Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
330. Dedek Bayi diperut Mami


__ADS_3

"Kamu pulang saja ke rumah, Stev," pinta Angga yang menoleh ke arah Steven. "Nanti besok ke sini lagi sambil ajak Mama, Citra dan si kembar. Beritahu Sofyan juga, ya?"


Pria berlesung pipi itu langsung mengangguk. "Iya, Pa. Papa sendiri mau ikut menginap di sini?"


"Iya." Angga mengangguk. "Papa mau ikut temenin Nissa."


"Ya sudah, aku pulang dulu." Steven meraih tangan Angga untuk mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum." Setelah itu dia pamit dan berlalu pergi.


"Walaikum salam."


*


*


Nissa sudah dipindahkan ke salah satu ruang perawatan VIP. Wanita itu juga baru saja mengerjapkan matanya, lalu menatap sekeliling dan memperhatikan Angga yang tengah duduk di sofa sambil bermain ponsel.


"Pa, kok Papa ada di sini? Dan kenapa aku di rumah sakit?" tanya Nissa. Dia yang hendak menarik tubuhnya untuk duduk segera dicegah oleh Angga yang berlari menghampiri.


"Berbaring saja, jangan duduk," titah Angga lalu membantu Nissa berbaring diposisi semula.


"Tapi kenapa aku di rumah sakit? Dan di mana Tian?" Nissa menatap pintu kamarnya.


"Kamu pingsan tadi, terus Tian membawamu ke sini," jawab Angga.


"Sekarang Tiannya ke mana? Dan Papa ke sini sambil ajak Juna, nggak?"


"Iya." Angga mengangguk. "Juna Papa ajak dan sekarang dia lagi pergi cari bubur sama Tian."


Ceklek~


Baru saja dibicarakan, dua laki-laki beda generasi itu akhirnya datang dengan membawa tiga bungkus bubur pada kantong plastik yang tian tenteng.


"Alhamdulillah, Mami udah bangun. Pasti itu karena Dedek Melatinya laper, ya?" tebak Juna, dia berada dalam gendongan Tian.


Dia terlihat sangat girang dan bahagia sekali saat mengetahui Nissa hamil. Rasanya juga tak sabar ingin cepat melihat adik bayinya lahir.

__ADS_1


"Dedek Melati?!" Kening Nissa tampak mengernyit heran.


Anaknya itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur di mana Nissa berbaring, lalu duduk dan perlahan tangan mungilnya mengelus perut sang Mami.


"Di sini ada Dedek Melati. Juna jadi nggak sabar ingin melihatnya, Mi. Ayok keluarkan Dedek Melatinya," rengek Juna. Dia menyibak baju pasien yang Nissa pakai pada area perut. Terekspos jelas perut wanita itu dan Juna langsung membungkuk untuk dapat menciumnya.


"Maksudmu apa, sih, Jun? Mami geli nih!" kekeh Nissa yang merasa kegelian, sebab Juna menciumi perutnya bertubi-tubi. Tian yang melihatnya jadi ikut kepengen, tapi tidak berani untuk melakukan hal seperti Juna. Alhasil dia hanya mengusap-usapnya saja.


"Kamu hamil, Yang. Tiga Minggu," ujar Tian. Tangan sebelahnya terulur menuju nakas, untuk menaruh plastik yang berisi bubur ayam yang sejak tadi dia pegang.


Nissa terbelalak, akan tetapi tampak jelas ada binar kebahagiaan di manik mata hitamnya. "Serius, Yang? Aku hamil? Kita akan punya anak?"


"Serius. Kamu senang, nggak?" Tian perlahan mendudukkan bokongnya di tempat tidur, lalu membelai pipi kanan Nissa yang sudah merona. Sedangkan Juna masih sibuk menciumi perut sang Mami.


"Seneng banget dong, Yang. Aku malah nggak menyangka bisa secepat ini." Nissa tersenyum manis.


"Kita 'kan rajin bikin, Yang." Tian mengecup lembut kening istrinya.


"Kamu harus berterima kasih sama Papa lho, kan Papa ikut andil," ucap Angga. Dia menarik lengan Juna supaya menghentikan aksinya, dilihat Nissa tampak gelisah menahan rasa geli yang menggelitik. Dan bukan hanya sekedar cium, Juna juga menjilatinya sekarang.


