
Sindi sampai menganga melihatnya dan susah payah dia pun menelan ludah.
"Papa mesum banget, sudah tua juga mikirnya jorok mulu!" ketusnya sembari memalingkan wajahnya yang sudah merona.
"Mesum juga sama istri sendiri. Nggak apa-apa lah tua juga. Makin tua malah makin mateng. Ayok naik, Ma. Mama 'kan pintar goyang ngebor." Angga menepuk pahanya.
Sindi langsung menoleh ke arahnya. Jika sudah disodorkan begitu mana bisa dia menolak. Meskipun memang suaminya itu tak lagi muda, dia akui jika Angga masih mempesona.
Pelan-pelan dia pun mendekat sembari melucuti satu persatu benang yang menempel di tubuhnya. Melemparkan ke sembarang arah.
Lantas, Sindi segera naik ke atas tubuh suaminya sembari melakukan penyatuan. Tak ada pemanasan terlebih dahulu. Kini dirinya sudah goyang ngebor di atas tubuh Angga, bibir mereka pun langsung saling memagut.
"Dih, Papa udah keluar, ya?" tebak Sindi dengan wajar kesal. Pasalnya permainan itu baru berjalan 10 menit, tetapi dia sudah tak merasakan ketegangan milik Angga di dalam sana.
"Iya, Ma." Angga menghembuskan napasnya dengan berat seraya mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
"Mama belum keluar lho, Pa. Kok Papa tega?" omel Sindi marah.
"Abis gimana, Papa nggak tahan banget. Goyangan Mama memang mantep." Angga mengangkat kedua jempolnya ke atas.
"Ah, bilang saja Papa lemah! Kenapa nggak minum obat kuat dulu?"
Memang, umurnya yang makin tua membuat stamina bercintanya melemah. Jika tak dibantu dengan obat atau ramuan, Angga keluar cepat.
"Obat kuat Papa habis. Besok lagi saja ya, Ma. Kita bercinta lagi. Nanti Papa beli obat dulu," bujuk Angga sambil tersenyum manis.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan hati dongkol Sindi pun turun dari tubuh Angga, lalu berlari menuju kamar mandi sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Setelah membersihkan inti tubuhnya sisa pelepasan tadi dengan tissue, Angga membenarkan lagi celananya. Kemudian beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
__ADS_1
Ceklek~
"Maaf saya menganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu. Tapi di ruang tamu ada Nona Fira, Pak," kata Bibi sembari membungkuk sopan.
"Fira?" kata Sindi yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai baju tidur. Lantas, langsung saja Sindi berjalan keluar dari kamarnya tanpa mengatakan hal apa pun pada suaminya.
"Perasaan si Fira sering banget ke sini. Mau ngapain, sih? Kayak nggak ada kerjaan," celotehnya. Kadang kala Angga juga merasa risih, sebab hampir setiap hari gadis itu datang diwaktu yang tak menentu.
Dia pun masuk kembali ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. Perlahan Angga berbaring di atas tempat tidur seraya merogoh kantong celana kolornya untuk mengambil ponsel. Setelah itu Angga bermain game cacing.
*
*
"Fira, kamu kok malam-malam ke sini? Ada apa?" tanya Sindi saat sampai di ruang tamu, lalu duduk di samping Fira yang tengah duduk di sofa panjang. Di atas meja ada tas berwarna merah.
"Oh begitu, terima kasih, ya. Pasti sangat enak. Kan kamu memang pintar memasak." Sindi tersenyum lalu mengelus puncak rambutnya.
"Ngomong-ngomong Pak Steven ke mana, Tan? Apa sedang istirahat di kamarnya?" tanya Fira sambil menatap sekeliling rumah besar itu.
"Steven sedang keluar, ada urusan."
