Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
240. Meracuni cucu sendiri


__ADS_3

Sebelumnya.....


Juna mengerjapkan matanya. Dia terbangun dari tidur bertepatan dengan Angga yang baru masuk ke dalam kamar. Dia bangun lantaran perutnya terasa begitu lapar.


"Cucu Opa yang ganteng kok udah bangun? Oh, apa lapar?" Angga mendekat seraya duduk dan menyesap kopinya. Setelah itu menaruh cangkir tersebut di atas nakas.


Juna tak menanggapi ucapan Angga, sebab dia teringat jika pria tua itu menyebalkan. Perlahan dia pun duduk, lalu menjatuhkan kakinya ke lantai hingga berdiri.


"Kamu mau ke mana? Kalau mau cari Mami, dia ada di ruang makan. Kamu ke sana saja makan bareng. Ada Om Rama juga," kata Angga seraya menyentuh perutnya yang mendadak mulas.


Juna terbelalak, lantas dia berlari keluar dari kamar. Sedangkan Angga memilih masuk ke dalam kamar mandi, ingin buang hajat. Dia merasa sakit perut sebab kebanyakan makan sambal tadi, saat makan bersama Mbah Yahya.


Dada Juna sontak bergemuruh saat melihat di bawah sana ada dua orang yang tengah bercengkrama. Sebetulnya tidak ada yang salah, mereka hanya makan sambil mengobrol. Tetapi yang membuat Juna kesal adalah senyuman Nissa yang tampak manis menatap Rama.


Dia tak mau, jika nantinya Rama makin menyukai Nissa dan mereka akan cepat menikah.


'Mami genit banget, sih, sampai senyum-senyumin Om Rama begitu. Kalau Om Tian lihat pasti dia sedih. Om Tian 'kan suka sama Mami.' Juna meremmas kemejanya. Bibirnya mengerucut. 'Katanya Mami nggak mau menikah dengan Om Rama, tapi kok malah ketemu? Giliran Juna tadi pagi ajak ketemu Om Tian terus nggak diizinin Opa ... Mami nggak belain Juna. Mami diem aja. Kok Mami nyebelin, sama kayak Opa dan Om Steven? Kalian bertiga nggak sayang sama Juna.'


Bola mata Juna tampak berkaca-kaca. Namun, seketika dia pun teringat dengan percakapan di antara teman-temannya pas di sekolah.


Saat itu, Juna baru saja datang ke kelas sebelum bel. Kemudian duduk di kursinya sambil melepaskan tas ransel. Di samping Juna ada temannya yang bernama Baim, bocah sebaya dengannya itu tengah mengobrol dengan temannya lagi yang duduk di kursi belakang. Juna hanya menonton dan ikut mendengar.


"Lihat deh, jamku bagus 'kan, Im! Ini dikasih sama Papaku lho yang baru pulang dari Jerman," ucap bocah bernama Atta seraya memamerkan sebuah jam tangan dengan gambar Spiderman di depan Baim.


Bocah bernama Baim itu menyentuhnya dan ikut memperhatikan.


"Ada senternya juga lho, lihat." Atta memamerkan lagi dengan memencet tombol di samping jamnya. Dan memang benar, mengeluarkan cahaya.


"Kamu bukannya kemarin jamnya baru, ya? Kok udah beli jam lagi?" tanya Baim.


"Iya. Mama dan Papaku 'kan sayang padaku," ucapnya dengan bangga. "Jadi apa pun yang aku minta selalu dikasih. Kalau nggak, aku ngambek."

__ADS_1


"Aku kemarin pas libur juga ngambek mau jalan-jalan ke kebon binatang. Tapi Mama dan Papaku nggak nurutin, mereka bilang sibuk. Padahal aku udah nangis sampai ngompol," ucap Baim dengan sedih.


"Apa itu artinya Mama dan Papanya Baim nggak sayang?" tanya Juna yang ikut nimbrung.


"Kayaknya." Bima menoleh ke arah Juna dengan bola mata yang berkaca-kaca. Juna langsung mengusap mata bocah itu.


"Coba kamu pura-pura sakit saja, Im," usul Atta. "Aku kalau nggak dituruti suka pura-pura sakit. Terus langsung dituruti."


"Pura-pura sakitnya gimana? Aku kalau sakit Papaku suka ngecek dahi. Tapi dahiku nggak panas kayak sakit demam." Baim menyentuh dahi putihnya. "Nanti ketahuan nggak sakit dong, Ta."


"Kamu bisa pura-pura pingsan, atau kejang-kejang. Aku suka kaya gitu."


"Itu 'kan berbohong namanya," ucap Juna. "Bohong itu dosa tahu, apalagi bohongin orang tua."


"Tapi kata Bu Gisel bohong demi kebaikan itu nggak apa-apa, Jun," jawab Atta yang menyalah artikan sebuah nasehat dari guru tukang gosip itu.


