
"Pi ... Juna merasa Om Steven nggak bener-bener amnesia deh," ucap Juna yang duduk di samping Tian, Rizky, Jordan dan Sofyan. Sedangkan beberapa perempuannya tengah mengantar Sindi pada kamar inapnya. Wanita itu masih membutuhkan banyak istirahat supaya cepat pulih.
"Maksudnya, kamu pikir Om Steven hanya berpura-pura?" tebak Tian.
"Iya." Juna mengangguk semangat.
"Aku juga setuju dengan pendapat Juna, Om." Rizky menimpali sambil menatap Tian. "Buktinya, dia masih ingat namanya, orang tuanya dan beberapa saudaranya."
"Tapi sama Citra, si Kembar, kamu sama Tian dia nggak ingat, Riz." Sofyan ikut menyahut.
"Bisa aja itu karena Om Steven ingin berpura-pura, Pakde. Mau ngerjain Tante Citra, Dedek kembar dan yang lainnya," balas Juna yang lagi-lagi percaya pada pikirannya sendiri.
"Nggak mungkin ah, Jun. Masa ngerjain? Mana tega dia ngelakuin itu." Tian menjawab, dia dan Sofyan tampak tidak percaya. Dan yakin—jika Steven benar-benar amnesia.
"Tapi di sinetron ikan terbang ... di mana-mana orang amnesia itu nggak ingat sama sekali lho, Om ... Pa." Rizky menatap Tian kemudian pada Sofyan. "Ini mah apa coba? Kurasa memang Om Steven ngerjain kita semua."
"Mending kita suruh Kevin berakin Om Steven lagi, Pakde, Pi ... biar Om Steven nggak lagi berpura-pura," usul Juna.
"Suruh Tante Citra buka baju juga di depan Om Steven, biar dia langsung nafsu dan nggak lagi berpura-pura." Sekarang giliran Rizky yang mengusulkan ide. Hanya saja saran darinya langsung mendapatkan usapan kasar pada wajahnya.
"Dasar mesum! Kotor sekali idemu!" omel Sofyan marah.
"Tapi 'kan suami mana yang kuat lihat istri telanja*ng? Apalagi Om Steven 'kan cinta banget sama Tante Citra, Pa," sahut Rizky, lalu menatap ke arah Juna. "Iris kupingnya si Juna, kalau aku berbohong. Aku bersedia."
"Enak saja! Kok kupingnya Juna yang diiris? Kuping si Jordan saja tuh!" balas Juna sambil menunjuk ke arah Jordan.
Bocah itu langsung menyentuh kedua telinganya, lalu menggeleng cepat. "Kuping Joldan macih diakai. Kuping Papimu aja, tuh!" Sekarang giliran Jordan yang membalasnya sambil menunjuk ke arah Tian.
"Jangan lah!" omel Juna sambil melotot. "Kuping Papamu saja mau, nggak? Enak saja kuping Papiku mau diiris?! Nggak bisa dengar lho dia nanti." Juna langsung naik ke atas pangkuan Tian, lalu memeluk tubuhnya.
"Kalian lagi bahas apa, sih? Nggak penting banget tau, nggak!" Sofyan menggerutu lalu geleng-geleng kepala. "Sekarang kita tunggu saja kabar selanjutnya dari Papa dan Citra."
__ADS_1
*
*
Sekarang, Angga dan Citra tengah duduk di depan dokter pada ruangannya, yang terhalang oleh meja kerjanya.
"Seperti apa yang kalian lihat tadi ... Pak Steven memang mengalami amnesia. Tapi yang dia alami tak sepenuhnya lupa, dia seperti kembali ke masa lalu."
"Maksudnya kembali ke masa lalu itu apa, Dok?" tanya Citra yang tampak bingung dengan penjelasan dari sang Dokter.
"Dia hanya ingat kejadian dimasa lalu, Nona. Mungkin sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. Sebab tadi dia bilang saat melihat Arjuna keponakannya, anak itu masih sangat kecil dan belum sebesar sekarang," jawab Dokter yang kembali menjelaskan. "Oh ya, kalau boleh tahu ... usia Arjuna sendiri sekarang berapa, ya?"
"7 tahun, Dok." Angga yang menyahut.