"Oh. Eemm ... Oya, Tante. Ngomong-ngomong kapan aku dan Pak Steven menikah? Kan dia sudah sembuh. Aku udah nggak sabar banget, Tan. Pengen jadi istrinya." Perlahan Fira menyentuh salah satu punggung tangan Sindi lalu tersenyum hangat.
"Tante sih maunya besok dan rencana malam ini mau bicara dengan Steven untuk membahas masalah itu. Tapi Tante sekarang bingung, Fir."
"Bingungnya kenapa? Aku lihat ... Pak Steven seperti sudah suka padaku, Tan." Fira menatap dalam wajah Sindi yang tampak gelisah sekali, seperti ada beban di dalam pikirannya. "Tante kenapa? Apa ada masalah?"
"Gimana ya ngomongnya ...." Sindi mengusap tengkuknya, dia merasa tak enak sekali untuk bicara jujur. "Eemmm ... Tante sendiri baru tahu kemarin, kalau Steven ternyata punya pacar, Fir."
__ADS_1
Fira langsung terbelalak, kaget dengan apa yang diucapkan oleh Sindi. "Pacar? Pak Steven punya pacar? Siapa itu, Tan?" tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Tante juga nggak tahu." Sindi menggeleng pelan. "Tapi sekarang dia dan pacarnya sedang marahan. Mungkin dia cemburu karena melihat kamu menyuapi Steven kemarin."
"Memang kemarin dia ke rumah sakit? Kok aku nggak tahu?"
"Dia melihat dari luar pintu. Sebenarnya dia mau masuk tapi ditahan sama Jarwo. Kan kamu tahu sendiri kalau hanya kita bertiga saja yang boleh menemui Steven."
"Oh, terus ... ini artinya aku nggak jadi menikah dengan Pak Steven?" Wajah Fira seketika sedih, dia pun menggenggam tangan Sindi dengan erat. "Tapi Tante 'kan sudah ngomong sama Mamaku kalau aku akan menjadi menantu Tante, masa posisiku harus digantikan, sih?"
"Tante juga nggak mau sebenarnya, tapi kayaknya Steven cinta banget deh sama pacarnya itu."
"Cinta banget?" Alis mata Fira bertaut. "Memang kayak gimana pacarnya? Cantik banget, Tan? Sama aku lebih cantikan siapa?"
"Tante belum lihat orangnya. Tapi tadi Om Angga minta Steven untuk mengajaknya ke sini kalau mereka sudah baikan. Tapi nggak tahu juga jadi atau nggak, soalnya kata Steven ... dia sampai sekarang belum bertemu pacarnya."
"Oh, jadi Pak Steven keluar karena ingin bertemu pacarnya, ya. Memangnya mereka jadian kapan? Kok aku nggak tahu, sih, Tan?"
"Apa lagi Tante. Kan Tante jarang bertemu dengan Steven, Fir. Itu kamu tahu dia ada dekat nggak sama anak kantor?"
Fira terdiam dan mengingat-ngingat bagaimana aktivitas Steven selama di kantor. Hampir dari pagi menjelang sore, pria itu selalu ada di dalam ruangannya dan sibuk dengan laptop. Mungkin keluar pada jam istirahat dan itu juga hanya makan.
"Setahuku nggak sih, Tan. Mungkin pacarnya bukan orang kantor. Eemm ... tapi bagaimana dong ini? Tante katanya sudah pesan cincin kawin untuk aku dan Pak Steven. Ada namanya juga, kan? Masa nggak jadi?" rengek Fira dengan wajah cemberut, perlahan dia pun bergelayut manja di lengan Sindi.
"Tante sudah pesan, malah besok sudah jadi. Tapi 'kan yang mau menikah Steven, kita tunggu keputusannya dulu."
"Tante bilang saja sama Pak Steven untuk putusin pacarnya. Kan sudah ada aku. Lagian ... pacarnya itu belum tentu baik dan masuk kriteria, kan?"
...Jadi maksudmu, kamu baik?🤔...
__ADS_1