
"Hore!" Juna langsung bangun dan lompat-lompat sangking senangnya, kedua lengannya pun bergerak naik turun.
"Udah sembuh kamu sampai bisa lompat-lompat?" tanya Angga dengan tatapan tajam.
Juna tersentak, dia pun segera berbaring kembali sambil menyentuh kepalanya. "Nggak, Juna masih sakit kepala Opa, sama lemes." Juna berekspresi selemah mungkin. Memang sebenarnya dia betul-betul sakit, hanya saja karena bahagia sakitnya seketika hilang. "Ayok cepat telepon Om Tian, Mi. Suruh ke sini dan belikan Juna sate."
"Kok sate? Kamu 'kan sedang sakit. Makannya pakai bubur saja," tegur Angga.
"Itu 'kan bubur Opa." Juna menunjuk mangkuk kosong di tangan Nissa. Akibat lapar bubur yang sempat Nissa beli langsung habis dalam sekejap. "Juna bosen, masa bubur mulu makanannya. Buat makan malam mau sate ayam sama lontong."
"Ya sudah, terserah kamu. Asal makan yang banyak."
"Nomor Tian nggak aktif, Pa," ucap Nissa saat mencoba menelepon Tian.
"Mungkin hapenya lowbet. Ya sudah, nanti malam coba telepon lagi," saran Angga.
"Jangan malem dong. Sekarang Opa suruh Om Bejo saja untuk ke rumah Om Tian."
"Om Tian pasti masih kerja, Jun."
Juna menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore. "Paling satu jam lagi Om Tian pulang, mending Om Bejo ke rumahnya saja, terus tunggu dia sampai pulang."
"Belum tentu sejam lagi pulang. Kalau Om Tian lembur gimana coba?"
"Dicoba dulu. Ah Opa mah mau nurutin permintaan Juna setengah-setengah. Nyebelin!" serunya sambil cemberut.
"Iya, ini Opa akan telepon Om Bejo." Angga mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu menghubungi sang asisten.
"Halo, Jo," ucap Angga saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Ya, Pak."
"Kamu tolong ke rumah Tian. Nanti bilang padanya suruh jengkuk Juna di Rumah Sakit Harapan."
"Sambil bawa sate, Opa," ujar Juna.
"Iya, sambil bawa sate juga tiga porsi," kata Angga menambahkan.
"Kok tiga? Banyak amat?" tanya Juna.
"Masa satenya buat kamu doang?" Angga menatap Juna. "Opa sama Mami juga pasti mau."
"Maaf, Pak, tapi Tian itu siapa?" tanya Bejo.
"Bukan siapa-siapa. Intinya kamu ke rumahnya saja sekarang. Aku akan kirim alamatnya."
"Baik, Pak."
Setelah mematikan sambungan telepon, Angga memberikan ponselnya kepada Nissa supaya wanita itu mengirimkan alamat rumah Tian. Sebab dia sendiri tak tahu alamatnya.
"Opa, nanti Oma suruh ke sini, ya?" pinta Juna. "Tapi Om Steven sama Tante Citra mah jangan."
"Kenapa?"
"Nanti Om Steven pasti marah. Juna 'kan mau temu kangen sama Om Tian. Masa diganggu?"
__ADS_1
"Lebay amat, belum juga sehari kamu nggak ketemu."
"Udah. Kan hari ini Juna belum ketemu."
***
Malam hari.
Sepulang kerja lembur pukul 7, Tian langsung mandi dan berganti pakaian. Dia sudah bertemu Bejo dan pria itu mengatakan jika dia disuruh datang ke rumah sakit oleh Angga lantaran Juna sakit.
Agak heran sebenarnya, jika diingat tadi pagi pria itu melarangnya untuk bertemu dan menjauhi cucunya. Tetapi sekarang justru dia meminta Tian untuk datang.
Sebelum sampai, Tian membelikan 3 porsi sate ayam pesanan Juna. Juga dengan satu parsel buah.
"Assalamualaikum. Selamat malam Pak Angga, Bu Sindi," sapa Tian dengan ramah, saat melihat Angga dan Sindi duduk di kursi panjang di depan kamar rawat.
"Walaikum salam." Mereka berdua menjawab berbarengan.
"Beli sate berapa bungkus kamu?" tanya Angga sambil menatap kresek putih yang Tian jinjing.
"Tiga, Pak. Ini." Tian mengulurkan tangannya ke arah Angga.
"Kok tiga? Kenapa nggak empat?" Angga mengambil semua apa yang Tian bawa.
"Pak Bejo bilang katanya satenya tiga."
"Tapi 'kan harusnya kamu ngitung orang. Aku, istriku, Juna dan Nissa. Berarti empat dong."
"Ya sudah, nanti aku belikan lagi, Pak."
"Mau ketemu Juna."
"Beli dulu satu porsi sate lagi. Baru ketemu Juna," titah Angga.
