
Kevin langsung terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Namun tak lama dia pun terbang menghampiri dua pria itu dan tanpa permisi langsung mematuk kepala, tangan dan wajah mereka.
"Pergi kalian dari sini!" seru Kevin.
Tian yang melihatnya langsung mengulum senyum, hatinya terasa hangat dan berbunga. Sudah jelas, jika apa yang Kevin lakukan itu adalah bentuk pertolongan. "Ternyata, ada manfaatnya juga aku membesarkan Kevin. Aku kira, dia cuma bisa menghabiskan uangku karena doyan makan."
Tian langsung berlari ke dalam rumah lewat pintu belakang, lalu menuju kamar.
Beberapa lemari dia buka hampir semua, mencari-cari barang yang bisa dia jual dengan cepat dan dengan nominal yang cukup mahal. Ya minimal, di atas 10 juta supaya ada sisa untuk pegangan.
Namun, pandangan matanya tiba-tiba teralihkan pada cincin pernikahan dijari manisnya. Dan Tian langsung ingat berapa harga cincin yang dia beli sepasang dengan milik Fira.
"Apa aku jual cincinku saja? Tapi ... ini 'kan cincin kawin," gumamnya bimbang. "Apa boleh, aku jual cincin kawin?"
*
Setelah melihat dua pria itu berhasil pergi dari rumahnya, Tian segera masuk ke dalam mobil.
Dia memutuskan untuk menjual cincin saja, dan setelah dipikir-pikir, pernikahan pun sudah berakhir. Jadi untuk apa juga cincin itu masih melingkar dijari manisnya.
Melihat Tian melajukan mobilnya dan keluar dari gerbang, Kevin langsung masuk lewat jendela yang kebetulan terbuka.
"Om mau ke mana?" tanya Kevin yang sudah duduk di kursi.
"Aku banyak urusan, Vin. Kamu pulang saja ke rumah Pak Angga." Selain ingin menjual cincin, Tian juga ingin pergi ke pengadilan, mendaftarkan perceraiannya.
"Om mengusir saya? Kok jahat?"
"Bukan mengusir, tapi nanti kamu dicariin Pak Angga. Aku nggak mau dia mengira kalau aku mencurimu. Kan kamu sudah aku jual."
Kevin menggeleng, dia tetap duduk dan mau ikut, sampai akhirnya mobil Tian berhenti di sebuah mall besar yang ada dipusat kota. Toko perhiasan yang dia beli ada di sana.
"Om kok belanja? Bukannya kerja?"
"Aku bukan mau belanja, kan aku sudah bilang ada urusan." Tian turun dari mobilnya. Kevin lagi-lagi mengikutinya dan malah berdiri di bahu kiri. Kedua jantan itu pun masuk secara bersama ke dalam sana.
*
*
__ADS_1
Di tempat yang sama, Fira dan dua orang temannya yang bernama Soraya dan Anya, tengah duduk di sebuah cafe yang ada di Mall.
"Kok kamu nggak belanja sih, Fir? Tumben?" tanya Anya seraya menaruh beberapa paper bag di bawah meja. Dia memperhatikan Fira yang memang tidak membeli apa-apa sejak mereka bertiga sampai di sana.
"Iya, kenapa?" tanya Soraya. "Sedang ngirit ya, kamu?"
"Bukan ngirit. Cuma aku lagi nggak kepengen beli apa-apa." Fira berbohong. Aslinya, dia memang tak pegang uang banyak sekarang. Meminta uang pada Nurul pun dikasih sedikit dan hanya cukup untuk makan dan minum di cafe itu saja. Mau jujur juga rasanya malu, nanti mereka berdua meledeknya.
"Masa, sih? Tapi tadi bukannya kamu nanya-nanya tas yang ada di etalase, ya?" tanya Anya.
"Iya, tapi cuma nanya doang. Aslinya nggak kepincut aku." Fira menoleh ke arah Soraya, wanita yang tua satu umur dengannya itu tengah menyesap pipet jus jeruknya. "Ray, kamu 'kan seorang model. Pasti banyak kenal sama beberapa pengusaha juga, boleh dong kenalkan aku sama salah satu dari mereka. Tapi yang ganteng dan masih muda."
"Memangnya kamu mau apa? Jadi model juga?" Soraya berbalik tanya. Dia juga bingung dengan maksud dari pertanyaan temannya itu.
"Bukan." Fira menggeleng. "Untuk aku jadikan pacar, ya syukur-syukur jodoh dan bisa jadi istrinya."
"Lha, kamu nggak salah?" Anya menimpali. "Terus, Pak Tian mau kamu kemanain?"
"Aku sudah cerai sama dia."
Kedua temannya itu sontak membulatkan matanya dengan lebar.
