Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
36. Map coklat


__ADS_3

Merasa panik, cepat-cepat Gugun turun dari mobil kemudian menghampiri Citra, lantas dia pun tarik lengan gadis itu hingga membuatnya turun dari tanggul.


"Apa yang Nona lakukan?"


"Aku mau ikut Bunda dan Ayah!" teriak Citra seraya menghentakkan tangan Gugun untuk terlepas, dia naik lagi tetapi ditarik lagi oleh pria itu.


"Nona jangan lakukan itu, itu nggak baik!"


Perlahan tubuh Citra ambruk, dia tersungkur di aspal dan tak lama dia pun nangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak, rasa penasarannya yang belum terungkap membuatnya sangat kesal. Citra ingin tahu segalanya, tidak mau ada sebuah rahasia.


Gugun langsung berjongkok, lalu mengusap-usap punggung anak majikannya itu.


"Setelah Bunda dan Ayah pergi ... aku merasa hanya punya Om Ganteng dan Om Gugun saja di dunia ini. Tapi kenapa ... kenapa kalian merahasiakan sesuatu padaku? Om Ganteng nggak mau cerita dan sekarang Om Gugun juga?" Citra menatap sedih pada Gugun. "Kenapa Om Gugun tega padaku?"


"Rahasia apa? Kita nggak punya rahasia apa-apa, Nona." Gugun menggeleng cepat. Dia masih berusaha berkelit meskipun Citra sudah tahu kalau dia sebenarnya tahu sesuatu.


"Om Ganteng bilang dia merasa tersiksa karena nggak bisa menyentuhku, Om." Tangis Citra makin pecah, dia pun memeluk lutut. "Apakah itu alasan Om Ganteng selalu menjaga jarak padaku? Setiap aku menyentuhnya saja dia merasa risih, Apa itu ada kaitannya dengan sebuah janji yang Ayah ucapkan? Lalu ... janji apa itu?"


"Saya nggak tahu, itu 'kan mengenai Pak Steven dan Ayah Nona."


"Om tahu!" teriak Citra dengan emosi yang meluap-luap. "Aku yakin Om tahu segalanya, aku mohon jujur padaku."


Gugun membuang napasnya dengan berat. Jujur, dia merasa tak tega pada Citra yang seakan memohon padanya. Tetapi disisi lain dia merasa tak berhak untuk cerita.


"Aku mohon Om. Beritahu aku alasannya, aku ini putri Ayah satu-satunya ... aku musti tahu."


Pria berkumis tipis itu terdiam beberapa saat, lalu perlahan membuka suara. "Kalau Nona ingin tahu, lebih baik Nona cari tahu sendiri."


"Caranya?"


"Seminggu sebelum Nona dan Pak Steven menikah ... Pak Steven menanda tangani sebuah kertas yang diberikan oleh Pak Harun. Kertas tersebut dimasukkan ke dalam map berwarna coklat. Jawabannya ada di sana," terang Gugun.


"Terus aku mencari map itu di mana, Om?"

__ADS_1


"Di apartemen Pak Steven, dia pasti menyimpannya."


"Dih, kenapa Om nggak beritahu langsung saja sih? Kenapa harus mencari map. Kan pusing." Belum apa-apa Citra sudah mengeluh duluan.


"Saya nggak berhak cerita Nona, soalnya itu di antara Pak Danu dan Pak Steven."


"Eemm ... ya sudah deh." Citra berdiri lalu menyeka kedua pipinya, lima jari membereskan rambut. Setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil. Dan Gugun juga ikut masuk. Setidaknya ada setitik jawaban dari Gugun, tidak seperti Steven yang bungkam.


"Terus Om, maksudnya nggak boleh menyentuh itu apa? Apa aku dan Om Ganteng nggak dibolehkan bersentuhan? Jadi setiap apa pun kulit kita nggak boleh nempel gitu? Kan susah, Om," tanya Citra bingung. Terlebih dia juga memikirkan kalau nanti malam akan mengajak Steven kembali berciuman.


"Maksudnya nggak boleh menyentuh itu berhubungan badan, Nona," jelas Gugun.


"Berhubungan badan itu apa?"


"Ah bagaimana ya menjelaskannya." Gugun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berpikir sejenak untuk menjelaskan semua itu, tetapi supaya tak berkesan jorok. "Eeemm ... apa Nona tahu hal yang membuat perempuan hamil?"


