
"Cit, Nis, Jun, kita pulang, yuk," ajak Sindi seraya menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 5. "Nanti keburu magrib, Mama juga belum cerita sama Papa dan Steven."
"Juna nggak mau pulang! Juna mau menginap di rumah sakit, Oma!" sahut Juna.
"Ngapain menginap di rumah sakit?" tanya Sindi. "Nanti kamu tidur di mana? Lagian, tidur di rumah sakit itu nggak enak."
"Tidur mah tinggal merem, Oma, gampang," jawabnya dengan enteng. "Pokoknya Juna nggak mau pulang sebelum lihat Om Tian sadar, kasihan juga dia nanti. Masa di rumah sakit sendirian? Kalau butuh apa-apa gimana? Kan perutnya sakit." Juna yang masih duduk di kursi di dekat Tian itu lantas mengelus dahi Tian yang berkeringat. Dia sedih bercampur kesal, sebab pria itu tak kunjung sadar.
"Nanti Oma akan suruh Om Bejo atau Om Dono untuk menemani Om Tian, Jun," ujar Sindi yang masih membujuk cucunya untuk pulang bersama. "Di rumah sakit juga banyak orang, ada Suster dan Dokter. Kamu nggak perlu khawatir."
Juna menggeleng cepat. Tangan Sindi yang hendak menarik lengannya itu dia tepis.
"Mama sama Citra pulang duluan saja. Aku dan Juna pulangnya nyusul. Mungkin nanti malam Tian akan sadar," ucap Nissa.
"Ya sudah, nanti Mama akan meminta Papa dan Bejo untuk datang ke sini, ya? Supaya pas kamu butuh apa-apa enak."
"Iya." Nissa mengangguk.
"Kalau Om Tian sudah sadar, Mbak kasih tahu aku, ya?" pinta Citra sambil memeluk tubuh Nissa sebentar.
"Iya, Cit. Kamu dan Mama hati-hati."
"Iya, Mbak." Citra tersenyum, lalu mengecup kening Juna. Lantas setelah itu mereka pun melangkah pergi.
*
*
Sampai menjelang malam, nyatanya Tian belum juga sadar. Entah penyebabnya apa, tapi yang jelas seorang dokter kini tengah memeriksanya.
"Bagaimana Om Dokter? Kok Om Tian belum bangun juga?" tanya Juna sedih. Sedari dipindahkan dari ruang operasi sampai sekarang, sepertinya hanya dia seorang yang begitu mencemaskan keadaan Tian.
Di samping Juna dan Nissa sudah ada Angga, pria itu datang bersama Jarwo sambil membawa baju ganti untuk mereka. Supaya keduanya bisa mandi di sana.
"Keadaannya baik-baik saja, Dek," jawab Dokter seraya menatap Juna. "Alasannya belum sadar mungkin efek bius dari pasca menjalani operasi. Karena luka diperutnya juga cukup dalam, jadi saya sempat menjahitnya," terangnya.
"Terus kapan Om Tian bangunnya?"
"Mudah-mudahan sebentar lagi. Nanti pas tengah malam Om Dokter akan datang lagi mengecek keadaannya."
__ADS_1
"Bener ya, Om?"
"Bener." Dokter itu mengangguk, lalu keluar dari sana.
Tak lama, terdengar suara deringan ponsel milik Tian di atas nakas. Nissa pun mengambil dan mengangkatnya. Itu adalah ponsel milik Tian dan panggilannya dari Ahmad.
"Halo, Pak Tian ke mana saja, Pak? Saya khawatir, sejak makan siang nggak balik ke kantor," ucap Ahmad dari seberang sana.
"Aku Nissa, temannya Tian. Dia sekarang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Nissa.
"Dirawat? Sakit apa Pak Tian, Bu?"
"Ditusuk orang. Dia habis menolong anakku yang diculik. Maaf ... kalau boleh tahu, Bapak ini siapanya Tian? Apa saudara?"
"Saya sekertarisnya yang baru, Bu. Kebetulan Pak Tian baru saja dilantik menjadi CEO di kantornya Pak Rizky."
"Nanti kamu sampaikan ke Pak Rizky, kalau Tian dirawat. Takutnya dia bertanya."
"Baik, Bu. Oh ya, tapi Pak Tian dirawat di mana?"
"Rumah Sakit Harapan."
Setelah menutup sambungan telepon, bahu Nissa ditepuk oleh Angga yang sejak tadi di sampingnya. Wanita itu pun menoleh sembari menaruh kembali hape Tian di atas nakas.
"Si Junanya susah diajakβ" Ucapan Nissa menggantung kala tangan Angga mengarah ke arah Juna. Bocah laki-laki itu tengah duduk membungkuk sembari memeluk lengan Tian, namun dirinya sudah tertidur.