"Berarti memang benar, Pak, Pak Steven hanya ingat kejadian di masa lalu. Dan orang-orang yang dia kenal di masa-masa sekarang ... dia tidak ingat."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Dok? Dan apa nggak ada penanganan lain supaya suamiku sembuh dari amnesiamnya? Serta mengingat aku dan anakku?" tanya Citra dengan sendu. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Dia adalah orang pertama yang sangatlah terluka disini.
"Apa itu terapi okupasi, Dok?" tanya Angga.
"Mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada, Pak," jelas Dokter. "Tapi, dari pihak keluarga dan beberapa orang terdekat termasuk istrinya juga bisa memulihkan ingatannya."
"Caranya?" Citra dan Angga berucap bersama sambil mengerutkan keningnya.
"Bisa dari menceritakan beberapa kejadian di hidupnya yang paling terkesan, memperlihatkan beberapa foto kenangan masa kini serta mengajaknya ke tempat-tempat baru yang dia kunjungi sebelum amnesia," jelas Dokter itu, kemudian melanjutkan. "Nona dan Pak Steven sendiri pasti punya tempat favorit untuk dikunjungi saat bersama anak atau berdua. Ajak Pak Steven coba ke sana ... siapa tau beliau akan sedikit mengingat Nona."
"Memangnya, kapan Steven dibolehkan pulang, Dok?" tanya Angga.
"Kalau nanti sore kondisinya sudah sangat stabil ... Pak Steven boleh pulang, kalau belum ya besoknya lagi, Pak," sahut Dokter. "Nanti sore saya akan datang untuk kontrol lagi."
Pria tua itu menganggukkan kepalanya. "Apa ada hal lain, Dok?" tanyanya kembali.
__ADS_1
"Sudah, Pak, hanya itu saja. Kalian berdua sudah boleh keluar."
Angga menoleh kepada Citra lalu merangkul bahunya dan berdiri bersama. "Kalau begitu aku dan menantuku permisi, Dok. Terima kasih dan selamat siang."
"Sama-sama, Pak, Nona," balas Dokter itu. "Dan saya harap ... Bapak, Nona dan keluarga yang lain diberikan kesabaran dengan kondisi Pak Steven. Karena amnesia ini bisa sembuh oleh sendirinya, tapi bisa juga tidak sembuh sama sekali. Alias permanen. Yang kita harus lakukan hanya membantunya mengingat, bukan memaksanya untuk mengingat. Kalian paham 'kan ... maksud saya?"
"Iya, Dok." Angga dan Citra mengangguk secara bersamaan. Setelah itu, keduanya melangkah keluar dari sana.
"Coba ... ajak Steven ke hotel saja kali, ya, Dek," usul Angga sambil menoleh ke arah Citra. Mereka melangkahkan kakinya bersama menuju kamar inap Steven.
"Ke hotel?" Alis mata Citra tampak bertaut. "Kok ke hotel, Pa?"
"Biar kamu dan Steven bisa bercinta sambil melihat bintang. Papa ingat ... dia 'kan memang seneng banget mengajakmu menginap di hotel. Dan kesukaan Steven nggak jauh-jauh dari selangka*ngan, Dek."
"Ih Papa ngomongnya!" omel Citra dengan wajah yang seketika merah. Dia merasa sangat malu.
"Memang bener kok. Jadi coba saja, siapa tau ampuh."
"Tapi Aa 'kan baru sembuh dan habis mati suri, Pa."
"Lho, kenapa memangnya?"
"Pasti dia lemes. Dan aku juga nggak yakin ... kalau dianya mau, Pa." Citra tampak ragu.
"Mau apa, Dek?" tanya Angga bingung.
"Mau ke hotel sama aku, terus mau bercinta sama aku." Citra merengut lesu.
"Pasti mau, mana ada pria nolak dikasih apem. Aneh-aneh saja kamu," kekeh Angga yang merasa lucu.
Berbeda dengan Citra yang terlihat tidak yakin karena Steven sendiri tak mengingatnya sama sekali, tapi Angga justru sangat yakin. Jika dengan begitu, akan bisa memulihkan ingatan Steven seperti apa yang dokternya sampaikan.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^