Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
203. Aku kecewa padamu


__ADS_3

"Mau aku setirin nggak?" tawar Thomi.


Tian menggeleng. "Nggak usah. Ya sudah, aku duluan, ya." Menepuk pelan bahu kiri Thomi. Lalu melangkah dan masuk ke dalam mobil.


*


*


"Belum datang managermu, Nis?" tanya Angga saat melihat putrinya menutup panggilan. Lalu mengantongi kembali benda pipih itu.


"Belum, dia bilang telat. Papa nggak usah kepengen ketemu dia, dia akan aku pecat hari ini."


"Lho, kok dipecat? Kenapa?" Kening Angga mengerenyit.


"Aku hanya dengar saran dari Steven, Papa coba tanya saja padanya. Aku mau masuk dulu, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan, Pa."


"Eemmm ... ya sudah, tapi kamu kerjanya jangan terlalu capek, ya? Papa dan Juna ada di taman." Angga mengelus rambut panjang Nissa, dilihat wajah wanita itu tampak bete bercampur kesal.


"Iya." Nissa mengangguk, tersenyum tipis lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Angga keluar dari restoran, dia memutuskan untuk bertanya langsung pada Steven saja.


Langkah kakinya kini menuju taman menghampiri anak dan cucunya. Steven tengah membakar jagung di atas corn baker, sedangkan Juna dan Kevin—di bawah sana mereka berdua tengah asik main kelereng.


Kevin menyentil benda bulat itu dengan kaki kanannya, namun sayangnya tak berhasil mengenai kelereng milik Juna.


Sekarang beralih, kelereng Juna lah yang beraksi. Bocah laki-laki itu menyentil dan pada akhirnya tepat sasaran.


"Hore! Aku menang!" seru Juna dengan kedua tangan yang naik turun. Dia tampak riang sekali.


"Itu baru sekali, Jun. Ayok main lagi. Aku pasti menang," ujar Kevin.


"Boleh, ayok kamu duluan sekarang." Juna memberikan jarak kedua kelereng itu dengan empat jengkal tangannya. Lalu mereka pun mulai beradu lagi. "Oh ya, Vin. Besok aku mau main ke kantornya Om Tian. Kamu mau ikut nggak?" tanyanya seraya menoleh ke arah Kevin.


"Mau, mau!" balas Kevin cepat dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Stev, kamu katanya kenal sama managernya Nissa? Siapa dia?" tanya Angga. Dia membantu Steven membalik-balikan jagung bakar.


"Om Tian, Pa."


"Om Tian siapa?" Angga masih tak paham.


"Bapaknya Kevin, masa Papa lupa."

__ADS_1


"Oh, suaminya si Fira?"


"Iya."


"Lho, kok bisa mereka berdua berteman? Malah sejak SMA?"


"Mana kutahu."


"Tapi mereka juga katanya dekat, sedangkan Tian punya istri, bisa-bisa Nissa dikira pelakor dong."


"Itu nggak akan terjadi, Pa." Steven menatap ke arah Angga sebentar. "Karena Om Tian akan dipecat hari ini, dan aku sudah meminta Mbak Nissa untuk menjauhinya."


"Itu bagus, Papa juga nggak mau Nissa dekat dengan laki-laki beristri."


"Iya, aku juga sangat membencinya," balas Steven.


***


Sementara itu, Tian yang sudah berada di depan ruangan Nissa tengah mengetuk pintu. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan perasaannya mendadak tak enak.


Sudah biasa, kalau mau ketemu Nissa pasti nervous tidak jelas. Namun kali ini, seperti ada yang berbeda dengan apa yang dia rasakan. Rasa gugupnya terasa aneh.


"Masuk!" pekik Nissa dari dalam.


'Semoga saja Nissa nggak marah padaku,' batin Tian. Handle pintu itu diturunkan, pintunya didorong dan perlahan dia melangkah masuk.


Setelah pintunya kembali ditutup rapat, Tian maju ke arah kursi yang berada tepat di meja kerja Nissa. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi datar dan segera Tian duduk sambil mengulas senyum canggung.


"Maaf ya, Nis, aku telat. Soalnya aku ada kecelakaan sedikit tadi dijalan," ujar Tian tak enak.


"Kecelakaan apa?" tanya Nissa pelan.


"Mobilku mogok di jalan, terus hapeku juga mati," jelas Tian mengarang. Malu rasanya kalau dia jujur. "Aku bawa ke bengkel dulu tadi, terus sekalian numpang ngecas hape."


"Oh." Hanya kata itu saja yang keluar dibibir merah Nissa. Perlahan dia pun menarik laci di mejanya, lalu mengambil sesuatu di dalam sana.


