
"Apa Nona habis menangis?" tanya Gugun seraya memberikan plastik putih ke tangan Citra. Itu titipannya tadi.
"Nggak kok." Citra menggeleng cepat.
"Tapi kok matanya merah?" Gugun memperhatikan manik mata Citra yang bergerak-gerak.
"Ini hanya kelilipan, Om." Citra tersenyum lalu menusuk pipet pada susu kotak rasa coklat itu, lalu menghisapnya pelan-pelan.
"Jangan bohong ya, Nona. Dan pokoknya saya nggak mau lihat Nona nangis lagi, apa lagi gara-gara pria serakah itu. Nona harus bahagia." Gugun tersenyum lalu mengelus puncak rambut Citra, gadis itu hanya menganggukkan kepala.
***
Keesokan harinya di kantor polisi.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menemukan si Kumis Lele?" tanya Steven yang baru saja datang ke ruangan polisi, setelah mengetuk dan membuka pintu. Di dalam ruangan itu ada dua orang polisi tengah duduk di kursi.
"Belum, Pak. Tapi infonya sudah disebarluaskan dan anak buah saya sudah bergerak mencarinya keberbagai daerah," jawab polisi yang bernama Hartono.
"Kenapa lama sekali? Ini sudah tiga hari! Kan aku bilang jangan lelet!" protes Steven sambil menggebrak meja. Dia menatap tajam dua polisi di depannya silih berganti. Emosinya langsung mendidih.
"Sabar, Pak. Namanya orang mencari ya nggak bisa secepat itu," jawab salah satu dari mereka.
"Kalian nggak becus mencari!" teriak Steven marah. Dia pun langsung menarik lengan polisi yang bernama Hartono hingga membuatnya bangun dari duduk. Kemudian, menyeretnya dengan kasar keluar dari ruangan itu.
"Bapak mau bawa Pak Hartono ke mana?" tanya rekannya yang mengejar Steven. Pria tampan itu membawa Polisi Hartono ke sebuah sel tahanan.
"Buka selnya!" teriak Steven. Tangannya mencekal kuat pergelangan tangan kiri Hartono, tetapi polisi itu terlihat diam saja, malah bengong dengan tingkah Steven.
"Kenapa dibuka? Bapak mau masuk ke dalam?" tanya rekannya Hartono dengan kening yang mengerenyit.
Steven menggertakkan giginya, dia lantas menyambar kunci yang menggantung pada tali di pinggang celana polisi Hartono. Kemudian, dengan cepat dia pun mencoba membuka gembok dengan beberapa kunci itu.
__ADS_1
"Bapak mau ngapain? Jangan dibuka!" tekan Pak Polisi seraya menarik lengan Steven, dia merasa bingung dengan tindakan yang Steven lakukan.
Pria tampan itu menghentakkan lengannya. Dan setelah gembok itu berhasil dibuka, segera Steven membuka pintu. Lalu, cepat-cepat dia pun menarik kasar kedua pria berseragam itu untuk masuk ke dalam sana.
Di dalam sel itu juga ada 3 orang napi, mereka hanya diam dan menyaksikan apa yang Steven lakukan.
"Bapak gila, ya? Kenapa mengunci kami disini?" tanya Pak Polisi marah, dia menghentakkan jeruji besi itu dengan kedua tangan.
"Aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya, kalau kerjaan kalian lelet ... akan aku penjarakan! Dan sekarang terima akibatnya!" teriak Steven. Dia menggembok sel itu lalu menoleh pada tiga orang polisi yang baru saja datang menghampiri. Mereka datang sebab mendengar keributan. "Kalian ngapain di sini? Aku minta untuk cari Citra!"
"Tapi kenapa Bapak—”
"Aku bilang cari, ya, cari!" tekan Steven sambil melolot. Mereka bertiga langsung terperanjat dengan jantung yang berdebar, suara pria itu amat menggelegar baikan salon dangdut.
Cepat-cepat ketiganya pun berlari pergi dari sana.
Steven menatap kembali kepada dua polisi di dalam sel dengan sorotan tajam, lalu perlahan mengusap kasar wajahnya yang berkeringat. "Kalau sampai istriku dinikahi orang lain apa lagi Gugun ... aku akan menikahi istri kalian!" ancamnya.
Dada Steven terlihat naik turun, dia betul-betul emosi dan mencoba meluapkan kekesalannya terhadap sekitar. Lantas, dia pun berlalu pergi dari sana kemudian masuk ke dalam mobil Jarwo. Kunci itu dibawa dan dia kantongi.
