. Dan semoga saja ... perceraian yang dia inginkan memang jalan yang terbaik untuk kami berdua.'

__ADS_1


'Dan terakhir untuk Nissa. Aku mohon ... tolong buat dia selalu bahagia. Dia wanita yang sangat sempurna dan nggak pantas untuk disakiti. Kalau memang dia bukan jodohku ... tolong buat dia jadi jodohku, ya Allah.'


'Amin, amin ya rabbal alamin.' Tian mengusap wajahnya, lalu menghela napasnya dengan lega.


Setelah bertemu Danu, sholat dan berdo'a, sebagian beban dihidupnya terasa sedikit hilang.


*


*


Tian tiba di rumahnya malam hari sehabis Isya, mungkin sekitar jam 8 malam. Tadi, dia diajarkan niat dan gerakan sholat pada pria berjenggot itu cukup lama. Hingga dia juga sekalian sholat Magrib dan Isya di sana.


Masih belum terlalu lancar, tetapi Bapak berjenggot itu memberikan sebuah buku tuntunan sholat untuk Tian. Supaya nantinya dia bisa belajar sendiri di rumah.


Rupanya, Tian sendiri lupa. Jika dia ada janji pada jam 5 sore dengan Thomi yang sekalian datang dengan membawa bibit lele dan perlengkapan untuk berternakannya.


Alhasil, pria itu sejak tadi menunggu di dalam mobil pick upnya. Ingin masuk pun rasanya tak berani, meskipun di rumah Tian sendiri tak ada satpam dan gerbangnya tidak dikunci.


"Kamu ini ke mana saja sih, Ti? Jamuran lho aku, nungguin kamu," gerutu Thomi yang baru saja keluar dari mobil pick upnya. Dia berkacak pinggang menatap Tian yang menghampirinya di halaman rumah.


"Masalah apa? Lebih baik antarkan aku dulu ke kolam renangmu, sudah dibersihkan belum? Kelamaan bibit lelenya di box bisa mati, Ti."


"Ayok. Aku antar." Tian menggerakkan tangannya, lalu melangkah mengajak Thomi menuju halaman rumah bagian belakang.


Dua anak buah Thomi yang datang bersama dengannya juga mengikuti mereka, sambil membawa box, 30 kg pakan lele dan sebotol vitamin untuk lele.


Kolam renang Tian cukup luas dan bersih. Sebab 2 hari sekali selalu dibersihkan, meskipun tidak dipakai sekali pun.


Satu box besar berisi 5000 ikan lele berukuran 5-7 cm itu langsung masukan ke dalam sana. Tian yang melihatnya sontak melotot, sebab tak menyangka jika sebox saja isinya banyak.


"Apa ada ember kecil yang muat 1 kilo? Aku ajarkan cara kasih dia makan, Ti," ucap Thomi.


"Ada, tunggu sebentar, aku ambil." Tian pun mengangguk, lantas berlalu masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.


Thomi bukan hanya mengajarinya untuk memberikan pakan ikan lele dari pelet, tapi juga memberikan vitamin. Tidak lupa mengajari beberapa hal yang tidak Tian ketahui.


"Semoga saja dia cepat besar, biar cepat panen dan menghasilkan uang," ucap Thomi seraya menatap beberapa lele yang begitu lahap makan.

__ADS_1


"Amin, semoga saja. Jadi total modalnya berapa, Thom? Aku pinjam uangmu jadi berapa?"


Thomi merogoh kantong celananya, lalu memberikan selembar nota pembayaran yang berisi rincian dari semuanya. Harga-harganya bisa dilihat oleh Tian sendiri dan totalnya 3.100.000 itu sudah dengan ongkos kirim.


"Itu modal utamamu, notanya jangan dibuang, disimpan. Biar pas panen nanti kamu bisa lihat untungnya berapa," ucap Thomi. Tian mengangguk sambil tersenyum.


"Ternyata nggak besar, ya, Thom. Nggak sampai sepuluh juta."


"Iya. Tapi jangan salah, bibit, pakan dan vitamin yang aku bawa adalah yang unggul, bagus kualitasnya. InsyaAllah ... 3 atau 4 bulan, lelemu bisa panen."


"Amin, semoga aja. Tapi nanti pas mau jual ke mana, Thom? Ke kamu juga?"


"Soal itu gampang, aku juga punya kenalan yang biasa membeli lele hasil panen."


"Oh, bagus deh kalau begitu. Jadi total hutangku berapa padamu?"


"1 jutanya berbunga 20% jadi 1 juta 200 ribu. Jadi kalau 3,1 jadi 3 juta 700 ribu, Ti."


"Bayarnya nyicil boleh, kan?"


"Bayarnya nanti saja kalau sudah panen."


"Oh begitu. Ya sudah, ayok masuk dulu ke rumah. Kita ngopi dulu," ajak Tian seraya merangkul bahu Thomi.


"Anak buahku ikut juga?"


"Iya ikut, kita ngopi sama-sama. Aku juga sekalian ingin curhat."


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama, Tian membuatkan empat cangkir kopi hitam dan dia juga bercerita tentang hal yang telah terjadi. Sekalian juga, barang kali Thomi ingin membantunya mencari pekerjaan.


"Kalau di kantorku sih nggak ada lowongan, Ti. Semua posisinya penuh."


"Kalau di tempat lain ada nggak? Mungkin kenalanmu atau rekan bisnismu gitu?" tanya Tian yang duduk di sampingnya, sambil menyesap kopi yang masih beruap.


"Kayaknya sih ada di kantor rekan bisnisku yang mencari CEO. Tapi pemilik kantornya siapa, ya, namanya ...." Thomi menggaruk kepalanya dan terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Kalau nggak salah sih namanya Rizky. Ah, Pak Rizky Gumelang, Ti!" serunya saat sudah ingat.


...apa kalian tahu siapa Rizky Gumelang? 🤔...

__ADS_1


__ADS_2