
"Imel!!"
Seseorang yang memanggil namanya itu seketika membuatnya menoleh. Dan sontak saja, Imel membulatkan matanya, saat dimana seorang pria sudah berada di depan matanya.
"Kak Steven!"
Yap, tentu dia tak akan melupakan mantan pacarnya itu. Meskipun sudah beberapa tahun lamanya tak bertemu.
'Gawat! Kenapa Kak Steven tau aku? Dan apakah dia akan memarahiku?'
Kenangan saat dimana Steven memutuskan hubungan tentu sangat membekas di dalam benaknya, salah satunya adalah memintanya untuk enyah dari Jakarta. Karena dengan begitu mereka tak lagi bisa bertemu.
Namun, Imel sendiri tak benar-benar meninggalkan Jakarta. Dia hanya pindah apartemen setelah diusir oleh Steven, juga dengan pindah kuliah.
Menurutnya, apa yang dia lakukan berhasil membuatnya tak akan bertemu lagi dengan Steven. Namun ternyata salah, buktinya sekarang takdir mempertemukannya kembali.
'Aku harus kabur,' batin Imel.
"Hei! Mau ke mana kamu, Mel?" teriak Steven saat melihat perempuan itu berlari pergi darinya.
Namun, seolah tak ingin membiarkan itu terjadi, Steven pun nekat mengejarnya. Sampai-sampai dia menerobos masuk ke dalam gerbang kantor menuju halamannya.
"Mau ke mana kamu?" tanyanya yang akhirnya berhasil mencekal tangan kanan Imel. "Kenapa kamu mau kabur? Ada apa, Mel?"
"Ma-maafkan aku, Kak. Bukan maksudku nggak mau meninggalkan Jakarta, tapi aku butuh pekerjaan ini. Aku sangat membutuhkannya," jawab Imel yang terdengar gugup. Bibirnya pun terlihat gemetar.
"Meninggalkan Jakarta? Apa maksudmu?" tanya Steven yang tampak bingung. Jelas, karena dirinya tak mampu mengingat.
"Kok Kakak malah balik nanya, kan Kakak sendiri yang memintaku untuk pergi dari Jakarta."
__ADS_1
"Kapan aku memintamu? Perasaan nggak pernah deh," ungkap Steven yang terlihat seperti tengah berpikir, dia terbengong sesaat sampai akhirnya menatap kembali perempuan di depannya. "Dan kenapa wajahmu sudah agak berbeda, Mel?"
"Berbeda gimana?" Imel langsung merogoh tas jinjingnya untuk mengambil cermin, kemudian langsung berkaca dan memerhatikan wajahnya yang memakai full make up. "Ada apa dengan wajahku, Kak? Perasaan aku masih cantik."
"Kamu memang masih cantik. Cuma terlihat sedikit dewasa. Apa mungkin pengaruh bedak? Kamu ganti bedak?"
"Enggak kok." Imel menggelengkan kepalanya. "Aku masih pakai bedak yang dulu, Kak. Yang biasa aku minta tiap kali kita ketemu."
"Kamu selama ini ke mana saja, Mel? Dan kenapa saat aku kecelakaan ... kamu nggak menemuiku di rumah sakit? Apakah apa yang dikatakan Papa dan Mama benar ... Kalau kita sebenarnya sudah putus dan itu karena kamu berselingkuh?" tanah Steven memastikan.
'Pertanyaan macam apa ini? Dan seriusan, Kak Steven nggak ingat sama sekali? Dia ini lupa ingatan atau gimana, sih, sebenarnya?' Imel membatin dengan keheranan.
Sikap dan perkataan Steven benar-benar terlihat aneh menurutnya. Dan biasanya, seseorang yang bertemu kembali dengan mantan tak mungkin mau menyapa, apalagi sampai mengejar setelah dirinya mencoba kabur untuk menghindar.
Tapi ini sungguh berbeda, Steven justru bertanya tentang hubungan mereka. Itu benar-benar janggal.
"Kalau boleh tau, kapan Kakak kecelakaan? Maaf ... aku sendiri nggak tau, Kak."
"Lupa ingatan?" Imel membulatkan matanya, terlihat dia seperti terkejut mendengarnya. "Serius, Kak? Tapi Kakak kecelakaan apa? Mobil?"