Sebuah amplop putih yang cukup tebal, Nissa letakkan di atas meja dan didorong sedikit ke arah Tian.


"Ini untukmu, Ti," ujar Nissa seraya menatap Tian.


"Apa itu?" Kening Tian mengerenyit. Namun dia tak mengambilnya, hanya manatap benda putih itu saja.


"Gajimu selama dua hari."

__ADS_1


"Dua hari?" Tian masih tampak bingung. "Kok baru kerja dua hari aku sudah digaji? Bukannya kata kamu ... gaji manager itu sebulan sekali, ya?"


"Iya. Tapi kamu nggak bisa jadi managerku lagi, Ti."


Tian terbelalak, wajahnya tampak kaget. "Lho, kenapa? Apa pekerjaanku ada yang salah?" Terdiam sejenak, memikirkan aktivitas kerja yang dia lakukan kemarin. Menurutnya, tidak ada yang salah sama sekali. Semua yang Tian lakukan atas bimbingan Nissa juga.


"Pekerjaanmu nggak ada yang salah, Ti." Nissa menggeleng, mimik wajahnya tampak bersalah. "Tapi maaf, aku nggak bisa memperkerjakan kamu lagi jadi managerku di sini. Dan pertemanan kita cukup sampai di sini saja."


"Lho, kenapa? Apa salahku, Nis?" Jantung Tian langsung berdebar kencang. Dia menatap wajah Nissa dengan penuh kebingungan.


"Aku kecewa sama kamu, kenapa kamu bohongi aku? Padahal, apa salahnya jujur? Toh ... kita ini hanya teman. Dan sebagai teman yang saling menghargai ... harusnya kamu jujur apa adanya padaku."


"Maksudnya jujur itu apa? Memang aku bohong apa padamu?"


"Nggak usah berpura-pura. Semua yang kamu katakan itu semua bohong. Dari mulai statusmu yang mengatakan duda, punya perusahaan, dan mungkin masih banyak lagi." Mendengar apa yang Nissa katakan—kembali, Tian membulatkan mata. Dan seketika, dia pun tersadar dengan arah obrolan mereka, yang artinya Nissa sudah mengetahui semuanya.


Namun, tahu dari mana dia? Itulah hal yang saat ini Tian pikirkan.


"Padahal aslinya, kamu itu punya istri dan perusahaanmu bangkrut. Tapi kenapa ... kamu malah berbohong? Harusnya jujur saja, aku nggak masalah, insyaAllah ... aku akan menerimamu jadi managerku. Kalau memang apa yang kamu kerjakan itu cocok untukku," imbuh Nissa dengan wajah kecewa. Dilihat wajah Tian sudah merah padam. Antara malu dan merasa bersalah, bercampur menjadi satu.


"Sekarang, jujur padaku. Apa alasanmu ingin menjadi managerku, Ti? Apa karena memang kamu butuh pekerjaan, apa ada hal lain?" Tatapan Nissa penuh selidik.


Tian menelan salivanya dengan kasar, kedua tangannya itu saling menggenggam dan terasa basah. 'Tahu dari mana Nissa? Dan bagaimana sekarang? Apa aku harus jujur? Tapi ... apakah dia nantinya benar-benar menjauhiku dan membenciku?' batin Tian penuh tanya.


"Kenapa diam?" Nissa masih menunggu jawaban. "Bingung kamu untuk menjawab? Oh ... apa karena ingi cari alasan supaya bisa masuk akal?' tuduhnya.


"Sebelumnya aku minta maaf, Nis. Maaf sekali." Tian membuka suara. Nadanya terdengar memohon.


"Maaf untuk apa?"


"Maaf karena niat awalnya aku begitu jahat padamu. Tapi ini semata-mata karena permintaan istriku, yang sebentar lagi mungkin akan menjadi mantan istri." Malu. Malu sekali rasanya wajah ini. Tapi untuk berbohong, rasanya sudah tidak ada gunanya. Toh, semuanya juga sudah terbongkar dan rumah tangganya bersama Fira sekarang berantakan.


"Permintaan apa?"


Tian membuang napasnya dengan kasar, lalu berkata, "Dia memintaku untuk mendekatimu, supaya kita bisa pacaran dan dengan begitu aku bisa menguras hartamu. Tapi ... sebelum itu terjadi, aku sendiri yang menggagalkannya," jelas Tian apa adanya.


"Kenapa kamu gagalkan? Oh, apa mungkin karena uangku kurang banyak?"


"Bukan." Tian menggeleng cepat.


"Lalu?"


"Karena ...."

__ADS_1


...Ada yang bisa nebak, karena apa? 😟...


__ADS_2