
"Dedek Gemes? Kumis Lele? Siapa mereka, Pa?" tanya Steven bingung.
"Citra, Stev. Kalau Citra kamu pasti mengenalnya 'kan?" Sindi ikut menyahut.
"Citra?" Steven terdiam sambil mengingat-ingat, juga kembali memandangi Citra yang masih berurai air mata. Namun sayang, nama itu tak ada di dalam ingatannya, malah adanya orang lain.
"Bagaimana? Apa kamu ingat, Stev?" tanya Angga.
"Pelan-pelan saja, Pak Steven. Jangan terlalu dipaksakan," tegur Dokter yang langsung mendekat. Sebab dilihat pria itu tengah menyentuh kepala dan dia merasa sedikit pusing.
"Aku nggak mengingatnya, aku juga nggak kenal siapa Citra," ujar Steven.
"Hiks!" Citra menyentuh dadanya, sesak sekali di dalam sana. Perlahan kakinya melangkah, sambil membelok troli si kembar, tapi dengan cepat ditahan oleh Sindi yang memegang tangannya.
__ADS_1
"Jangan nangis, Cit," pinta Sindi pelan.
"Kalau si kembar anakmu bagaimana, Stev?" Angga terlihat belum menyerah. Dia segera mendorong troli si kembar dan mendekatkan ke ranjang Steven. Juga mengambil Vano yang baru saja membuka matanya. "Perhatikan bayi tampan ini. Mereka anakmu, Stev. Namanya Vano dan yang yang satunya Varo." Angga membaringkan Vano di samping tubuh Steven, lalu menunjuk Varo pada troli bayi yang masih tertidur pulas. "Dan yang memberikan mereka nama adalah kamu, Stev," tambahnya.
Steven menatap Vano saat bayi itu tengah menyentuh hidung mancungnya. Dia juga terkekeh sendiri entah apa sebabnya. Dan terlihat jelas, ada dua lesung pipi pada kedua pipinya.
"Dia mirip denganmu, kan, Stev? Bahkan ada lesung pipinya juga. Sama seperti dirimu," ucap Angga. Dia sendiri baru melihat Vano berlesung pipi, sebab sejak bayi memang belum terlalu kentara.
"Stev, Mbak yakin kamu mengingat si Kembar. Dia darah dagingmu," ucap Nissa.
"Maaf, tapi aku nggak mengingatnya sama sekali," jawab Steven pelan, lalu menatap ke arah Angga dengan wajah bingung. "Dan sejak kapan aku menikah serta punya anak, Pa? Karena seingatku ... aku dan Papa memang sempat ingin melamar seorang perempuan. Tapi bukan Citra namanya."
"Siapa namanya, A?" tanya Citra sambil mengusap kedua pipinya. Nissa sudah mendekat ke arahnya, lalu merangkul bahunya.
__ADS_1
"Kalau nggak salah namanya ...." Steven terdiam sebentar sambil memejamkan mata, lalu membukanya secara perlahan. "Imel. Namanya Imel."
"Siapa Imel?" gumam Citra dengan air mata yang kembali mengalir. Lama-lama dia merasa tak tahan sekali terus berdiri di sana, apalagi sang suami bukannya mengingatnya dan si Kembar—tapi malah mengingat nama wanita lain yang entah dia sendiri nggak tahu.
"Ayok kita keluar dulu, Cit," ajak Nissa yang merangkul bahu Citra, kemudian mengajaknya keluar dari kamar inap itu dan duduk di kursi panjang.
Menurut Nissa, lebih baik Citra keluar dulu karena untuk menenangkan diri. Sebab dia merasa tak tega melihatnya terus menangis.
"Jangan menangis, Cit, nanti Mbak juga ikut sedih." Nissa mengusap kedua pipi adik iparnya, lalu memeluk tubuhnya sambil mengusap punggung secara perlahan. "Kamu yang sabar, ya, dan tolong terima keadaan Steven."
"Aku menerima keadaan Aa, Mbak, tapi yang aku sedih di sini ... kenapa dia justru mengingat nama perempuan lain? Bukan aku istrinya," jawab Citra sambil sesenggukan. "Apa ini berarti Aa sudah nggak mencintaiku?"
"Nggak mungkin, Cit, Steven pasti masih bahkan selalu mencintaimu," sahut Nissa dengan yakin. "Apa kamu sendiri nggak dengar apa yang Papa katakan ... kalau dulu Steven hampir gila gara-gara kamu pergi dibawa kabur oleh si Kumis Lele? Itu benar adanya, dia sampai pernah dibawa ke dokter psikiater."
__ADS_1
"Tapi siapa itu Imel, Mbak? Sampai Aa Ganteng lebih mengingatnya, daripada aku dan si Kembar?"
...Ada yang tau ga, nih? Ayok jawab 🤣...