Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
276. Kapan kita unboxing?


__ADS_3

Angga menoleh kepada Tian, begitu pun sebaliknya. Mereka saling memandang dengan wajah bingung.


Apa yang Juna katakan memang benar, hanya saja kata kencing menurutnya berbeda arti dengan apa yang dimaksud mereka berdua.


"Terima nasib saja, Ti, kamu. Kencing di kamar mandi asal aman saja sudah alhamdulilah, kan?" Angga menarik turunkan alis matanya, lalu mengerakkan dagunya ke arah Juna.


"Iya, nanti aku coba, Pa. Semoga aman."


"Tapi Juna mau ikut, pas kencinginnya ya, Pi. Juga mau lihat soalnya."


"Haaahhh ...." Keduanya langsung saling menghela napas dengan gusar. Baru saja Tian berharap kalau acara akan aman, tetapi bocah itu malah sudah mengatakan ingin ikut. Otomatis gatot deh.


Angga mendekat, lalu berbisik di telinga Tian. Dilihat Juna tengah memperhatikan kamarnya. "Pokoknya Papa nggak mau, kalau kamu dan Nissa bercinta di depannya. Juna masih terlalu kecil, jangan nodai matanya."


"Aku mengerti masalah itu, Pa. Aku nggak akan melakukannya."


"Bagus itu."


***


Rama keluar dari toilet bertepatan dengan Sisil yang keluar dari toilet wanita. Tetapi dia hanya melihat gadis itu dari punggungnya saja dan seketika, Rama lantas mengendus aroma bunga violet yang mendadak membuat jantungnya berdebar.


"Siapa gadis itu? Wangi parfumnya seperti aku kenal. Tapi punya siapa, ya?" Rama melangkah cepat menyusul Sisil yang sudah agak jauh. Rasanya, dia begitu penasaran dan membuatnya ingin memanggil. "Nona!"


Sisil langsung menghentikan langkah, tetapi saat dirinya hendak menoleh, tubuh Rama tertutupi oleh Gisel yang baru saja menabrak pria itu tanpa sengaja.


Tas jinjing yang gadis itu jatuhkan segera Rama bantu ambilkan, tetapi saat tubuhnya tegap, sosok gadis yang dia panggil sudah tak ada. Seperti menghilang secara tiba-tiba.


"Di mana gadis itu? Kok hilang? Apa jangan-jangan setan?" gumam Rama.


"Mas Rama. Ternyata Mas kenal sama Bu Nissa, ya?" tanya Gisel dengan ramah.


Mereka sebenarnya tak mengenal dekat, hanya selewat saja. Rama juga hanya menganggap Gisel sebatas temannya Tari, meskipun gadis itu pernah menyatakan cinta padanya. Saat dimana Rama masih berstatus pacarnya Tari.


"Kamu, Sel," jawab Rama dengan tatapan mata malas. Lalu menatap ke arah lain.


Mendengar cerita dari Juna yang mengatakan gadis itu doyan bergosip, membuat Rama jadi tak menyukainya.

__ADS_1


Menurutnya, tidak sepantasnya Gisel berbicara demikian meskipun memang itu adalah fakta. Rama juga tak habis pikir, bisa-bisanya dia tahu akan penyakitnya.


Ingin bertanya sebenarnya, tetapi suasana tak memungkinkan. Rama tak mau, jika nantinya percakapan mereka didengar oleh orang lain dan dengan begitu akan makin banyak yang tahu dia impoten. Malu dan sakit hati sekali rasanya.


"Mas datang sendiri? Apa mau aku temenin?"


"Nggak usah," jawab Rama malas. Demi menghindari gadis itu, dia memilih untuk balik lagi masuk ke dalam toilet.


***


Malam hari.


Nissa yang duduk di kursi pelaminan bersama Citra memperhatikan Tian yang tengah ditarik-tarik tangannya oleh Juna.


Bocah itu membawa Tian kepada teman-temannya, guru bahkan kepala sekolah yang datang sebagai tamu undangan. Angga memanglah mengundangnya semua, itu pun secara mendadak. Pagi-pagi sekali dan atas permintaan Juna juga.


Niat bocah itu tidak lain adalah hanya untuk mengenalkan kepada semua orang, kalau dia bahagia beserta bangga, bisa mempunyai Papi baru seperti Tian.


"Juna benar-benar dekat sama Om Tian ya, Mbak. Sampai nggak kelihatan kalau Om Tian itu Papi tiri," ucap Citra sambil tersenyum menatap keduanya.


"Iya, Cit. Mbak juga ikut senang melihat mereka sangat akrab. Bahkan Juna seperti tak mau lepas dengan Tian, pengennya menempel mulu." Nissa mengulum senyum dengan hati yang terasa hangat. "Mbak berharap, selamanya mereka dapat saling menyayangi. Mbak ikut bahagia melihat Juna bahagia."


"Mbak nggak diKB, Cit." Nissa menggeleng. "Mbak sih mau hamil lagi, tapi tergantung Tian sama Junanya. Mau atau nggak."


