Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
43. Wajar aku marah!


__ADS_3

Citra berdiri, lalu melepaskan cengkraman tangan Steven. Dia berusaha meski terlihat kesusahan. "Apa yang Om lakukan? Lepaskan Kak Arya, Om. Dia kesakitan."


"Lepaskan katamu?" Steven menoleh pada Citra dengan mata yang mendelik, rahangnya tampak mengeras dan wajahnya merah padam. Perlahan dia pun melepaskan tangan Arya dengan sedikit dorongan keras, hampir saja Arya terjungkal kalau Citra tidak menahan kursi.


Steven berdecih, lalu berjalan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Citra memperhatikan ke arah Steven pergi, matanya membulat kala suaminya itu sudah membuka pintu keluar restoran.


"Kak, aku mau susul Om Ganteng dulu, ya?" Citra terlihat panik, dia menepuk pundak Arya sebentar lalu berlari mengejar Steven.


Arya berdiri, baru saja dia hendak melangkah mengejar Citra, tetapi punggungnya ditepuk oleh seseorang yang berada di belakangnya yang mana membuatnya berbalik badan.


"Mas mau ke mana? Makanannya belum dibayar," kata seorang wanita berseragam restoran itu.


"Belum dibayar?" Arya mengerutkan keningnya. "Oh, ya sudah aku bayar. Berapa, Mbak?"


"Ini bilnya." Pelayan wanita itu segera memberikan selembar kertas padanya. Lalu mengajaknya untuk pergi ke kasir untuk membayar makanan itu.


'Pacarnya Citra kayaknya galak dan kasar, apa Citra nggak tertekan pacaran sama dia?' Arya mengingat-ingat wajah garang Steven dan nada tinggi yang pria itu keluarkan. Tampak jelas dia seperti marah tadi. 'Apa dia sudah cemburu?'


*


*


Citra sudah berada di halaman restoran, dia pun menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Steven. Pandangannya terhenti di depan parkiran mobil, pria tampan itu tengah berdiri sambil menenggak sebotol minuman dingin bersoda berwarna putih. Matanya menyorot tajam pada Citra yang baru saja berlari menghampirinya.


"Om ... kok Om pergi? Kan kita makan siangnya belum selesai?" tanya Citra lembut.


Steven hanya berdecak, dia pun meremmas botol plastik itu lalu melemparkannya begitu saja. Setelahnya Steven masuk ke dalam mobil, kemudian disusul oleh Citra.


"Lho, kenapa pergi, Om? Mau ke mana?" Citra menoleh pada Steven, pria itu tengah mengemudi dengan serius tanpa menanggapi ucapannya.


Dadanya terasa bergemuruh entah karena apa, matanya panas dan mendadak di dalam celananya pun terasa panas.


"Om kenapa?" Kembali Citra bertanya saat di mana Steven sedang meraba inti tubuhnya yang menggembung itu. Segera Steven menyingkir tangannya sendiri.


'Kok telurku tiba-tiba panas, ya? Tapi kenapa?' Semakin lama dibiarkan bukannya hilang, tetapi justru makin terasa panas dan seperti terbakar. Entah dia sendiri tak mengerti dengan apa yang dia alami, tetapi yang jelas—saat ini rasanya dia ingin menyiram miliknya itu dengan air dingin.


Steven menghentikan mobilnya di depan WC umum pinggir jalan, lalu turun dari mobil. Begitu pun dengan Citra yang ikut turun.


"Om mau berak?"


Steven tak menanggapi, dia langsung berlari menghampiri seorang pria yang tengah duduk dikursi. Pria itu sepertinya penjaga WC.


"Pak, apa air disini dingin?" tanya Steven seraya mengenggam miliknya. Dia meringis kepanasan, tubuhnya juga terlihat gelisah.

__ADS_1


"Air dingin apa maksudnya, Pak?" Pria bertopi putih itu tampak tak paham dengan maksud Steven.


"Air kran disini maksudku."


"Oh, ya airnya biasa. Seperti air pada umumnya."


"Apa Bapak bisa menolongku sebentar?" Steven mengambil dompet di dalam kantong celana. Lalu memberikan uang dua ratus ribuan pada pria itu.


"Uang apa ini, Pak?"


"Tolong belikan aku air dingin yang botol besar itu, Pak. Dua. Aku tunggu di WC, ya?" Steven langsung berlari masuk pada salah satu WC umum tersebut. Semua pintu WC itu ada tiga dan Steven di nomer 3 paling ujung.