"Bagaimana, Pak? Apa sudah ada titik terang?" tanya Jarwo yang menatap Steven dari kaca depan. Wajahnya yang suram dan lesu itu membuatnya kasihan.
"Belum ada. Mereka semua nggak becus mencari," jawab Steven.
"Bagaimana kalau kita pergi ke dukun saja, Pak?" saran Jarwo.
"Dukun? Mau ngapain? Melet? Citra nggak perlu aku pelet juga dia sudah cinta padaku!" tegas Steven lantang. Dia tampak tersinggung dengan usul yang Jarwo berikan.
"Bukan untuk melet Nona Citra. Tapi untuk mencari keberadaannya."
"Memangnya dukun bisa melakukan hal itu?"
__ADS_1
Jarwo mengangguk cepat. "Iya, saya ada kenalan dukun. Namanya Mbah Yahya, beliau buka praktek. Bapak mau ke sana? Saya akan mengantarnya."
"Aku nggak percaya gitu-gituan." Steven menggeleng cepat. "Lagian musyrik namanya, sekarang kita pergi ke pemakaman umum saja."
"Mau ngapain, Pak?"
"Mandi. Ya ziarah lah! Jangan ngaco deh." Steven mendengkus kesal, lalu bersedekap sambil menoleh ke arah jendela.
*
*
"Assalamualaikum, Ayah," ucap Steven seraya berjongkok di samping makam Danu. Lalu meletakkan keranjang yang berisi bunga dan sebotol air mawar. Sebelum datang ke sini, dia sudah mengambil air wudhu, sebab ingin mengaji untuk Danu.
Steven meraba batu nisan Danu dan mengulum senyum. "Sudah mau dua bulan Ayah pergi, aku rindu sama Ayah." Dia pun merogoh ponsel di kantong celana, lalu membuka aplikasi Al-Qur'an. Perlahan Steven menarik napas dan perlahan membuangnya kemudian membacakan surat Yassin.
Setelah itu, barulah dia memanjatkan do'a. Membuka kedua telapak tangannya.
"Ya Allah ... tolong ampuni segala dosa Ayah. Dosa yang disengaja atau tidak disengaja. Tolong terangi jalannya dan diberikan tempat yang mulia disisimu. Amin, amin ya robbal allamin." Steven mengusap wajahnya saat mengakhiri do'a itu. Lalu menyirami air mawar ke atas makam dan menabur bunga.
"Ayah ... mungkin Ayah sudah bosan untuk mendengar kata maaf dariku. Tapi sungguh, kali ini aku ingin meminta maaf lagi." Steven menatap batu nisan Danu dengan lekat, bola matanya tampak berkaca-kaca. "Aku minta maaf kalau selama aku bersama Citra aku telah menyakitinya. Tapi ... aku nggak rela Citra pergi dariku, Ayah. Ayah pasti tahu di mana Citra berada, tolong sampaikan padanya kalau aku sangat merindukannya." Steven menyentuh batu nisan itu dan perlahan buliran air matanya jatuh membasahi pipi. "Kali ini aku nggak akan berjanji, tapi aku akan berusaha membuktikannya. Kalau misalkan Citra mau kembali lagi denganku ... Aku ingin membahagiakannya, Ayah. Menerimanya apa adanya dan nggak akan membanding-bandingkannya. Aku merasa sangat kehilangannya, dan baru sadar kalau aku ...." Steven menyentuh dadanya yang terasa sesak. Sungguh perih dan begitu berat menahan rindunya selama hampir seminggu lebih tak bertemu.
"Aku ... aku mencintainya. Aku sangat mencintainya, Ayah. Tapi ...." Air mata Steven mengalir makin deras tetapi dengan cepat dia pun mengusapnya. "Kenapa dia malah pergi meninggalkanku? Dia pergi dan membawa hatiku, membawa cintaku ...."
"Citra telah menjerat hatiku, Ayah. Membuatku tersiksa siang dan malam karena terus memikirkannya. Aku ... aku benar-benar merasa gila! Aku tidak tahan! Aku ingin bertemu dengannya, Ayah!" teriak Steven meluapkan kekesalan dan kesedihannya. Perlahan dia pun menjatuhkan bokongnya ke tanah, kemudian memeluk makam Danu.
...Akhirnya ... kalimat ini yang aku tunggu-tunggu keluar juga 😂...
..."Citra telah menjerat hatiku." 🤭...
__ADS_1
...Ayey, kena juga ya, Om. 🤣...
...Silahkan berjuang kalau masih bisa dapetin Citra, aku mau jadi penonton di sini ah. 😎...