"Demi kebaikan apa? Nanti mereka panik," kata Juna tak percaya.


"Nanti aku coba deh." Baim menyahut. "Aku juga merasa ... Mama dan Papaku tuh sayangnya kalau aku sedang sakit doang. Tapi kalau giliran aku sehat, mereka kayak nggak peduli."


"Papiku kok nggak peduli sama aku meskipun aku sakit, ya?" tanya Juna yang mendadak melow. "Aku padahal cuma mau ketemu doang, tapi dia sampai nggak datang ke rumah," lirihnya sedih.


"Cari Papi baru aja, Jun. Papi kayak gitu mah dibuang aja ke laut, iya, nggak Im?" Atta mengerakkan dagunya ke arah Baim. Bocah itu menoleh ke arah Juna lalu mengusap bahunya.


"Meskipun Papimu nggak sayang, tapi 'kan kamu masih punya Mami, Opa, Oma, Om, Tante, Bude, Pakde dan masih banyak lagi yang sayang sama kamu, Jun," ucap Baim memenangkan. Dia selama menjadi teman sebangkunya, sering sekali mendengar curhatan Juna. Begitu pun sebaliknya.


Dari ingatan itu, Juna pun terlintas sebuah ide gila yakni menuruti ucapan Atta.


Dia juga ingin memastikan apa yang dikatakan Baim, jika meskipun dirinya tidak mempunyai Papi yang sayang, tapi masih banyak anggota keluarganya yang sayang padanya, termasuk Angga. Orang yang selama ini menjadi panutan. Setiap nasihat dan apa pun yang dia katakan, selalu Juna cerna meskipun terkadang suka keluar jalur.


'Apa kalau Juna sakit, Opa akan menuruti permintaan Juna? Juna yakin kok Om Tian pria yang baik. Kalau menang dulunya Om Tian jahat, tapi Juna yakin dia sudah berubah,' batinnya.

__ADS_1


Bocah itu langsung berlari masuk lagi ke dalam kamar. Niatnya ingin berbaring di atas kasur dan pura-pura pingsan. Tetapi sayang langkah kakinya kalah cepat dengan Angga yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


Terpaksa Juna pun berbaring di lantai, dan saat ingin menutup mata, Angga melangkah menghampiri.


"Lho, Jun, kamu kenapa berbaring di lantai?" tanya Angga.


Tidak ingin kepura-puraannya itu diketahui, pada akhirnya Juna pura-pura kejang. Dia teringat juga momen saat di mana Jihan anak dari sepupunya mengalami kejang-kejang. Jadi dia mencoba mempraktekkan seperti apa yang dia ingat.


"Astaghfirullah, kamu kenapa? Kok kaya cacing kepanasan gitu?" Angga membulatkan matanya dengan lebar seraya berjongkok.


Awalnya dia sendiri tidak percaya, sebab selain Juna anaknya suka jahil, kejang-kejang yang bocah itu lakukan hanya perutnya saja. Maju mundur serta goyang-goyang dan tampak begitu lucu.


Namun makin lama, apa yang Juna lakukan justru membuatnya panik juga. Apalagi Juna mengeluarkan jurus plototannya.


'Maafin Juna Opa, Mami. Juna hanya mau lihat kalian sayang apa nggak sama Juna,' batin Juna.


Gegas Angga pun mengendong tubuh sang cucu, lalu berlari cepat keluar dari kamar.


Di dalam perjalanan, Juna merasakan capek dengan apa yang dia lakukan. Ingin berhenti tapi sudah kepalang tanggung.


Napasnya kini menjadi tersengal-sengal. Tetapi Angga mengira, bocah itu sesak napas. Jadilah dia memberikan napas buatan.


Sayangnya, Juna merasakan mual dengan napas Angga yang tercium bau pete. Hingga akhirnya kejang-kejang itu dia akhiri lantaran perutnya bergejolak.


Angga cepat-cepat melepaskan bibir Juna saat mengetahui bocah itu seperti ingin muntah. Lalu memiringkan tubuhnya ke arah bawah.


"Uueekk! Uueekk!" Juna memuntahkan isi di dalam perut. Dan sekarang perutnya itu terasa sakit sekali, apalagi dari pagi hanya terisi dengan roti. Mendadak, kepalanya pun terasa kunang-kunang dan begitu berat. 'Opa jahat banget. Habis makan pete tapi nggak gosok gigi. Ini namanya meracuni cucu sendiri.'


"Astaghfirullah, Juna." Nissa makin histeris. Dia pun mengusap bibir Juna sisa muntahnya. Perlahan Juna memejamkan matanya. Tetapi kali ini bocah itu pingsan beneran, akibat mabok pete.


...Niatnya mah Opa mau nolong, iya, tau. Tapi kok ... ah ya sudahlah 🤣...

__ADS_1


__ADS_2