Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
118. Kejam sekali kepada kita


__ADS_3

"Ma ... Mama kenapa? Kok kayak gelisah gitu?" tanya Angga seraya mengelus punggung tangan Sindi.


Mereka sekarang berada di dalam mobil menuju rumah Fira dan sejak tadi Sindi terlihat seperti mencemaskan sesuatu.


Sindi menggeleng. "Nggak apa-apa. Mama cuma lagi cari kata-kata yang pas buat nanti. Supaya nggak nyakitin Fira dan Mamanya."


"Nanti Papa bantu ngomong, Mama tenang saja." Angga tersenyum manis, lalu mengecup pipi kiri Sindi. "Oh ya, Ma. Bagaimana kalau besok kita adakan pesta untuk Steven dan Dedek Gemes?"


"Pesta apa, Pa?"


"Pesta pernikahan. Supaya banyak yang tahu kalau Steven sudah menikah."


"Memang harus pakai pesta segala? Kan mereka sudah menikah?"


"Dih, ya haruslah. Steven 'kan anak bungsu kita dan katanya mereka menikah juga dadakan. Papa yakin mereka pasti belum dipestain."


"Tapi bagaimana perasaan Fira nanti, Pa? Padahal pesta pernikahan itu untuk dia dan Steven. Cincin untuk mereka sudah ada dan Fira juga sudah fitting gaun pengantin."


Sangking ngebetnya Fira ingin dinikahi, sebelum Steven mengalami kecelakaan—dia terus merengek meminta untuk melakukan fitting gaun pengantin. Sindi yang merasa tak tega akhirnya menurutinya. Kalau masalah jas untuk Steven tentu Sindi mengetahui ukurannya, jadi saat itu Steven tidak diberitahu sama sekali.


"Fira mulu, apa-apa Fira. Menantu kita Dedek Gemes. Mama ini gimana, sih?!" Angga mendengkus kesal. Entahlah, setiap kali istrinya itu mengatakan nama Fira, rasanya sebal. "Yang harusnya difikirin itu perasaan Dedek Gemes lho, Ma! Dia dinikahi Steven sejak 3 bulan yang lalu tapi baru kemarin dikenalin sama kita!"


Mendadak, emosi di dalam dada Angga memuncak, tetapi dia masih berusaha mengontrol nada bicaranya supaya tak terlalu keras. Takut menyakiti Sindi.


Kalau sudah menyangkut Citra, dia begitu tersinggung. Angga menginginkan bukan hanya dia saja yang menyayangi Citra, tetapi semua orang.


Air mata yang pernah Citra jatuhkan saat bertemu di depan tempat pemakaman umum membuat hati Angga tersentuh dan dia tak mau hati gadis itu tersakiti lagi.


"Dan ... perlu diingat, setidaknya Fira masih punya Ibu! Sedangkan Dedek Gemes ... dia itu yatim piatu, Ma. Om-omnya juga jahat."


"Iya iya, Mama tahu. Mama minta maaf deh. Papa jangan ngambek." Sindi menatap Angga yang tengah merengut, mendadak perasaannya jadi tak enak.


"Ngapain minta maaf ke Papa. Minta maaf ke Dedek Gemeslah. Secara nggak langsung Mama udah nyakitin dia, lho. Kalau dia denger pasti sudah nangis." Angga bersedekap lalu memalingkan wajahnya.


Sindi hanya menghela napasnya dengan berat.


*


*

__ADS_1


*


Tak lama, mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Tidak terlalu kecil dan besar, berarti sedang. Warnanya putih dan ada gerbang kecil di depan.


Di samping rumah tersebut ada 15 deretan rumah kontrakan. Rumah kontrakan itu adalah milik Sindi dan kebetulan Mamanya Fira menjadi pengurusnya. Jika ada yang mau mengontrak atau membayar uang sewa langsung kepadanya, barulah setelah itu dikirim ke Sindi.


Fira yang tengah duduk di teras yang memang sengaja sejak tadi menunggu langsung segera berjalan cepat ke arah gerbang, lalu membukakannya. Dia tentu kenal mobil Angga sebab sering dipakai oleh Sindi.


"Selamat sore Om dan Tante, akhirnya kalian sudah sampai juga," kata Fira sambil tersenyum manis. Dia langsung memeluk Sindi yang baru saja turun dari mobil.


"Selamat sore juga, Fir," jawab Sindi. "Kamu cantik sekali." Sindi memperhatikan Fira dari bawah sampai atas.