"Semoga kamu selalu bahagia, sehat-sehat begitu pun dengan cucu baru Papa." Kemudian Angga mengelus perut Nissa, lalu menggendong Juna.


"Ih Opa! Juna 'kan lagi ciumin Dedek Melati!" omel Juna yang tampak marah. Meskipun perut Nissa terasa asin lantaran belum mandi dan berkeringat, nyatanya Juna tak peduli.


"Kasihan Mamimu, dia enggap, Jun. Lagian Dedek bayimu itu masih kecil, jangan diciumin mulu. Kasihan," tegur Angga.


"Kenapa memangnya?" tanya Juna dengan bibir yang mengerucut. Kedua tangannya melipat di atas dada.


"Masih rentan, takutnya dia kesakitan di dalam sana."


"Kok bisa sakit? Kan Juna cuma nyium, bukan mukul. Opa aneh deh!" Juna mendengkus.


"Sama saja, kamu nyiumnya juga pakai tenaga. Mana sambil jilat-jilat lagi. Kasihan perut Mamimu bau jigongmu, Jun."


"Mana mungkin Juna bau jigong. Juna kan rajin gosok gigi."

__ADS_1


"Malam ini kamu pasti belum gosok gigi. Sekarang kita ke kamar mandi dulu." Angga melangkah menuju kamar mandi. Mengantar Juna gosok gigi, cuci muka, tangan, kaki dan juga buang air kecil.


Setelah selesai dia kembali lalu perlahan membaringkan Juna di atas kasur busa yang berada di bawah, di sebelah kanan tempat tidur Nissa


"Juna tidurnya mau sama Mami, Opa! Nggak mau di sini," tolak Juna seraya menarik tubuhnya untuk berdiri. Kepalanya menggeleng cepat. "Juna mau sambil peluk Dedek Bayi di perut Mami."


"Juna biar sama aku, Pa, di sini." Nissa menggeser tubuhnya, memberikan ruang di samping kanan untuk Juna. Angga pun menurut, akhirnya mengendong sang cucu lalu membaringkannya di atas sana.


Juna langsung meringkuk dan memeluk tubuh Nissa. Kedua matanya perlahan terpejam.


"Papa mau bubur, nggak?" tawar Tian seraya mengambil plastik bubur dan memberikan kepadanya Angga. "Aku beli tiga sengaja buat Papa satu."


"Boleh deh, kebetulan Papa emang laper." Angga mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi, kemudian mengambil satu cup bubur itu.


Dia makan sambil duduk di sofa, Tian juga memberikan segelas air putih untuknya yang diletakkan di atas meja.


"Kamu juga harus makan, Yang. Malam ini kamu belum makan." Tian menarik kursi kecil di dekat tempat tidur, kemudian membuka penutup cup bubur dan menaruh sendok di atasnya.


"Kamu juga belum makan, sama." Nissa membuka mulut saat sang suami memberikan suapan yang pertama. Setelah itu dia melihat Tian menyuapi dirinya sendiri.


"Ini aku makan. Kita makan bareng." Tian mengelus rambut Nissa dengan lembut dan tersenyum manis.


Makin sayang dan cinta saja Tian pada wanita itu, apalagi kebahagiaannya sebentar lagi akan lengkap jika bayi yang ada di dalam kandungan Nissa lahir dan Tina terbukti adalah Silvi.


"Oh ya, bagaimana dengan Tina, Yang? Tadi kamu jadi ke panti?" tanya Nissa. Tiba-tiba dia teringat bayi itu.


"Besok aku ke pantinya. Biar nanti sekalian aku ke rumah Pak Dono, kalau terbukti Silvi adalah Tina," sahut Tian.


"Maksudnya nanti kamu mau ngambil Silvi dari mereka?"


"Iya." Tian mengangguk cepat. "Nggak apa-apa 'kan, kalau semisalnya Tina tinggal bareng sama kita, Yang? Nanti aku sewa babysitter untuk bantu mengurusnya."


"Aku nggak masalah, Yang, Tina tinggal sama kita. Aku juga mau mengurusnya," jawab Nissa dengan tulus. "Tapi masalahnya ... apa Pak Dono dan Bu Della akan mengizinkan, kalau kita mengambil Silvi?"


...Iya, lho, Pi, gimana itu? 🙈...

__ADS_1


__ADS_2