"Jatuh dari pohon mangga."
"Ya ampun, masa jatuh dari pohon mangga sampai mati dan lupa ingatan, Kak?" Imel tampak tak percaya. Memang terdengar konyol, tapi itulah yang terjadi.
"Itu benar, Mel. Memang begitu kejadiannya. Sampai-sampai awalnya aku mengalami gagar otak."
"Tapi kalau Kakak lupa ingatan ... kenapa justru Kakak ingat aku? Kan aneh, bukannya lupa ingatan itu nggak ingat semuanya, ya?"
"Kata Dokter ... lupa ingatan itu banyak jenisnya, Mel. Dan lupa ingatan yang aku alami adalah nggak mengingat momen beberapa tahun ke belakang," papar Steven menjelaskan, lalu berlanjut. "Maka dari itu ... aku bertanya padamu. Karena jujur aku nggak menyangka, jika kita benar-benar sudah putus karena kamu selingkuh. Berarti kamu nggak benar-benar mencintaiku selama ini. Iya, kan?"
__ADS_1
"Enggak kok! Aku nggak selingkuh, Kak!" sanggah Imel dengan gelengan kepala. Entah ada keberanian dari mana, sehingga membuatnya berbohong.
"Kalau kamu nggak selingkuh, jadi kita nggak putus dong?"
"Kita sudah putus, Kak."
"Sudah putus?" Kening Steven seketika mengerut, dia terlihat makin bingung. "Lho ... katanya tadi kamu nggak selingkuh?"
"Iya, aku memang nggak selingkuh, Kak. Kita putusnya bukan karena itu."
"Terus karena apa?"
"Eemmm ... itu karena ...." Imel menjeda sebentar ucapannya dan mulai berpikir, sebelum akhirnya dia meneruskan. "Karena Kakak salah paham."
"Salah paham gimana?"
"Kakak cemburu, saat melihat aku bersama teman laki-lakiku," jawab Imel. "Tapi aku bisa memaklumi, kalau Kakak memang aslinya cemburuan. Mangkanya pas lihat aku lagi sama laki-laki lain ... Kakak langsung marah sampai meminta kita putus. Padahal sebenarnya kami hanya teman biasa, nggak lebih."
"Benarkah, kita putus karena itu, Mel?" tanya Steven yang terlihat memastikan.
"Benar, Kak." Imel mengangguk. "Buktinya Kakak juga sampai mengusirku dari apartemen. Dan Kakak pasti nggak ingat juga, kan, momen dimana Kakak ngusir aku? Kakak juga sampai memintaku untuk pergi dari Jakarta."
"Aku nggak ingat." Steven menggelengkan kepalanya. "Tapi kalau apa yang kamu katakan adalah benar ... aku minta maaf, ya, Mel. Kalau aku ada salah sama kamu selama ini, dan menuduhmu yang enggak-enggak."
"Nggak masalah, Kak," jawab Imel dengan santai, lalu mengenggam tangan kanan Steven yang sejak tadi masih mencekal lengannya. "Jauh sebelum Kakak minta maaf, aku udah maafin Kakak. Dan nggak sepenuhnya salah Kakak juga kok. Aku juga ada salah di sini, karena telah membuat Kakak cemburu buta. Aku minta maaf ya, Kak?"
"Aku maafin kamu, Mel." Steven mengangguk, kemudian tersenyum dan perlahan melepaskan tangan Imel. "Kalau memang ternyata kita benar-benar sudah putus ya sudah, dan mungkin memang itu alasanmu ... Kenapa nggak menemuiku di rumah sakit. Kalau begitu, aku permisi ya, Mel. Assalamualaikum."
Steven sudah berbalik badan, sebelum perempuan itu menjawab salamnya. Tapi secara tiba-tiba, Imel menahan tangannya ketika dia hendak melangkah pergi.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Kak!" pinta Imel cepat dan membuat pria itu menoleh kepadanya. "Kalau Kakak masih mencintaiku ... bagaimana kalau kita balikan saja? Kita mengulang kisah kita dari awal, karena jujur saja ... sampai detik ini aku belum bisa move on dari Kakak. Aku masih mencintai Kakak," tambahnya yang secara tiba-tiba memeluk tubuh Steven dengan erat, lalu mencium dadanya.
...Inget anak istri Om 😐...