"Kalau Om Tian sih pasti pengen banget punya anak. Soalnya 'kan di pernikahan sebelumnya anaknya meninggal, Mbak. Mungkin tinggal gimana Junanya saja kali, ya?"


"Iya." Nissa mengangguk.


***


Tak terasa, pesta pun sudah usai.


Sekarang, Tian, Nissa dan Juna berada di kamar hotel. Nissa tengah berada di dalam kamar mandi, sedang mandi dan memakai baju ganti di sana.


Sedangkan Tian, dia sibuk berdongeng tentang Superman yang kehilangan semvak. Cerita mengarang dari Tian sendiri dan Juna lah yang memintanya untuk berdongeng sebelum dia tertidur. Mata bocah itu sekarang lama-lama sayup dan perlahan terpejam. Lengannya begitu erat memeluk tubuh Tian.


Sekitar 30 menit, pintu kamar mandi pun dibuka. Nissa keluar dari sana dengan memakai dress tidur berwarna putih panjang di atas lutut, tanpa lengan.

__ADS_1


Terlihat seksi menurut Tian, meskipun agak longgar dibadan istrinya.


"Kamu cantik banget pakai baju tidur itu, Yang. Beli di mana?" tanya Tian sambil menatap kagum pada istrinya yang mendekat, lalu naik ke atas kasur.


"Ini dari Mama, dikasih tadi, Yang."


"Cocok sekali buatmu. Nanti besok aku belikan baju tidur yang seksi untukmu. Tapi kamu pakai, ya?"


"Baju tidur seksi lingerie maksudmu?"


"Iya." Tian mengangguk cepat. "Yang bolong-bolong dan kurang bahan itu, Sayang. Biar enak bukanya."


"Kalau yang kayak gitu mah aku nggak bisa pakai. Kan ada Juna, malu dong, Yang. Terlalu transparan." Nissa membaringkan tubuhnya di sebelah Juna, lalu menarik selimut untuk mereka bertiga.


"Ah iya juga, aku baru ingat. Ya sudah deh, nanti aku belinya yang model dress saja kayak gitu, tapi yang ngepres di badanmu. Biar seksi." Tangan Tian terulur untuk meraih pipi Nissa, lalu mengelusnya secara perlahan. "Oh ya, Yang. Kapan kita unboxing?"


"Unboxing apa? Kado? Besok saja, Yang."


"Bukan kado, tapi unboxing buat kita berdua. Aku ingin bercinta denganmu, Yang. Aku menginginkannya," pinta Tian dengan wajah yang merona. Jantungnya pun seketika berdebar kencang.


"Tapi 'kan ada Juna. Nggak mungkin juga kita meninggalkannya. Nanti kayak kemarin, bisa-bisa dia marah sama kamu."


"Kita nggak perlu pergi dari kamar, Yang. Bagaimana kalau di kamar mandi?" tawar Tian yang mengingat perkataan Juna. Kebetulan bocah itu sudah tidur dan terlihat lelap sekali. Tak ada salahnya mencoba di kamar mandi, toh Tian juga dulu pernah bercinta di kamar mandi dengan mantan-mantan istrinya. "Kamu dulu pernah nggak bercinta di kamar mandi?"


"Nggak." Nissa menggeleng. "Di kamar mandi memangnya bisa? Licin dong, Yang. Udah gitu 'kan susah, di mana nanti aku berbaringnya? Masa dikloset."


"Aku tadi sempat beli tikar, Yang. Nanti pakai tikar saja. Terus ditambah bantal buat alas kepala." Tian menunjuk sebuah tikar karakter yang terguling rapih di samping lemari. Dia membeli benda itu berbarengan saat membeli masker.


"Nanti dihamparkan di lantai kamar mandi maksudnya?"


"Iya." Tian mengangguk cepat. "Mau nggak kamunya? Bercinta di kamar mandi kayaknya seru, Yang. Kita coba, yuk?"


"Boleh deh. Tapi tunggu Juna pulas dulu."


"Udah pulas dia, Yang." Pelan-pelan Tian menarik lengannya yang dijadikan penyangga oleh kepala Juna, lalu mencoba melepaskan pelukan di tubuhnya dan langsung mengganti dengan bantal guling. Mungkin dengan begitu, Juna tak akan sadar jika yang dia peluk bukan Tian. Ini hanya untuk sebentar saja. "Ayok bangun, Yang. Kita beraksi sekarang," titah Tian seraya beranjak dari kasur, sambil mengambil bantal dan karpet yang berada di lemari. Setelah itu dia berlari membawa masuk ke dalam kamar mandi.


Nissa pun menurut. Sebelumnya dia mengecup kening Juna dulu. "Yang pulas, Jun. Bangunnya nanti, kalau Mami dan Papi selesai, ya?" gumamnya. Setelah itu menyusul Tian masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


...Jangan lama-lama ya, Mi. Kalau lama Juna aku bangunin ntar 🤣...


__ADS_2