"Menurut buku IPA yang pernah aku baca sih katanya kalau sp*rma bertemu dengan sel telur, kan?"


Gugun mengangguk. "Iya, sp*rma itu adanya di pria dan sel telur adanya di wanita. Kalau bisa bertemu sampai hamil ... itu namanya berhubungan badan."


***


Setelah sampai di apartemen, Citra langsung mandi lalu makan siang sebab ada kurir yang mengantarkannya dari Steven.


Pria itu memang sangatlah perhatian. Hanya sayangnya sikapnya kadang berubah-ubah. Mungkin memang begitulah sikapnya dari lahir.


Seusai makan siang, dia pun berkeniatan mencari kertas yang Gugun maksud. Rasa penasarannya itu tidak boleh dibiarkan begitu saja.


Sejujurnya ada rasa takut tersendiri, mungkin terlihat tidak sopan masuk ke dalam kamar Steven. Terakhir kali saat tahu Citra masuk kamarnya, Steven terlihat tak suka dan marah-marah.


"Maaf ya, Om. Aku mau masuk ke dalam. Siapa suruh Om merahasiakannya dariku." Citra pelan-pelan menurunkan handle pintu dan berdo'a supaya tidak dikunci.


Ceklek~

__ADS_1


Helaan napas lega itu langsung Citra keluarkan saat tahu pintunya tidak terkunci. Cepat-cepat Citra masuk ke dalam sana, lalu menutup pintunya lagi.


Matanya berkeliling pada kamar itu, dan langsung menjatuhkan pandangannya pada tiga laci pada nakas. Biasanya orang-orang akan menaruh sesuatu benda yang sering mereka gunakan di dalam sana, dan mungkin saja di dalam sana ada.


Citra mendorong keluar laci yang pertama. Banyak sekali beberapa kembar kertas dan langsung dia baca. Tetapi tak ada yang mencurigakan.


Laci kedua, isinya beberapa arloji. Tapi kelihatannya semuanya mati.


Laci ketiga, isinya beberapa kotak kado. Entah apa isinya di dalam sana. Tetapi Citra sendiri tak berani buka sebab nanti akan ketahuan.


Tidak mungkin juga rasanya jika kertas yang Steven tanda tangani dia buat kado seperti itu. Pengangguran sekali Steven.


"Siapa yang ngasih Om kado, ya? Kok nggak dibuka. Apa nggak penting isinya?" Citra mendorong mundur semua laci itu dan membereskannya.


Sekarang, Citra berpindah pada lemari hayu besar berwarna hitam. Ada enam pintu. Sepertinya Citra akan susah mencarinya.


Dia buka semua pintu, lalu melihat apa saja yang ada di dalam sana. Kebanyakan beberapa pakaian. Stelan jas bergelantungan, baju santai dan masih banyak lagi.


"Duh mana sih map itu, aku kan cuma mau lihat doang." Citra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengusap keringat pada dahinya yang baru saja mengalir.


Baru saja sebuah laci kecil yang berada di dalam sana Citra dorong. Belum sempat dia melihat isi di dalamnya apa, tetapi terdengar suara seseorang memanggilnya dari luar kamar.


"Citra!" Pekikkan itu sontak membuat Citra terperanjat. Dia tahu betul suara itu milik siapa, tetapi anehnya kenapa pria tampan itu pulang? Padahal dia seringnya pulang sore.


Citra berdecak, lalu segera mendorong kembali laci itu dan menutupi semua pintu lemari yang terbuka.


Matanya seketika melotot kala mendengar suara handle pintu yang diturunkan. Merasa panik dengan debaran jantung di dada, Citra lantas berbaring di lantai begitu saja lalu menggelindingkan tubuhnya hingga masuk ke dalam kolong tempat tidur.


Ceklek~


Tindakan Citra yang mengumpet tepat waktu, kini pria tampan itu sudah masuk ke dalam. Terlihat dari bawah, Steven tengah melangkah menuju kasur, lalu duduk sembari membuka sepatunya.


'Kok tumben Om pulang jam segini? Apa dia sengaja pulang cepat karena ingin mengajakku ciuman?' batin Citra sambil menelan salivanya dengan kelat.

__ADS_1


...dih, pede banget kamu, Cit 🤣 Om Steven pulang siang pasti mau ngomelin kamu tuh....


Hadiah dan Vote boleh dong dibagi buat Citra, biar semangat cari map ✌️ 🤭


__ADS_2