Gadis itu mengenakan dress brukat berwarna pink tanpa lengan. Panjang di atas lutut. Wajahnya memakai full make up.


Sebenarnya bukan cantik yang menonjol dari Fira, tapi seksi. Pakaian di tubuhnya itu begitu ngepres hingga lekukan tubuhnya pun terlihat, juga dengan belahan dada.


"Terima kasih Tante, itu Tante bawa apa?" Fira menunjuk apa yang ditenteng Bejo. Sebuah kantong merah dan paperbag besar.


"Itu buah dan ada baju untukmu."


Mata Fira langsung berbinar. "Tante merepotkan, terima kasih, lho."


"Ayok masuk Om dan Tante." Fira berjalan lebih dulu, kemudian disusul oleh Sindi, Angga dan Bejo.


"Selamat sore Tante Sindi! Selamat sore!"


Angga mendadak menghentikan langkahnya di depan pintu, begitu pun dengan Bejo. Sedangkan Sindi dan Fira sudah duluan masuk ke dalam.


"Kayak ada yang ngomong tadi, siapa, ya, Jo?" tanya Angga seraya menoleh ke arah Bejo yang berada di sampingnya.


"Mungkin—"


"Saya yang memanggil! Saya!"


Angga langsung menoleh ke sumber suara. Dan seketika keningnya mengerenyit sebab asal suara itu ternyata dari burung Kakaktua yang berada di dalam sangkar. Menggantung di teras rumah. Warnanya putih bersih dengan jambul berwarna kuning. Cukup besar dan terlihat cantik.


"Tadi kau yang menyapa?" tanya Angga penasaran. Dia pun berjalan mendekati sangkar burung itu. Bahkan menurunkannya lalu meletakkan di atas meja.


"Iya! Betul iya!" kata burung itu sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Kau burung punya siapa? Fira?"


"Bukan!" Burung itu menggeleng.


"Lalu?"


"Punya si Hidung Belang!"


"Siapa si Hidung Belang?"


"Tian!"


"Siapa Tian?"


"Pacarnya Fira!"


"Pacarnya Fira?" Kening Angga mengerenyit. "Memangnya Fira punya pacar?"


"Iya! Punya! Mereka juga sering—"


"Papa!" teriak Sindi yang berdiri di depan pintu, dia sampai menyela ucapan burung Kakaktua. "Kenapa malah mainin burung? Bukannya masuk?!"


Angga langsung menoleh ke arah Sindi, lalu mengangguk patuh. "Iya, Papa masuk." Cepat-cepat Angga menyusul Sindi yang masuk ke dalam rumah lalu menuju ruang tamu kecil.


"Silahkan duduk Pak Angga," kata seorang wanita berumur 50 tahun. Dia bernama Nurul, Mama kandung Fira. Pakaian yang dipakai dia sekarang sama persis dengan apa yang dipakai Fira.


Angga mengangguk, lalu dia pun duduk di sofa panjang di samping Sindi. Fira dan Nurul juga duduk di sofa panjang di samping mereka.


Di atas meja, banyak sekali cemilan. Dari mulai kacang goreng, brownies pandan, keripik singkong dan pisang goreng. Semuanya tersaji rapih di atas meja. Ada dua cangkir teh dan kopi juga, masih banyak uap yang terlihat.


"Jadi ... kedatangan kalian ada perlu apa?" tanya Nurul penasaran. Fira yang duduk di sampingnya itu sudah tampak merona sekali, bahkan dia tak ada henti-hentinya untuk terus tersenyum. "Apa mau membahas masalah pernikahan Steven dan Fira?"


"Papa dan Mama gila, ya?" Terdengar suara bariton seseorang yang berada di ambang pintu. Suaranya yang cukup menggelegar bagai toa itu lantas membuat mereka berempat menoleh.


Dia adalah Steven. Pria tampan itu berdiri bersama Citra yang dia rangkul bahunya. Segera keduanya masuk ke dalam. Tetapi sebenarnya Citra masuk karena tertarik oleh lengan Steven, bukan atas keinginannya sendiri.


"Bukankah sudah jelas kalau aku dan Citra sudah menikah? Kenapa kalian kejam sekali kepada kita?!" teriaknya marah. Rahang Steven tampak mengeras. Sorotan matanya begitu tajam menatap Sindi dan Angga.


...Dih, apaan sih, Om. Dasar orang gila 🙈 dateng-dateng bukannya ngucapin salam tapi malah marah-marah....

__ADS_1


...Kasihan Mama Sindi sama Opa Angga 🤧...


__ADS_2