"Juna biar Papa gendong. Juna juga besok pasti sekolah, kasihan, masa tidur di sini?"
"Tapi kalau dia bangun terus nangis gimana, Pa? Sejak tadi Juna terus nanyain Tian."
"Nanti Papa yang akan beritahu dia, dia tidurnya sama Papa malam ini."
"Tiannya ditinggal di sini?" Ada rasa tak rela meninggalkan Tian, juga kasihan sebab pria itu yang tak punya siapa-siapa.
Harusnya sih Citra dan Steven yang ikut menjaganya, tapi itu tidak mungkin terjadi. Steven sangat membenci Tian dan pastinya tak akan mengizinkan Citra.
"Kan ada istri sama mertuanya, coba kamu telepon mereka," saran Angga.
"Tian sudah bercerai sama istrinya, Pa."
__ADS_1
"Kalau saudaranya gimana? Selain Citra apa ada lagi?"
"Kata Juna ada, tapi nomornya nggak aktif dari siang."
"Ya sudah, nanti biarkan Jarwo atau Bejo saja yang menunggunya di sini sampai pagi. Kamu sama Juna ikut Papa pulang."
"Nggak apa-apa memangnya?" tanya Nissa tak yakin. Wajahnya penuh dengan kebimbangan. Ada beberapa pertanyaan juga yang sudah dia siapkan ketika nanti Tian sadar.
"Ya nggak apa-apa, memang kenapa? Kamu sama Tian 'kan nggak ada hubungan apa-apa, Nis." Angga tak mau, hanya karena Tian sudah menyelamatkan Juna, hati Nissa dan cucunya meleleh. Nissa akan dia kenalkan kepada Rama, dan Angga menginginkan mereka berjodoh.
Perlahan dia pun mengangkat tubuh Juna, lalu mengendongnya. Kepala bocah itu di letakkan di bahu, kedua lengannya pun sudah bergeyut di leher Angga.
Namun, baru saja kaki Angga melangkah sambil merangkul bahu Nissa. Tiba-tiba terdengar suara Juna yang memanggil Tian.
"Om Tian?!" serunya. Bocah itu ternyata terbangun dari tidurnya dan bertepatan sekali dengan Tian yang baru saja membuka mata.
Tian menoleh, lalu menyunggingkan senyum saat mata mereka bertemu. Matanya tampak berbinar, begitu pun dengan mata Juna.
"Jun, apa kamu baik-baik saja?" tanya Tian pelan saat melihat Juna turun dari gendongan Angga lalu berlari menghampiri. Bocah itu juga langsung naik ke atas ranjang dan duduk setengah berbaring untuk dapat memeluknya.
"Alhamdulillah, akhirnya Om Tian sadar. Aku kira Om Tian akan meninggal," ujar Juna penuh syukur, lalu tersenyum sembari mendongakkan wajahnya.
Angga melangkah cepat mendekati, lalu menarik tubuh Juna untuk melepaskan pelukan. Dia pun mendudukkan sang cucu di kursi kecil.
"Om baik-baik saja." Tian memperhatikan sekitar, lalu beralih pada tubuh bocah itu. "Kamu nggak apa-apa? Apa penculik tadi melukaimu?" Tian masih penasaran. Sebab yang dia ingat adalah saat dimana polisi datang, lalu setelahnya dia langsung tak sadarkan diri.
"Aku juga baik-baik saja, Om. Oh ya, tadi Om mimpi apa? Kok pingsannya lama?" tanya Juna penasaran.
"Om nggak mimpi apa-apa." Pandangan mata Tian beralih ke arah Nissa, wanita itu juga kebetulan tengah memandanginya.
Degup jantungnya itu langsung terasa kencang, wajah Tian pun terlihat merona.
"Nis, aku minta maaf, ya?" pinta Tian. Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan sebab teringat dimana Nissa marah, lantaran membuat Juna menangis.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Nissa bingung. "Harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kamu sudah menyelamatkan Juna, Ti." Kedua sudut bibir Nissa terangkat begitu indah. Dia tersenyum manis menatap Tian. "Terima kasih."
Senyuman itu seketika membuat hati Tian meleleh. Benih-benih cinta itu makin menumpuk menjadi banyak, dan seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di hatinya.
'Apa aku mimpi? Nissa tersenyum dan berterima kasih padaku?' batin Tian tak percaya. Dia pun mencubit lengannya sendiri dan terasa sakit. Berarti ini bukan sebuah mimpi. 'Duh, meleleh hatiku.'
__ADS_1
...Jangan seneng dulu, Om. Perjuanganmu masih panjang, apalagi udah ada saingan π mang enak π€ͺ...
...Yuk vote sama hadiahnya, biar semangat up. Makin kendor aja nih dukungannya π...