Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
313. Panas dingin


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok.


"Nissa! Tian!"


Degh!


Jantung Tian dan Nissa seperti ingin copot rasanya saat mendengar suara ketukan pintu dibarengi suara Angga yang memanggil.


Jika saat ini Tian sudah keluar, sedangkan Nissa justru belum. Mereka baru awal melakukan lagi setelah kejantanan Tian menegang, dengan posisi penyatuan Nissa duduk dari belakang pangkuannya.


'Ah Papa! Ngapain dia ke sini?! Ganggu aja, padahal lagi enak-enaknya ini,' batin Nissa kesal.


"Kalian lagi apa? Ayok keluar!" teriak Angga.


Tian hendak menarik miliknya, akan tetapi bokong pria itu ditahan oleh Nissa.


"Jangan dilepas, Yang. Aku belum keluar," pinta Nissa memohon. Kesal rasanya jika momen seperti ini terganggu. Tak lama kemudian, suara Steven yang menyeru diiringi dengan ketukan pintu.


Tok ... Tok ... Tok.


"Mbak! Buka pintunya! Kalian marahan kenapa? Apa Om Tian melukai hati, Mbak?!"


"Kamu kunci nggak pintunya?" tanya Tian berbisik kemudian memaju mundurkan kembali miliknya. Kali ini lebih cepat hingga membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.


Nissa tak ingat, pikirannya sudah tak jernih sebab melayang jauh mendapatkan sentuhan dahsyat itu. Bahkan dia sampai menjerit kala Tian makin menekan miliknya ke dalam sana.


"Aaww!"


Tian dari belakang langsung meremmas kedua dada istrinya yang ikut naik turun. Dengan harap-harap cemas dia masih goyang ngebor dan berusaha membuat istrinya tuntas.


Hanya dalam waktu beberapa detik saja, Nissa akhirnya mengerang kuat. Dia meremmas bokong sang suami saat dimana pelepasan itu keluar dengan sempurna.


Namun, seketika keduanya terperanjat kala mendengar suara pintu yang terbuka dengan sekali hentakkan.


Brak!!


"Astaghfirullah!" teriak Angga dan Steven secara bersamaan saat melihat bagaimana posisi mereka. Cepat-cepat Tian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Nissa.


Bukan hanya Nissa dan Tian saja yang malu, akan tetapi Angga dan Steven juga. Malahan Steven menutup mata Vano, khawatir bayi mungil itu melihat hal yang tidak pantas.


"Maaf-maaf, Papa nggak sengaja. Silahkan dilanjutkan!" Angga jadi panik dan salah tingkah sendiri. Cepat-cepat dia menutup pintu itu kemudian kabur bersama Steven.

__ADS_1


"Maaf, Yang. Sepertinya aku lupa mengunci pintu tadi," ucap Nissa dengan deru napas yang tersengal-sengal.


"Nggak apa-apa, Yang." Sesungguhnya sangat malu, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi, yang terpenting Nissa sudah berhasil keluar saja. Biar dia tak marah lagi. "Tapi kamu sudah keluar, kan?"


Nissa mengangguk, kemudian mencium pipi kiri suaminya.


"Enak rasanya?"


"Banget."


"Ayok kita mandi sebentar, terus cepat turun. Kasihan Juna, pasti nunggu tiup lilin."


Nissa terbelalak. Sekarang dia baru ingat jika ada pesta di rumahnya. "Astaga, aku sampai melupakannya. Kasihan Juna."


"Iya, kamu sih terlalu buru-buru. Jadi nggak ingat waktu," kekeh Tian. Dia perlahan mencabut miliknya, lalu menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi.


"Maafin aku, Yang. Habisnya kamu duluan yang menggodaku," ucap Nissa. Tubuhnya pelan-pelan diturunkan di bawah shower.


"Kapan aku menggoda? Perasaan aku diam saja."


"Kamu pakai kostum Superman itu, dia sangat menonjol dan membuatku panas dingin." Nissa meraba milik Tian. Dengan isengnya dia kembali memainkannya. Padahal sudah letoy, tapi tetap saja dia suka.


"Nanti malam lanjut lagi, ya?" pinta Nissa seraya berjinjit untuk mengecup bibir Tian.


"Boleh. Tapi paling di kamar mandi, kalau Juna sudah tidur."


"Di mana aja nggak masalah." Nissa tersenyum kemudian memeluk tubuh suaminya.


