
Panggilan yang dilakukan satpam itu tersambung, tapi sayangnya tidak mendapatkan jawaban.
"Sebentar Nona, saya panggilkan Pak Tian dulu ke dalam," ucap sang satpam kepada Aulia.
Kakinya hendak melangkah, tapi tiba-tiba urung terlaksana sebab melihat ada sebuah mobil putih yang berhenti di depan gerbang.
Mobil putih tersebut adalah milik Steven, dan sang pemiliknya itu pun langsung turun dari sana.
"Heh J*lang! Ngapain kau ada di sini?!" teriak Steven menatap Aulia dengan penuh kebencian. Baginya, Aulia dan Abi sama, sama-sama kedua orang yang br*ngsek.
Aulia menoleh, lalu menatap sinis Steven. "Siapa yang kau panggil J*lang?! Namaku Aulia!" bantahnya marah.
"Bapak ini siapa? Apa mau cari perhitungan juga, sama Pak Tian?" tanya satpam itu.
"Aku Steven, adiknya Mbak Nissa. Cepat buka gerbangnya! Aku mau mengecek Mama dan Papa ada di rumah ini atau nggak!" perintah Steven.
Citra pun segera turun, lalu memeluk suaminya. Sebab dia merasa takut jika nantinya Aulia menggoda Steven. Namanya juga dulunya pelakor.
"Yang Bapak maksud itu Pak Angga dan Bu Sindi, ya?" tebak satpam itu.
"Iya. Cepat buka pintunya!" teriak Steven marah.
"Tapi Pak Angga dan Bu Sindi nggak ada di sini, Pak. Tadi pagi memangβ"
"Buka dulu gerbangnya atau kau kuhajar!" ancam Steven. Dia pun meraih lengan baju pria itu, lalu mencengkeramnya dengan kuat. Cepat-cepat satpam membuka gerbang, sebab merasa takut kalau Steven beneran menghajarnya.
__ADS_1
Namun, saat gerbang itu dibuka, justru Aulia lah yang lebih dulu menyerobot masuk. Kemudian berlari dan mengetuk-ngetuk pintu utama rumah Tian.
Melihat itu, tentu Steven tidak terima. Sebab menurutnya juga Aulia sangat tidak sopan.
"Kau pergi dari sini, J*lang!" usir Steven yang berlari masuk ke dalam gerbang bersama Citra.
Mereka baru menghampiri perempuan itu, hendak mengusirnya. Tapi tiba-tiba saja pintu rumah Tian dibuka oleh Bibi pembantu. Dan lagi-lagi, Aulia menerobos masuk. Ingin mencari Tian.
"Mas Tian! Keluar kau, Mas!" pekik Aulia lantang.
Merasa Tian seperti ingin menghindarinya, Aulia pun dengan nekat berlari menaiki anak tangga. Hendak melabraknyaa langsung ke dalam kamar.
Namun, sebelum sampai ke salah satu kamar di sana, Steven langsung menghentikannya. Mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
"Jangan buat aku murka! Pergi sekarang atau kulaporkan kamu ke polisi!" ancam Steven sambil melotot. Emosi Steven benar-benar makin meradang dengan kehadiran perempuan itu. Mungkin kalau dia seorang pria, sudah pasti dia habis Steven hajar.
"Aa, nggak perlu kasar, A. Walau bagaimanapun dia wanita," ucap Citra seraya membantu Aulia melepaskan diri. Dia melakukan hal itu hanya karena menghargai sesama perempuan, tapi bukan berarti mengizinkan Aulia masuk sembarangan.
"Biarkan saja, Cit, perempuan seperti ini pantas untuk dikasari!" Sudah diusir secara lisan pun nyatanya Aulia masih belum mengerti, jadi terpaksa Steven mengusirnya secara paksa.
Gegas, dia pun menarik Aulia, menyeretnya untuk turun dari anak tangga sampai keluar dari rumah. Citra juga mengikuti, sebab takutnya benar Steven akan menyakiti perempuan itu.
"Kenapa kamu mencampuri urusanku! Aku ke sini karena ada kepentingan, Stev!" seru Aulia sambil meringis kesakitan. Dia juga menatap pergelangan tangannya yang mulai merah akibat cengkraman tangan Steven. Sakit sekali.
"Kepentingan apa? Apa kau mau menganggu rumah tangga Mbakku? Kau belum puas juga, mempunyai suami nggak berguna macam Abimana?!" geram Steven sambil menggerakkan gigi. Dia juga lagi-lagi menekan pergelangan tangan kanan Aulia, sampai-sampai perempuan itu menjerit.
__ADS_1
"Aaawww! Sakit!"
"Ada apa ini? Kok rame?!" tanya Juna yang baru saja keluar dari pintu, terlihat dia tengah mengucek kedua matanya sebab pandangannya itu belum jelas sempurna.
Sedang enak-enak tidur, dia malah dibangunkan karena suara kegaduhan diluar kamar. Juna juga sempat memanggil Tian dan Nissa, tapi sayangnya tak ada respon. Jadi dia pun memutuskan untuk mengeceknya sendiri.
Aulia langsung menoleh ke arah Juna. "Jun, apa kamu tau ... Papimu masuk rumah sakit karena Papi tirimu!" teriak Aulia dengan wajah kesal.
Juna yang mendengarnya sontak membelalakkan mata. "Masuk rumah sakit? Gara-gara Papi tiri?" Dia mengulang kalimat itu, sebab merasa bingung dengan pernyataan Aulia. "Tapi apa yang dilakukan Papi Tian? Kok bisa, Papi Abi masuk rumah sakit?"
"Dia memberikan obat pencahar, yang membuat Papimu seharian diare. Kamu juga perlu tau ... kalau Papi Abimu juga sampai pingsan dengan mengenaskan di dalam toilet. Tanpa celana dan dehidrasi. Sekarang kondisinya sangat kritis!" jelasnya panjang lebar, dengan masih menahan rasa sakit.
Kedua kali, Juna membulatkan matanya dengan sempurna. Tapi bedanya, sekarang jantungnya ikut berdebar kencang.
"Obat pencahar?!" Kening Juna tampak mengernyit. "Perasaan, yang dia minum adalah obat yang membuat sakit perut."
Aulia terbelalak mendengarnya. "Apa maksudmu? Jadi kau, yang ...!"
Juna sontak terkejut. Cepat-cepat dia menutup bibirnya sebab sudah keceplosan.
...Wah Juna, ngapa keceplosan sih π...
...Udah pada bosen, ya, kayaknya buat ngasih dukungan π€£ terbukti makin ga ada yg ngasih like, komen, hadiah apalagi vote π...
...sejujurnya aku juga udah males buat up, karena lihat levelnya yang anjlok dan pastinya buat aku rugi karena ga berpenghasilan. cuma karena masih sayang sama kalian ditambah ceritanya belum kelar jadi tak lanjutin π...
__ADS_1
...Tapi sayangnya kalian nggak sayang sama aku π€§ potek potek dah ini hati π...