"Mama nggak kepengen sate, Pa," ucap Sindi. "Lagian, kita 'kan sudah makan."
"Cepat beli. Kenapa diam?" tanyanya galak seraya menatap tajam Tian. Angga sengaja melakukan hal itu, ingin mengerjai saja.
"Iya, Pak." Tian mengangguk.
"Sama air minumnya juga. Jus alpukat 4!" teriaknya saat Tian sudah melangkah. Pria itu memutar kepalanya lalu mengangguk. Lantas berlalu pergi.
Angga berdiri, kemudian masuk ke dalam kamar Juna. Dilihat bocah itu tengah berbaring sambil mengunyah buah apel yang Nissa suapi.
"Opa bawa apa? Apa itu dari Om Tian?" tanyanya sambil menunjuk.
"Iya." Angga mengangguk lalu meletakkan apa yang dibawa di atas nakas.
"Ada satenya juga?"
"Ada."
"Terus Om Tiannya ke mana?" Juna menatap pintu.
"Ada yang ketinggalan, jadi balik lagi."
__ADS_1
"Oh." Juna membuka mulutnya ketika Nissa kembali memberikan potongan apel. "Oya, Mi. Kelereng Juna kemana, ya? Yang besar itu."
"Ke mana kelereng Juna, Pa?" Nissa bertanya kepada Angga. Pria tua itu lantas merogoh kantong celananya, tetapi hanya ada dompet saja di sana.
"Sepertinya jatuh di rumahmu."
"Nanti Mami suruh Pak Satpam untuk membawakannya." Nissa mengusap bibir Juna dengan tissue.
"Maunya kelereng yang warna hijau. Yang tadi siang Juna pegang."
"Iya. Warna hijau."
Ceklek~
Pintu kamar itu dibuka oleh seseorang, lalu melebarkannya dan perlahan masuk. Orang tersebut adalah Tian.
"Assalamualaikum," ucap Tian sambil tersenyum.
Juna langsung mengulum senyum. Dia pun mencium semerbak aroma minyak wangi dari tubuh pria itu. Wajah Tian tampak segar, namun matanya terlihat lelah.
"Walaikum salam." Nissa dan Juna menjawab.
"Wiiih! Akhirnya Om Tian datang. Juna udah kangen banget." Bocah itu melebarkan tangannya ke udara. Meminta peluk. Pria itu pun bergegas menghampiri, kemudian membungkuk untuk memeluk Juna.
"Maaf kalau Om lama datang. Om tadi kerja lembur soalnya, Jun," ucap Tian seraya mengelus rambut kepala Juna.
"Nggak apa-apa. Om boleh sibuk kerja, tapi jangan lupa sama Juna dan Mami, ya?" pinta Juna lalu meregangkan pelukan. Jantung Tian sontak berdebar kencang.
"Maksudnya gimana?" tanya Tian yang tampak heran. Lengannya ditarik oleh Juna untuk duduk di atas kasur, di sampingnya.
"Om sama Mami 'kan mau menikah."
Tian, Nissa dan Angga seketika membulatkan matanya. Wajah Tian langsung bersemu merah.
"Kamu ini ngomong apa sih, Jun," tegur Angga yang tampak kesal. "Nggak usah aneh-aneh. Sekarang makan saja satenya."
"Aneh apanya. Kan memang benar, Om Tian dan Mami akan menikah." Juna menggenggam tangan kanan Tian, lalu tersenyum manis saat sorotan mata pria itu menatap matanya. "Om Tian mau, kan, nikah sama Mami?" tanyanya penuh harap.
Tian mengangguk cepat. Hatinya seperti sudah ditaburi bunga-bunga. "Om—”
"Nggak usah ditanya dia pasti mau, Jun!" sela Angga cepat. Suaranya begitu ngegas. "Tanya dulu Mamimu mau apa nggak." Melirik ke arah Nissa. "Terus, Om Tian juga 'kan belum resmi bercerai dari istrinya. Dia juga masih kere, memang kamu mau punya Papi kere dan masih menjadi suami orang?"
"Memang iya, Om belum resmi bercerai?" tanya Juna.
"Lagi proses, Jun."
"Terus, kapan prosesnya selesai? besok bisa?"
"Mungkin 5 bulanan lagi."
"Kok lama? Dih, Juna padahal udah nggak kuat, Om," rengeknya.
"Nggak kuat kenapa?"
"Nggak kuat pengen jadiin Om Papi baru Juna." Juna perlahan duduk, lalu memeluk tubuh Tian. "Juna mau setiap hari makan bareng, tidur bareng, main bareng, mandi bareng, sampai berak bareng. Pokoknya nanti setelah Om jadi Papi baru Juna ... semuanya kita harus melakukan bareng-bareng, ya, Om?" pintanya seraya mengangkat jari kelingking.
__ADS_1
...Yakin, mau berak bareng, Jun? Mang bisa, terus kamu nggak mual, gitu?🤣...