*


*


"Papa gila, nih! Katanya lagi marahan, kok mereka malah bercinta?!" omel Steven. Dia tampak emosi sekali. Selain itu dia juga merasa iri dan makin rindu dengan permainan panas itu. Sudah lama sekali dia berpuasa.


"Awalnya mereka memang marahan kok. Tapi mungkin sudah baikan makanya bercinta," jawab Angga. Mereka pun akhirnya sampai di halaman rumah lagi.


"Huh! Lagian mereka juga nggak lihat situasi. Anak lagi mengadakan pesta ulang tahun bisa-bisanya bercinta, kayak nggak ada waktu lain saja!" sungut Steven.


"Mungkin kepepet. Namanya orang naffsu 'kan susah ditahan, Stev," jawab Angga.


"Ah Papa belain mulu. Pasti yang mereka lakukan adalah paksaan dari Om Tian. Emang dasar dia player sih, makanya nggak tahu malu!" Terlihat jelas Steven begitu jengkel. Dia langsung melangkah menghampiri Citra. 'Tahu begini aku nggak ikut. Kasihan Elangku yang udah lama puasa. Awas saja Om Tian, kalau Citra sudah selesai ... aku akan bercinta jauh lebih hot daripada apa yang mereka lakukan,' batinnya.

__ADS_1


*


*


Semua orang di sana bernyanyi sambil bertepuk tangan. Memeriahkan acara pesta ulang tahun anak pertama Arjuna.


"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur! Kita 'kan doakan."


"Selamat sejahtera, sehat sentosa!! Selamat panjang umur, dan bahagia!"


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga ... sekarang juga ... sekarang juga!"


Nissa mengibaskan tangannya ke arah lilin, supaya apinya padam. Memang lilin itu sengaja tidak ditiup, sebab Angga yang memintanya. Lilin itu dinyalakan hanya untuk variasi saja.


"Sekarang potong tumpengnya, Jun," ucap Nella yang berbicara lewat mic. Dia yang memberikan instruksi.


Nissa mengambil pisau lalu meraih tangan Juna supaya bisa sama-sama menggenggamnya. Melihat itu, Abi yang berdiri di samping Tian langsung menyentuh punggung tangan Nissa. Ingin ikutan memotong tumpeng.


Sayangnya dengan cepat, Tian menepisnya. Tak rela rasanya Nissa bersentuhan meskipun hanya punggung tangan.


"Apa yang Pak Tian lakukan?! Aku 'kan Papinya Juna. Aku mau ikutan potong tumpengnya," gerutu Abi yang tak terima melihat sikap rivalnya.


"Masalahnya ada tangan Nissa, kan aku suaminya, bukan Bapak." Tian langsung mengenggam tangan Nissa. Tangan kecil Juna masih di bawah tangan Nissa.


"Aku tahu itu, tapi tetap saja Juna itu anak kandungku. Aku yang berhak ikut memotong tumpeng!" serunya. Dia mencekal tangan Tian, berusaha untuk menariknya akan tetapi ditahan oleh Tian.


"Juna maunya potong tumpeng bertiga saja sama Papi Tian. Papi nggak usah ikut," ujar Juna menatap Abi.


"Kok kamu tega, Jun? Kan Papi ini Papimu. Bukan dia!" Abi menunjuk wajah Tian dengan penuh kekesalan.


"Om Abi nggak usah begitu," ucap Nella menegur. Khawatir kalau sampai mereka berseteru. "Om boleh ikutan, tapi diatas tangan Om Tian saja."


"Nggak mau, memangnya Tian yang jadi Papinya Juna. Kan aku," tolaknya. Abi menepis kasar, bahkan mendorong tubuh Tian hingga mundur beberapa langkah. Baru saja dia hendak meraih tangan Nissa, tetapi langsung ditahan oleh Angga.


"Nggak usah ribet deh, Bi. Kamu diundang sama Tian juga masih syukur, malah aku maunya kamu nggak usah datang. Sekarang turuti apa yang Nella katakan atau kamu aku usir dari sini?!" ancam Angga sambil melotot.


Di samping Angga ada Steven yang tengah berkacak pinggang dan selanjutnya ada Sofyan yang memamerkan kepalan tangannya. Kedua saudara laki-laki Nissa seakan siap untuk menghajarnya.


'Ah menyebalkan sekali. Aku adalah orang yang membuat Juna lahir ke dunia. Tapi aku sama sekali nggak dihargai. Aku sumpahin kalian semua kualat, apalagi si Tian yang sok baik itu!' batinnya emosi.


...Lha, ga kebalik? Kan situ yang sok baik, Om 😏...

__ADS_1


__ADS_2