
"Om kurang tahu. Om juga nggak tahu cara membedakan mereka jantan atau betina," jawab Tian.
"Kok bisa nggak tahu?" tanya Baim heran. "Bukannya kata Juna Om ternak lele sudah lebih dari 5 bulan, kan?"
"Iya. Tapi Om 'kan cuma beli bibitnya, Im. Terus ngasih makan sampai besar."
"Bibit itu bayi lele ya, Om?" tanya Atta.
"Iya." Tian mengangguk.
"Ya berarti itu ada Ibunya dong, Om. Masa bayi lahir sendiri tanpa Ibu 'kan aneh."
"Iya juga sih, Om juga bingung." Kening Tian mengerenyit. Selama usaha ternak lele, dia belum terpikirkan ke arah sana.
"Itu Om beli bibitnya di mana?" tanya Baim.
"Sama temen Om."
"Coba tanya sama dia, cara membedakan lele jantan atau betina itu bagaimana."
"Iya. Nanti Om tanya kalau ketemu."
"Terus, kalian nggak jadi minta lelenya?" tanya Juna.
"Jadi dong." Atta dan Baim menyahut secara bersamaan. "Tapi boleh, kan?" Keduanya menatap Tian.
"Boleh." Tian mengangguk.
Langkah mereka pun berhenti di parkiran. Joni membukakan pintu belakang mobil Tian, dan ketiga bocah itu langsung masuk ke dalam.
"Papa pulangnya diantar sopirku nggak apa-apa, kan?" tanya Nissa menatap Angga.
"Iya, nggak apa-apa." Angga mengangguk lalu tersenyum.
Nissa memberikan kunci mobilnya kepada Joni, sebab tadi datang bersama Angga dengan mobil.
Setelah itu Nissa dan Tian masuk ke dalam mobil hitam milik Tian. Tetapi dia lah yang mengemudi, karena kasihan pada Tian.
***
30 menit saat sudah sampai rumah, Juna dan teman-temannya langsung berlari menuju kolam renang yang berada di halaman belakang.
"Jangan lari-lari! Awas kepleset!" teriak Nissa. Tetapi ketiga bocah itu lari sangat cepat sampai sudah menghilang dalam pandangan Nissa. Dia lantas turun dari mobil kemudian menatap satpam rumah yang tengah membukakan pintu mobil untuk Tian. "Bapak tolong awasi anak-anak di kolam lele, khawatir kalau kecebur," pinta Nissa. Pria berseragam hitam itu mengangguk.
"Baik, Bu." Dia lantas berlari menyusul Juna dan kawan-kawan.
"Mau makan sekarang nggak, Yang? Tadi dikasih obat sama Dokter, kan?" tanya Nissa seraya mendekat ke arah Tian.
"Dikasih. Tapi aku mau makan di kamar, Yang. Kepalaku pusing mau rebahan," sahut Tian sambil menyentuh kepala belakangnya yang terasa nyeri. "Eh, tapi Juna gimana itu? Ajak saja suruh makan dulu sama aku." Tian tentu ingat, jika semua aktivitasnya harus dilakukan bersama Juna.
"Juna biar makan sama temen-temennya. Nanti aku pesan makan buat mereka." Bahu Nissa sudah menjadi sandaran lengan Tian. Dia memapah pria itu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tapi nanti kamu bilang dulu sama Juna ya, Yang. Aku takut Juna marah sama aku."
"Iya, tenang saja. Kita ke kamar mana ini?" tanya Nissa. "Kamar utama belum beres, Yang."
"Kamar tamu yang satunya lagi, Yang. Aku tadi sudah pesan tiga ranjang di toko furniture. Tadi sempat menelepon toko furniture saat dijalan mau jemput Juna. Tapi mereka kirimnya nanti malam, karena banyak pesanan katanya."
"Kamu belinya tiga? Banyak amat, buat siapa saja?"
"Kan kamar di rumahku ada tiga, eh empat sama kamar pembantu yang di bawah. Yang tiga di atas mau aku ganti semua, karena takutnya roboh lagi pas kita bercinta."
"Kamar Bibi pembantu nggak sekalian kamu belikan? Nanti dia pas tidur roboh lagi, Yang."
"Kalau yang itu udah ganti, pas dia awal masuk kerja, Yang."
"Oh gitu. Tapi belinya yang kuat, Yang, ranjangnya. Biar nggak roboh lagi." Kedua pipi Nissa seketika merona. Mendadak dia terbayangkan pergulumun panas mereka tadi pagi. Begitu memuaskan sekali, meskipun suaminya menjadi korban.
"Iya, aku beli yang kualitas nomor satu. Biar nanti seguncang apa pun aku mengguncangmu ... dia nggak akan roboh." Tian mengelus pipi kiri Nissa dengan ibu jarinya, lantas mengecup mesra bibir merah muda itu.
Cup~
Langkah mereka tak terasa sudah sampai kamar, Tian langsung menutup pintu.
"Ah, kok aku jadi kepengen lagi ya, Yang," kata Tian yang mendadak merasakan miliknya mengeras di dalam celana.
"Kamu 'kan lagi sakit. Terus ranjangnya juga belum datang ditambah ada Juna." Nissa membantu Tian berbaring di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya.
"Iya, sih. Tapi nyusu sebentar nggak masalah kali, Yang. Sebelum aku makan." Tian menahan lengan Nissa saat wanita itu hendak melangkah pergi.