"Apa Pak Tian selingkuh?" tanya Anya yang sama penasarannya.
"Bukan dia selingkuh, tapi dia sudah bangkrut. Ya aku nggak maulah, masa aku hidup miskin sampai tua sama dia." Fira bersedekap sambil menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi. "Mending cari yang lain. Pria 'kan banyak, bukan cuma dia," tambahnya dengan enteng.
"Memangnya, kalau udah bangkrut gitu dia nggak bisa bangkit?" tanya Soraya. "Siapa tahu bisa, Fir."
"Nggak bakal." Fira menggeleng. "Nggak yakin juga aku dia bakal berduit lagi, orang hutangnya banyak."
"Tapi bukannya kamu sedang hamil, ya? Mana bisa hamil cerai?" tanya Anya. "Setahuku nggak bisa."
Fira memajukan badannya ke arah mereka, seraya berbisik, "Dia akan aku aborsi."
Kedua temannya itu sontak terbelalak. Kaget dengan apa yang Fira katakan.
"Gila kamu, Fir, itu sama saja membunuh anak sendiri," ujar Soraya tak percaya.
"Iya, anakmu 'kan nggak salah apa-apa. Masa dibunuh?" kata Anya. "Aku saja kepengen punya anak, Fir, tapi susah." Mengelus perutnya.
__ADS_1
"Daripada dia lahir terus menyusahkan, lebih baik dia mati saja." Fira mengelus perutnya sendiri. 'Semoga saja, aku secepatnya keguguran. Atau paling tidak, dia mati di dalam.'
Anya dan Soraya saling memandang, lalu geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan isi otak Fira.
"Bagaimana, Ray? Aku mau dikenalkan sama pria kaya. Ada nggak kamu?" Fira membahas kembali topik utamanya.
"Ada sih kenalan pengusaha, banyak malah. Tapi kebanyakannya beristri. Ada yang duda tapi sudah berumur."
"Punya fotonya kamu?"
"Ada, tapi hanya yang duda. Soalnya dia bosku." Soraya mengambil ponselnya di dalam tas, lalu memperlihatkan sebuah foto seorang pria tampan yang usianya 50 lebih. "Namanya Pak Hermawan, dia duda dua kali."
Fira memperhatikannya, lalu menggelengkan kepala. "Ah nggak mau. Terlalu tua untukku."
"Kalau ini bagaimana?" Soraya menggeser layar ponselnya, dan terlihat sebuah foto lagi, seorang pria tampan yang usianya 45 tahun. "Dia juga duda, duda dua kali sama. Namanya Aji Wijaya."
"Yang tiga puluhan nggak ada?" Fira menatap Soraya. "Ya paling mentok yang seumuran Pak Steven, tapi yang tajir juga kaya dia."
"Kalau yang duda nggak ada, kebanyakan berumur semua. Yang tiga puluhan itu teman suamiku, banyak."
"Ya sudah, kenalkan salah satu dari mereka padaku, Ray," pinta Fira.
"Tapi punya istri. Mau kamu diomelin istrinya?"
"Kalau tajir banget sih nggak apa-apa, aku jadi istri keduanya juga nggak masalah."
"Ya sudah deh kalau mau, besok aku kasih tahu fotonya dan tempat dia bekerja. Tapi kalau kamu kenapa-kenapa jangan salahin aku, ya?"
"Iya." Fira mengangguk cepat. "Kamu tenang saja."
'Aku akan buktikan padamu, Mas. Kalau masih banyak pria lain yang jauh lebih baik darimu. Biar kamu sadar diri, kalau kamu memang nggak cocok bersamaku,' batin Fira sambil membayangkan wajah Tian yang menangis di depannya. 'Dasar pria kere nggak berguna!'
...Oh ya, Author mau ngasih tahu kalau nanti akan ada beberapa part untuk kisahnya Om Tian. Supaya kalian nggak pada bosen aja....
...Tapi tenang aja, Om Steven sama Citra tetap tokoh utamanya kok. Bakal ada keseruan lainnya....
...Kemarin, ada yang komen katanya bosen sama cerita ini, muter-muterlah segala macem. perlu digaris bawahi, muter-muter gimana? perasaan udah nggak ada konflik deh, apalagi pelakor. Apa harus ditambah konflik berat?...
...jadi udahlah, tinggalin aja apa susahnya toh gratis ini. Nggak perlu komen kek begitu. bukan cuma aku, penulis yang lain pun kalau digituin bukannya semangat jatohnya males jadinya...
__ADS_1
...Author belum tamatin cerita bukan mau ngulur waktu, cuma memang pada dasarnya novel ini belum tamat. kalau udah waktunya tanpa kalian komplain pun tamat sendiri 😌...