
...Kalau cari tokoh yang sempurna, bukan disini tempatnya. Karena semua tokoh di dalam novel ini tidak ada yang sempurna. Sama seperti manusia pada umumnya....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nggak tahu," jawab David.
Udin langsung mematikan sambungan telepon, kemudian membuka helm dan masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, dia tak mandi. Hanya cuci muka dan kumur-kumur saja kemudian mengganti pakaian. Sebab baginya—mandi itu tidak wajib.
Mendadak Udin merasakan ngilu pada seluruh giginya. Ngilunya itu bukan karena pergantian behel, tapi karena terasa bersih. Sudah biasa berjigong, jadi tidak enak saja.
Udin ini memang manusia aneh.
Berawal dari rasa malas, hingga akhirnya setiap kali sesudah sikat gigi—dia merasa ngilu bahkan sampai sakit gigi. Juga dengan tubuhnya. Dia hampir lupa kapan terakhir mandi. Tapi kalau sudah mandi—seluruh tubuhnya justru terasa kaku dan sakit.
Dan semenjak hal itu terjadi, Udin memperpanjang rasa malasnya.
Jangan dicontoh, itu jorok namanya. Karena ada istilah mengatakan kalau kebersihan sebagian dari iman. Namun Udin tak menghiraukan istilah seperti itu. Sholat saja tak pernah.
"Pa, Ma, aku berangkat." Udin keluar dari kamar kemudian mencium punggung tangan Sugiono dan Yanti, mamanya. Orang tuanya itu tengah duduk di depan tv sambil makan ubi goreng.
"Sarapan dulu, Din!" titah Sugiono.
"Di kampus saja, Pa. Lagian bosen makan ubi mulu. Nanti kentutnya bau." Udin menadahkan salah satu tangannya meminta uang. Sugiono langsung memberikan uang 20 ribu.
"Sekali-sekali 100 ribu kek, Pa. Ini mah buat bensin doang. Mana BBM naik." Udin mendengkus kesal, namun uang itu tetap diterima.
"Kalau kurang minta sama temanmu. Ribet amat. Teman-temanmu kan anak orang kaya."
"Kaya juga mereka pelit, yang royal Citra doang."
*
*
Sekarang Udin sudah berada di depan ruangan Dekan, segera dia pun mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok.
__ADS_1
"Masuk!" Terdengar pekikkan dari dalam. Handle pintu itu pun di turunkan, kemudian mendorongnya hingga terbuka.
"Eh, kamu, Din." Adam sang Dekan yang tengah duduk di kursi putarnya bergegas mengambil masker yang berada di kotak. Di atas meja.
Dia memang selalu menyetok masker sekali pakai untuk dirinya sendiri, dan sepertinya dia harus memakai masker saat bertemu Udin.
Sebab dia juga tahu—jika pemuda itu bau ketek.
"Kata David, Bapak memanggilku? Ada apa, Pak?" tanya Udin yang masih diambang pintu. Dia membungkuk sopan.
"Masuk dan tutup pintu," titah Adam.
Udin mengangguk. Dia pun masuk ke dalam ruangan itu kemudian menutup pintu dengan rapat. Setelahnya dia duduk di kursi di depan Adam.
"Bapak kok pakai masker? Lagi flu?"
"Enggak." Adam menggeleng. "Lagi kepengen saja."
"Oh."
Udin mengangguk-ngangguk. Adam mengambil sesuatu di dalam laci, kemudian memberikannya pada Udin. Sebuah amplop putih.
"Ini amplop apa, Pak? Apa uang?" tanya penasaran.
"Buka saja, nanti Bapak jelaskan."
Udin menurut, dan setelah dibuka lalu membacanya—sontak dia pun membulatkan matanya dengan lebar. Kaget melihat tulisan yang tertera di sana, yang menyebutkan kalau dirinya mulai hari ini resmi di DO dari kampus.
"Ini serius, Pak? Aku di DO? Tapi kenapa?" tanya Udin yang tampak tak percaya. "Aku 'kan mahasiswa teladan di sini."
Setahu dia, pihak kampus memang bisa mengeluarkan mahasiswa atau mahasiswi. Tapi kalau orang tersebut memiliki masalah, entah dari tunggakan pembayaran, sering bolos dan berantem secara fisik dengan orang lain. Itu juga masih bisa ditoleransi, kecuali kalau sudah sangat parah.
"Maafkan Bapak ya, Din. Tapi ada wali dari mahasiswi yang memintamu untuk dikeluarkan. Karena kamu selalu menganggu mahasiswi itu," jelas Adam. Ada baiknya dia merahasiakan nama Steven atau pun Citra, supaya mencegah terjadinya masalah dikemudian hari.