"Nambah lagi nggak apa-apa, kan? Katanya kamu milikku seutuhnya."
"Ya sudah, boleh. Tapi sebentar saja, ya? Habis itu kamu makan dan minum obat. Aku juga belum makan."
"Iya." Tian mengangguk. "Bukain dong kancingnya," pintanya yang tengah mencoba melepaskan kancing depan kemeja Nissa.
Sang istri menurut. Dia lantas membuka tiga kancing atas kemeja lalu menyembulkan salah satu dadanya di depan wajah Tian yang seketika merona. Lantas dia mendekatkan dada itu dan sang suami langsung melahapnya dengan penuh naffsu.
'Ini sangat nikmat,' batin Tian sambil menelan ludah.
***
"Wah, banyak ya, Jun! Lelenya Papimu!" seru Atta yang begitu antusias memperhatikan kolam renang yang berisi lele.
"Iya lho, gede-gede juga," tambah Baim.
"Iya dong. Punya siapa dulu? Papi Tian dilawan." Juna tersenyum dengan bangga, lalu menoleh pada satpam rumah yang baru saja datang menghampirinya. "Aku mau kasih lele makan, Om. Mana peletnya?"
"Sebentar, Dek." Satpam itu masuk ke sebuah gudang berukuran sedang. Di situ bukan hanya tempat penyimpanan pelet, tetapi vitamin, jaring ikan dan juga peralatan lainnya untuk proses jika lele itu sudah panen.
Tak lama dia pun kembali dengan membawa ember kecil berisi pelet, kemudian memberikan kepada Juna. Dia dan kedua temannya langsung mengambil pelet itu dan menyebarkan ke arah kolam.
Lele-lele yang mungkin semingguan lagi akan panen itu langsung berebutan menyerbu pelet. Masing-masing memakannya.
__ADS_1
"Lele kok nggak sama kayak ikan cupaang ya, Jun. Meskipun disatukan mereka nggak berantem," kata Atta sambil melompat-lompat. Dia merasa senang sekali dapat melihat peternakan lele milik Tian.
"Iya juga, ya. Mereka akur," kata Juna.
"Kamu pernah makan ikan lele belum, Jun?" tanya Baim.
"Udah. Aku sering diajak Pakdeku main ke rumah temannya yang ternak lele. Terus kami makan bersama di sana."
"Rasanya enak nggak?" tanya Baim penasaran.
"Enak. Gurih."
"Kalau lelenya Papimu sudah pernah coba?"
"Belum." Juna menggeleng.
"Aku juga pernah makan lele, tapi beli ditukang pecel lele." Atta memberitahu tanpa ditanya. "Tapi kayaknya enak nih, siang-siang makan lele, Jun."
Tiba-tiba, perut ketiganya pun berbunyi tanda lapar. Dan berbarengan menyentuh perutnya masing-masing.
"Tuh, pas banget aku juga laper," kata Atta sambil terkekeh.
"Iya, aku juga laper," balas Baim. "Tapi kayaknya aku mau makan sama lele, Jun."
"Memangnya siang bolong begini tukang pecel lele buka?" tanya Juna.
"Jangan beli ditukang pecel lele. Itu 'kan lele banyak." Baim menunjuk ke arah kolam.
"Maksudnya, kalian mau makan lele Papiku?" tebak Juna yang mana membuat kedua temannya mengangguk cepat. "Boleh aja, tapi bayar, ya?"
"Kok bayar?" Baim dan Atta berucap bersamaan. Bola mata mereka melebar sempurna.
"Kita 'kan teman, Jun," tambah Atta. "Kamu juga sering makan di rumahku."
"Iya. Nggak boleh perhitungan sama temen, Jun," tegur Baim. "Kamu juga 'kan sering ngabisin makanan kita."
"Iya." Atta mengangguk cepat.
"Iya, aku tahu. Tapi 'kan aku sudah bilang pas di sekolah kalau lele ini punya Papiku. Dan Papiku ternak lele itu usaha. Masa kalian tega ... buat Papiku bangkrut?" tanya Juna. "Kasihan lho, Papiku baru aja kaya. Masa dia kere lagi."
Satu lele akan dibawa pulang oleh masing-masing temannya. Bagi Juna, itu sudah cukup Tian berbaik hati. Tetapi kalau mereka meminta lagi untuk dimasak, Juna tak mau. Sebab nantinya lele Tian akan berkurang banyak.
Kedua temannya itu langsung merogoh kantong celananya. Dan menemukan uang 50 ribuan. Masing-masing langsung memberikan kepada Juna. Hati mereka tersentuh mendengar apa yang Juna katakan. Tidak tega kalau gara-gara makan lele milik Tian, kemudian membuat pria itu bangkrut.
"Nih, Jun, segini cukup, kan?" tanya Atta.
"Cukup." Juna mengangguk dan menerima uang bertotal seratus ribu itu. "Ya sudah, tunggu sebentar ... aku bicara sama Papi dulu, ya!" serunya kemudian berlari meninggalkan mereka.
Juna masuk ke dalam rumah, kemudian menaiki anak tangga.
'Papi pasti seneng nih! Sebelum panen lelenya sudah laku dijual,' batin Juna.
__ADS_1
...Pasti seneng lah, Jun. kamu 'kan anak kesayangannya🤣 besok-besok kamu buka usaha pecel lele aja sekalian, seru tuh kayaknya 😂...