
"Tapi aku nggak tega ngomong sama Ramanya, Ga. Dia sudah menyetujui untuk mendekati Nissa, masa nanti aku bilang Nissanya menikah dengan orang lain. Kasihan dong. Kamu masa tega sama Rama? Sama aku juga?" Mbah Yahya merengut kesal. Dia terlihat tak ikhlas sekali mengetahui Nissa akan menikah dengan orang lain.
"Aku kasihan, Ya. Tapi mau bagaimana? Junanya merengek. Aku juga kasihan sama cucuku." Angga menatap Mbah Yahya dengan perasaan tak enak.
Mbah Yahya terdiam sesaat. "Ya sudah, begini saja. Kalau Nissa nggak jadi dijodohin sama Rama ... kamu bantu aku cari jodoh buat Rama."
"Boleh. Tapi siapa kira-kira? Aku nggak ada kenalan janda." Kening Angga mengerenyit, mulai berpikir.
"Menantumu si Citra, punya temen nggak? Coba tanyakan."
"Iya, nanti aku tanyakan kalau aku ketemu dengannya."
"Bener, ya, Ga. Tapi aku maunya yang cantik dan imut kayak Citra."
"Yang kayak Citra mah nggak ada. Dia limited edition."
"Ya sudah. Yang penting cantik dan imut juga. Bonusnya suge ya, Ga."
"Suge apaan?" Alis mata Angga bertaut.
"Susu gede."
"Dih, mesum banget. Udah minta dicariin jodoh. Banyak maunya lagi." Angga mendengkus kesal.
"Ya nggak apa-apa. Riques."
"Ya udah, iya."
***
Di kampus.
Citra dan Sisil melangkah keluar sama-sama dari kelas saat jam pelajaran telah usai.
"Sil, aku dengar dari anak-anak kamu berantem sama Lusi dan Rosa, ya?" tanya Citra.
Sisil mengangguk. "Iya. Mereka berdua nyebelin, Cit. Aku benci sama mereka."
"Berantemnya karena apa, sih?"
"Aku juga nggak ngerti. Cuma aku merasa, semenjak aku kuliah di sini dan dekat denganmu ... mereka kayak nggak suka. Masa aku kemarin-kemarin jadian sama Kak Arya, terus Lusi nggak terima. Dia malah bilang aku merebut pacarnya." Bibir Sisil mengeriting. "Padahal, kata Kak Arya saja dia nggak kenal dekat sama Lusi, cuma sama kamu saja dekatnya."
"Wah, benarkah? Jadi kamu sudah pacaran sama Kak Arya? Kok kamu nggak ada cerita sama aku? Kita 'kan temenan udah cukup lama." Citra merengut.
Sisil merangkul bahu Citra. "Bukan nggak mau cerita, cuma aku sama Kak Arya nggak mau nantinya jadi bahan gosip. Lagian baru seminggu kok."
"Seminggu itu udah lumayan lama lho. Tapi kamu kalau misalkan digangguin sama mereka lagi ... bilang saja sama aku."
"Kenapa musti bilang sama kamu?"
"Kebetulan, temannya Kakak ipar aku itu polisi. Nanti kalau mereka macam-macam biar ditangani."
__ADS_1
"Iya." Sisil mengangguk sambil tersenyum. "Padahal, kemarin tuh aku maunya mereka dipenjara saja tahu, Cit."
"Kok dipenjara?"
"Ya habis aku kesel saja. Mereka sudah berani main tangan. Tapi sayangnya kemarin tuh mereka minta maaf, jadi semuanya damai." Kemarin, saat Sisil meminta bantuan Gugun untuk melaporkan Lusi dan Rosa sebenarnya berjalan dengan baik.
Hanya saja dua gadis itu justru menangis, apalagi ketika kedua orang tua mereka dipanggil. Dan mereka pun meminta maaf kepada Sisil, mengajaknya berdamai dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan.
Namun nyatanya, kedua gadis itu masih sering menyindir Sisil. Terlihat sekali kalau mereka berdua memang tidak suka padanya. Padahal selama ini, Sisil merasa tak pernah melakukan kesalahan kepada mereka.
"Mudah-mudahan mereka berubah. Kayaknya itu si Lusi memang suka sama Kak Arya deh, mangkanya kayak gitu."
"Kayaknya sih iya. Tapi menurutku, mereka tuh lebih cocok sama Udin deh, Cit," ledek Sisil sambil tertawa.
Citra terkekeh. "Eh, ngomong-ngomong tentang Udin. Kok aku jadi kangen sama dia, ya. Bagaimana kabarnya. Aku masih heran kenapa Udin bisa pindah."
"Kan suamimu yang—" Ucapan Sisil mengantung kala mereka sudah tiba di halaman kampus. Dan ada Angga yang baru saja masuk dari gerbang lalu melangkah cepat untuk memeluk tubuh Citra.
"Dedek!" seru Angga, lalu mencium rambut kepala menantunya dengan lembut.
"Papa kok tumben ke kampusku? Ada apa?" Citra tampak heran. Perlahan dia pun meregangkan pelukan hingga sekarang Angga hanya merangkulnya saja.
"Mau jemput kamu. Memang nggak boleh Papa jemput?"