"Menganggu?" Alis mata Udin bertaut. "Siapa yang aku ganggu? Aku nggak pernah mengganggu siapa pun, Pak," bantahnya.
"Mungkin kamunya yang nggak merasa, tapi memang nyatanya begitu, Din. Dan banyak juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengeluh pada Bapak tentang ... maaf, bau ketekmu. Itu sangat menyengat."
"Enak saja. Ketekku nggak bau, Pak!" elak Udin.
__ADS_1
Dia tampak kesal. Segera menarik kerah kaosnya dan memasukkan setengah dari wajah. Kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Bagi Udin, dia tak bau, tapi wangi.
"Memang kalau orang yang bau ketek itu nggak nyadar kalau dia bau, ya mungkin kamu salah satunya. Tapi memang itu kenyatannya," jelas Adam.
"Tapi memang aku nggak bau kok. Dan aku juga nggak pernah ganggu siapa pun!" tegas Udin.
"Sudahlah, Bapak masih banyak kerjaan. Sekarang kamu pergi ke ruangan dosen bimbingmu, Bapak juga sudah bilang sama dia kalau kamu dikeluarkan dari kampus. Tapi tenang saja ... Bapak bisa membantumu untuk pindah ke kampus lain," papar Adam panjang lebar.
"Ini sih nggak beres namanya, Pak. Masa tiba-tiba aku di DO dengan alasan menganggu. Sedangkan Bapak nggak memberitahuku siapa yang merasa terganggu." Udin menggerutu kesal, segera dia pun berdiri dan melangkah keluar. 'Aku harus bilang sama Papa. Biar dia bicara sama Pak Adam. Enak saja aku dikeluarkan dengan alasan nggak masuk akal.'
***
"Citra, hari ini kamu jangan masuk kuliah dulu, ya? Libur sehari, istirahat," ucap Steven lembut seraya mengelus pipi kiri istrinya. Tubuh Citra berada dalam dekapannya.
Mereka berada di dalam mobil dan Jarwo mengemudi di depan. Citra sudah dibolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
"Iya, Om." Citra mengangguk samar lalu menghirup aroma tubuh Steven. Wangi sekali, pria tampan itu juga tampak rapih sebab habis mengantarkannya pulang—dia berencana langsung ke kantor. "Tapi aku mau ikut Om ke kantor, boleh, ya?" pintanya dengan suara manja, tangan Citra mengusap dada Steven.
'Aku harus lihat keseharian Om Ganteng kerja dan memastikan sekertarisnya beneran cewek atau cowok. Bisa saja Om Ganteng beneran selingkuh,' batin Citra.
Dia sampai sekarang masih curiga, sebab tak biasanya Steven selalu sibuk dengan ponsel. Mungkin terakhir kali dia melihat Steven seperti itu ya dulu, tapi anehnya sekarang terulang kembali.
"Ngapain ikut? Kan aku kerja. Lagian aku juga hari ini jadwalnya padet, banyak meeting, Cit."
"Meeting mah meeting aja, Om, nggak apa-apa. Aku juga nggak bakal ganggu."
"Tapi nanti kamu ngapain di sana?"
"Duduk aja, lihatin Om kerja."
"Kan aku sudah bilang ... aku banyak meeting. Dan orang yang nggak ada kepentingan nggak boleh ikut, Cit," jelas Steven dengan lembut.
"Aku juga nggak mau ikut meeting." Citra menggeleng. "Aku mau duduk di ruang kerja Om aja."
"Kamu di rumah saja deh, nggak usah ikut." Steven kembali melarangnya. Bukan tidak boleh sebenarnya, hanya saja dia takut, kalau dengan adanya Citra—dia jadi tak fokus kerja. Sekarang saja sebenarnya dia ingin bercinta, tapi ditahan sebab ada beberapa orang yang menunggunya di ruang rapat. "Kan aku juga minta kamu istirahat. Nanti malam soalnya kita mau bercinta, aku punya gaya baru. Ini khusus edisi untuk ibu hamil. Mending kamu persiapkan diri, takutnya lelah. Kan aku perkasa di ranjang."
Citra langsung cemberut, kesal permintaannya tidak dituruti. Perlahan dia pun mengusap perutnya.
"Padahal bukan aku yang pengen, tapi anak kita. Kata Mama ... orang ngidam itu musti dituruti. Nanti ileran," ucapnya dengan sendu.
__ADS_1
...Udah turuti, Om. Nanti kalau ngambek kabur lagi si Citra 🤣 mau emang? Ga bisa goyang lho 🤭...