Setelah melepas celana luar dan dalam, Steven segera meraih gayung pada bak. Lalu mengambil air dan menyiraminya pada inti tubuhnya. Tetapi sayangnya masih terasa panas bahkan kini berdenyut-denyut.


"Kenapa panas banget? Perasaan aku nggak makan sambal terus pegang telur. Aneh banget," gumam Steven sambil menatap dua asetnya yang bergelantungan manja di sana, lalu menyeka keringat pada dahi. "Mana orang itu? Kok belum datang juga?"


Steven menanti pesanan airnya, dan tak lama pintu itu diketuk dari luar. Gegas dia pun membukanya dan menyembulkan kepalanya.


"Ini airnya, Om. Om kenapa?" Ternyata bukan orang yang dia suruh tadi, tetapi Citra. Gadis itu menenteng plastik hitam besar lalu memberikan pada Steven. Pria itu hanya mengambilnya lalu menutup kembali pintunya dengan rapat.


"Ada apa dengan Om Ganteng? Tingkahnya sangat aneh dan dia pegangin mulu anunya," gumam Citra dengan kening yang mengerenyit. Dia pun mundur beberapa langkah untuk menempelkan punggungnya pada tembok, lalu bersedekap sembari menatap pintu.


"Aahhh leganya ...." Steven membuang napasnya dengan lega. Telurnya itu sudah tak terasa panas sebab sudah direndam oleh air dingin. Dia menaruh air itu ke dalam gayung lalu segera memasukkan kedua asetnya itu. Kini Steven tengah menempelkan punggung pada tembok dengan mata terpejam, dia merasakan sensasi yang terasa nikmat itu.


*


Steven membuka pintu, dia sudah terlihat rapih. Hanya saja wajahnya basah seperti habis cuci muka.


"Om kenapa sebenarnya?"


"Nggak apa-apa," jawab Steven datar lalu berjalan masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Citra.


"Om, tadi kok Om pergi begitu saja? Kan makannya belum selesai?" Citra kembali bertanya perkara tadi, dia juga sangat penasaran dengan Steven. Apa dia cemburu atau tidak.


Mendadak dada Steven kembali bergemuruh, dia pun mengusap kasar wajahnya.


"Siapa laki-laki tadi?" Bukannya menjawab pertanyaan, pria itu justru membalikkannya dengan sebuah pertanyaan lagi.


"Dia Kak Arya."


"Siapamu?"


"Dia temanku, Om."

__ADS_1


"Teman satu kelas?"


"Bukan, dia seniorku."


"Terus ngapain tadi datang? Kamu sengaja mengundangnya?" Steven menoleh sekilas pada Citra dengan sorotan tajam.


Citra menggeleng cepat. "Nggak kok."


"Jangan bohong!"


"Memang nggak, Om. Aku ketemu dia juga nggak sengaja." Citra berkelit.


"Terus apa maksudmu dengan memintanya duduk lalu memberikan jus?"


"Ya karena aku kasihan padanya."


"Kasihannya?"


"Kan Om lihat Kak Arya tadi seperti capek. Jadi aku menyuruhnya duduk lalu memberikan air minum," jelas Citra.


"Apa hubunganmu dengannya?"


"Kan aku sudah bilang dia temanku."


"Mana ada teman seperti itu." Steven mendengkus kesal.


"Maksudnya bagaimana?"


"Maksud maksud, kamu itu terlalu lebay tahu nggak, sih?!" bentak Steven yang mana membuat jantung Citra berdebar kencang, dia juga sempat terperanjat dan kini mengelus dada.


"Santai saja ngomongnya, Om. Nanti kalau aku jantungan bagaimana?"


Steven menghentikan mobilnya disisi jalan raya, lalu memiringkan posisi duduknya untuk lebih jelas menatap Citra. Dahinya terlihat berkeringat, sorotan matanya tampak begitu tajam.


"Kenapa kamu terlalu lebay padanya tadi? Apa hubunganmu dengannya?" tanyanya sekali lagi, tampaknya Steven belum percaya.


"Aku nggak ada hubungan dengan Kak Arya, kami hanya teman."


"Kamu berbohong Citra!" pekik Steven emosi.


"Aku jujur, lebaynya kenapa, sih? Dan kenapa juga Om terlihat marah?"


"Wajar aku marah!"

__ADS_1


"Kenapa?"


...Hayo Om kenapa? Mau ngaku apa nggak? 🤣🤣...


__ADS_2