"Boleh aja, sih. Cuma kayaknya tumben aja."
Niat Angga memang ingin bertemu Citra, juga ingin bertanya tentang teman-temannya yang masih jomblo. Ya, hitung-hitung sekalian cuci mata juga datang ke kampus. Sudah lama Angga tidak mengunjungi tempat di mana dirinya menimba ilmu.
"Namaku Sisil, Opa ini pasti Papanya suami Citra, ya?" tebak Sisil. Sebab wajah Angga itu memang lah sangat mirip dengan Steven.
"Iya." Angga langsung menjabat tangannya. "Nggak usah panggil Opa, ketuaan. Panggil Kakak saja."
"Papa jangan genit. Nanti aku laporin Mama!" ancam Citra.
"Genitnya di mana, Dek?" Angga terkekeh sambil menatap wajah sang menantu. "Kan Papa cuma minta dipanggil Kakak. Emang salah? Steven saja kamu panggil Aa."
"Nggak salah. Cuma aneh saja. Sudah ayok pulang. Tapi aku mau ke kantornya Aa Ganteng, Pa."
"Ayok. Papa juga sekalian ingin bertemu Steven."
"Ayok bareng, Sil. Aku antar sekalian," ajak Citra seraya menarik lengan Sisil. Gadis itu menggeleng dan menahan kakinya.
"Nggak usah, Cit. Itu aku jemput Kakakku." Sisil menunjuk mobil Gugun yang baru saja berhenti. Pria itu pun turun lalu tersenyum.
"Siang Pak Angga, Nona Citra."
"Siang, Om," jawab Citra. "Om apa kabar? Sudah lama banget kayaknya aku nggak lihat Om."
"Saya baik, Nona. Kebetulan saya memang sedang sibuk sekali di kantor." Pandangan mata Gugun teralihkan pada perut buncit Citra. "Nona tambah cantik saja sekarang. Semoga Nona dan bayi sehat terus, ya? Saya bahagia melihat Nona bahagia." Tangan Gugun terulur hendak menyentuh perut Citra, tetapi segera dihalangi oleh Angga.
"Ah maaf, bukan maksud saya nggak sopan, Pak," ujar Gugun seraya menarik tangannya. "Saya sudah menganggap Nona Citra ini seperti keponakan saya sendiri."
__ADS_1
"Nggak apa-apa," jawab Angga santai. "Aku mengerti. Tapi nggak baik kalau menyentuh perempuan yang sudah bersuami. Nanti suaminya juga pasti marah."
"Iya." Gugun mengangguk. "Ya sudah, saya permisi duluan. Assalamualaikum."
"Walaikum salam," ucap Angga dan Citra berbarengan. Setelah melihat Gugun dan Sisil masuk ke dalam mobil, mereka pun masuk ke dalam mobil Jarwo.
"Si Gugun itu sudah menikah belum, Dek?" tanya Angga seraya menoleh kepada Citra yang berada di sampingnya. Mobil itu sudah melaju pergi.
"Belum."
"Perjaka?"
"Iya, kan belum menikah. Aku sendiri merasa kasihan sama Om Gugun, Pa."
"Kasihan kenapa?"
"Karena dia belum menikah. Padahal, dia pernah bilang padaku. Dia akan menikah kalau aku bahagia. Sekarang aku sudah bahagia, tapi dia belum menikah juga." Citra merengut lesu.
"Kalau sama Nissa dia mau nggak, ya, kira-kira?"
"Kok sama Mbak Nissa? Kata Juna, katanya Om Tian yang jadi Papi barunya."
"Iya, sih. Cuma barangkali saja, Gugun mau terus Juna berubah pikiran."
"Papa sendiri, merestui Om Tian nggak? Setuju nggak?"
"Papa setuju. Tapi terpaksa."
"Kok terpaksa. Karena Juna?"
"Iya." Angga mengangguk. Tak lama, ponselnya pun berdering di dalam kantong celana. Sebuah panggilan masuk dari Sindi. Gegas Angga mengangkatnya. "Halo, Ma."
"Papa ada di mana? Cepat pulang! Telurnya Janet dua-duanya netes!" seru Sindi dari seberang sana.
Bola mata Angga sontak berbinar. Dia pun mengulum senyum. "Serius, Ma? Alhamdulillah ... anaknya jantan semua, betina semua apa jantan dan betina?" tanyanya penasaran.
"Mana Mama tahu," ketus Sindi.
"Kok nggak tahu?"
"Ya nggak tahu lah, alat kel*minnya saja Mama nggak tahu di mana letaknya."
"Di bokong, di dekat lubang buat berak. Coba Mama lihat."
"Ih nggak ah, Mama lihat anaknya si Kevin saja geli. Udah cepat pulang. Si Kevin udah teriak-teriak tuh, minta dibawa ke dokter anaknya."
"Papa cepat pulang!" Terdengar suara teriakan Kevin dari seberang sana.
"Iya, Papa pulang sekarang." Angga menutup sambungan telepon. "Putar balik ke rumah, Wo. Cucuku sudah menetas," titahnya pada Jarwo yang mana dianggukan oleh pria itu.
...Guys, ada yang mau nyariin nama buat anaknya Kevin, nggak? 🤣...
__ADS_1